Alasan Makin Menurunnya Pemeluk Agama Tionghoa di Indonesia (Bagian II)

Sebelumnya saya telah menulis sebuah artikel yang berjudul Alasan Makin Menurunnya Pemeluk Agama Tionghoa di Indonesia. Kali ini saya ingin melanjutkan pembahasan artikel ini, terutama dari sisi kebiasaan-kebiasaan kuno dalam bersembahyang yang tercipta di kalangan Tionghoa sendiri. Seperti yang kita ketahui bersama (bahkan sampai umat luar pun paham betul) bahwa etnis Tionghoa sendiri memiliki banyak tata cara yang ribet dalam hal sembahyang. Beberapa kebiasaan yang masih sering dilakukan ternyata sudah pernah dimuat oleh penulis yang lain di artikel Beberapa Kebiasaan Orang Tionghoa Yang Masih Sering Dilakukan.

Saya tidak mau panjang lebar kembali menulis satu per satu apa yang sudah ditulis pada artikel tersebut. Saya ambil 3 (tiga) sample saja :

1. Rupang kuda di pay tersendiri/khusus (Kwan Kong) > Ini benar-benar lucu. Pantas agama luar begitu menjelek-jelekan agama Tionghoa. Kuda saja di pay secara khusus. Kalau memang tampilan visualisasi patungnya sedang naik kuda menurutku ya tidak apa-apa. Sebagian orang yang pernah saya tanyakan, menganggap bahwa kuda tersebut memang berjasa kepada Dewa Kwan Kong dan diangkat menjadi Dewa Kuda (bahkan kudanya ada namanya lho tapi saya lupa). Jadi kita wajib pay ke Dewa Kuda tersebut sebagai penghormatan. Sebelumnya kita sudah sering menjumpai orang pay khusus ke Macan dan Naga. Bayangkan saja hewan bisa jadi Dewa. Manusia aja susah. Ini pula yang akhirnya menjadi bahan olok-olokan dan lelucon dari agama lain.

2. Wanita yang sedang haid, dilarang untuk bersembahyang di Kelenteng (karena dianggap sedang “kotor”) > Ini semakin mengukuhkan orang untuk hijrah ke agama kepercayaan lain. Bayangkan, orang mau sembahyang saja dilarang. Saya sebagai seorang wanita jelas merasa dirugikan dengan adanya aturan kuno tersebut; meski sekarang sifatnya sudah tidak mengikat karena tidak mungkin penjaga kelenteng akan bertanya satu per satu kepada setiap wanita yang bersembahyang ke kelenteng mengenai hal itu. Jadi ini mungkin seperti doktrin saja. Saya sendiri masuk Li Thang (tempat ibadah Agama Kong Hucu) mengikuti kebaktian tidak mengapa meski sedang haid. Toh tidak ada yang tahu kalau kita sedang haid di dalam.

3. Sembahyang dengan kepala babi (sam seng ya itu namanya?) di meja sembahyang > Seperti yang sudah pernah saya tulis di artikel sebelumnya, jujur saya sangat jijik dengan hal tersebut. Terkadang saya langsung keluar begitu menjumpai adanya sesajen diatas meja sembahyang karena merasa mual. Bagaimana mungkin Dewa-Dewi yang di puja lantas disuguhkan dengan kepala babi (kadang seekor babi utuh, kadang masih berupa potongan tulang rusuk mentahnya yang masih menyisakan darah)? Pantas agama Tionghoa kita di cap berhala oleh orang lain. Bukan karena kita menghormati/pay patung, tapi yang disuguhkan sebagai sesajen itu saja sudah melambangkan pemujaan setan menurut saya pribadi.

Intinya saja, adalah bagaimana generasi penerus Tionghoa yang beragama Kong Hu Cu, Taoisme serta dari teman sedharma lainnya berani mengubah kebiasaan-kebiasaan tersebut. Juga para pengurus Kelenteng yang tersebar di seluruh Indonesia. Jika anda-anda masih berpegang teguh pada model/kebiasaan diatas, jangan heran kalau nanti kelenteng anda akan kosong melompong suatu saat. Jangan anda bertengkar hanya karena ingin merebut posisi kepengurusan di tempat ibadah, lantas mengabaikan umat kelenteng.

Loading...

Juga perbanyak ceramah di kelenteng anda tentang moralitas dan ajaran Agama Nabi Agung dan para Dewa yang anda sembah. Lihat di Li Thang tempat ibadah Kong Hu Cu setiap minggu atau ceit dan capgo ada ceramah rutin. Kalau hanya umat “cung cung cep” seperti di kelenteng ya susah juga. Kadang saya lihat ada Biksu yang melakukan ceramah di kelenteng, tapi malah aneh kok pay Dewa tapi dengar cemarah Budha? Tidak masalah sih asal hanya menyangkut moralitas dan kebajikan. Kalau teori rasanya sudah beda.

Ingat anak muda sekarang pakai logika. Jika mereka merasa tidak tepat, pasti akan bertanya, dan kalau tidak masuk akal pasti akan protes.  Kalau sudah begini, agama lain yang akan mengambil celah keuntungan dengan alasan-alasan yang sudah saya kemukakan sebelumnya. Kalau tidak kita akan dianggap sebagai agama yang ketinggalan zaman atau agama yang tidak dapat menyesuaikan dengan kemajuan zaman. Bagaimana pula mau diakui oleh pemerintah lewat KTP (Kartu Tanda Penduduk) jika modelnya seperti diatas?

Catatan penulis :

1. Artikel ini saya tujukan kepada seluruh saudara saudara etnis Tionghoa yang masih beragama Tionghoa. Mohon yang tidak berkenan dari agama luar tidak perlu mengeluarkan komentar. (ini sebagai masukan dari admin blog Tionghoa.info ini agar tidak menimbulkan debat dengan agama luar/lain).

2. Artikel ini murni sebagai catatan/bentuk keprihatinan saya sebagai etnis Tionghoa saat ini. Semoga pembaca dapat mengambil sisi positifnya.

