Akupunktur, Teknik Pengobatan ‘Tusuk Jarum’ Bangsa Tiongkok

Akupunktur (針刺; Zhēn cì) atau akupuntur merupakan teknik menusukkan/menancapkan jarum di bagian tubuh pada titik-titik meridien spesifik untuk mengubah energi Qi dan keseimbangan Yin Yang. Titik meridien dipetakan dalam bagan dan teks secara tradisional.

Pengobatan akupunktur seringkali melibatkan penggunaan bekam (fire cupping), moxibustion (moxa), pijat, akupresur dan teknik2 lainnya. Pada teknik moxibustion (moxa), jarum dipanaskan dengan cara membakar tanaman herbal mugwort.

Ketika masyarakat berobat pada tabib tradisional (sinshe) di Tiongkok, akupunktur merupakan pengobatan yang paling umum dijumpai, tetapi efektivitasnya belum teruji secara pasti. Inilah beberapa informasi mengenai sejarah, metode dan efektivitas dari pengobatan akupunktur.

Loading...

A. Sejarah Akupunktur

1. Akupunktur dari Era Dinasti Shang

Sejarah pengobatan akupunktur diperkirakan telah berusia 3000 tahun (foto : amuseum.cdstm.cn)

Seperti halnya moxibustion (moxa), sejarah akupunktur tidak diketahui secara pasti, walaupun terdapat bukti bahwa keduanya sudah dipraktikkan bersamaan, bahkan sejak era Dinasti Shang (1600? – 1046 Sebelum Masehi) dan Dinasti Zhou (1045 – 221 Sebelum Masehi).

Sulit mencari informasi yang berkaitan dengan hal ini, karena dalam sejarah Tiongkok sebelum era Han diketahui bahwa sepanjang Kaisar Qin berkuasa, banyak ajaran agama, ilmu pengetahuan serta filosofi yang dilarang, dan hampir semua jenis naskah buku dimusnahkan, kecuali yang diijinkan oleh pengadilan.

2. Akupunktur dari Era Dinasti Han hingga Dinasti Tang

Dinasti Han (221 Sebelum Masehi – 220 Sesudah Masehi) dan Dinasti Tang (618 – 907) merupakan dua kekaisaran terbesar dan paling berkuasa yang memerintah wilayah kekuasaan sebelum Dinasti Song. Sepanjang era yang stabil tersebut, perkembangan ilmu pengetahuan dan riset akupunktur didukung penuh oleh pemerintahan kekaisaran.

Akupunktur juga berkembang populer di Korea dan Jepang. Mengikuti jejak Dinasti Tang, dinasti di Jepang juga sangat mendukung para spesialis akupunktur dan pelatihannya.

Naskah pertama yang diketahui membahas secara jelas mengenai praktik akupunktur dan moxibustion (moxa) seperti yang dikenal sekarang adalah Huangdi Neijing (黄帝内经; Hukum Kekaisaran Huang¹).

Walaupun tidak ada konsensus mengenai kapan dibuat, banyak ahli sarjana mengacu pada era Dinasti Han sekitar tahun 200 atau 100 Sebelum Masehi. Diperkirakan bahwa dalam naskah tersebut tidak membedakan antara akupunktur dan moxibustion (moxa), tetapi sama-sama memanfaatkan titik akupunktur dalam pengobatan keduanya.

3. Akupunktur Sepanjang Era Dinasti Song

Patung akupunktur yang memperlihatkan titik-titik meridian pada tubuh (foto : cn.freeimages.com)

Sepanjang era Dinasti Song (960-1127), ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat. Pada tahun 1026 Wang Weiyi (987-1067) menulis buku Tong Ren Shu Xue Zhen Jiu Tu Jing (ilustrasi dengan Patung Perunggu yang menunjukkan titik-titik Moxibustion dan Akupunktur).

Naskah tersebut sangat berpengaruh dan hasil karyanya didukung oleh pihak dinasti.  Ada banyak metode kontradiktif mengenai akupunktur pada saat itu, tetapi hasil karyanya dijadikan acuan standar bagi era sesudahnya.

