Alasan Makin Menurunnya Pemeluk Agama Tionghoa di Indonesia

gereja tionghoa

Saya beberapa bulan yang lalu mengelilingi kota-kota besar di Indonesia, seperti Medan, Palembang, Bandung, Semarang, Surabaya, sampai Makasar karena pekerjaan. Sekalian saya ambil waktu sedikit buat jalan-jalan mengelilingi setiap kota yang saya kunjungi; tentu saja yang tidak akan saya lewatkan adalah berkunjung ke beberapa Kelenteng setempat. Karena tidak menguasai lokasi, saya menggunakan jasa taksi. Miris memang, saya malah menemukan banyak Kelenteng yang sudah tidak berpenghuni.

Ini berbanding terbalik dengan kondisi tempat ibadah umat Nasrani yang malah dipenuhi oleh etnis Tionghoa. Saya sendiri tinggal di Jakarta sering mengamati banyak orang Tionghoa yang berbondong-bondong untuk datang ke Gereja untuk sekedar mendengar khotbah/ceramah. Saya sering berpikir, apa alasan mereka untuk pindah Agama? Lah, masa sih bapak orang lain mau dianggap sebagai bapak sendiri? Etnis Tionghoa yang masih memeluk kepercayaan aslinya terus menurun dari tahun ke tahun. Kalaupun ada penambahan hanya karena ikatan perkawinan yang mengharuskan untuk pindah kepercayaan, bukan keiklasan atau kesadaran. Boleh dibilang masuk 1 keluar 10. Kalau begini akan habis juga cepat atau lambat.

Loading...

Salah satu penyebab utama yang dapat saya tangkap, adalah karena begitu banyaknya mitos, tahayul, tradisi, kebiasaan, dan lain sebagainya tentang budaya Tionghoa sendiri yang sulit dicerna oleh akal sehat. Ini yang dimanfaatkan oleh Agama lain untuk menarik umat-umat berduit dari kaum Tionghoa untuk membangun tempat ibadah mereka sampai besar dan bertingkat-tingkat. Mereka memberikan doktrin bahwa kepercayaan dan agama Tionghoa itu setan lah, tidak logika lah, musyrik lah, sesatlah dan lainnya. Hasilnya bisa dilihat, pemuda/i Tionghoa sekarang rata-rata sudah pindah Agama bukan? Sisa petua petui berusia saja yang kebanyakan masih menjalankan tradisi/kebisaan leluhur. Kalaupun mereka (muda/i) masih ikutan, itu karena dipaksa, atau dilihat karena tradisi itu menguntungkan mereka, seperti :

1. Tradisi Imlek > Bisa dapat angpao. Tentu harus ikut ini kalau engga, ya tidak dapat duit. Tapi hanya di sesi makan-makan bersama saja. Sesi sembahyang sehari sebelum Imlek engga ikut karena harus sembahyang pegang dupa.
2. Tradisi Tea Pai > Sama kayak angpao. Engga mau ikut pai tea, jangan harap mau dapat angpao atau emas tebal-tebal dari keluarga. Tapi masih saja dikadalin, mereka tidak mau soja dengan alasan termasuk berhala?
3. Pernikahan ala Tionghoa > Yup. Biar dapat angpao banyak dari tamu, pasang huruf SUANG HI di pelaminan. Karena Tionghoa identik dengan orang kaya dan eksklusif. Ini fakta dilapangan lho. Saya banyak menjumpai dan mendegar hal demikian. Jadi istilahnya pakai label Tionghoa gitu.
4. Makan Kue Pia > Lumayan dapat makanan enak, kue pia sekotak harganya 100-200 ribu (mereak tertentu bahkan bisa diatas sejuta). Lumayan buat dipamerin ke teman. Kalaupun mesti ke kelenteng, lumayan lah buat cuci mata karena biasanya hari itu banyak cewek cantik atau cowok cakep Tionghoa yang memang kebetulan sembahyang ke kelenteng untuk minta/cari jodoh (refensi : baca cerita Dewa Yue Lao)

