Kompleksnya Upacara Pemakaman Tionghoa di Indonesia (BAGIAN II)

Upacara kematian bagi masyarakat Tionghoa pada umumnya cukup melelahkan bagi keluarga yang kesusahan akibat ditinggal almarhum/ah. Untuk itu Tionghoa.INFO mau cerita soal prosesi tersebut dari saat pertama hingga diantar ke pemakaman secara singkat. Topik mengenai kremasi telah dibahas dalam artikel Fengshui Kuburan : Dikremasi vs Dikubur; Mana Yang Lebih Baik?

Baca juga : Adat Pemakaman Tionghoa Bagian 2

C. Acara Persemayaman Jenazah

Altar persembahyangan diletakkan depan jenazah

Setelah tutup peti, di adat masyarakat etnis Tionghoa terdapat masa jeda selama beberapa hari hingga jenazah diberangkatkan ke lian kubur/pemakaman.

Lamanya waktu persemayaman tergantung rembukan pihak keluarga. Namun biasanya berkisar antara 3 hingga 7 hari. Pada jaman dulu, adat ini bertujuan untuk menunggu sanak keluarga atau famili yang tersebar/terpencar di tempat jauh (misalnya diluar negeri), agar dapat datang berkumpul dan berbela sungkawa setelah mendengar kabar duka.

Pada jaman dahulu, keluarga almarhum sering menyewa orang2 “profesional” yang dibayar khusus untuk meratap dan menangisi kepergian almarhum saat akan berangkat menuju pemakaman.

Menurut pendapat masyarakat Tionghoa pada waktu itu, jika tidak ada yang meratap (menangis sedih), atau ratapan keluarga kurang karena anggota keluarga yang sedikit, akan meninggalkan kesan dimata para pelayat, bahwa yang meninggal kurang dicintai semasa hidupnya.

Selain itu, tidak mungkin anggota keluarga bisa 24 jam menangis terus, dimana sebagian dari mereka juga harus mengurus acara duka dan sebagainya. Sekarang tradisi ini sudah sangat jarang ditemui, kecuali di daerah2 tertentu.

Loading...

Tahap persemayaman jenazah ini benar2 sangat melelahkan bagi keluarga yang berkabung. Setelah bermalam-malam silih berganti bergadang menjaga jenazah dan melayani para pelayat yang datang, di malam terakhir sebelum jenazah dimakamkan pada keesokan harinya (disebut mai song), semua kerabat dan teman almarhum akan datang untuk memberikan penghormatan terakhir.

Mereka juga biasanya memberikan uang dalam amplop, karena nantinya akan membantu keluarga yang kesusahan, sebab dari awal sampai akhir pengeluaran cukup banyak).

D. Upacara Mengantar dan Pemakaman

Proses penguburan yang diikuti seluruh sanak famili

Pada tahap mengantar jenazah ke liang per-istirahatan (sang seng) biasanya dilakukan upacara menurut agama kepercayaan almarhum/ah oleh pemuka agama saat melepas jenazah kembali ke bumi.

Putra sulung menggendong foto atau papan arwah beserta 1 batang hio besar yang menyala. Peti mati langsung dinaikkan ke mobil jenasah, yang diikuti putra-putri almarhum.

Meskipun anak-anak almarhum/ah sudah kaya raya dan punya mobil mewah dan nyaman, tetap ada baiknya IKUT MENDAMPINGI ALMARHUM/AH secara langsung dalam mobil jenazah. Jangan takut panas, apalagi takut kena sial. Ingat, ADA MEREKA BARU ADA ANDA! Kecuali dalam kondisi tidak memungkinkan, seperti menggunakan kursi roda atau sakit berat.

Menjelang pemberangkatanya kereta jenasah. Tekong membanting buah semangka besar hingga hancur. Membanting buah semangka dimaksudkan agar dunianya almarhum sampai di sini saja, dan sudah berakhir tiada lagi.

