Kompleksnya Upacara Pemakaman Tionghoa di Indonesia (BAGIAN I)

Upacara kematian bagi masyarakat Tionghoa pada umumnya cukup melelahkan bagi keluarga yang kesusahan akibat ditinggal almarhum/ah. Untuk itu Tionghoa.INFO mau cerita soal prosesi tersebut dari saat pertama hingga diantar ke pemakaman secara singkat. Topik mengenai kremasi telah dibahas dalam artikel Fengshui Kuburan : Dikremasi vs Dikubur; Mana Yang Lebih Baik?

Baca juga : Adat Pemakaman Tionghoa Bagian 1

Meski begitu, upacara kematian masyarakat Tionghoa di Indonesia juga sudah mengalami penyesuaian seiring berkembangnya jaman. Juga setelah melewati masa2 kesulitan ekonomi pada beberapa dekade lalu; namun pada intinya tapi tetap sama, yaitu upacara dilakukan sesuai dengan agama kepercayaan dan atau wasiat almarhum sewaktu hidup.

Bila almarhum (dan keluarganya) memeluk agama Buddha, Konghucu atau Taoisme, umumnya masih kental dengan kepercayaan leluhur. Upacara/prosesinya sudah tentu akan berbeda dengan apabila almarhum/ah adalah seorang Tionghoa Kristen atau Tionghoa Muslim, yang biasanya lebih ringkas dan simpel.

Umumnya pada saat ini apabila sebuah keluarga Tionghoa peranakan mengadakan upacara untuk anggota keluarga yang meninggal, maka beginilah kira-kira prosesinya :

A. Masa Persiapan

Tampak sanak famili berfoto di depan peti mati di era 1960

Jenazah almarhum/ah dimandikan dengan menggunakan kembang 5 rupa, arak putih dan dipakaikan pakaian yang terbaik (lengkap dengan sepatu) yang ia punya semasa hidup (ada yang dipakaikan jas sewaktu nikah dulu). Setelah itu diberikan penutup/selimut berwarna merah bila ybs telah mencapai umur 80 tahun. Dibawah itu dapat diganti warna hijau, putih, dan atau warna lainnya.

Di beberapa keluarga, adapula adat untuk memberikan mutiara di 7 lubang di kepala manusia, yakni lubang hidung, lubang telinga, mata dan mulut. Pada jaman sekarang, untuk alasan ekonomi, maka biasanya diganti dengan kapas.

Loading...

Kemudian pakaian2 almarhum/ah yang biasa dikenakan semasa hidup sebagian disertakan dalam peti mati (棺材; Guāncai). Kalau ada sanak famili yang mau diambil, pakaian2 masih bagus boleh dibagi (suami/istri/anak mengizinkan). Kalau tidak boleh diberikan ke orang2 yang membutuhkan, seperti ke panti asuhan/panti jompo.

Sisanya bisa disimpan sebagai kenangan, atau dibuang/dibakar jika tidak lagi digunakan (khusus yang sudah usang/sobek). Ranjang bekas almarhum/ah yang biasanya pakai tidur setiap harinya harus dibongkar. Kasur, bantal kepala, guling dan selimut digulung dan dijemur di halaman/loteng rumah.

Selain itu, diatas badan jenazah juga diberikan sebuah cermin kaca yang telah dipecahkan, sebagai tanda bahwa kehidupan almarhum/ah sudah berakhir.

B. Prosesi Tutup Peti

Membeli peti mati itu tugas dari putra/putri almarhum! Anak sulung membakar 3 batang hio bergagang merah, bersembahyang sambil berucap :

“Kepada penguasa alam dan leluhur yang dimuliakan. Bila menyetujui ini peti mati yang akan digunakan oleh … (nama almarhum/ah), yang meninggal pada tanggal : … dan jam … Berilah kami tanda bila peti mati ini disetujui, siopoe”

Bila tidak siopoe maka akan dipilih lagi peti mati yang lain. Tetapi mengingat kemajuan jaman hal ini sudah jarang dilakukan.