Sementara tradisi-tradisi yang “merugikan” mereka, seperti :

1. Ziarah Ceng Beng > Capek mesti ke kubur. Mesti siapin makanan lagi, keluar duit kan? Harus pegang dupa lagi (doktrin).
2. Sembahyang bulan 7 tanggal 15 > Sama. Mesti keluar duit juga, mending ikut saja doktrin agama Gereja bahwa itu termasuk penyembahan berhala/setan.
3. Pergi sembahyang ke Kelenteng setiap hari sejid Dewa/Dewi > Ke tempat yang penuh asap, kusam, suasana mencekam, panas, mana mau? Belum lagi harus lihat kepala babi di tengah altar kalau ada sembahyang besar? Idih jijik deh. Mana cuma datang pai pulang lagi (umat cung cung cep). Tidak ada ceramah, suntuk, mending bobok atau mending ke gereja. Adem, wangi, tempat di mall atau gedung/ruko baru, ramai lagi penuh teman se usia.
4.  Sembahyang Ce It dan Cap Go > Waduh harus nyiapin segala keperluan sembahyang di rumah. Keluar duit sih gapapa, tapi kan capek juga. Kalau ke kelenteng, sisa ketemu tua-tui semua, jadi malas duluan. Mending tiap minggu ke Gereja dengar khotbah pendeta, lokasi strategis, ramai, tinggal duduk, dapat bonus cuci mata lagi.

“Jadi jangan kira mereka patut di puji karena masih menjalankan “sebagian” dari tradisi Tionghoa; Mereka hanya mau menjalankan tradisi yang enak dan menguntungkan saja”

Saya barusan terpikir kenapa salah satu manusia etnis Tionghoa yang bernama Cristofus Sindunata pada tahun 1967 mendukung Inpres Nomor 14 Tahun 1967? Tentu tak lain agar orang Tionghoa dipaksa untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah Swasta yang rata-rata memang di kelola oleh yang Nasrani. Tidak mungkin orang Tionghoa memasukkan anaknya ke sekolah “pribumi” alias sekolah negeri yang harus masuk Agama Islam atau berjilbab untuk wanita. Saya salut karena ini bisa dibilang investasi jangka panjang beliau. Beliau tidak mengincar generasi bau tanah se usianya karena sadar sebentar lagi sudah mau waktunya. Beliau mengincar generasi muda agar kelak Agama Nasrani bisa maju pesat dan berkembang di tanah air. Jadi semenjak kecil anak sudah mengenal firman Tuhan, dan lama-lama pindah agama, apalagi teman-teman se-usia mereka juga sudah masuk Gereja.

“Konsep surga dan neraka itu buat menakut-nakuti domba-domba. Nanti kalau sudah pintar semua, domba nya sukar digembalakan. Agama itu untuk mengatur biar umat tidak kacau. Kalau Agama sampai membuat kita malas menggunakan otak untuk berpikir, mungkin sebaiknya otaknya dikembalikan saja. Jangan sampai agama hanya diperuntukan bagi mereka yang berhenti berpikir”

Saat ini tradisi dan kebudayaan Tionghoa, meski sudah bebas berkembang di tanah air, tapi makin dikit saja umatnya. Seperti catatan perjalanan singkat saya di awal paragraf, banyak kota besar yang Kelentengnya sudah kosong melompong pada saat sembahyang. Ini harusnya menjadi tantangan bagi pengurus Kelenteng dan bagi generasi penerus Tionghoa yang masih bertahan agar bagaimana melestarikan tradisi, kebudayaaan dan agama Tionghoa agar tidak makin terpuruk. Satu lagi soal bahasa, kebanyakan orang Tionghoa malah tidak bisa berbahasa Mandarin dan memegang sumpit, sementara orang pribumi malah fasih berbahasi Mandarin dan pintar pegang sumpit di restoran. Ini fakta yang saya temukan sewaktu makan di beberapa restoran. Lucu memang, tapi itulah kenyataan nya.

