Cara Membaca Penulisan Bongpay di Makam Tionghoa

Bongpay adalah sebutan dalam dialek Hokkian untuk papan nisan pada makam tradisional Tionghoa yang biasanya terbuat dari batu, marmer ataupun batu sejenis lainnya. Di atas bongpay biasanya terdapat tulisan-tulisan dalam karakter Hanzi yang mengandung makna dan nilai artistik.

Pada bongpay juga tertulis informasi tentang si mendiang pemilik makam. Bongpai juga melambangkan bakti dari anak cucu kepada sang mendiang.

Bongpay adalah bagian terpenting dari makam tradisional Tionghoa. Bentuk makam dengan bongpay yang berdiri atau menancap di depan dan sistem penulisannya yang kita lihat sekarang umumnya berasal dari penulisan zaman Dinasti Ming dan diteruskan hingga sekarang (kurang lebih sudah 600 tahun).

Tata cara penulisan dan pembacaannya adalah dari kanan ke kiri dan dari atas ke bawah. Bongpay yang umumnya kita lihat umumnya terdiri dari 4 bagian, yaitu Baris Kanan, Baris Tengah, Baris Horizontal (Mata Bongpay) dan Baris Kiri :

Baris Kanan : Menuliskan masa dan waktu saat bongpay dibuat atau diperbaiki. Biasanya ditulis dalam tahun kekaisaran, tahun Tian Gan Di Zhi (tahun shio), musim atau bulan. Cara penulisan umumnya mengikuti aturan (5n + 1) = 6, 11 (dan kelipatan) karakter yang bermakna dan terpulang pada arti ‘Lahir’ pada 5 karakter ‘Lahir, Tua, Sakit, Derita dan Mati‘.

Baris Tengah : Menuliskan tentang nama dan status selama hidup mendiang. Di zaman Dinasti Ming dan Qing, biasanya dimulai dengan 2 karakter Huang Ming atau Huang Qing, namun pada saat sekarang ini, biasanya langsung dimulai dengan 2 karakter Xian Kao atau Xian Bi yang artinya ‘Mendiang Ayah’ atau ‘Mendiang Ibu’.

Loading...

Baris tengah ini lalu diakhiri dengan karakter Mu atau Zhi Mu yang artinya ‘Makam’ atau ‘Yang Punya Makam’. Status dan kedudukan dalam masyarakat selama hidupnya juga boleh dituliskan di sini. Seperti gelar kesarjanaan yang didapat melalui ujian maupun sumbangan dalam kekaisaran, ataupun pernah menjadi pejabat di daerah tertentu.

Jumlah karakter di sini harus menurut aturan (5n + 2) = 7, 12, 17, 22 (dan kelipatan) karakter untuk memenuhi makna ‘Tua’ pada 5 karakter diatas.

Mata Bongpay : Mata Bongpay adalah sebuah baris horizontal yang biasanya hanya terdiri dari 2 karakter yang biasanya tertulis :

» Daerah (kabupaten kuno) di mana marga atau keluarga mendiang berasal.
» Peristiwa besar mengenai marga atau keluarga si mendiang.
» Jumlah generasi mendiang dalam silsilah keluarganya yang ditandai dengan karakter yang tidak sama namun berurutan setiap generasi membentuk suatu kata panjang yang mempunyai makna.
» Asal kampung halaman.

Baris Kiri : Menuliskan siapa yang membuat bongpay tersebut, yang biasanya adalah anak dan cucu mendiang. Ada juga yang menuliskan nama dari anak laki-laki dan cucu dalam (anak dari anak laki-laki). Ada pula yang cuma menuliskan beberapa karakter sebagai pengganti nama anak dan cucu dalam mendiang. Bagi yang tidak punya anak laki-laki biasanya menuliskan dibuat oleh anak perempuan. Jumlah karakter memenuhi aturan (5n + 1) karakter.

Demikianlah sekilas tata cara dan arti penulisan dari bongpay yang lumrah kita lihat dalam makam tradisional Tionghoa. Saat ini, di beberapa negara yang kekurangan lahan seperti di Singapura, Taiwan dan HongKong, umumnya cara pemakaman yang dipopulerkan pemerintah adalah dengan cara kremasi dan kemudian ditempatkan dalam rumah abu.

Di sini, setiap abu jenazah mempunyai bilik-bilik tersendiri dan bongpaynya juga otomatis ikut dibuat menjadi kecil sesuai ukuran/luas bilik. Di zaman sekarang, waktu atau masa dibuatnya bongpay seharusnya boleh ditambahkan tahun (mengikuti tahun masehi), bulan dan tanggal agar memudahkan identifikasi untuk anak cucunya kelak.

Loading...

The following two tabs change content below.
Tertarik dengan tradisi & budaya Tionghoa di Indonesia. Ikuti Twitter @tionghoainfo untuk info-info terbaru.

2 Responses to Cara Membaca Penulisan Bongpay di Makam Tionghoa

  1. Tommy says:

    Bagaimana sih cara kita menulis nama mendiang yang kita sembayangi di kertas huthau (Kertas Kuning) untuk ditempelkan di siothau(Koper Sembayang Cheng Beng)? thanks

    • Herman Tan says:

      Yang ini harus tanya pembaca lain yang pernah melakukan, atau pernah lihat, atau setidaknya mengetahui tata cara tersebut. Caranya mungkin bisa beragam tergantung daerah dan kebiasaan masing-masing adat/suku Tionghoa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: eits, mau ngapain nih?