Category Archives: Kerusuhan Mei 1998

Peringatan 20 Tahun Reformasi, Tionghoa Sebagai “TUMBAL” Reformasi

Peringatan 20 Tahun REFORMASI (12 Mei 1998 – 12 Mei 2018), Tionghoa Sebagai “TUMBAL” Reformasi. Pada bagian depan Museum Tionghoa Indonesia di Kawasan TMII, Jakarta, terpampang kalimat “Indonesia Kepadamu Kami Berbakti”.

Kapan ‘Kecinaan’ Akan Berhenti?

Kebrutalan dalam kerusuhan 13-15 Mei 1998 menyebabkan terjadinya eksodus massal. Ribuan orang keturunan Tionghoa dari beberapa kota besar di Indonesia ‘melarikan diri’ ke negara-negara tetangga, seperti Singapore, Malaysia, Hongkong, Taiwan dan Australia (Pertanyaan : Kenapa Tiongkok bukan menjadi salah satu Negara yang dituju sebagai pelarian?)

Siapakah Provokator dan Rekayasa Peristiwa Mei 1998?

Kerusuhan 13-15 Mei 1998 di Jakarta berlangsung mengikuti tahapan-tahapan; kerusuhan dimulai dengan adanya aktivitas provokasi dan perusakan, kemudian diikuti penjarahan, dan diikuti dengan pembakaran. Pola kerusuhan dibeberapa wilayah juga berbeda-beda, ada wilayah tidak dijarah tapi dirusak dan kemudian dibakar, atau ada juga wilayah lain yang dirusak dan dijarah tapi tidak dibakar.

Peristiwa Mei 1998 di Jakarta : Titik Terendah Sejarah Etnis Tionghoa di Indonesia

Kerusuhan 13-15 Mei 1998 di Jakarta merupakan malapetaka terbesar yang dialami bangsa Indonesia, khususnya bagi keturunan etnis Tionghoa. Apakah secara langsung kerusuhan tahun 1998 tersebut diarahkan pada orang-orang keturunan Tionghoa, memang tidak begitu jelas.

Mengapa Pemukiman Mereka Dijarah? Kajian Historis Pemukiman Etnis Tionghoa di Indonesia (Bagian II)

Pemukiman Masyarakat Tionghoa dan Sentimen Massa : Kasus Jakarta

Kedudukan etnis Tionghoa sebagai “massa mengembang” rupanya berdampak besar pada pola interaksi antar etnik di Indonesia.

Tidak banyak diketahui bagaimana pola interaksi yang terjadi itu pada masa lampau sebelum penguasa Belanda masuk ke Indonesia, namun dari uraian Coppel dapat kita duga bahwa saat itu masyarakat Tionghoa sebagai pendatang agaknya hidup berbaur dengan masyarakat setempat. Hubungan antara kelompok etnis Tionghoa dan kelompok pribumi mengalami pasang surut dari waktu ke waktu.

Mengapa Pemukiman Mereka Dijarah? Kajian Historis Pemukiman Etnis Tionghoa di Indonesia (Bagian I)

Masih lekat dalam ingatan kita apa yang terjadi ketika Kerusuhan Mei 1998 melanda kota Jakarta. Sebagian orang mengikutinya lewat berbagai media massa, terutama televise dan radio, yang melakukan reportase perkembangan keadaan dari menit ke menit. Sebagian lain bahkan menyaksikan kejadian itu dengan mata kepala sendiri karena tepat berada di lokasi kejadian.

Korban dan Pengorbanan Perempuan Etnis Tionghoa di Indonesia (Bagian III)

Bahwa peristiwa 13 Mei 1998 mempunyai motif politik adalah tidak perlu disangkal lagi. Pada peristiwa itu perusahaan-perusahaan milik warga keturunan Tionghoa dijarah dan dibakar. Yang lain “lolos” dengan lemparan batu saja. Tetapi yang paling menyedihkan adalah terjadinya penganiayaan secara fisik, dan terutama pemerkosaan perempuan-perempuan Tionghoa.

Korban dan Pengorbanan Perempuan Etnis Tionghoa di Indonesia (Bagian II)

Betapa menderitanya perempuan Tionghoa di Indonesia pada masa sebelum kemerdekaan tidak mungkin diketahui lewat statistik atau catatan sejarah. Salah satu cara untuk mengungkapkannya adalah dengan menelurusi membaca riwayat orang-orang yang aktif membela dan menolong perempuan Tionghoa yang mengalami aneka macam tindak kekerasan. Mereka-mereka ini perempuan Tionghoa juga yang dengan suka rela memberikan watu bakat, kepandaian, bahkan sebagaian dari harta mereka.

Korban dan Pengorbanan Perempuan Etnis Tionghoa di Indonesia (Bagian I)

Pembicaraan mengenai perempuan sudah tentu disertai pembicaraan mengenai penderitaan dan pengorbanan. Apalagi kalau subjek pembicaraan itu adalah perempuan etnis Tionghoa, yang sudah diketahui sejak berabad-abad lamanya telah banyak dikorbankan.

Korban Mei 1998 : Mengapa Harus Perempuan Tionghoa?

Apabila menilik sejarah dari hubungan antara masyarakat yang mengaku asli Indonesia dan didefinisikan serta mendefinisikan diri sebagai pribumi dengan masyarakat pendatang yang berasal dari negeri Tiongkok, maka dapat dikatakan bahwa sentimen yang muncul diakibatkan oleh adanya pengklasifikasian struktur sosial oleh kolonial Belanda pada waktu itu.

error: eits, mau ngapain nih?