Inilah Rekomendasi 8 Tempat Wisata Bernuansa Tionghoa di Riau dan Kepri

Selama ini mungkin Anda sudah terlalu sering menjelajah objek wisata di Pulau Jawa. Padahal sebenarnya masih banyak tempat wisata menarik di luar Pulau Jawa. Sebut saja beberapa pulau lainnya, seperti Kepulauan Riau. Anda bisa menikmati beragam tempat wisata menarik di Riau, Kepri, maupun Batam.

Riau memang dikenal sebagai salah satu kota bisnis yang cukup berkembang di Indonesia. Walau dikenal sebagai kota bisnis, ada beragam tempat wisata menarik yang bisa Anda kunjungi di sini. Namun kali ini coba kita bahas tentang tempat wisata bernuansa Tionghoa di Riau, Kepri, maupun Batam.

Berikut ini beberapa rekomendasi tempat wisata di kedua provinsi tersebut yang perlu Anda ketahui :

1. Pasar Bawah

Pasar bawah, pasar dengan perpaduan antara budaya Tionghoa dan Melayu klasik

Saat Anda berkunjung ke Pekanbaru, Riau, sebaiknya jangan lupa mampir ke ikon kota yang satu ini. Pasar Bawah merupakan sebuah pasar tradisional tertua yang ada di Pekanbaru. Pasar yang terdiri dari empat lantai ini memiliki bangunan dengan perpaduan antara budaya Tionghoa dan Melayu.

Untuk masalah lokasi, pasar ini mudah diakses karena terletak di tepi Sungai Siak yang dekat dengan pelabuhan. Di Pasar Bawah Anda bisa menemukan beragam keramik dari Tiongkok, barang-barang elektronik bekas dari luar negeri yang masih layak pakai, karpet dari Timur Tengah, dan masih banyak lainnya.

Selain barang-barang, Anda juga bisa menemukan beragam camilan khas Pekanbaru di tempat ini, seperti ikan salai, permen dan cokelat dari negeri tetangga, lempuk durian, hingga dodol kedondong. Pasar Bawah ini dianugrahi sebagai pasar tradisional terbersih untuk kategori kota besar pada tahun 2007.

2. Selatpanjang

Salah satu daerah di Indonesia yang begitu kental dengan nuansa Tionghoa ialah Selatpanjang yang berada di Kabupaten Meranti, Kepulauan Riau. Sebanyak 40 persen penduduk di Selatpanjang merupakan etnis Tionghoa, sehingga arsitektur pada bangunan dan kebudayaan di sana juga berdampak.

Loading...

Di Selatpanjang juga terdapat Vihara Sejahtera Sakti atau yang sering disebut sebagai Klenteng Hoo Ann Kiong, yang disebut sebagai vihara tertua di Kepulauan Riau. Pada saat perayaan Imlek, biasanya di Selat Panjang akan sangat ramai karena digelar beragam acara, seperti tradisi Songkran yang biasanya ada di Thailand.

Lalu kenapa Kota Selatpanjang dijuluki sebagai Kota Sagu? Hal ini terjadi karena kota ini merupakan penghasil sagu terbesar di Indonesia, sehingga termasuk dalam salah satu Kawasan Pengembangan Ketahanan Pangan Nasional.

Sebelum pemekaran wilayah pada tahun 2009, Kota Selatpanjang berada dalam wilayah Kabupaten Bengkalis, duhulu merupakan salah satu bandar kota tersibuk dan terkenal dalam dunia perniagaan kesultanan Siak. Kini kota Selatpanjang adalah pusat pemerintahan kabupaten Kepulauan Meranti, Riau.

Bandar ini sejak dahulu telah terbentuk masyarakat heterogen, terutama suku Melayu dan Tionghoa, karena peran antar merekalah terbentuk erat dalam keharmonisan kegiatan kultural maupun perdagangan. Semua ini tidak terlepas ketoleransian antar persaudaraan. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan meningkatnya hubungan perdagangan, seperti lintas barang dan manusia, dari Tiongkok ke nusantara serta sebaliknya.

3. Desa Wisata Buluh Cina

Desa Wisata Buluh Cina, pesona keindahan alam dan danau di tengah hutan

Desa wisata yang berada di Kabupaten Kampar, Riau, ini menyimpan beragam kebudayaan dan pesona alam yang begitu indah. Untuk menuju ke lokasi, Anda harus menempuh jarak sekitar 25 kilometer jalan darat melalui Pekanbaru, Riau.

