Legenda 4 Penjaga Dunia Akhirat yang Terkenal Dalam Taoisme

Mumpung masih suasana bulan hantu, saya akan membahas empat penjaga dunia bawah terkenal dalam ajaran Taoisme, yaitu Heibai Wuchang (黑白无常; sepasang penjaga kefanaan hitam dan penjaga kefanaan putih), Niu Tou (牛头; pengawal berkepala banteng) dan Ma Mian (马面; pengawal berkepala kuda).

Dalam rangka festival hantu lapar pada tanggal 15 bulan 7 Imlek mendatang, banyak orang yang membuat patung keempat sosok ini karena posisi mereka yang penting sebagai pengawal para roh baik di neraka maupun pada saat berada di bumi.

Tidak hanya itu, keempat penjaga ini juga diberi persembahan khusus agar para arwah yang turun ke bumi tidak membuat masalah. Di sini mereka akan dibahas berpasangan, karena mereka menjalankan tugasnya secara berpasangan.

A. Heibai Wuchang – Xie Bian dan Fan Wujiu

Salah satu ilustrasi klasik Heibai Wuchang

Kedua pengawal ini sedikit mengingatkan kita dengan Zhong Kui, yaitu sosok hantu yang mendapat ganjaran baik di akhirat setelah kematiannya, karena diperlakukan secara tidak adil pada saat hidup di dunia. Zhong Kui bertugas sebagai penjaga alam bawah sekaligus pelindung manusia dari gangguan hantu.

Dalam kepercayaan Taoism, kedua pengawal ini disebut juga sebagai roh penjemput (grim reaper) atau Wuchang (无常), yaitu pengawal utusan dari neraka untuk mengantar arwah orang yang baru saja meninggal dari dunia manusia, untuk menuju ke alam bawah, maupun sebaliknya. Kedua sosok pengawal ini digambarkan mengenakan pakaian hitam dan putih.

1. Bai Wuchang, atau penjaga kefanaan putih disebut juga dengan Jenderal Xie, atau nama aslinya Xie bian (谢必安); digambarkan memiliki tubuh jangkung dan kurus, serta mengenakan pakaian putih. Sering kali juga ia divisualisasikan dengan mata melotot, senyum lebar dan lidah panjang yang terjulur. Orang2 biasa memanggil beliau “七爷; Qi Ye” atau kakek ketujuh.

Sosok ini memiliki aura sangat ramah dan bersahabat di sekitarnya. Di topinya terdapat sebuah tulisan “Keberuntungan dan kekayaan akan menghampiri siapapun yang menemuiku” (一見生財/一見大吉; Yījiàn shēngcái/yījiàn dàjí), dan “kamu juga sudah datang” (你也來了; Nǐ yě láile).

Loading...

Di tangannya ia membawa kipas, borgol berbentuk ikan dan lempengan kayu dengan tulisan. Biasanya ia membimbing roh orang baik ke alam bawah dan memberi mereka hadiah berupa uang dan koin emas karena sikap baik mereka. Karena kesan menyenangkan yang diberikannya, sering kali ia juga dikaitkan dengan Dewa Keberuntungan.

2. Kemudian Hei Wuchang, atau penjaga kefanaan hitam disebut juga Jenderal Fan, atau Fan Wujiu (范無救); digambarkan memiliki tubuh yang pendek dan gemuk, serta mengenakan pakaian hitam. Orang2 biasa memanggil beliau “八爷; Ba Ye” atau kakek kedelapan.

Sosok ini memiliki wajah yang hitam dan galak, memiliki aura yang menakutkan, dan bersikap sangat galak pada roh orang jahat. Di topinya terdapat tulisan, “Kematian akan menghampiri siapapun yang menemuiku”, “perdamaian untuk seluruh dunia” (天下太平; Tiānxià tàipíng), dan “akan menangkapmu sekarang” (正在捉你; Zhèngzài zhuō nǐ).

Ia juga membawa kipas dan lempengan kayu yang bertuliskan “membuat perbedaan jelas antara yang baik dan yang jahat” (善惡分明; Shàn è fēnmíng), serta “mengganjar perbuatan baik dan menghukum perbuatan jahat” (獎善罰惡; Jiǎng shàn fá è)’. Ia juga membawa rantai besi di salah satu lengannya. Karena kegarangannya, ia sering diberi tugas untuk menangkap roh jahat.