Pada tahun 1020-an, Kaisar Renzong dari Dinasti Song memerintahkan pengecoran patung perunggu akupunktur. Wang Weiyi membantu pengecoran 2 patung besar dengan 354 lubang yang menunjukkan 354 titik akupunktur.

Yang menarik di sini adalah digunakannya patung-patung tersebut sebagai alat bantu ajar dan uji pengetahuan akan titik-titik akupunktur. Dikatakan bahwa patung-patung ini dilapisi dengan lilin dan berisi cairan.

Loading...

Pada saat seseorang diminta untuk mencari titik akupunktur dari bagian tubuh tertentu, jika berhasil menusukkan jarum di titik yang tepat, maka pelapis lilin akan bocor dan cairan pun akan mengalir keluar.

Mesin cetak merupakan penemuan besar di era tersebut yang sangat membantu tersebarnya ide pemikiran Wang Weiyi mengenai lokasi titik dan teknik moxibustion (moxa) dan akupunktur.

4. Akupunktur dari Dinasti Song hingga Dinasti Qing

Akupunktur diterima secara luas dan didukung selama Dinasti Song, tetapi setelah era tersebut akupunktur kehilangan pamor, kemungkinan disebabkan pengaruh pemikiran atau pengobatan dari negara Barat. Akupunktur dihubungkan dengan praktik perdukunan dan sihir, sehingga dianggap tidak cukup pantas bagi kalangan elit.

Namun bagaimanapun juga, akupunktur tersebar hingga ke negara Barat melalui pastor-pastor Katolik dan orang lainnya yang tinggal di Jepang, Tiongkok dan Indochina Perancis. Pada tahun 1683, Willem ten Rhijne, seorang dokter Belanda di Nagasaki menerbitkan buku Eropa pertama mengenai akupunktur.

Tetapi pada pertengahan era Kaisar Qing (1644 – 1912) akupunktur disebut sebagai ‘seni yang hilang’. Akupunktur tidaklah populer di kalangan elit dan dianggap sebagai pengobatan bagi kalangan kelas bawah. Sementara pengobatan di kalangan kelas atas lebih memilih bergantung pada pengobatan ramuan herbal dan medis.

Pada tahun 1822 Kekaisaran Qing merevisi dan melarang praktik akupunktur serta pengajarannya di Akademi Pengobatan Kekaisaran. Di akhir era Qing di tahun 1912, Sun Yat-sen dan pemimpin lainnya mulai mengenalkan pengobatan dari negara Barat untuk menggantikan praktik pengobatan tradisional.

5. Akupunktur di Masa Modern

Akupunktur saat ini diasosiasikan sebagai pengobatan alternatif (foto : yitiaogen8.com)

Setelah era kejatuhan Kaisar Qing (1644 – 1912) sikap para pejabat pemerintah terhadap praktik akupunktur berubah-ubah. Awalnya pemimpin yang pernah belajar di negara Barat berupaya melarang praktik akupunktur dan pengobatan sejenisnya.

Pada tahun 1920-an dan 1930-an pemerintah Nasionalis berupaya menghentikan praktik ini. Sementara di lain pihak Partai Komunis pun berupaya menghentikan praktik yang mendukung pengobatan dari negara Barat.

Kemudian pada tahun 1930-an, Partai Komunis berkuasa, akupunktur kembali diijinkan dan didukung penggunaannya.

Pada tahun 1950-an, akupunktur diupayakan menjadi salah satu disiplin ilmu pengetahuan, namun sepanjang Revolusi Budaya yang dimulai sekitar tahun 1966 membuat praktik akupunktur dan pengobatan sejenisnya kembali dilarang.

Banyak di antara para akupunkturis dan yang pekerjaannya berhubungan dengan qi, dipenjarakan atau dibunuh. Beberapa diantaranya melarikan diri ke negara lain, di mana mereka masih dapat mengajarkan teknik akupunktur dan membantu mempopulerkannya.

Pada tahun 1980-an praktik akupunktur mulai muncul kembali di negara tersebut. Namun tetap dianggap sebagai metode pengobatan yang tidak umum.