Semoga pembaca bisa menyimpulkan sendiri.

Lampiran (admin) : Tampak pada foto gereja yang digantung ornamen khas Tionghoa; sumber foto dari city.seruu.com

Catatan (admin) : Merupakan pandangan pribadi penulis yang bersifat subjektif

Loading...

The following two tabs change content below.

Stevany

Saat ini berstatus sebagai seorang mahasiswi jurusan IT di Medan. Aku seorang penyayang binatang dan tumbuh-tumbuhan ^^. Quote : A journey of a thousand miles begins with a single step.

208 Responses to Alasan Makin Menurunnya Pemeluk Agama Tionghoa di Indonesia

  1. Herman Tan says:

    Mohon maaf sdri Ocha, komentar Anda terdeteksi sebagai SPAM di sistem kami. Jika berkenan dan tidak capek, boleh coba ketik lagi.

    Demikian info & salam hangat

  2. Dony says:

    Masalah ini no comment aku campuran etnis tionghoa dan pribumi. Keluarga kita beda agama semua, ada konghucu, kristen, khatolik, budha, islam. But no problem baek” aja itu orang” g bentrok. Yang penting itu” nga BENTROK!!, Saling menghargai. Gua sendiri yang komunis malahan, but gua percaya Tuhan, Allah, Allah SWT Dewa/Dewi. tapi kalo yang bener menurut saya cuman 1 Tuhan mencakup apapun, dimanapun, bagaimanapun, kapanpun…

  3. RISKI MEKARIA says:

    Ini masalah awal nya dari yang bikin cerita. Tionghoa berkuarang pada lari ke kristen. Mohon maaf mas di Agama saya. Untuk mu Agama mu untuk ku agama ku.so seaindainya berkurang itu bukan urusan anda. Dan seandainya aturan agama tionghoa berat itu bukan anda juga yang menjalanin.
    Setiap orang punya kepercayaaan.
    Mengutip kata terakhir mas manusia yang berotak pasti mikir jikaa tidak mikir kembaliin saja otaknya.
    Kalo begitu selamat berfikir yaa mas tentang toleransi
    Islama agama ku, gua yakin dan percaya kebenaran. Begitu pun dengan agama kalian pasti yakin dan percaya

  4. Orang Bingung says:

    Hai orang2 Tionghoa, sembahlah Yesus kalau dia sudah jadi bermata sipit dan berkulit putih susu seperti kalian atau nenek moyang kalian. Juga untuk orang2 Papua, sembahlah Yesus kalau beliau sudah jadi berkulit hitam legam, berambut hitam kribo (bukan bule kribo), dan berbibir tebal seperti kalian atau nenek moyang kalian. Maaf ini bukan bermaksud bermain fisik tapi hanya pendekatan logika saja. Maaf dia tidak akan pernah seperti itu, karena dia selamanya bule yahudi Israel. Kalu baru tiba2 akhir2 ini atau beberapa tahun kebelakang, bahkan berbelas atau berpuluh tahun belakangan Yesus berubah warna kulit, rambut, dan ciri2 fisiknya jadi seperti kalian, maka ketahuan bangat bohongnya alias maksa hanya demi penyebaran agama saja agar lebih mudah diterima, karena dalam sejarahnya sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu, sejak lahir sampai dibunuh, lalu bangkit lagi Yesus tetap sama dalam semua bukti2 sejarah lukisan2, patung2, literatur2, dll, bahwa Yesus adalah seorang bule yahudi israel.