Loading...

The following two tabs change content below.

Stevany

Saat ini berstatus sebagai seorang mahasiswi jurusan IT di Medan. Aku seorang penyayang binatang dan tumbuh-tumbuhan ^^. Quote : A journey of a thousand miles begins with a single step.

27 Responses to Alasan Makin Menurunnya Pemeluk Agama Tionghoa di Indonesia (Bagian II)

  1. Ahuy says:

    Budha itu aslinya dari india. Agama asli Tionghoa Tao dan Konghucu. Masak bangsa sebesar cina kalah dgn agama dari India Budha. Saya membayangkan Agama Tao bisa dipeluk oleh non Cina seperti agama dari India Hindu Budha, tapi sepertinya otu mustahil. Jadi terima saja kenyataan agama Cina Tao Konghucu tergerus agama dari luar cina

  2. J Kwan Fok says:

    Sejarahnya sih gini om. Dulu misionaris di China berasal dari berbagai ordo/tarekat. Ada Jesuit, Fransiskan, Dominikan, dll.

    Misionaris Jesuit mempersilakan orang2 China ini untuk tetap mempertahankan tradisi mereka, yang mereka anggap tidak bertentangan dengan iman Katolik. Tetapi imam2 Dominikan, Fransiskan, dan ordo2 lain menolak hal ini dan mengajarkan tradisi Katolik yang murni, tidak bercampur dengan tradisi2 lokal.

    Pertentangan antara Jesuit dengan Dominikan dan ordo2 lainnya ini pun sampai ke Roma. Sejak itulah Paus Clement XVI menerbitkan dekrit yang melarang umat di China dan negara2 Timur lainnya untuk mengadakan ritual penghormatan terhadap para leluhur.

    *Paus ini juga yang melarang operasi Serikat Yesus (Jesuit) sampai tahun 1814 larangan ini dihapus oleh Paus Pius VII, dan sekarang Jesuit menjadi salah satu ordo Katolik terpopuler. Paus Fransiskus berasal dari ordo ini. Begitu juga beberapa Uskup Agung Jakarta & Semarang selama puluhan tahun. Saya sendiri dibimbing oleh seorang romo Jesuit di Katedral Jakarta sebelum diterima menjadi Katolik.

    Barulah pada tahun 1939, Paus Pius XII menerbitkan dokumen yang mengizinkan ritual2 Asia Timur ini dijalankan kembali, asalkan tidak bertentangan dengan ajaran Katolik. Sejak itu juga Gereja Katolik menyatakan Konfusianisme bukan sebagai agama, tetapi sebagai filosofi hidup yang boleh dianut oleh siapapun termasuk umat Katolik.

    Hasilnya? Saya gak tau di China seperti apa. Tapi di Korea, umat Katolik tetap mengadakan ritual “jesa” (penghormatan kepada leluhur) setiap hari raya Seollal, Chuseok, dan peringatan hari wafat seseorang. Umat Katolik melakukan ritual ini bersama dengan umat Buddha, orang2 agnostik & ateis. Sementara umat Protestan di Korea tidak lagi melakukan ritual ini.

    • J Kwan Fok says:

      Lanjutan karena komentarnya kepanjangan :

      Kutipan ini berdasarkan salah satu situs resmi umat Katolik : http://www.katolisitas.org/tentang-penghormatan-kepada-leluhur/

      Namun ada prinsip yang sudah disetujui oleh pihak Vatikan, berdasarkan hasil pembicaraan resmi antara para Uskup Taiwan dengan Mgr Joseph Caprio pada tanggal 18-19 Juli 1964 tentang hal Penghormatan Leluhur, (sumber: dari situs Keuskupan Agung Singapura) yaitu demikian:

      a. Untuk mengenang orang tua/ leluhur, pihak keluarga diperbolehkan untuk menyediakan semacam plakat yang bertuliskan nama orang yang meninggal, tetapi tanpa tambahan tulisan lainnya yang berbau tahayul.
      b. Diperbolehkan untuk memberi penghormatan/ sikap hormat di hadapan plakat tersebut, atau foto, atau peti jenazah.
      c. Diperbolehkan untuk menyediakan buah atau makanan di depan plakat leluhur atau di kubur mereka.
      d. Tidak diperbolehkan membakar kertas uang bagi jenazah, sebab ini mempunyai makna tahayul.

      “Menurut Rm. Agung Wijayanto SJ (doktor sastra china klasik universitas Sanata Dharma), ketika memberi penerangan pada umat Katolik di Kebon Dalem Semarang pada perayaan Imlek tahun 2006, penghormatan dengan batang dupa bisa dilakukan oleh imam di depan altar saja. Karena fungsi dupa menyala/berasap memang untuk menghormati pribadi yang lebih agung, namun bukan untuk jenazah. Sedangkan jenazah hanya boleh didupai sebagaimana lazimnya liturgi pemberkatan jenazah.

      Sedangkan tambahan pada poin c, tentang penempatan buah-buahan dianggap sejajar dengan penempatan bunga di makam (tabur bunga). Bunga dan buah merupakan puncak adanya pertumbuhan suatu pohon. Maka hasil akhir penyelamatan yaitu hidup bahagia abadi disimbolkan dengan penempatan bunga atau buah. Harapan dengan menempatkan bunga dan buah ialah, semoga kita pun bisa memetik buah penebusan Kristus yaitu hidup bahagia abadi, dan semoga almarhum sudah memetik buah penebusan itu karena Kristus. Buah-buahan dan bunga yang ditempatkan adalah buah-buah dan bunga yang secara budaya lazim dipakai dan tidak memberi batu sandungan, contohnya bukan buah kersen atau durian atau bunga bangkai.”

