Hua Mulan

Pada jaman dahulu, di sebuah desa kecil di bagian utara Cina, hiduplah Hua Mulan sekeluarga. Ayah Hua Mulan adalah Hua Hu, dulu ia adalah seorang jendral pembela tanah air yang pernah bertempur ratusan kali. Sekarang, karena sudah tua dan sering sakit, ia pensiun dan beristirahat di rumah. Selain ayah dan ibu, masih ada seorang kakak perempuan yang bernama Muhui dan seorang adik laki-laki yang bernama Mudi. Mulan sejak kecil sudah sangat pintar, ia gemar belajar. Ia tidak hanya belajar pada ibunya untuk menguasai pemintalan dan penenunan, tetapi juga ia mengikuti ayahnya berlatih silat dengan baik.

Pada suatu hari, Mulan yang pintar dan cekatan duduk di samping mesin tenun, ia tidak menenun seharian, hanya mendesah panjang di hadapan mesin tenun. Kakaknya Muhui berjalan di ruang samping mesin tenun, mendengar suara desahan Mulan, dalam hatinya berkata, ”Adik biasanya cekatan, orang yang selalu punya ide, kenapa hari ini tiba-tiba berkeluh-kesah?” kemudian ia masuk ke ruang mesin tenun.

Ia melihat wajah Mulan memperlihatkan wajah gelisah, lalu berkata sambil bergurau, “Tidak terdengar suara mesin tenun, hanya terdengar kamu berkeluh kesah di sini, barangkali usia adik sekarang sudah dewasa, ingin segera menikah, betul kan?” Mulan begitu mendengar ucapan tersebut segera berseru, “Walaupun saya sudah besar, tapi tidak sebesar usia kakak. Bila mau menikah, harus kakak dulu yang menikah.” selesai bicara, lagi-lagi terdiam dan tertunduk lesu. Muhui melihat Mulan tidak ingin berbicara, lalu ia berpura-pura marah. Mulan begitu melihat Kakaknya marah, terpaksa ia memberitahu kakaknya mengapa ia berkeluh kesah.

Loading...

Sebenarnya, kemarin malam, orang di dalam rumah sudah tidur, hanya Mulan sendiri yang masih menenun. Pada saat itu prajurit lokal membawa perintah militer darurat untuk merekrut tentara. Prajurit lokal berbicara kepada Mulan, ” Musuh telah datang menyerang negara kita, situasi perbatasan gawat, atasan ingin agar ayahmu segera kembali untuk berperang.” Mulan yang mendengar sangat cemas. Dia memberitahu prajurit lokal bahwa ayahnya sudah sakit-sakitan, tidak bisa lagi berperang. Prajurit lokal malah berbicara lagi dengan sikap dingin, ”Saya tidak perduli, suruh saja anak laki-lakinya yang menggantikan.” Selesai bicara, lalu pergi.

Mulan memegang perintah militer, semalaman tidak tidur. Dia berpikir, “Membela tanah air adalah suatu keharusan, tetapi adik laki-laki masih terlalu kecil, kesehatan ayah pun sudah tidak memungkinkan, bagaimana caranya?” Pagi-pagi sekali Mulan dengan gelisah ke tempat pemintalan, tetapi tidak ada keinginan untuk menenun. Dia merasa dirinya mempunyai ilmu silat yang baik, hanya saja karena dia seorang anak perempuan, maka tidak bisa pergi membela negara, tidak bisa menggantikan ayah untuk ikut berperang, sayang sekali. Oleh karena itu, ia berkeluh-kesah, dan akhirnya diceritakan pada kakaknya.

Setelah mendengar pembicaraan Mulan, Muhui pun tidak tahu bagaimana sebaiknya. Tapi, Mulan telah memutuskan sesuatu. Ia lalu menarik kakaknya ke tempat ayah dan ibu, Muhui memberitahu ayah, “Adik kemarin malam telah menerima sebuah perintah militer.” Hua Hu menerima perintah militer itu dari Mulan, setelah selesai membaca, merasa sangat terkejut. Ibu Mulan mendengar Hua Hu akan pergi berperang, takut dan khawatir, ia segera ke hadapan Hua Hu, “Kamu sudah tua, tubuh kamu tidak sehat, mana bisa pergi ke daerah perang? Pokoknya tidak boleh pergi!”