  5. Orang Bingung says:

    Coba jujur jawab saya, apakah menurut kalian secara logika (katanyakan orang Tionghoa otaknya pinter2 semua)Apa menurut kalian orang2 bule Eropa, Amerika Australia, Inggris, dll mau nyembah Yesus sebagai Tuhan, bahkan sekedar anak Tuhan doang deh, kalau sosok Yesus di tiang salib bukannya bule yahudi Israel tapi bermata sipit dan berkulit putih susu? atau apalagi berkulit hitam legam keling, berambut kribo, dan berbibir tebal? Pasti tidak akan pernah mau, saya jamin. Lalu diantara semua etnis di dunia kenapa cuma dipilih bule yahudi israel aja yang boleh jadi Tuhan dan anak Tuhan?, kenapa etnis lainnya gak boleh, berarti lebih rendah donk derajatnya?? Kalau begitu apakah Tuhan Bapak Adil dengan sikapnya yang seperti itu?? Saya berani jamin Kristen tidak akan pernah menjadi mayoritas (Sebenernya sekarang sudah Atheis sich yang mayoritas)kalau saja sejak berdirinya agama itu atau lahir ke dunia ini sosok Tuhan atau anak Tuhan itu berupa lelaki yang berfisik bermata sipit dan berkulit putih susu, atau apalagi berkulit hitam legam keling dan berambut kribo, berbibir tebal. RENUNGKANLAH.

    • Dude says:

      Bule Yahudi Israel tuh dipikiran lo emang kaya gimana ya? Kaya penggambaran artis-artis Eropa jaman dulu? Rambut blonde mata biru? Semua orang tau Yesus bukan “BULE” dan bukan ras mayoritas, bukan pula sama dengan orang-orang bule Eropa -rambut blonde mata biru. Yesus pun minoritas, middle eastern man, dan kalo lu coba baja Bible he has nappy hair. For your information, ada kok Black Jesus di beberapa black church, Asian Jesus pun ada bahkan ada juga di gereja Indonesia yang pernah pasang Bunda Maria dan Yesus versi Asia, karena gak ada pematung/artist yang tahu persis tampang aslinya. Penggambarannya gak penting, orang yang beneran Kristen percaya akan kebaikan-Nya bukan tampangnya yang banyak di patung-patung gereja, lukisan Leonardo Da Vinci,dll. Kalo mau jadi atheis, jadi atheis yang pinteran dikit dong. Take your racist ass somewhere else.