Peti mati selanjutnya dibawa masuk ke ruangan lalu dipersiapkan oleh petugas sembahyang (seorang TeKhong dan dibantu oleh 2 orang Song Shu). Di dasar peti mati diletakkan 7 keping uang logam (lebih bagus kalau ada koin cina/koin guangxu) dan ditaruh pada 7 titik dasar peti mati itu, yang disebut rasi 7 bintang. Sambil mengucapkan kata – kata : “ada, tiada, terikat, kelahiran, kematian, takdir, yang kuasa.”

Setelah uang logam ditaruh pada posisiya lalu di taburi daun teh dan tekong mengucapkan kata – kata : ”le tho, phe tho, cheng tho, hoat cai, sebanyak 3 kali”, yang artinya kira2 : “satu jalan, delapan jalan, seribu jalan, sepuluh ribu jalan, anak cucu menjadi kaya”.

Kertas perak gulung dimasukkan di atas daun teh secukupnya lalu ditindih kain putih. Setelah itu di tengahnya diberi kain merah yang disebut kain tan tee. Bagian kepala diberi bantal kertas perak. Tiba waktunya memasukkan Jenasah ke dalam peti mati yang sudah dipersiapkan.

Sebelum peti mati di tutup, istri/suami, anak2 almarhum/ah, sanak keluarga dan famili mengitari peti mati sambil bergantian menaburi minyak wangi.

Loading...

Setelah itu, anak-anak almarhum/ah berdiri mengitari sekitar bagian kepala jenasah untuk memasangkan 7 mutiara pada 7 lubang 4 indra almarhum (2 lubang telinga, 2 lubang hidung, 2 mata dan 1 di bawah lidah). Apabila cukup sulit untuk mencari mutiara, bisa digantikan dengan kapas. Tujuan lain dari hal ini adalah :

1. Apabila orang yang meninggal ternyata hanya mati suri, maka dengan sendirinya mutiara atau kapas tersebut terlepas dari salah satu 7 lubang.

2. Tanpa disadari setelah ketiadaannya orang tua, biasanya sesama saudara sangat mudah terjadi rasa saling curiga, perselisihan, dan pertengkaran yang berunjung pada sengketa keluarga. Dengan memasang 7 butir mutiara pada 4 indra almarhum berarti anak2 almarhum/ah telah berjanji akan lebih sabar, lebih bijaksana, lebih toleansi dan lebih menyayangi sesama saudara kandung.

“Kekayaan dan uang bisa dicari. Kehilangan saudara kandung dimana cari? Itulah yang diharapkan almarhum sebelum peti mati di tutup”

Pai kui anak-anak almarhum saat proses tutup peti adalah WAJIB DILAKUKAN tanpa MEMANDANG STATUS AGAMANYA! Bakti Anda dipertanyakan jika menolak melakukan bentuk penghormatan yang terakhir ini.

Setelah pemasangan mutiara selesai, anak2 almarhum pindah posisi menghadap ke peti mati bagian kaki, dengan posisi kui sempurna, yakni wajah manghadap ke lantai. Ini juga diikuti oleh suami/istri, adik2 almarhum beserta segenap keponakan dan cucu-cicit.

Catatan : Jika almarhum masih terdapat orang tua, sebaiknya untuk tidak ikut mengantar jenazah lewat prosesi ini. Karena pada prinsipnya, yang tua tidak boleh mengantar yang muda.

Peti mati di tutup, anak-anak almarhum kui 2 kali di depan peti mati. Putra sulung menghampiri peti mati untuk pasang paku. Putra sulung dipimpin tekong memegang palu sambil memegang tangan si putra sulung dan mengucap beberapa kalimat rapalan/pengiring untuk memukul paku di peti mati. Setiap paku di pukulkan satu kali, dari yang pertama sampai paku yang ke empat.

Bila almarhum telah memiliki buyut, baru bisa dipasang paku ke lima, dimana pakunya lebih kecil dari ke 4 paku sebelumnya. Selain itu, juka disiapkan 3 kain merah dan 2 kain putih yang digunting bulat. Tepat ditengah2 kain di tusuk paku ke lima, yang dipaku di atas peti mati bagian ¾ atas, dekat dengan bagian kepala jenasah.