Hua Hu berpikir dengan seksama, ia menganggap membela negara adalah kewajibannya sendiri, lagi pula perang sudah berlangsung, tidak bisa menunggu lagi. Kemudian, ia memutuskan untuk sekali lagi pergi ke medan perang untuk mengabdi. Dia berkata kepada istrinya, “Hanya dengan mengusir musuh, negara baru bisa damai, kita sekeluarga pun baru bisa hidup bersama-sama lagi. Oleh karena itu, kita harus memikirkan kepentingan negara.”

Mulan berkata lagi, “Perkataan ayah benar, tapi ayah sudah tua dan tubuh ayah sudah lemah, bagaimana bisa pergi ke tempat yang jauh untuk berperang?” Kemudian, Mulan mengemukakan idenya sendiri lalu berkata, “Mengingat tubuh ayah tidak sehat, umur adik laki-laki masih terlalu kecil, saya bermaksud menyamar sebagai laki-laki, menggunakan nama adik, menggantikan ayah pergi berperang, apakah kalian setuju?” Semua anggota keluarga setelah mendengar perkataan Mulan, mengira Mulan hanya bercanda.

Pada saat itu, Prajurit lokal datang. Dia mengabarkan perintah militer kedua, agar Hua Hu segera mempersiapkan kuda perang, baju perang, persenjataan, bahkan malam ini segera pergi ke perbatasan, jangan ditunda lagi! Ibu Mulan meminta belas kasihan kepada Prajurit lokal, agar jangan menyuruh Hua Hu ke garis depan, tapi prajurit lokal berkata, “Ini adalah hukum dan perintah negara, siapa yang berani melanggar!” Hua Hu mengabulkan permintaan prajurit lokal, dan mengatakan bahwa dia akan segera mengikuti dari belakang.

Setelah prajurit lokal pergi, hati Mulan sangat sedih. Dia dengan sabar menjelaskan kepada ayah ibu, dengan sungguh-sungguh meminta ayah ibunya mengizinkan dia untuk menggantikan ayah pergi berperang. Ibu berkata, “Seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki bekerja sama, ada banyak hal yang tidak leluasa.” Mulan lalu menyebut wanita-wanita jaman dahulu yang bergabung dalam militer untuk berperang, tentang bagaimana mereka memimpin tentara dan membunuh musuh untuk menyenangkan ibunya. Ayah berkata, “Berperang harus mengandalkan keberanian dan keterampilan silat.”

Mulan bertanya dengan tidak puas, “Keterampilan silat ayah bagaimana?” Ayah berkata, “Saya sudah banyak bertempur, membunuh banyak musuh, sekarang meskipun usia saya sudah tua, tapi keterampilan silat dan keberanian saya masih ada.” Mulan berkata lagi, “Meskipun keterampilan silat saya tidak tinggi dibanding orang dahulu, tapi juga tidak berbeda dibanding keterampilan silat ayah, bila tidak percaya kita berdua berduel, bagaimana?”

Saat itu, Hua Hu menjadi ingin melihat tingkat keterampilan silat Mulan sampai dimana, lalu menyuruh Muhui untuk mengambil pedang. Mulan lalu berkata, ”Bila bisa mengalahkan ayah, tolong ayah izinkan saya untuk bergabung dalam militer, bila tidak bisa mengalahkan ayah, saya tidak akan menyinggung masalah ini lagi.” Ayah setuju. Kemudian, Mulan dengan gembira mengambil pedang dari tangan kakak.

Ibu Mulan mengkhawatirkan tubuh suaminya, menyuruh Mulan untuk tidak bersungguh-sungguh. Hua Hu berkata seperti tidak perduli, “Hari ini ayah dan anak perempuan akan benar-benar berduel untuk melihat kemampuan kita.”

Setelah ayah dan anak perempuan bersilang pedang, Mulan dalam hati ingin mengalahkan ayahnya, agar ia bisa pergi berperang, makin berduel makin berani, seru sekali. Akhirnya, jendral yang sudah tua berangsur-angsur terpojokkan dan kalah. Melalui duel senjata ini, ayah dan ibu Mulan mengetahui bahwa ilmu silat Mulan benar-benar bagus, terpaksa mengabulkan permintaan Mulan. Ayah berkata kepada Mulan, “Mengingat Kamu mempunyai tekad, kami pun tidak akan menghalangi kamu. Baju perang dan topi perang saya masih ada, cepat berpakaian agar saya melihat dan bisa memberikan pendapat.”