Kemudian dari pusat kota tersebut, Anda akan melewati Jalan Kaharuddin Nasution untuk menuju Simpang Tiga Pandau. Begitu Anda sampai di pertigaan jalan antara Jalan Kaharuddin Nasution dengan Jalan Pasir Putih, maka Anda tinggal belok ke kiri, yakni Jalan Pasir Putih.

Sekitar 10 kilometer Anda akan menemukan gapura besar yang berada tepat setelah Markas Arhanudse. Lalu Anda tinggal lurus saja, sebaiknya jangan mengikuti jalan besar lagi. Sekitar satu setengah kilometer, Anda akan bertemu dengan sebuah gapura yang berada di sebelah kanan jalan.

Gapura ini lah yang akan menuju ke Desa Wisata Buluh Cina. Di tempat ini Anda bisa menikmati pesona alam, memancing ikan, menikmati danau yang ada di tengah hutan, dan masih banyak lainnya. Kawasan hutan wisata Desa Buluh Cina ini benar-benar merupakan pilihan terbaik untuk berlibur bersama seluruh anggota keluarga.

Pemandangan yang indah dan alami di Hutan Buluh Cina juga dapat dijadikan tempat hiking, kemah maupun kemping. Bahkan di sini juga memiliki tujuh danau yang sangat mempesona untuk hunting foto. Tujuh danau yang sangat mempesona ini tidak jauh letaknya antara danau satu ke danau lainnya.

Danau ini ramai dikunjungi saat akhir pekan. Bahkan banyak pengunjung yang datang dari luar kota bahkan turis luar negeri, di danau ini dan danau lainnya dimanfaatkan wisatawan untuk melakukan foto preweeding dikarenakan spot foto yang sangat bagus.

Loading...

4. Patung Dewi Kwan Im

Patung Dewi Kwan Im yang terdapat di Batam, Riau

Banyak daerah di Indonesia yang memiliki Patung Dewi Kwan Im, salah satunya di Kepulauan Riau ini. Patung dengan tinggi 22,37 meter dengan berat mencapai 112 ton ini berada di KTM Resort Tanjungpinggir.

Menariknya, Patung Dewi Kwan Im yang satu ini dikatakan sebagai salah satu patung tertinggi di Indonesia, bahkan masuk ke dalam buku catatan rekor MURI juga. Kemudian jika berbicara mengenai KTM Resort Tanjungpinggir sendiri, sebenarnya tempat ini merupakan sebuah penginapan yang dikhususkan untuk umat Konghucu yang ingin beribadah.

Letaknya berada di Kota Batam dan menghadap langsung ke Singapura. Tentu saja pemandangannya begitu terlihat indah. Pengunjung yang datang ke sini juga tidak hanya dari masyarakat lokal saja, namun turis dari Malaysia, Singapura, hingga Tiongkok.

5. Klenteng Ang Nio Senggarang

Patung Dewi Kwan Im Seribu Tangan yang terdapat dalam kompleks klenteng

Klenteng yang satu ini merupakan sebuah tempat ibadah warga Tionghoa yang berada di Senggarang, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Di dalam klenteng ini Anda bisa menemukan Patung Dewi Kwan Im Seribu Tangan yang menjadi ikon utama.

Biasanya orang-orang yang datang ke klenteng ini akan beribadah, atau hanya sekedar berwisata saja. Masyarakat mengatakan bahwa dibangunnya Klenteng Ang Nio ini sebagai simbol awal dari kedatangan warga Tionghoa ke Senggarang Tanjung Pinang pada tahun 1777.

6. Vihara Gunung Dewa Siantan

Vihara Gunung Dewa Siantan, yang berdiri di sisi tebing bebatuan

Biasanya pada setiap perayaan Imlek, vihara ini akan dipenuhi dengan pengunjung yang ingin beribadah dari berbagai daerah. Bisa dibilang Vihara Gunung Dewa Siantan ini dikenal sebagai vihara terbesar di Kota Tarempa, Anambas, Kepulauan Riau.

Vihara ini ramai dikunjungi oleh warga Tionghoa yang berasal dari Anambas maupun luar daerah. Bangunan berwarna merah cerah dan kuning ini berada di sebuah tebing bebatuan dari kejauhan, sehingga bangunannya terlihat megah.

Selain sebagai tempat ibadah, Vihara Gunung Dewa Siantan ini juga berfungsi sebagai penghias wajah Kota Tarempa. Apabila dilihat dari sejarahnya, vihara ini dulunya terletak di tepi pantai dengan bangunan sederhana dari kayu. Diperkirakan usia bangunan ini sekitar 100 tahun lebih.

Kemudian menjelang perayaan tahun baru Imlek, biasanya sejumlah warga Tionghoa di Anambas lebih dulu melakukan sembahyang bagi leluhur.