      Rm. Bosco da Cunha O. Carm, sekretaris eksekutif KomLit KWI juga menambahkan demikian:

      “Selalu diizinkan mendoakan arwah dengan budaya apapun termasuk budaya China. Dan harus diakui, simbol-simbol yang dipakai oleh budaya China begitu rumit antar sub suku pun berlainan padahal banyak sekali sub sukunya. Maka diminta keluarga berkonsultasi dengan imam yang akan memimpin upacara. Simbolnya harus dimaknai secara Katolik, seperti halnya pada bunga dan buah itu.”

      Maka, sebelum dikeluarkannya urutan resmi yang diijinkan oleh KWI, upacara penghormatan kepada leluhur dapat dilakukan dengan membicarakannya dengan imam yang bersangkutan, dan tentu sebelumnya umat harus diberi penjelasan terlebih dahulu alasannya, agar jangan sampai upacara tersebut menjadi batu sandungan; sebab biar bagaimanapun upacara penghormatan leluhur menurut iman Katolik tidak persis sama dengan penghormatan menurut tradisi Cina. Sebab menurut ajaran iman Katolik, penghormatan kepada leluhur tidak terpisah dari penghormatan kepada Allah Trinitas yang menciptakan, menyelamatkan dan menguduskan orang yang sedang kita doakan, dan penghormatan tertinggi tetap hanya diberikan kepada Allah.

      Sebab sikap hormat dapat diberikan kepada yang meninggal (umumnya dengan menundukkan kepala), namun sikap penghormatan tertinggi yaitu doa dengan memegang batang dupa/ hio dilakukan oleh imam saja untuk menghormati Tuhan dan bukan untuk menghormati jenazah. Pemahaman ini juga mendasari mengapa plakat nama orang yang meninggal tersebut juga tidak berdiri sendiri, melainkan selalu disertai salib/ crucifix, untuk menggambarkan bahwa janji kehidupan kekal itu diperoleh atas jasa pengorbanan Kristus di kayu salib.

  3. suyanto says:

    Menurut saya pemahaman yang terbentuk dari campur aduk agama yah jadinya bergini.Tao, Kong Hu Cu dan Buddha itu beda agama jangan di satukan jadi agama tiong hua atau TiongKoK. karena Terlalu lama warga keturunan tiong hua mendapatkan diskriminasi dari sisi agama sehingga terjadi demikian. Agama budhha dari TiongKok sebenarnya telah melalui proses adaptasi terhadap kebudayaan dan adat tiongkok. Di indonesia sebelum diakuinya Kong Hu cu jadi agama semua melebur kedalam agama budhha, yang di fasilitasi oleh aliran Tridarma sehingga ajaranya menjadi campur aduk antar agama.

    Mengenai sesajen di Klenteng mengunakan kepala babi, buah ayam dll Haruskah dipermasalahkan? Anda menjalankan keyakinan anda saja, toh tidak ada paksaan kalao harus melakukan sesajen bergitu. Kalau mau melaksanakan sesajen seperti itu pun kita hanya melanjutkan tradisi dan adat kita ja. kalau orng merasa dia sembayang mengunakan sesajen lebih sip silakan aja. klo yng beranggapan klo mengunakan buah ja libih oke silahkan juga. toh setelah kita meninggal yang di hitung adalah baik buruknya prilaku kita semasa hidup.

    Orang pindah ke agama lain jangan di salahkan kalao agama tiongkok mengunakan sesajen atau tata cara sembayang nya rumit atau melakukan hal hal yang tidak logika. Tapi lebih karena kecocokan dengan pribadi orang tersebut. kitak tidak boleh memjudge kalao ada gerakan kristenisasi, mereka hanya lebih open minded bersedia memberitahukan ajaran agamanya, mereka hanya ingin mengajak lebih banyak orang untuk di selamatkan oleh Tuhan mereka, karena keyakinan mereka yang luar biasa terhadap agama mereka. Salahkah itu ???? Orang yang memeiliki keyakinan yang luar biasa terhadap agamanya saya yakin tidak akan gampang berpindah agama. Orang yang berpindah pindah agama adalah orang yang masih mencari cari kecocokan dengan agama atau orang yang memiliki tujuan tertentu dengan mengadaikan agama.

    • Herman Tan says:

      Tambahan : Orang yang pindah Agama itu karena ybs KURANG PAHAM dengan Ajaran Agamanya. Seperti kebanyakan umat kelenteng pada umumnya, tahunya ya CUNG CUNG CEP. Abis itu pulang. Tahunya sembahyang aja. Pas diejek orang sembahyang berhala dan memuja leluhur, malah kebakaran jenggot, belepotan tidak bisa menjawab dengan baik secara TEORI. Itu karena AKAR nya dangkal makanya mudah goyah.

    • edy says:

      sepakat sy pak sy yakin semua kisah Dan peribadatan ada hikmah dibaliknya

  4. hai hai bengcu says:

    China dalam nubuatan Alkitab

    Yesaya 49:12
    Lihat, ada orang yang datang dari jauh, ada dari utara dan dari barat, dan ada dari tanah SINIM.

  5. FWS says:

    Maaf yg se besar2 nya Pd Penulis di wall ini .. sy ngak niat berdebat untuk meluruskan saja ..

    Menurut saya Penulis kurang Bijaksana & kurang Wawasan .
    Agama itu gak perlu dipermasalahkan .. yg penting tingkah laku kita itu baik & Bermoral ..
    Inti ajaran Khonghuchu itu ada di masalah Moral & Tingkah Laku ..
    kalau Tao itu ke kenyataan Hidup ..
    jd ajaran semuanya yg ada di dunia ini lebih baik harus kita pelajari & pahami baru kita bisa komentar / nulis ..
    inti hidup ini bagaimana bisa Tenang Bahagia & kita bisa berkomunikasi dgn SUARA HATI kita …
    jgn anda belajar cuma kulit nya saja udah berani nulis .. yg bisa membuat perdebatan yg gak ada gunanya ..