Menurut cerita legenda Tiongkok kuno, semasa hidupnya kedua sosok ini adalah jenderal penjaga. Ceritanya, pada suatu hari saat proses pemindahan semua tawanan, mereka kehilangan satu tawanan sehingga mereka memutuskan untuk berpencar mencari tawanan yang hilang tersebut, dan berjanji akan bertemu lagi di bawah sebuah jembatan.

Namun, hujan turun besar sekali hingga menaikkan ketinggian permukaan air sungai. Saat itu, Jenderal Fan Wujiu sedang menunggu sahabatnya di bawah jembatan cukup lama dan bersikeras untuk tidak pergi. Dan akhirnya Jenderal Fan tenggelam saat air sungai semakin tinggi dan mencapai daratan.

Saat Jenderal Xie tiba di jembatan dan melihat sahabatnya sudah meninggal, ia sangat terpukul dan memutuskan untuk gantung diri. Kaisar langit sangat tersentuh oleh sikap patriotik, bertanggung jawab dan kesetiakawanan kedua sahabat ini, sehingga menunjuk mereka sebagai penjaga kefanaan hitam (Yin) dan penjaga kefanaan putih (Yang) yang bertugas untuk mengawal roh orang mati.

Dalam beberapa kisah, mereka muncul selama Festival Hantu Lapar dan menghadiahi roh-roh yang baik dengan kepingan-kepingan emas.

Pada dasarnya, Hitam dan putih bukanlah warna kulit atau warna pakaian, namun lebih mewakili prinsip Yin (阴) Yang (阳). Hitam melambangkan Yin dan Putih melambangkan Yang. Alasan kenapa Penjaga Heibai Wuchang disebut juga dengan penjaga Wuchang Yin dan Yang karena roh dalam tubuh manusia terdiri atas roh ethereal Yang (disebut juga dengan 魂 Hun) dan roh korporeal Yin (disebut juga dengan 魄 Po).

Baca jugaInilah Struktur Roh Sukma (Yuan Shen) Manusia

Loading...

Saat seseorang meninggal dunia, kedua Wuchang ini akan menjemput rohnya. Satu Wuchang akan bertanggung jawab untuk menjemput Hun, Wuchang yang lainnya bertugas untuk memisahkan Po dari tubuh dengan menyerapnya. Lalu roh tersebut akan diantar ke dunia bawah untuk menunggu penghakiman oleh raja dunia akhirat Yanluo Wang (Hanzi : 阎罗王; Hokkian : Giam Lo Ong).

Diagram roh dan jiwa manusia

Menurut kepercayaan Taoism, energi yin dan yang harus tetap seimbang. Tubuh pria terdiri atas roh yang (putih) dan jiwa yin (hitam). Sedangkan wanita terdiri atas roh yin (hitam) dan jiwa yang (putih).

Oleh karena itu, saat seorang laki-laki meninggal, maka Wuchang Yang akan mengambil jiwa yin-nya, sementara Wuchang Yin akan mengambil roh yang-nya.

Sebaliknya, jika seorang wanita yang meninggal, maka Wuchang Yin akan mengambil jiwa yang-nya, dan Wuchang Yang akan mengambil roh yin-nya.

B. Niu Tou dan Ma Mian – Pengawal Berkepala Kuda dan Berkepala Banteng

Pengawal Wajah-Kuda dan Kepala-Banteng

Kepala Banteng (牛头niútóu) and Wajah Kuda (马面 mǎmiàn) adalah dua penjaga yang ditakuti di dunia akhirat menurut kepercayaan Taoism. Seperti yang disebutkan dalam namanya, kedua penjaga ini memiliki tubuh pria dewasa namun pengawal Wajah Kuda memiliki kepala kuda, sementara penjaga Kepala Banteng memiliki kepala seekor banteng.

Mereka adalah makhluk pertama yang akan ditemui roh orang mati saat memasuki dunia bawah, dalam banyak cerita disebutkan bahwa mereka berdua yang menjemput roh orang yang baru saja meninggal ke dunia bawah.

Menurut cerita legenda (1), mereka adalah kuda dan banteng biasa di kehidupan mereka sebelumnya. Untuk memberi mereka penghargaan karena mereka adalah hewan pekerja keras selama hidupnya, Raja Yanluo, atau di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan Giam Lo Ong, menunjuk mereka sebagai penjaga para roh hantu di dunia bawah. Mereka biasanya digambarkan bersenjatakan garpu dan membawa rantai baja untuk mengikat roh.