Mulan setelah mendengar perkataan ini, dengan gembira berlari masuk kamar, tak lama berjalan keluar dengan berpakaian rapi, terlihat benar-benar seperti seorang jendral yang gagah. Ayah melihatnya sangat gembira, ingin memuji beberapa kalimat, tetapi terlihat Mulan menunduk memberi hormat, memberi hormat seperti anak perempuan, membuat semua orang tertawa terbahak-bahak.

Hua Hu memberitahu Mulan bahwa anak laki-laki mempunyai sikap sebagai anak laki-laki, jendral besar memiliki tingkah laku sebagai jendral besar, sikap anak laki-laki berbeda dengan sikap anak perempuan. Mulan adalah gadis yang sangat pintar, belajar sebentar lalu dapat menguasai seluruh pelajarannya. Hua Hu melihat Mulan memperagakannya, benar-benar bagus, lalu dengan gembira berkata kepada Mulan, “Baik, kamu boleh pergi.”

Loading...

Pada hari itu, Hua Hu membeli kuda perang untuk Mulan. Seluruh anggota keluarga melepas kepergiannya sampai ujung desa. Mulan menghibur orang tuanya agar tidak mengkhawatirkan dirinya, tunggu sampai musuh terusir, baru pulang melihat ayah ibu. Saat itu, kakak menarik Mulan ke samping dan menasehati dia agar di manapun berada harus berhati-hati. Adik laki-laki mendoakan semoga Mulan memenangkan pertempuran. Mulan dengan perasaan yang dalam menarik tangannya, beribu-ribu kata disimpan dalam hati sanubari, satu kalimat pun tak terucapkan. Dia membalikkan badan dengan mata berlinang, menunggang kuda pergi menjauh.

Sepanjang jalan Mulan memecut kuda, tidak membedakan siang atau malam berjalan ke depan. Pada saat dia melewati sungai kuning, terlihat airnya sudah memerah penuh dengan darah, melihat ke sekeliling, tidak ada seorang pun, hanya terdengar gemericik air yang sudah memerah, tidak tertahankan rindu akan orang tua. Tiba-tiba dia mendengar suara ringkikan kuda perang di perbatasan, teringat keadaan sudah gawat, lalu segera menuju ke sana.

Di perjalanan, Mulan bertemu beberapa prajurit yang bergegas pergi ke garis depan, semua lalu bergabung bersama-sama. Saat mereka sampai di perbatasan, menemukan sebuah pertempuran yang dahsyat, mereka segera ikut bertempur.

Waktu berlalu sangat cepat, Mulan telah bertempur melewati beberapa musim semi dan musim gugur. Karena dia di medan pertempuran sangat berani, menanggung resiko maut, banyak berbuat jasa dalam pertempuran, maka Mulan diangkat menjadi jendral dan dipanggil “Jendral Hua”.

Pada suatu malam, ketika Mulan sedang berpatroli di jalan, tiba-tiba terdengar suara burung, ia segera menyadari, dalam hatinya berkata, “Burung berkicau malam-malam begini, pasti musuh dari utara menyelinap menuju kemari.” Kemudian, Mulan segera memberi perintah dan menyuruh pasukannya bersiap-siap untuk bertempur, ia segera menemui Marsekal He untuk melaporkan keadaan di sana. Atas saran Mulan kepada Marsekal He, mereka dengan segera menyusun rencana untuk pertempuran itu.

Ketika musuh semakin mendesak ke perbatasan dan menyelinap masuk ke dalam barak Mulan, musuh tidak menemukan siapapun, mengetahui telah masuk ke dalam perangkap lawan, mereka segera melarikan diri. Tetapi Marsekal He memimpin pasukannya untuk meringkus mereka, musuh terpaksa melarikan diri dan bersembunyi ke dalam hutan. Mulan sudah membawa pasukannya dan menunggu di dalam hutan, dari kedua arah memulai penyerangan. Di tengah pertempuran, lengan Mulan terluka, namun tanpa memperhatikan lukanya, keberaniannya dalam bertempur makin bertambah sampai semua musuh binasa.

Setelah pertempuran usai, Marsekal He secara pribadi datang melihat keadaan luka Mulan, dan memuji ketangkasan dan keberaniannya, juga menyatakan jasa-jasanya. Pada saat yang bersamaan ia juga berkaul untuk Mulan, yaitu ingin menikahkan putri tunggalnya dengan “Jendral Hua”.