    semua manusia di dunia ini ngak ada yg namanya bahagia Murni .. benar katanya Budha .. Hidup ini penderitaan .. maka dari itu pahamilah diri kita sendiri .. kenapa kita seperti ini .. kenapa masalah kok selalu ada ..
    di situlah kita butuh menyatu dengan Jiwa & Roh kita sendiri (Suara Hati) inilah yg tersulit karena banyak tanggung jawab & godaan yg menyesatkan ..
    sudakah penulis bisa komunikasi pada Suara Hati anda Sdri .. yg jelas baik nurut anda bukan berati baik utk org lain ..
    jgn lupakan sejarah .. kita ini keturunan Thionghua .. kita harus paham Adat kita .. & kita hidup di indonesia, kita harus juga Paham adat indonesia .. ini baru logika .. jgn jd kacang yg lupa pada kulitnya .. maka anda akan lupa arah yg mana yg harus dituju dlm hidup ini ..
    apakah anda sudah tau Tujuaan & Magna dlm hidup anda ?.. terus gunanya anda hidup ini untuk apa ? ..
    Maaf saya 25 th lebih mempelajari hidup ini .. masih belum bisa nyambung pd Suara Hati ..
    anda sudah belajar kehidupan sudah berapa Tahun ..
    jgn memecah belah .. agama itu pilihan .. ngak punya agama asal perbuatannya Baik & tak merugikan Orang lain malah lebih Mulia ..

    mari Pertahankan Budaya leluhur kita , yg baik kita ambil yg jelek & tak logika mari kita buang ..
    sbab memang bener negara china ini memang luas dan tiap daerah punya adat sendiri2 .. ini yg membuat salah kaprah .. sbab nggak ada aturan yg baku ..

    Maaf bila sy ikut campur utuk meluruskan …
    Salam Sejahtera & bahagia buat semuanya ..

    • Lam Qing Ying says:

      Halo FHS, anda menulis bahwa :
      “Inti ajaran Khonghuchu itu ada di masalah Moral & Tingkah Laku. kalau Tao itu ke kenyataan Hidup”

      Tahu darimana kalau inti agama TAO ini adalah kenyataan hidup? Maksudnya apa coba? Pasrah? lucu x anda ini membuat pernyataan seedak udel sendiri.

      Anda berkali2 berkata “ingin meluruskan”. Sebenarnya apa yang ingin anda luruskan? Artikel diatas tidak membahas tentang SUARA HATI atau ARAH KEHIDUPAN. Komentar anda salah alamat kali.

  6. Luke Skywalker says:

    Hallo,
    Awalnya saya senang dengan website ini, karena saya bisa mengenal budaya saya sendiri: Tionghoa Indonesia. Misalnya “sangjit”, saya pernah mendengar kata ini tapi saya kurang paham seperti apa dan maknanya.

    Izinkan saya mengutarakan pendapat saya setelah membaca artikel ini. Semoga bermanfaat.

    Saya awalnya todak mengerti apa maksudnya agama Tionghoa. Setelah membaca lebih dalam, saya sarankan lebih baik menggunakan istilah “kepercayaan tradisional Tionghoa”. Karena kepercayaan tradisional Tionghoa lebih mirip seperti Shinto di Jepang (saya pernah tinggal di Jepang).

    Apakah pendapat penulis didukung dengan data-data atau misalnya hasil wawancara dengan beberapa orang etnis Tionghoa yang berganti agama? Saya bukan ahli jurnalisme, tetapi untuk sebuah tulisan yang dipublikasikan seperti ini, saya sarankan agar penulis melakukan riset terlebih dahulu agar hipotesa penulis memang didukung beberapa data baik yang secara langsung penulis dapatkan ataupun dari sumber lain.

    Saya agak menyesalkan gaya penulisan yang terkesan menghakimi mereka yang berganti agama menjadi Kristiani. Memeluk agama adalah sesuatu yang amat pribadi. Dan ranah pribadi tidak seharusnya dikomentari. Saya saat ini tinggal di Eropa. Disini agama benar2 sangat sangat pribadi. Tidak dipermasalhkan jika seeorang ateis atau agama apapun atau berpindah agama apapun.

    Saya berpendapat, alangkah lebih baik jika penulis bisa mengajak agar pemuda-pemudi Tionghoa Indonesia bisa lebih menaruh minat dan melestarikan budaya sendiri sambil menekankan nilai-nilai universal dari tradisi-tradisi leluhur.

    Belakangan saya tidak bisa merayakan Imlek bersama keluarga. Tahun lalu saya mengajak beberapa teman bule masak masakan asia (capcay ala kadarnya) untuk merayakan Imlek. Saya ajak mereka berpakaian serba merah dan mengajari mereka salam gong xi fat chai dgn gerakan tangannya. Saya rasa nilai tradisi universal: kebersamaan kekeluargaan dari perayaan Imlek tetap bisa dirasakan. Memang tidak ada sembahyang apapun karena selain saya tinggal di Jerman saya juga kebetulan beragama Kristen.

    Atau saat sembahyang kubur (saya baru tahu namanya Ceng Beng, di Jepang disebut Festival O-Bon) keluarga kami yang Kristen membersihkan makam tanpa membakar dupa, melainkan berdoa menurut keyakinan kami. Toh makna ingat pada leluhur tetap terjaga tanpa mempertentangkan iman Kristiani dengan tradisi leluhur.

    Daripada memecah belah, lebih baik mempersatukan orang Tionghoa Indonesia melalui nilai-nilai universal budaya kita.

    Hal yang berupa doktrin bukan untuk dinilai baik buruk sejauh tidak merugikan orang lain. Doktrin boleh dibahas dengan tujuan memperluas wawasan, tetapi bukan untuk diadu atau dipertentangkan.

    Sekali lagi ajakan saya mari lebih mengedepankan nilai-nilai yang lebih bersifat universal. Misalnya Dalam hal menghormati leluhur, walaupun boleh dijelaskan secara tradisional menggunakan dupa misalnya, tapi nilai “menghormati leluhurlah” yang dikedepankan bukan “membakar dupanya”.

