Akuilah Bapakmu Sebagai Bapakmu, Bukan Bapak Orang Lain Sebagai Bapakmu

Sebelum mengulas lebih lanjut mengenai kalimat yang tertulis pada judul diatas “Akuilah Bapakmu Sebagai Bapakmu, Bukan Bapak Orang Lain Sebagai Bapakmu” , ada 3 point yang perlu diperhatikan terlebih dahulu, yakni :

1. Memilih suatu agama adalah Hak Asasi setiap Manusia.
2. Agamaku untukku, Agamamu untukmu (mendalami agama masing-masing, dan hormati agama orang lain).
3. Ajaran setiap agama tidak bersifat rasial.

Menurut pemahaman penulis, ada beberapa hal yang ingin disampaikan dalam kalimat tersebut, diantaranya :

1. Tidak perduli seburuk apa, atau sebodoh apa. atau sejahat apa orang tua saya; apapun Agama yang dianutnya, Beliau tetaplah orang tua saya. Tanpa mereka, saya tidak akan pernah ada. Oleh karena itu, saya tidak akan sekali pun mengingkari mereka dengan mengakui orang lain sebagai orang tua saya.

2. Walaupun orang tua (dan leluhur) saya telah meninggal, saya tetaplah harus menghormati Beliau. Saya tidak akan sekali pun menganggap mereka sebagai setan atau iblis.

3. Sebagai seseorang yang berasal dari keturunan Suku Hua (华人), sudah sewajarnya jika saya mendalami warisan suku Hua. Apa sajakah itu? Antara lain adalah : Bahasa Mandarin, Bela diri Wushu, Kebudayaan Tionghoa, maupun Agama Kepercayaan.

Loading...

berlian

Sesungguhnya leluhur saya telah mewarisi saya dengan berlian-berlian yang begitu banyak. Walaupun selama ini berlian tersebut sudah tertutup debu, namun berlian tetaplah berlian.

Alangkah sayangnya jika saya sebagai generasi penerus tidak mau menggali peninggalan-peninggalan leluhur saya, dan memilih untuk menggali peninggalan leluhur dari orang lain.

Jikalau memang berlian yang ditinggalkan oleh leluhur saya kurang gemerlap, seharusnya tugas sayalah sebagai generasi penerus untuk menggosoknya kembali, memotong dan memperbaikinya lagi sehingga berlian tersebut menjadi lebih berkilau.

Betapa akan kecewanya saya, jika ternyata anak cucu saya menganggap berlian-berlian yang saya wariskan sebagai beling, dan lebih memilih untuk mengolah warisan orang lain. Semoga suatu hari nanti saudara-saudara saya mau bersama-sama menggosok warisan leluhur kami dan menyingkirkan debu-debu tersebut.

Lantas, apabila ada “saudara jauh“ saya lainnya yang ingin bersama-sama menggosok warisan leluhur kami, apakah tidak boleh? Tentu saja boleh-boleh saja. Namun, apakah tidak lebih baik jika “saudara jauh“ saya tersebut menggosok warisan leluhurnya sendiri?

Penulis : Guchao – dengan pengeditan seperlunya

Loading...

The following two tabs change content below.
Tertarik dengan tradisi & budaya Tionghoa di Indonesia. Ikuti Twitter @tionghoainfo untuk info-info terbaru.

One Response to Akuilah Bapakmu Sebagai Bapakmu, Bukan Bapak Orang Lain Sebagai Bapakmu

  1. andree says:

    Artikel yang sangat bagus, Thx U

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Loading...