B. Metode Akupunktur

1. Berbagai Ragam Metode 

Menancapkan jarum pada bagian tubuh tertentu dengan tujuan memperlancar peredaran darah

Terdapat berbagai ragam metode akupunktur yang berbeda di antara masyarakat Jepang, Vietnam, Korea dan Tiongkok.

Sebagai contoh, metode akupunktur di Korea fokus pada bagian tangan, karena tangan dianggap mewakili seluruh tubuh. Akupunkturis di Korea menggunakan jarum, moxibustion (moxa), bekam dan bahkan magnet untuk memanipulasi energi Qi di dalam tubuh.

Metode akupunktur di Jepang juga berbeda dengan metode yang digunakan di Tiongkok. Terdapat perbedaan tipis pada peta bagan akupunktur di Jepang. Karena tujuan efisiensi, penggunaan jarum diminimalkan, sehingga meminimalkan rasa sakit yang ditimbulkan.

Jarum yang digunakan di Jepang juga lebih kecil daripada jarum yang digunakan di Tiongkok, sehingga pengobatan ini dikatakan lebih tidak menyakitkan. Akupunktur di Jepang mengikuti proses pengobatan 5 tahap yang disebut Protokol Pengobatan 5 Fase.

2. Tahap Pengobatan Secara Umum

Walaupun terdapat beragam metode yang berbeda, prosedur pengobatan secara umum tetap sama. Tahap pertama adalah diagnosa, dan tahap kedua melibatkan beragam manipulasi tubuh.

3. Diagnosa

Pada tahap pertama, akupunkturis berupaya menemukan apa permasalahannya. Mereka dapat memeriksa kondisi lidah, denyut nadi, kondisi tubuh pasien, perilaku dan baunya.

Mereka juga dapat mengajukan beberapa pertanyaan kepada pasien, terkait apa yang dirasakan atau apa yang terjadi pada saat mulai mengalami masalah. Faktor seperti kondisi lingkungan atau peristiwa traumatik diyakini dapat mempengaruhi keseimbangan tubuh.

Lidah merupakan bagian penting yang harus diperiksa, karena lidah dianggap seperti peta virtual dari tubuh pasien.

Dikatakan bahwa berbagai area pada lidah mewakili berbagai area organ di dalam tubuh. Mereka meyakini bahwa bagian dari lidah yang tergigit mencerminkan bagian tubuh yang sedang sakit, maka mereka mencermati tanda gigi, luka, warna atau perbedaan tekstur pada area di bagian lidah.

Tusuk jarum dapat dilakukan pula. Akupunkturis akan menyentuh atau sedikit menusuk bagian tubuh untuk merasakan energi qi atau menstimulasi reaksi. Dikatakan bahwa seorang akunpukturis dapat merasakan keberadaan energi qi berupa sensasi seperti kesemutan saat tersengat listrik.

Tertarik menggunakan teknik pengobatan akupuntur?

4. Pengobatan

Pada tahap kedua, akupunkturis berupaya memanipulasi Yin, Yang, energi Qi, sirkulasi darah atau cairan tubuh. Mereka melakukannya dengan cara menggunakan jarum dan beragam teknik lainnya, seperti moxibustion (moxa), bekam, akupresur, pijat dan penggunaan ramuan herbal. Beberapa orang juga menggunakan stimulasi listrik, magnet atau metode lainnya.

5. Efektivitas

Hingga saat ini belum ada konsensus di negara Barat mengenai apakah akupunktur benar-benar efektif. Badan pemerintah, instansi dan kalangan medis memiliki pandangan dan pendapat yang berbeda.

Survei medis dan percobaan klinis juga memberikan hasil yang berbeda. Namun banyak orang yang mengatakan bahwa pengobatan akupunktur dapat membantu meredakan rasa sakit.

Kini prosedur akupunktur telah memperoleh tingkat penerimaan yang baik. Dilaporkan bahwa di Amerika Serikat saja saat ini terdapat 20,000 akupunkturis berlisensi.

Catatan : 1. Memerlukan terjemahan yang lebih baik

Loading...

The following two tabs change content below.
Tertarik dengan tradisi & budaya Tionghoa di Indonesia. Ikuti Twitter @tionghoainfo untuk info-info terbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Loading...