    Salam hangat dari tepi sungai Elbe

    • Herman Tan says:

      Halo Luke Skywalker, saya hanya mau menanggapi istilah penggunaan kata “Agama Tionghoa” yang ditulis diatas.

      Istilah “Agama Tionghoa” mengacu pada 3 agama yang dibawa orang Tiongkok saat masuk ke Indonesia; yakni Konghucu, Tao, dan Buddha; di indonesia 3 agama ini di-sinkretisme menjadi “Tridharma”. Sementara konteks kepercayaan tradisional Tionghoa yang anda sebut diatas berbeda dengan konsep 3 agama diatas. Konteks kepercayaan tradisional sebagian besar hanya bersifat tradisi dan kepercayaan kuno yang sebagian besar diantaranya sudah tidak relevan di zaman ini, oleh karena itu sudah ditinggalkan orang.

      Demikian info & salam hangat

  7. charless says:

    Untuk penulis dan semua netizen,
    suatu pembelajaran yg sangat bagus dan membangun ajaran agama tao yg menjadi topik ini.

    Adapun kiranya jangan membatasi diri sendiri dengan informasi yg terbatas pada lingkungan sendiri untuk menjadi tolak ukur seperti apa ajaran agama tao yg kita junjung.

    Perlu diperhatikan oleh penulis untuk mencari info sebanyak mungkin, karena pemahaman ajaran tao untuk di negri tiongkok sendiri berbeda beda di setiap daerah maupun profinsi. Baik dalam hal tata cara maupun perlengkapan dan peralatan.

    Namun inti dari senua agama adalah kembali lagi ke hati kita masing masing bagaimana menjalani di dalam kehidupan kita sehari hari. Semua agama akan di katakan baik jika insan yang menjalani dengan baik, namun sebaliknya juga jika mengatasnamakan agama untuk berbuat yang merugikan orang lain ataupun khalayak ramai tetap menuai celaan.

    Salam saya penganut agama kong hu cu

    • Herman Tan says:

      Halo charless, terima kasih atas saran anda. Akan saya teruskan ke penulis ybs.

      Namun kalau boleh tahu, seperti yang anda bilang bahwa :

      harus mencari info sebanyak mungkin, karena karena pemahaman ajaran TAO untuk di negri tiongkok sendiri berbeda beda di setiap daerah maupun profinsi. Baik dalam hal tata cara maupun perlengkapan dan peralatan.

      Disini perlu diluruskan adalah artikel diatas BUKAN MASALAH PERBANDINGAN ANTAR AGAMA. Artikel diatas DITULIS berdasarkan PANDANGAN YANG BERSIFAT PRIBADI dari penulis. Demikian klarifikasi yang dapat saya berikan.

      Salam hangat untuk anda.

  8. sit 9 says:

    Bagi rejeki lah kalo meninggalkan agama konghucu berarti para penjual ayäm .babi dan hio siapa yg beli kalok bukan umat konghucu.ya kita tàk bisa hidup sendiri.

  9. wandy gouw says:

    Menarik,,ulasan dan pikiran yg cukup baik..

    Bicara tentang asal usul agama sma hal ny belajar tentang sejarah,jika disini ada yg ingin melewan sejarah sama saja arti nya melawan takdir..

    Sya berasal dr keturunan tionghua(tio ciu)bicara agama pada etnis tionghua kuno tidak akn pernh jauh dari taoisme,khonghucu,budha maitreya,budha tantrayana,dan budha terapada(mash sebatas pemikiran saya dr kepercayaan pertama hingga modrenisasi)bahkan sampai saat ini saya mash penasaran tentang tao dan berkeinginan untuk mencari tau,tapi sayang ny di daerah saya(pontianak) bkum ada ato saya yg kurang tau.,saya sekarg beragama budha tantra yana

    Mengenai komentar pengunjung yg saya ingin coba saya luruskan..
    Tionghua vs kritenisasi = gagal pemahan oleh generasi muda
    Kristenisasi vs adat tionghua = pelemahan pemahan nilai2 yg di samarkan oleh doktrin tentang sembah berhala,dll

    Bcara tentang sembhayang tidak lepas dr yg nama sesajian?..iya bagi orng tua.,bagi generasi muda ambil sisipositif nya yg tidak perlu,jgan di paksa kan saya rasa itu jauh lbh baik ketimbang di hilangkan

    Jika bicara adat mka kita tidak bisa bicara pada agama hnya itu pemahaman sya.,karna jika pake bhasa buka buku kitab/injil/lain pasti akan bertentangan..

    Koo bicara tentang buku aliitab,kitab,dll sya rasa apa yg tertulis oleh manusia dan di perbarui oleh manusia itu sendiri,karna dr masa ke masa pasti akan terjadi pergeseran yg di sebabkannoleh pemikiran2 yg slalu berbeda di setiap perubhan zaman..

    #pesan bagi penulis blog…pertahankan nilai dan adat budaya dalam setiap tulisan anda karna jika tidak perlahan tp pasti adat dan istiadat tionghua akan semakin tergerus oleh modrenisasi

  10. wandy gouw says:

    Menarik,,ulasan dan pikiran yg cukup baik..

    Bicara tentang asal usul agama sma hal ny belajar tentang sejarah,jika disini ada yg ingin melewan sejarah sama saja arti nya melawan takdir..

    Sya berasal dr keturunan tionghua(tio ciu)bicara agama pada etnis tionghua kuno tidak akn pernh jauh dari taoisme,khonghucu,budha maitreya,budha tantrayana,dan budha terapada(mash sebatas pemikiran saya dr kepercayaan pertama hingga modrenisasi)bahkan sampai saat ini saya mash penasaran tentang tao dan berkeinginan untuk mencari tau,tapi sayang ny di daerah saya(pontianak) bkum ada ato saya yg kurang tau.,saya sekarg beragama budha tantra yana

    Mengenai komentar pengunjung yg saya ingin coba saya luruskan..
    Tionghua vs kritenisasi = gagal pemahan oleh generasi muda
    Kristenisasi vs adat tionghua = pelemahan pemahan nilai2 yg di samarkan oleh doktrin tentang sembah berhala,dll

    Bcara tentang sembhayang tidak lepas dr yg nama sesajian?..iya bagi orng tua.,bagi generasi muda ambil sisipositif nya yg tidak perlu,jgan di paksa kan saya rasa itu jauh lbh baik ketimbang di hilangkan

    Jika bicara adat mka kita tidak bisa bicara pada agama hnya itu pemahaman sya.,karna jika pake bhasa buka buku kitab/injil/lain pasti akan bertentangan..