7. Maha Vihara Duta Maitreya

Maha Vihara Duta Maitreya

Maha Vihara Duta Maitreya ini terletak di Sungai Panas, Batam, Kepulauan Riau. Vihara ini berdiri megah dengan luas lahan sekitar 4,5 hektar. Vihara ini berdiri pada tahun 1986, namun baru dapat direalisasikan pada tahun 1991. Ikon utama vihara ini ialah arca Budha Maitreya.

Sesuai dengan namanya, Maitreya, artinya pesan cinta kasih semesta. Selain arca Buddha Maitreya, Anda juga bisa menemukan arca Buddha lainnya, seperti arca Buddha Gautama, Dewi Kwan Im, Satya Kalama, Amitabha, Bhaisajyaguru, dan lainnya.

Patung2 Arca tersebut tersebar di berbagai sudut vihara dengan ciri khasnya masing-masing. Lokasi yang berada disebidang tanah di sekitar kawasan bukit ini menjadi keuntungan tersendiri karena selain viharanya yang megah, pemandangan disekitarnya juga bagus, sehingga wajar apabila vihara ini banyak dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun asing.

Di beberapa bagian sudut gedung ditemukan patung arca Buddha Maitreya yang memiliki visualisasi bertubuh tinggi, daun telinga yang lebar, memiliki perut yang besar, serta senantiasa tertawa lebar.

Di vihara ini terdapat 5 graha, dengan graha Maitreya sebagai graha utama, dengan fungsi sebagai tempat umat Maitreya melakukan kebaktian 3x sehari kepada Tuhan Yang Maha Esa, Buddha Maitreya dan para Buddha/Bodhisatva. Daya tampung dari Graha ini sekitar 2.000 orang.

8. Vihara Ksitigarbha Bodhisattva

Vihara Ksitigarbha Bodhisattva

Vihara Ksitigarbha yang berada di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau ini apabila dilihat secara historis berarti Arahat yaitu penganut budha yang telah mencapai kesucian spiritual tertinggi. Arsitektur bangunan yang megah ini memang sekilas mirip seperti vihara yang berada di Tiongkok.

Wajar saja apabila vihara ini menjadi daya tarik tersendiri, sehingga wisatawan yang berkunjung ke sini lebih banyak dari warga Buddha yang ingin beribadah. Dibanding dengan vihara lainnya, vihara Bodhisattva ini memiliki ciri khas tersendiri, yaitu seribu patung budhanya yang berada hampir disetiap ruangan dan sudut vihara.

Vihara ini berjarak 14 km dari pusat Kota Tanjung Pinang dan mengarah ke bukit, sehingga bisa dicapai dengan kendaraan pribadi sekitar 20 menit. Daerahnya yang tidak terlalu ramai membuat pengunjung lebih nyaman apalagi jika membawa keluarga untuk berwisata ke vihara ini.

Tampak seorang perempuan berjilbab sedang berfoto di depan patung arahat 1000 berwajah

Bagian paling menarik dari vihara ini ialah “1000 wajah arahat” yang berukuran 1,7 hingga 2 meter, masing2 dengan ekspresi yang berbeda antara satu sama lain. Seakan kesemuanya mengajak kita berkomunikasi satu persatu. Setinggi tubuh orang dewasa, patung-patung itu begitu pas dengan tubuh saat mencoba mensejajarkan diri.

Untuk menuju ke Vihara Ksitigarbha Bodhisattva, dari kota Tanjungpinang, Anda harus melalui jalan Nusantara yang mengarah ke Barat menuju perbatasan kota. Kurang lebih sekitar 1 km sebelum mencapai perbatasan kabupaten Bintan, terdapat sebuah jalan masuk ke arah kanan, yaitu jalan Asia Afrika (km 14).  Nantinya kita hanya tinggal berjalan kaki menanjak mengikuti kontur bukit untuk memasuki area kompleks Vihara.

Itu tadi beberapa rekomendasi tempat wisata Tionghoa yang ada di Riau dan Kepri. Mana objek wisata Tionghoa favorit Anda? Selain berwisata, Anda juga bisa sekalian beribadah di sana. Namun meskipun tidak, Anda tetap bisa masuk ke area wisata di sana untuk melihat2 tempat ibadah umat Buddha, atau sekedar berwisata menikmati pemandangan sekitar wilayah tersebut. Selamat berlibur!

Loading...

The following two tabs change content below.
Tertarik dengan tradisi & budaya Tionghoa di Indonesia. Ikuti Twitter @tionghoainfo untuk info-info terbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Loading...