  6. Orang Bingung says:

    Orang Islam bingung kenapa Tionghoa, Batak, Papua, Ambon, dll pada masuk Kristen dan nyembah Tuhan Yesus seorang pria bule yahudi Israel di tiang salib. Mereka masih maklum kalo yang disembah di tiang salib sebagai Tuhan itu sosok pria Tionghoa, Batak, Papua, Ambon, dll sesuai dengan nenek moyang masing2 kan? Di Islam kalo orang Islam nyembah Muhammad yang orang Arab bakal ditendang pantatnya keluar dari surga nyebur ke neraka. Budhapun tidak pernah minta disembah dan ngaku dirinya Tuhan, beliau seorang guru, filsuf, pemimpin spiritual, motivator, penasihat, teladan dll. Konghuchu lebih menitik beratkan pada penghormatan pada arwah leluhur atau nenek moyang kalopun itu bisa disebut penyembahan. Kalopun ada dewa2, semua sosoknya china tulenkan. Demikian pula hindu semua dewanya meskipun punya banyak tangan, warnanya biru donker, berwajah ada 4 tapi setidaknya semua sosoknya India asli. Pertanyaannya kenapa kalo mau ngambil image of God harus pilih kasih ke salah satu ras tertentu yang dipertuhankan. Sementara ras lainnya harus nyembah dia. Bukankah sifat Tuhan itu paling adil, kalo gitu seharusnya Yesus seminggu jadi yahudi bule, seminggu, jadi negro, seminggu jadi Chinese, minggu depannya ganti lain lagi, terus begitu biar semua kebagian kan adil, jadi tidak ada ras yang superior dan inferior, bukankah Tuhan bisa apa aja?, kecuali kalo sebenarnya hanya manusia biasa. Sementara dalam sejarah peradaban dunia yang didominasi Kristen, paling sering orang negro yang dijadikan budak oleh bule yang se-ras sama Yesus, sekarang orang negro di seluruh dunia termasuk Papua kok mau aja nyembah yang memperbudak mereka, apakah tidak berpikir? Di Nusantara pertama animism, dinamisme, lalu masuk Hindu, lalu Budha, Lalu konghuchu dan Tao, Lalu Islam, semua masuk melalui pergaulan di pasar dan pantai melalui tawar-menawar jual-beli alias dagang dan barter, juga perkawinan. Lalu terakhir masuklah Belanda, Portugis, juga Inggris yang mungkin awalnya dagang rempah2 dan beli tanah, tapi lama2 ngejajah, memperbudak, memperkosa, ngebunuh, memaksa menjadikan pelacur, dan itu berlangsung selama +- 350 tahun dan selama itu pula Kristen disebarkan di Nusantara dengan cara pemaksaan dengan slogan penaklukannya Devide et Impera, mengadu domba umat dan memecah belah, juga yang paling terkenal Triple G= Gold, Glory, and GOSPEL (Bible/ Church). Lalu sekarang kenapa banyak yang menganut product penjajah ini dengan bangganya, dan ironisnya menyebut Islam Terorislah padahal jelas2 sekarang Palestina Islam yang dijajah oleh Israel (Memang mereka Judaism bukan Kristen) dan direbut rumah dan tanahnya, juga diusir gak boleh balik lagi. Memang peristiwa Mei 98 tak bisa di maafkan, tapi apa sebanding dengan rentang waktu yang selama 350 tahun sebelumnya? Sedangkan Mei 98 hanya berapa hari sich?, berapa korbannya jika dibandingkan selama 3,5 abad? Helloo? Kalo Mei 98 tak boleh dilupakan, apalagi 3,5 abad penjajahan bukan? Lagian sekarang gak bener banget kalo dibilang Kristen itu lebih modern, canggih, sukses, kaya raya, asyik, gaul, funky, keren, trendy dll. Sekarang yang begitu diseluruh dunia termasuk di RRC, Hongkong, Jepang, dll adalah Atheism atau paling gak ya Agnostism, makanya kalo mau jadi modern, canggih, sukses, kaya raya, asyik, gaul, funky, keren, trendy dll jadilah Atheis atau Agnostic aja jangan mengagungkan produk penjajah sementara nunjuk hidung orang lain teroris atau mengelu2kan Mei 98 tapi melupakan yang 3,5 abad. Lagian ISIS, menara kembar WTC, dll udah banyak orang bule di internet dan youtube yang ngebahas dengan dengan bukti2 dan argument kuat bahwa itu sebenernya inside job alias conspiracy theory, cobalah research.

  7. Hadi kusuma says:

    Menurut saya Penjelasan tradisi2 konghucu dan filosofinya ke generasi sekarang yg kurang jelas.. kalo d tanya anak2 kita nanti tidak menjawab “memang dr sananya begitu” kalo pengertiannya tepat akan menimbulkan prinsip dalam diri sendiri.. jadi mau ajakan gimanapun ga akan terpegaruh.. Yesus sndr menurut pandangan saya adalah seorangyg mencapai penerangan sempurna dengan caranya.. dalam agama Buddha disebut Bodhisatva dan Buddha.. yaa intinya agama apapun tujuan aslinya adalah kebaikan.. cuman jaman sekarang banyak disimpangkan untuk tujuan tertentu… sebagai keturunan tionghoa adalah jiwa dan darah saya untuk selalu menghormati leluhur saya… memegang teguh tradisi leluhur… bukan malah dikatai setan… sesat… orang tua sndr meninggal dikatai setan.. hahaha ya karena itu td.. penjelasan tradisi2 yg kurang jelas… hal ini pun akan saya tanamkan sm anak2 saya… jadi tetap pada jalurnya masing2… 🙂