    Koo bicara tentang buku aliitab,kitab,dll sya rasa apa yg tertulis oleh manusi dan dinperbarui manusia dr masa ke masa pasti akan terjadi pergeseran oleh penulis itu sendri..karna setiap generasi ke generasi akan membawa pemikira nya sendri,,ga percaya..lhat sudah bnyak adat tionghua yg mulai tergerus oleh zaman..

    #pesan bagi penulis blog…pertahankan nilai dan adat budaya dalam setiap tulisan anda karna jika tidak perlahan tapi pasti adat dan istiadat tionghua akan semakin tergerus.

  11. Ferdy says:

    Saya katolik. Tapi saya seneng dengan
    agama budha yg anti kekerasan dimana semua org bisa mencapai kesempurnaan. Agama yg berasal timur tengah semua merasa ajarannya paling benar dan boleh membunuh org yg tidak seiman. Hanya umatnya saja yg bisa selamat.

  12. Carrie Brad says:

    Dari judulnya saya bingung, Kok agama Tionghoa???
    Bukannya Tao??????
    Saya rasa kenapa org meninggalkan Tao, karena TIDAK ada jaminan ke selamatan dlm TAO.
    Kalo admin, gak mau dikomen yg ‘lain’, tulis saja buku Harian.
    Buat 陳立洋, saya di Jerman 10 thn yah misa Katolik bhs Jerman. Di Taipei 8 thn, misanya bhs Mandarin. Di Hong Kong yah bhs Kanton, kecuali Kalo anda ke Roma, itu baru Bahasa Latin.
    Kapan Romo/pastor hadap ke depan, baru Kali Ini saya dengar.
    Inti utama ajaran Kristen adalah Kasih, Kasih Allah yg tiada batas kepada umatnya .

    • Herman Tan says:

      Halo, Carrie Brad..
      Dalam komentar anda diatas, tertulis bahwa “Saya rasa kenapa org meninggalkan Tao, karena TIDAK ada jaminan ke selamatan dlm TAO“. Saya pribadi bukan bermaksud untuk membela kelompok agama tertentu; hanya tertarik untuk bertanya saja, memangnya dalam Agama kepercayaan anda :

      1. Apakah ada jaminan keselamatan?
      2. Berupa apa bentuk jaminan nya?
      3. Apa syarat-syarat untuk memperoleh jaminan keselamatan dalam agama anda tersebut?

      Mohon penjelasannya…

  13. 陳立洋 says:

    Memang saya sebagai mantan kristen dan sekarang beragama Buddha dan simpatisan tao, mengakui bahwa banyak sekali kekurangan agama Tao yg sekarang ini sebagai agama asli Tiongkok selain Konghucu, kekurangannya yaitu sistem pengajaran, karena saya dulu Kristen trus sekolah Katolik jadi saya mengenal keduanya, agama Katolik sebelum konsili Vatikan kedua tahun 1950 sorry klo salah,
    Katolik sistem pengajarannya hampir sama seperti Tao, Alkitab msh berbahasa Latin, hanya imam Romo paus atau petinggi Katolik lainnya yang boleh memegang Alkitab, misa masih menggunakan bahasa Latin (di seluruh dunia lgi), seperti daoshi klo lagi baca ritual ato liamkheng,
    Hubungan antara Romo dengan umat hanya satu arah, umat hanya mendengarkan khotbah Romo, seperti daoshi, tak ada komunikasi lebih dalam dengan umat kelenteng, kecuali umatnya aktif tanya sana sini sama daoshi,
    Romo pada saat misa, menghadap ke altar, bukan menghadap umat. Sama saja seperti daoshi dong menghadap ke altar,
    Romo pada saat misa penting juga membakar dupa, cuma Romonya doang sih, klo tao ato KHC sih semuanya pegang dupa
    Di Katolik tidak wajib mempelajari bahasa Latin walaupun misa itu fullllll bahasa Latin, jadi banyak umat Katolik yang bengong sana sini akibat ga ngeri bahasa Latin, sama seperti kelenteng, orang Tionghoa di Indo mayoritas ga bsa baca tulis ngomong bahasa daerah, apalagi bahasa mandarin (pulau Jawa) tpi enjoy enjoy aja ke klenteng
    Nah itu beberapa kesamaan antara Katolik dengan kelenteng
    TAPI ITU SEMUA SUDAH BERUBAH, KATOLIK BERUBAH DRASTIS PADA KONSILI VATIKAN KE II, ALKITAB DITERJEMAHKAN KE BAHASA DAERAH, KOMUNIKASI ROMO/PASTUR BERJALAN DUA ARAH, MISA SEKARANG MENGHADAP UMAT, SISTEM PENGAJARAN LEBIH MODERN, (IKUT IKUTAN KRISTEN PROTESTAN SIH TAKUT DISAINGI WALAUPUN PROTESTAN YANG IKUT-IKUTAN KATOLIK)
    Intinya apa
    KITA SEBAGAI UMAT BUDDHA KONGHUCU TAO, KITA HARUS MEREVISI AJARAN KITA AGAR LEBIH MODERN, LEBIH BERMANFAAT (ga kebanyakan abisin duit buat perayaan tertentu),
    SAYA SENDIRI TERMASUK ORANG YANG BERANI MENGAMBIL KEPUTUSAN YANG EKSTRIM, SAYA MENINGGALKAN KRISTEN DAN SEKARANG SAYA BERAGAMA BUDDHA SEKALIGUS SIMPATISAN TAO, MENINGGALKAN KRISTEN MERUPAKAN KEPUTUSAN YANG BERAT KARENA SAMPE SEKARANG INI SAYA SMA KELAS III, SAYA BELUM MENEMUKAN PACAR SEAGAMA YG SIP GITU,

