Ketahui 7 Hal Mengenai Festival Perahu Naga dan Bakcang

Festival Perahu Naga atau yang sering juga disebut dengan Festival Duanwu (Peh Cun), merupakan perayaan tradisional penting di Tiongkok. Festival Perahu Naga di tahun 2017 ini jatuh pada tanggal 30 Mei. Di Tiongkok sendiri, perayaan ini merupakan hari libur nasional yang digelar selama 3 hari berturut-turut.

A. Fakta Kilat Mengenai Festival Perahu Naga

Bahasa Mandarin : 端午节 Duānwǔ Jié (Perayaan tradisional bulan ke 5 tanggal 5).
Tanggal : Bulan 5 tanggal 5 berdasarkan penanggalan lunar.
Sejarah : Lebih dari 2.000 tahun.
Perayaan : Lomba perahu naga, tradisi yang berhubungan dengan kesehatan, penghormatan kepada Qu Yuan dan lain sebagainya.
Hidangan Populer : Bacang (粽子; zongzi).

B. Kapan Festival Perahu Naga Dirayakan?

Lomba perahu naga adalah kegiatan yang paling populer di Festival Perahu Naga.

Tanggal Festival Perahu Naga dirayakan berdasarkan penanggalan lunar, sehingga berdasarkan penanggalan Gregorian perayaan tersebut jatuh pada tanggal yang berbeda-beda dari tahun ke tahun.

Festival Perahu Naga (Tahun 2016–2021)

Tahun 2016 : Tanggal 9 Juni
Tahun 2017 : Tanggal 30 Mei
Tahun 2018 : Tanggal 18 Juni
Tahun 2019 : Tanggal 7 Juni
Tahun 2020 : Tanggal 25 Juni
Tahun 2021 : Tanggal 14 Juni

C. Apakah yang Dimaksud dengan Festival Perahu Naga di Tiongkok?

Tampak sepasang perahu naga di cat dengan penuh warna

Festival Perahu Naga ini merupakan perayaan masyarakat Tionghoa yang asal usulnya bertujuan untuk mengenang/menghormati Qu Yuan, Wu Zixu, dan Cao E (versi lain).

Bahkan perayaan ini menjadi salah satu hari libur tradisional di Tiongkok. Pada tanggal 20 Mei 2006 festival ini terpilih masuk dalam angkatan pertama Warisan Budaya Non Benda Nasional Tiongkok (National Intangible Cultural Heritage).

Pada tahun 2008, untuk pertama kalinya dirayakan sebagai hari libur Nasional di Tiongkok; dan pada tanggal 30 Oktober 2009 masuk dalam Daftar Warisan Budaya Non Benda Dunia UNESCO (UNESCO World Intangible Cultural Heritage).

Loading...

D. Lomba Perahu Naga : Dari Legenda Menjadi Perhelatan Olahraga!

Asal usul lomba perahu naga dikatakan berawal dari legenda rakyat yang beramai-ramai mendayung perahu untuk mencari jasad dari seorang penyair patriotik Qu Yuan (屈原) yang hidup pada 340–278 Sebelum Masehi, yang menenggelamkan diri di Sungai Miluo (saat ini wilayah Propinsi Hunan).

Perlombaan perahu naga merupakan kegiatan terpenting selama perayaan ini berlangsung. Perahu kayu dibentuk dan dihias menjadi wujud seekor naga. Ukuran perahu bervariasi berdasarkan wilayah. Umumnya memiliki panjang sekitar 20-35 meter dan membutuhkan 30-60 tenaga manusia untuk mengayuh dayungnya (mengikuti ukuran/besar perahu).

Sepanjang perlombaan berlangsung, tim perahu naga akan mengayuhkan dayung dengan ritme gerakan yang harmonis dan cepat, diiringi dengan bunyi genderang yang ditabuh. Dikatakan bahwa tim yang menjadi pemenang akan mendapatkan keberuntungan dan hidup bahagia di tahun berikutnya.

Perlombaan perahu naga merupakan perhelatan olahraga utama yang digelar di banyak tempat, dimana para kompetitor berlatih keras untuk memenangkannya.

E. Lokasi untuk Menyaksikan Lomba Perahu Naga

Sebuah perahu naga di Hong Kong Dragon Boat Festival.

Dengan perkembangan yang berkesinambungan selama 2000 tahun, lomba perahu naga telah menjadi cabang olahraga kompetitif yang penting. Terdapat banyak lokasi di Tiongkok yang mengadakan perlombaan perahu naga selama perayaan ini. Di sini terdapat 4 lokasi yang paling seremonial :

Festival Perahu Naga Hong Kong : Pelabuhan Victoria, Kowloon, Hong Kong.
Festival Perahu Naga Internasional Yueyang : Pusat Lomba Perahu Naga Internasional Sungai Miluo, Yueyang Prefecture, Provinsi Hunan.
Festival Kano Naga Guizhou dari Suku Etnis Miao : Sungai Qingshui, Taijiang County, Qiandongnan Miao and Dong Autonomous Prefecture, Provinsi Guizhou.
Festival Perahu Naga Hangzhou : Taman Air Nasional Xixi, Jalan, Kota Hangzhou, Provinsi Zhejiang.

F. Apa Saja Tradisi yang Dijalani Masyarakat Tionghoa dalam Merayakan Duanwu?

Festival Duanwu (Peh Cun) merupakan pesta rakyat yang sudah dirayakan sejak lebih dari 2.000 tahun lamanya, yaitu pada saat masyarakat Tionghoa masih menjalani berbagai tradisi dengan tujuan untuk menghalau penyakit dan memohon kesehatan.