Setelah pemukulan paku dilakukan, maka tekong segera mengeraskan paku tersebut dengan cara silang, yaitu kiri atas kanan bawah, kanan atas kiri bawah, dan seterusnya. Maksudnya agar tutup peti mati turun bersama-sama dan tidak melintir.

Prosesi diakhiri dengan menuangkan arak ke lantai sebanyak 3x. Ini dimaksudkan mewakili keluarga, putra sulung telah menerima tumpahan kasih sayang dari almarhum dan berjanji sebagai anak tertua akan menjaga jangan sampai sepeninggalnya keluarga bubar. Setelah peti mati ditutup sempurna, maka selesailah rangkaian acara jieb bok.

Kertas kimcoa ditaruh diatas jenazah

Pada saat prosesi tutup peti (jieb bok) biasanya sudah mulai terlihat perbedaan mendasar pada upacara yang dilakukan secara adat Tionghoa, dan yang telah memeluk berbagai agama kepercayaan lain.

Perbedaan2 nya meliputi :

1. Penggunaan altar/meja sembahyang di depan jenazah, dengan foto almarhum, lilin, hio/dupa dan hiolo.

Putra sulung menyalakan sepasang lilin putih dan membakar hio besar bergagang hijau lalu ditancap ke hiolo. Dupa ini tidak boleh terputus! Harus segera disambung jika hampir habis.

Untuk usia di bawah 70 tahun menggunakan lilin putih, di atas 70 tahun menggunakan lilin merah (dan sudah punya cucu).  Tapi jika keluarga mau memakai lilin putih untuk usia di atas 70 juga diperbolehkan, karena dalam setiap upacara kematian, warna putih merupakan perlambang duka.

2. Persembahan makanan, kue-kue dan buah-buahan, teh dan arak (ciu; 酒) yang diletakkan di atas altar/meja sembahyang. Yang paling utama adalah terdapat sam sheng (daging babi samcan/berlapis 3, ayam utuh dan ikan bandeng) yang semuanya direbus.

Babi melambangkan laki-laki/ayah, yang harus bekerja keras menghidupi keluarga. Ikan melambangkan perempuan/ibu, yang bertugas merawat dan mendidik anak-anaknya. Sementara Ayam melambangkan anak-anak yang diharapkan agar suatu saat dapat terbang melintasi pagar pembatasnya. Versi lain mengatakan samseng adalah perlambang hewan darat (babi), air (ikan) dan udara (ayam).

“Ikan bandeng hidup di muara sungai yang dasarnya berlumpur, karena merupakan tempat pertemuan air sungai dan air laut. Maka dikatakan, ikan bagaikan wanita yang berjalan di atas lumpur. Kemanapun ia pergi senantiasa meninggalkan bekasnya (jejak). Diingatkan juga untuk laki – laki, agar jangan terlalu asyik mempermainkan wanita. Biarpun kelihatannya jinak dan lemah, bila sudah tersedak tulang ikan bandeng, baru merasakan sakitnya.

“Menjadi seoarang anak, janganlah memilih- milih pekerjaan yang kotor, bau, susah, dan repot, harus diterima semua. Lihatlah seekor ayam yang mencari makan dengan kakinya. Si ayam mengais-ngais sampah tanpa kenal lelah dan malu. Ayam mematuki makanan sebutir demi sebutir dalam seharian bekerja tentu akan kenyang juga.”

“Dalam mencari kehidupan, jangan seperti mengiginkan kuda orang lain di jalan, pada akhirnya kerbau di kandang mati kelaparan.”

“Kwa cai (sesawi) itu pahit, miskin jauh lebih pahit. Seorang anak ditegur dan dimarahi memang terasa pahit. Tapi walaupun pahit dapat menyembuhkan dari kesalahan dan kebodohan. Bila dibandingkan dengan hidup miskin, akan jauh lebih pahit.”

Kue-kue yang diberikan adalah yang manis dan ceria warnanya, jangan yang mengandung ketan. Biasanya berjumlah 5 macam, misalnya kue lapis, kue mangkok, kue bugis, kue pisang, dsb). Buah-buahan jangan yang berduri. Berjumlah 5 macam, misalnya apel, jeruk, pisang, nanas (dikupas tajamnya), dsb. Juga terdapat manisan/gula-gula dan batang tebu.