    • joni says:

      Anda mau pindah ke agama apapun juga saya ngak komentar apapun juga, tapi yg mau saya komentari jgn pernah menjelekan agama yg anda tinggalakan, karena isu agama sangatlah sensitif jgn sekali2 memojokan suatu agama tertentu lantaran anda pindah agama. Agama itu buatan manusia tapi urusan keselamatan itu urusan kita masing2 ke Tuhan

  14. Jocki says:

    Maaf meskipun sy bukan beragama Kong Hu Cu, tp sy besar dr lingkungan tsb dan sy tergelitik dng yg disampaikan krn msg2 punya sudut pandang. Ambil contoh sembahyang Sam Seng itu 3 unsur (Babi mewakili tanah, Ikan mewakili air, Ayam mewakili Udara) artinya kita yg msh hidup agar tahu bahwa hidup memerlukan 3 unsur tsb dan Sam Seng sendiri untuk menghormati orang yang meninggal. Hal tsb diadakan krn org Tiong Hoa tersebar diseluruh Dunia mk diadakan slh satu ritual tsb agar mrk semua dpt berkumpul bersama sanak saudara (agar tdk putus hubungan antara saudara dan keturunannya). Di meja ada makananpun ada artinya nasing 2 salah satu unsur yang tidak boleh lupa adalah buah LIE kalau tau yg namanya Ceng Li ya itulah untuk yd msh hidup agar ingat ajaran tsb untuk keturunannya, dan msh byk yg lainnya itu bukan untuk dipersembahkan tp msg2 ada maknanya.
    Satu lagi yg tdk kalah penting mengenai uang2an kertas dan rumah2an kertas yg dibakar itu jg ada ajarannya….
    Manusia selama hidup menggantungkan harta benda terutama uang, setelah meninggal semua itu tdk ada gunanya makanya dibakar, untuk yg msh hidup agar selalu ingat tsb dan menurut kepercayaan bg yg sdh meninggal tdk perlu memikirkan duniawi lg (istilahnya menghapus jejak di bumi) agar cepat naik ke Surga…
    Dan msh byk pengertian yg lain2 di meja altar tsb yg sy uraikan terlalu panjang disini…
    Sebaiknya dipahami dahulu arti dan maksudnya agar tdk slh langkah….
    Itu pelajaran yg sy dpt dr leluhur sy. CMIIW

  15. Lee Xue Li 和平公主 says:

    Sy gak akan pindah agama walaupun agama ku seperti itu ,jangan mudah terpengaruh oleh orang pengadu domba, karena itu sudah tradisi nenek moyang kita, yang penting nenek moyang kita bukan orang jahat, sebenarnya kita tidak menyembah patung kita hanya menghormati bagaikan bendera.

  16. NN says:

    Saya kasih tambahan contoh lagi tradisi yang kebablasan, soal kertas atau uang uangan dalam sembahyang leluhur.

    Saya ada seorang rekan, berusia 60 tahun. Dia setiap ce it dan cap go selalu sembahyang leluhur dengan menyediakan kue manisan dan buah buahan serta uang kertas perak.

    Satu kali dia kelupaan membeli uang kertas perak, tapi pas sudah sementara sembahyang. Kondisi di luar lagi hujan gerimis, guntur/kilat, ada pohon tumbang di dekat rumahnya serta mati lampu dalam rumah. Jalanan juga macet parah akibat kejadian alam tersebut. Tapi dia tetap ngotot keluar rumah pergi ke supermarket yang menjual aneka barang sembahyang sambil naik angkot biar lebih cepat sampai dan agar nanti tidak sulit cari parkiran.

    Mungkin cerita diatas layak untuk di film kan sebagai wujud bakti anak kepada leluhurnya. atau minimal masuk koran. Tapi menurut saya tindakan macam itu jelas KEBABLASAN. Terlalu memaksa kehendak, mati di satu titik, tidak fleksibel dan kaku. Pantas generasi muda Tionghoa lebih suka pindah ke lain agama, wong agama leluhurnya kok seperti itu. Keras dan bersifat memaksa. Yakin itu akan dapat pahala dari Dewa Dewi Phosat?

    Kalau mau berbuat bakti, waktu orang tua masih hidup. Bukan waktu sudah mati baru bakar kertas sedia samseng kepala babi diatas meja. Cuihh. Itu namanya cari muka sama orang lain biar dianggap berbakti dan biar dianggap Dewa juga anak yang baik. Misalnya pas kejadian ada pohon tumbang pas menimpa dia bagaimana? Itu namanya kebodohan bukan takdir.

    Kalau orang hidup, sakit dan perlu obat mungkin meski harus melewati lautan api tetap jalan ambil resiko marabahaya. Tapi ini hanya demi kertas sembahyang, terus mati kena pohon tumbang atau kepeleset di jalan licin? Yang pada dasarnya BISA DIHINDARI? Ntah kebanyakan nonton film hongkong apa gimana, yang pasti soal cerita uang uangan dan bakar bakaran kertas itu hanya cerita saja tidak benar di alam sana mereka bisa pake hengpong, rumah, ac, kendaraan, kartu kredit, uang, dsb.