Dalam sutra (kitab) agama Buddha berjudul Shiwangjing (十王經; literatur Sutra Sepuluh Yamaraja) yang ditemukan di Gua Dunhuang, terdapat salinan naskah yang menceritakan “kisah perjalanan Kaisar Tang Taizong (Kaisar Dinasti Tang ke 2) ke alam baka”. Kisah tersebut dikembangkan dalam berbagai sastra, meliputi Perjalanan ke Barat, Raja Naga dari Sungai Jing, Men Shen, hingga pertemuan dengan Niu Tou dan Ma Mian.

Kaisar Tang Taizong bertanya kepada Hakim Cui, mengapa kedua penjaga tersebut memiliki wajah yang demikian. Hakim Cui menceritakan bahwa Niu Tou semasa hidupnya adalah seekor kerbau yang bekerja keras sepanjang hari membantu manusia membajak sawah hingga mati kelelahan, sementara Ma Mian adalah seekor kuda balap yang mati kelelahan juga.

Yan Luo Wang mengangkat keduanya menjadi hantu penjaga akhirat berwujud manusia karena melihat mereka telah bekerja keras dan rajin sepanjang hidupnya. Sebagaimana semasa masih hidup, keduanya juga bekerja dengan baik setelah menjadi hantu penjaga.

Menurut cerita legenda lainnya (2), di suatu masa di Kota Fengdu (saat ini terletak di propinsi Chongqing), terdapat seorang kaya bernama tuan Ma yang hanya memiliki seorang putera. Ia meramalkan nasib puteranya menjelang ulang tahun yang ke-18, ternyata puteranya ditakdirkan untuk hidup hanya sampai 18 tahun saja.

Tuan Ma memohon untuk diberi tahu cara agar puteranya panjang umur. Peramal itu mengatakan bahwa saat tengah malam keesokan harinya, Tuan Ma diharapkan datang ke Gerbang Akhirat dan mempersembahkan makanan kepada dua orang yang sedang bermain catur di sana.

Tuan Ma mempersembahkan sendiri makanan kepada dua orang yang sedang bermain catur di tempat yang ditunjukkan oleh si peramal. Setelah menikmati makanan tersebut, mereka bertanya kepada Tuan Ma apa yang ia minta dari mereka. Tuan Ma memohon agar mereka tidak membawa jiwa puteranya ke akhirat.

Meskipun Niu Tou dan Ma Mian menolak untuk melanggar aturan akhirat, Tuan Ma terus mendesak mereka, bahkan bersujud hingga keningnya berdarah. Niu Tou dan Ma Mian merasa tidak tega dan memutuskan untuk mengabulkan permohonan Tuan Ma.

Setelah mengetahui pelanggaran mereka, raja Yan Luo Wang menghukum Niu Tou dan Ma Mian dengan hukuman pukulan, dan mengubah kepala manusia mereka menjadi kerbau dan kuda, serta menurunkan pangkat mereka di bawah Hakim Cui.

Dalam novel klasik Perjalanan ke Barat, penjaga Kepala Banteng dan Wajah Kuda dikirim untuk menangkap Sun Wukong, tapi kekuatan Sun Wukong berhasil mengalahkan mereka berdua dan malah membuat keduanya sangat ketakutan.

Sun Wukong kemudian pergi ke akhirat dan menghapus namanya serta nama monyet-monyet lain yang bersamanya dari buku kematian.

Referensi :

• Daoist Exorcism : Encounters with Sorcerers, Ghosts, Spirits and Demons. Profesor Jerry Allan Johnson, Ph.D., D.T.C.M. (www.daoistmagic.com)
• Origins of Chinese People and Customs. Fu Chunjiang. (Elex Media Komputindo, 2011)
Heibai Wuchang
Ox-Head and Horse-Face

Loading...

The following two tabs change content below.

amimah.halawati

Seorang mahasiswa perguruan tinggi teknik negeri di kota Bandung. Mojang Priangan berdarah Sunda namun memiliki minat besar dengan bahasa dan budaya Tionghoa. Pecinta buku dan senang menulis, khususnya fiksi fantasi yang bertema mitologi dan kebudayaan Tionghoa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Loading...