Sepanjang perayaan ini, terdapat banyak kegiatan dan tradisi yang dijalani oleh masyarakat di Tiongkok, dan bahkan di berbagai negara penyebaran (keturunannya). Beberapa tradisi yang paling umum adalah perlombaan perahu naga, makan bacang (zongzi), menggantungkan mugwort (rumput Ai hao; 艾蒿) dan calumus (changpu), minum anggur dan mengenakan kantong (yang berisi rempah2 khas) yang berbau harum.

Kini telah banyak tradisi yang dihilangkan atau tidak lagi dijalani. Anda mungkin masih dapat menjumpai tradisi ini di area pedesaan.

Loading...

1. Makan Bacang

Bakcang atau Zongzi, penganan khas saat Festival Duanwu

Bacang (粽子; zòngzi) merupakan hidangan tradisional dari Festival Perahu Naga. Bacang berhubungan dengan peringatan akan Qu Yuan, seperti yang dikatakan dalam legenda bahwa bongkahan nasi dilemparkan ke dalam sungai agar ikan-ikan tidak memakan tubuhnya yang tenggelam.

Bacang terbuat dari beras ketan yang diisi dengan daging, kacang dan bahan lain, dibungkus berbentuk segitiga atau persegi panjang di dalam bambu atau daun, kemudian diikat dengan tangkai yang sudah direndam atau tali halus yang berwarna-warni.

Saat ini Bacang memiliki rasa dan varian yang berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya di seluruh dunia.

2. Minum Anggur Realgar

Ada pepatah kuno yang mengatakan : ‘Minum anggur realgar mengusir pergi segala penyakit dan roh jahat”. Anggur realgar merupakan minuman beralkohol di Tiongkok yang terbuat dari fermentasi sereal dan bubuk realgar.

Pada jaman dahulu, orang percaya bahwa realgar merupakan penawar dari segala jenis racun, efektif untuk membunuh serangga dan dapat mengusir roh jahat. Oleh sebab itu setiap orang minum sedikit anggur realgar selama Festival Peh Cun.

3. Mengenakan Kantong yang Berbau Harum

Kantong yang berisi wewangian

Sebelum Festival Perahu Naga tiba, para orang tua biasanya menyiapkan kantong berisi rempah-rempah yang berbau harum untuk anak-anak. Kantong kecil dari bahan sutera berwarna-warni dijahit, diisi dengan wangi-wangian atau ramuan herbal, kemudian dijahit dengan benang sutera.

Selama Festival Perahu Naga berlangsung, kantong tersebut dikalungkan pada leher sang anak atau disematkan pada bagian depan baju sebagai hiasan. Kantung rempah berbau harum ini juga dikatakan akan melindungi sang anak dari hantu atau arwah jahat.

4. Menggantungkan Mugwort (Rumput Ai) dan Calamus (Changpu)

Festival Perahu Naga diselenggarakan pada awal musim panas, dimana terdapat kecenderungan datangnya penyakit. Daun mugwort (rumput Ai hao) sering digunakan untuk pengobatan di Tiongkok. Baunya sangat menyenangkan serta dapat mengusir lalat dan nyamuk.

Sementara Calamus (changpu) adalah tanaman air yang memiliki efek yang hampir sama.

Pada tanggal 5 bulan 5 masyarakat biasanya membersihkan rumah dan halaman, kemudian menggantungkan mugwort (rumput Ai hao) dan calamus (changpu) di pintu-pintu untuk menangkal penyakit. Dikatakan pula bahwa mugwort (rumput Ai) dan calamus (changpu) ini dapat membawa keberuntungan ke tengah keluarga.

5. Menegakkan Telur Ayam Mentah

Fenomena menegakkan telur ayam dapat dilakukan pada saat perayaan Duan Wu. Konon pada saat itu, kita dapat meletakkan/menegakkan telur ayam mentah dalam posisi berdiri diatas lantai atau meja. Ini bisa dilakukan di sepanjang hari Duan Wu; namun waktu terutama berada pada siang hari pukul 12:00-13:00.

Fenomena ini terjadi karena saat matahari memancarkan cahaya paling kuat, gaya gravitasi di tanggal ini adalah yang terlemah di sepanjang tahun, sehingga menyebabkan telur ayam mentah bisa berdiri tegak; dimana saat ini matahari sedang berada di “posisi istimewanya”, yakni tepat di atas khatulistiwa.

G. Bagaimana Asal Usul Festival Perahu Naga Berawal?

Anggota tim mendayung keras dalam lomba perahu naga.

Ada banyak legenda mengenai asal usul Festival Perahu Naga. Yang paling populer adalah memperingati Qu Yuan.

Qu Yuan (340–278 SM) adalah seorang penyair patriotik sekaligus pejabat yang diasingkan selama Periode Perang Antar Negara/Warring States Period dalam sejarah Tiongkok. Beliau menenggelamkan diri di Sungai Miluo pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek, ketika Negara Chu yang dicintainya jatuh ke tangan kekuasaan Negara Qin.

Baca juga : Cerita mengenai Qu Yuan ini lebih detail

Pada waktu itu rakyat sekitar sangat berputus asa berupaya menyelamatkan Qu Yuan, dan gagal menemukan jasadnya. Untuk memperingati Qu Yuan, pada setiap tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek, masyarakat menabuh genderang dan mendayung perahu di sungai, seperti yang pernah mereka lakukan dulu untuk menghalau ikan-ikan dan roh jahat agar tetap menjauhi jasadnya.

Loading...

The following two tabs change content below.
Tertarik dengan tradisi & budaya Tionghoa di Indonesia. Ikuti Twitter @tionghoainfo untuk info-info terbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.