Tampak istri dan anak-anak almarhum menggunakan kain blacu dan membakar kertas

3. Cara berpakaian anggota keluarga yang meninggal, dengan menggunakan pakaian toaha yang terbuat dari kain blacu putih dan penutup/ikat kepala warna senada. Cara pakainya pun mesti terbalik, yang bagian luar didalam, yang bagian dalam diluar. Setelah semua prosesi upacara selesai, pakaian2 tersebut dibakar.

Namun saat ini dikota2 besar umumnya diganti dengan kemeja/kaos oblong berwarna putih. Setelah semua rangkaian prosesi upacara selesai, pakaian bisa dicuci dan disimpan untuk digunakan lain waktu, setelah sebelumnya dijemur dibawah sinar matahari selama beberapa hari dengan maksud untuk mengusir nasib buruk yang menempel.

4. Biasanya bagian dalam peti mati dihias dengan berbagai bunga dan diisi kertas perak, kertas emas (kertas kimcoa), dan pakaian2 serta benda2 pribadi almarhum/ah semasa hidup. Pada jaman dulu bila yang meninggal sudah sangat sepuh, dipakai peti mati terbelo yang berat karena terbuat dari kayu utuh.

Namun saat ini sudah jarang ditemui sebab kayunya sudah langka dan mahal harganya. Peti mati biasanya disesuaikan dengan kemampuan ekonomi keluarga.

5. Penggunaan uang-uangan kertas dan rumah rumahan, lengkap dengan sepasang pelayan manusia berbentuk kertas, yang akan dibakar pada saat proses penguburan.

6. Di samping kanan peti mati, di taruh sebuah kursi yang ada sandarannya. Di atas kursi di taruh baskom berisi air bersih, sabun mandi, sikat gigi, dan pasta gigi. Handuk kecil di taruh di sandaran kursi, dan sandal jepit di taruh di lantai dekat kursi. Ini dimaksudkan sebagai bakti dari menantu perempuan.

7. Di pinggir atas kiri dan kanan pintu masuk ke ruang duka dipasang lampu Ten Lung berwarna putih yang bertuliskan marga (dalam hanzi) dan usia almarhum. Di pintu masuk depan dipasang kain putih. Ini sebagai tanda dirumah atau diruangan ini sedang berduka cita.

8. Disamping kiri peti mati, dihamparkan selembar tikar di lantai, dan ditaruh lampu minyak yang menyala kecil. Selain itu juga disediakan sebuah tempat pembakaran kertas perak/kimcoa yang diletakkan dekat peti mati bagian kepala almarhum.

Anak/cucu bergantian duduk beralaskan tikar tersebut sambil membakar selembar demi selembar kertas perak (Gin Coa) dan kertas kuning (Wong Sem). Usahakan agar jangan sampai putus. Bila ada tamu yang datang melayat, diberikan 2 batang hio agar tamu tadi bersembahyang. Jika tidak, boleh hanya sekedar pai tangan atau sungkem saja.

Sudahkah Anda berbakti kepada orang tua Anda?

Sewaktu anak memakan makanan yang enak, pernahkah ingat akan orang tuanya?

Sedangkan orang tua, apabila memakan makanan yang enak senantiasa ingat akan keluarga dan anaknya.

Pernahkah orang tua menagih jasanya pada keluarga dan anaknya?

Dengan pengorbanan beliau yang sedemikian besar, sekarang beliau telah menjadi mayat, terbujur kaku di dalam peti mati.

Pantaskah keluarga dan anak cucu terakhir kali melihat jasadnya, tidak ingin sembahyang dan pai kui di depan peti matinya?

Guna menunjukkan bakti dan mengakui telah menerima jasa-jasa almarhum.

Mengapa terkadang keluarga dan anak memuji-muji berkah orang yang tidak di kenal? Sementara orang yang dikenal dekat dan berkahnya telah dinikmati malah tidak pernah di sebut-sebut. Apalagi memuji beliau.

Bersambung ke bagian II

Loading...

The following two tabs change content below.
Tertarik dengan tradisi & budaya Tionghoa di Indonesia. Ikuti Twitter @tionghoainfo untuk info-info terbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Loading...