Mulan sangat terkejut mendengarnya. Terhadap kebaikan hati Marsekal He, ia tidak punya alasan untuk menolak. Setelah ia berpikir-pikir, kemudian ia meminta izin kepada Marsekal He untuk pulang agar bisa bertemu keluarganya, selain untuk dapat menyembuhkan lukanya, tapi juga untuk mengabarkan masalah ini kepada orang tuanya. Marsekal He segera mengabulkannya.

Keesokkan harinya, Mulan pulang dengan menunggang kuda pemberian Marsekal He. Orang tua Mulan sangat gembira begitu melihatnya. Adik laki-lakinya segera memotong babi dan kambing untuk menghormati kakaknya. Kakaknya Muhui membantu Mulan melepas baju perang dan memakaikan gaun seperti semula. Mulan bercermin dan berdandan, tak berapa lama “jendral Hua” berubah menjadi seorang gadis yang cantik. Mulan bolak-balik menghadap cermin, menatap dirinya sendiri dan tertawa.

Tak lama kemudian, Marsekal He datang dengan membawa beberapa orang jendral ke rumah Mulan untuk menemui jendral Hua. Orang tua Mulan sibuk menyambutnya. Marsekal He begitu melihat Hua Hu, langsung memuji-muji “Jendral Hua” sebagai jendral yang sangat berani. Ia juga memberitahu Hua Hu bahwa kaisar menganugrahkannya untuk menjadi pejabat. Orang tua Mulan mendengarnya merasa sangat terkejut dan gembira. Marsekal He juga menyinggung tentang pernikahan, sejenak Hua Hu tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Ketika Marsekal He menanyakan keadaan luka Mulan, dan pada saat yang bersamaan ingin melihat Mulan, Hua Hu sangat cemas. Ia terpaksa menarik adik laki-laki Mulan. Begitu Marsekal He melihat, dengan sibuk berkata, “Bukan, bukan ini. Yang ingin saya temui adalah “Jendral Hua ” yang masih muda, bukan pemuda ini!”

Masalahnya sudah sampai sejauh ini, Hua Hu terpaksa memanggil Mulan, Mulan yang kembali berpakaian perempuan merasa malu berhadapan dengan Marsekal He. Begitu Marsekal He melihatnya adalah seorang gadis yang cantik, dengan marah bertanya kepada Hua Hu, “Mengapa menyuruh seorang gadis yang menggantikan jendral Hua untuk menemui saya?” Mulan pada saat itu juga berteriak memanggil “Marsekal He”, Marsekal He merasa tak asing mendengarnya, jendral lainnya yang mendengar juga merasa seperti suara jendral Hua. Mereka semua terkejut sambil memandangi gadis ini. Dan Mulan mundur dengan wajah merah dan merasa sangat malu karena seorang gadis yang menyamar sebagai laki-laki.

Marsekal He setelah mendengar sangat kagum, bahkan berkata, “Jendral Hua sungguh adalah seorang pahlawan wanita, mengagumkan!

Quelle: By richard

Hua Mulan (Hanzi: 花木蘭) hidup pada tahun 386-436 Masehi adalah seorang pejuang wanita legendaris yang menjadi panutan heroik bagi para pahlawan-pahlawan bangsa Han di zaman-zaman berikutnya. Sebenarnya Hua masih menjadi kontroversi bagi para sejarahwan mengenai apakah Hua benar-benar pernah hidup di dunia atau cuma sebuah cerita rakyat heroik.

Tidak ada catatan sejarah yang lengkap tentang Hua Mulan, cuma diketahui ia adalah seorang wanita dari keluarga petani yang hidup di Zaman Dinasti Utara dan Selatan, sebenarnya negara yang dibela Hua Mulan sendiri bukan suku Han, melainkan negara Wei Utara yang saat itu menguasai utara Tiongkok. Negara Wei Utara ini sendiri adalah negara yang dikuasai suku kuno Xianbei yang berasal dari sekitar wilayah Korea sekarang ini.

Quelle : Wikipedia
Photo by : N_Quah – Statue of Mulan in Chinese Garden, Singapore.

Loading...

The following two tabs change content below.
Penerjemah novel, salah satunya adalah Jinpingmei (金瓶梅; Jin Ping Mei; The Golden Lotus). Tinggal di Berlin, Jerman.

Latest posts by Aldi The (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Loading...