Di dalam mobil jenasah, putra sulung duduk di depan/samping sopir. Biasanya tekong ikut duduk di depan guna sesekali menebar kertas perak (gin coa) di sepanjang perjalanan (terutama di belokan/perempatan jalan) menuju pemakaman atau krematorium. Cuma sekarang harus rada hati2, bisa2 dihentikan petugas dengan alasan membuang sampah dan didenda.

Setelah sampai di lokasi penguburan, segera diatur altar/meja sembahyang, dupa, lilin, makanan, kue dan buah2an. Di liang lahat telah dipasang 2 balok melintang untuk menyanggah peti jenasah di atasnya sebelum diturunkan.

Sebelum memulai sembahyang ke almarhum, putra sulung terlebih dahulu sembahyang ke Dewa Tanah (Toa Pe Kong) guna memohon izin dan kelancaran selama proses penguburan. Menggunakan hio berganggang merah 3 batang, sepanjang lilin merah kecil di pasang di kiri dan kanan.

Sebelum peti mati diturunkan, te kong turun terlebih dahulu ke liang lahat untuk memasang 4 keping uang logam (koin cina/koin guangxu) di 4 titik, (guna menjadi dasar pijakan kaki peti mati) disertai kalimat doa/rapalan.

Loading...

Setelah itu, te kong membelah buah kelapa, yang airnya diminum oleh semua anggota keluarga. Setelah itu dilanjutkan dengan sesi tabur bunga dan tanah.

Hanya foto almarhum/ah yang dibawa pulang. Mengenai abu hio, apabila hendak membuat altar sembahyang khusus untuk almarhum maka boleh dibawa pulang. Namun ada baiknya agar ikut dikuburkan saja, atau paling tidak dititipkan di rumah abu. Karena kalau tidak, tidak ada bedanya seperti menyimpan peti mati dalam rumah. Hal ini kurang baik dari sisi fengshui, dan seisi rumah akan merasakan nuansa berkabung sepanjang hari.

Sesaat setelah kembali ke rumah pemberangkatan, disediakan baskom berisi air bersih dan kembang yang diletakkan diatas kursi. Pelayat diharapkan agar mencuci tangan dan wajah dengan air kembang tersebut sebelum pulang ke rumah masing2.

Tampak foto proses pengantaran jenazah tionghoa pada era 1950-an.

Setelah semuanya selesai, juga terdapat upacara peringatan 3 hari, malam 7 hari (sebagian orang meyakini roh arwah akan kembali untuk menengok keluarganya), 49 hari, 3 bulan, 100 hari (menurut tradisi orang Tionghoa dulu, anak laki-laki almarhum baru boleh memotong rambut hingga 100 hari), 1 tahun, hingga 3 tahun.

Selama masa berkabung, suami/istri yang ditinggalkan, anak-anak dan cucunya tidak diperkenankan berpakaian yang berwarna cerah.

Selain itu juga terdapat hari Ceng Beng atau hari ziarah kubur yang dilaksanakan setiap tanggal 5 april untuk menghormati dan mengenang almarhum/ah yang sudah mendahului kita.

Di jaman modern ini, sebagian besar sudah menggunakan jasa pihak ke 3, yakni rumah duka yang sudah dikelola secara profesional. Mereka bertugas mulai dari menyediakan dekorasi ruang dan konsumsi bagi para tamu, hingga mobil penjemputan jenazah saat akan berangkat ke pemakaman.

Alangkah sulitnya jika prosesi dilakukan di rumah, di ruko, apalagi di apartement yang sudah tentu tidak memiliki ruangan yang luas, harus repot menggeser perabot dan barang2 jualan, hingga tidak adanya lahan parkir yang memadai untuk para pelayat.

Dididik dan disekolahkan itu juga dengan keringat orang tua. Maka wajib bersujud dan memuliakan beliau, mengingat budi yang sedemikian besar telah dilimpahkan oleh beliau dengan hati yang tulus, kecintaan orang tua terhadap anaknya itu bersifat ABADI.

Loading...

The following two tabs change content below.
Tertarik dengan tradisi & budaya Tionghoa di Indonesia. Ikuti Twitter @tionghoainfo untuk info-info terbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Loading...