    • Jiang says:

      Namo Amithaba,Namo Buddhaya
      Yth.NN.
      Maaf sebelumnya klo saya boleh meluruskan arti “kebablasan”disini, yang dimaksud”kebablasan” adalah [fanatik sempit, percaya membabi buta, semaunya sendiri,tidah menegrti krama dan kesopanan,menganggap dirinya yg paling benar/tidak mau dengerin orang lain punya masukan/ga ada yang lain selain yang diyakininya yang benar,dll],Ibu Ibu yang bertindak seperti itu memang keliru tapi ga salah,berbhakti sama orang ua tidak dibatasi ruang dan waktu,maka klo ada ajaran bhakti semestinya saat masih hidup, lha wong masusia itu hakekatnya ga pernah mati hanya berubah bentuk dan sifat, namun orang itu akan selalu ada, bisa kok dibuktikan secara ilmiah, jadi klo bilang mau bhakti saat masih hidup itu juga ga salah tapi sedikit keliru karena memang belum paham tentang ilmiahnya, ga papa yang penting tidak didoktrinkan ke orang lain.Semoga Tuhan Memberkati

  17. JIang says:

    Namo Amithaba,Namo Buddhaya,
    Yth.Admin,
    Saya sendiri Beragama Taoisme,tapi saya mempelajari semua agama untuk menambah pengetahuan. Setelah sekian lama saya merenungi ajaran2 agama apapun itu intinya sama kok, itu yang memberikan sejajian mahluk berjiwa di altar sembahyang tidak memahami inti ajaran yg sebenarnya. Klo saya boleh sedikit memberikan masukan,semua ajaran itu kan intinya kebaikan,kebenaran,kemuliaan,kesakralan,keserasian,kesetiaan,kemanusiaan,bhakti dan yg kesemuanya itu akan mewujudkan keajaiban dan kegaiban dan akhirnya melahirkan keyakinan Terhadap Yang Maha Kuasa[Boleh Kita menyebutnya dengan berbagai sebutan namun intinya sama.Tidak semua hewan [Kuda/Macan/Naga/Hewan apapun itu] boleh Di TiamHio,Klo harimau dan naga yang di TiamHio karena mereka punya wibawa yang besar dianggap berjasa terhadap manusia dan memang mempunyai Tugas dari TUhan untuk menolong manusia. Patung Dewa Dewi Yang Disembahyangi juga ada cara dan aturannya tidak langsung sembarang arca boleh disembahyangi,dan juga tidak semua orang boleh Disembahyangi, Intinya Manusia yang pada hidupnya mempunyai kesaktian, wibawa yang dinilai cukup dan memang sifatnya suka menolong maka sampai kapanpun beliau pasti berseddia jika diminta tolong,maka manusia terebut dianggap sebagai Malaikat yang menjelma,meskipun dilain pihak ada juga Malaikat yang tiadak pernah menjelma manusia yang dianggap Penolong Manusia juga Disembahyangi. Sembahyang sendiri disini mempunyai makna dari dua kata yaitu Sembah Eyang, yang artiny Menghormati Leluhur, dilain pihak jika memang Leluhur itu mempunyai Tugas dari Allah untuk menolong manusia maka kita bisa juga meminta tolong PadaNya[ seperti halnya klo kita meminta tolong pada Oranng Tua kita sendiri].nah karena kita memang hendak menghormati leluhur maka harusnya kita bersih lahir dan bathin,ga usah pakai pakaian bagus yang penting sopan dan bersih, nah untuk wanita haid yang ga boleh sembahyang itu juga ada aturannya, karena tidak hanya orang yang baru haid, tapi orang yang sedang sakit, orang yang banyak mengeluarkan darah[pendarahan],orang yang sedang berduka,orang yang baru melahirkan,orang yang sehabis berhubungan lawan jenis,orang yang habis melayat,orang yang kelelahan,berdoa juga ga boleh alas kaki atau pakaian atau perhiasan yang terbuat dari mahluk hidup[tas kulit,sepatu kulit,jaket kulit,jam tangan kulit,sabuk kulit,dll], itu semua dikarenakan saat kita berdoa sebenarnya kita sedang mengeluarkan getaran getaran/gelombang frekuensi dua rah, jadi klo orang yang sedang haid atau banyak mengeluarkan darah akan timbul aura dan aroma yang kurang baik klo kita pancarkan,nah klo dari kita memancarkan getaran yang kurang baik maka getaran yang kita terima juga kurang baik, maka kadang kala ada yang berkata jangan sembarangan bicara di tempat yang sakral bisa kualat, itu sebenarnya gelombang yang dipancarkanlah yang membuat seseorang itu seakan mendapat “pengajaran”,sebenarnya klo ada yg bertanya sembahyang kok blm tentu dikabulkan, sebenarnya orang yang sembahyang saja yang tidak mengerti cara sembahyang jadi bukan belum/tidak dikabulkan,masih banyak ajaran ajaran leluhur yang sebenarnya mirip mirip disemua agama sudah tidak diketahui karena memang tata aturan itu tidak dibukukan karena dulu setiap upacara pasti ada yang membimbing, jadi hanya pembimbingnya yang tahu, lama kelamaan ajaran2 itu punah,apa lagi di China setelah Revolusi Budaya, di Indonesia setelah 30 tahunan ga boleh ada adat TiongHua,di Taiwan&Hongkong banyak diselewengkan untuk cari duwit. Begitu masih panjang sih klo mau dijabarkan, siapapun yang mau tukar pengetahuan boleh kok kumpul2 di Viharaw mana telp janjian dulu[02133116469],kita tukar pengetahuan untuk amal ga pake embel2 materialistis, Semoga Tuhan Memberkati

  18. steaven tan says:

    Saya Setuju dengan Admin. Memang kenyataannya sperti itu. KRISTENISASI khususnya Untuk masyarakat Tionghoa menjadi target Utama,Terbesar dan TERBANYAK. Selain etnis Jawa dan Kalimantan (menurut artikel yg pernah saya baca). Karena Hindu&Muslim masih kuat dan teguh memegang Agamanya. Apalagi dgn “free fork consumtion”. Sekarang lebih dikaitkan pernikahan Suku Batak&Tionghoa sebagai alat transisi agama. Mari budayakan sembahyang bersama keluarga ke Li thang/pekong. Agar anak2 kita kenal budaya leluhurnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

error: eits, mau ngapain nih?