  8. Lin says:

    Saya bersekolah dari kecil dari TK sampai SMA di sekolah Nasrani. Agama yang pertama kali saya tau dan pelajari adalah Nasrani. Saya pada akhirnya lebih memilih menjadi Buddhis karena bagi saya ajarannya memang cocok,logis,realistis. Cocok juga dengan tradisi Tionghoa Terutama untuk menjalankan tradisi menghormati leluhur.Walau pun saya Buddhis beraliran Theravada kita sebagai seorang anak ketika orang tua kita tidak ada haruslah melakukan pelimpahan jasa agar orang tua kita bahagia dan bisa terlahir di alam yang lebih bahagia.bagi saya tradisi ini bisa saya lanjutkan. Apalagi di keluarga saya yang terutama sepupu” saya kebanyakan pindah ke Nasrani. Saya cukup tidak setuju jika menghormati leluhur sampai pegang dupa tidak boleh dan dikatakan menyembah berhala. Karena saya sendiri bukan meminta meminta kepada leluhur saya untuk dikabulkan permintaannya tetapi menghormati jasa” dan kebajikan yang pernah dilakukan.

  9. Rey says:

    Sebelumnya kami Keluarga tionghoa kristen katholik, Setelah saya berkiprah di dunia intellijen akhirnya saya menemukan sebuah pola rumus kejahatan yg sistematis internasional. Dengan berbagai riset dan sumber bukti yang saya arsipkan selama ini. Akhirnya saya memutuskan masuk Islam. Perkataan Nabi Muhammad SAW, yang paling di ingat oleh umatnya adalah Tuntut lah ilmu sampai akhir hidup walaupun sampai kenegeri china. Banyak diantara warga tionghoa yg setelah berkiblat kebudaya barat. Budaya malunya hilang. Sehingga adab sopan santun pelan2 mulai terkikis. Setelah saya melakukan penelitian banyak Petuah petuah cina tentang kebenaran banyak yg sejalan dengan islam.

  10. Nova says:

    Saya Kristen dan pribumi. Saya sbnrnya benci dgn bhasa pribumi dan nonpribumi ini. Bahasa pribumi ini seakan jd jurang pemisah. Krn buat saya semuanya tetap aja sama, WNI.

    Sebelum membaca web ini, jujur saya sangat respect dgn agama Budha. Agama yg paling saya hargai di luar agama saya. Tp stlh membaca ini, respect saya malah mulai memudar. Anggap saja saya kecewa dgn ‘nilai penghargaan’ yg saya berikan selama ini dlm pikiran saya… Semoga saja tidak semua pola pikir teman2 beragama Budha seperti ini.
    Terima kasih.

  11. Dicky Huang says:

    Menarik, ketika saya yang keturunan Tionghoa bercampur darah Jawa yang awalnya waktu kecil rajin diajak ke Kelenteng & Vihara oleh ayah saya kemudian dibesarkan secara K*****k oleh nenek dari ibu semenjak kedua orang tua bercerai. Namun belakangan saya mulai merasakan ada yang kurang cocok antara pemikiran saya dengan ajaran yang dianut saat ini. Dari sini, berkat pengalaman sembahyang (secara agama Tionghoa) dengan keluarga ayah 2 tahun lalu, saya mulai tertarik mempelajari budaya nenek moyang saya yang lain. Semenjak itu banyak yang sinis pada saya yang mulai belajar budaya Tionghoa ini, bahkan teman-teman kuliah pun saat ini kembali mengupayakan saya agar kembali ke ajaran yang sebelumnya saya jalani, entah apa yang akan orang katakan dengan saya yang berkulit coklat matang layaknya orang jawa sembahyang ala Tionghoa… saya tidak peduli, karena saya merasa itu bagian dari jati diri saya… meskipun banyak yang ga percaya, saya bangga punya keluarga Tionghoa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Loading...