Marga Tionghoa di Indonesia

Marga Tionghoa merupakan marga yang digunakan orang Tionghoa. Marga (Hanzi: 姓氏, hanyu pinyin: xingshi) biasanya berupa satu karakter Han (Hanzi) yang diletakkan di depan nama seseorang. Ada pula marga yang terdiri dari 2 atau bahkan 3 sampai 9 karakter marga seperti ini disebut marga ganda (Hanzi: 復姓, hanyu pinyin: fuxing). Marga Tionghoa juga diadopsi oleh suku-suku minoritas yang sekarang tergabung dalam entitas Tionghoa. Marga dalam suku-suku minoritas ini biasanya berupa penerjemahan pelafalan dari bahasa suku-suku minoritas tadi ke dalam Hanzi. Penggunaan marga di dalam kebudayaan Tionghoa telah mempunyai sejarah selama 5.000 tahun lebih.

Evolusi nama Tionghoa

Di zaman dahulu, menurut catatan literatur kuno ada peraturan bahwa nama seorang anak biasanya baru akan ditetapkan 3 bulan setelah kelahirannya. Namun pada praktiknya, banyak yang memberikan nama sebulan setelah kelahiran sang anak, bahkan ada yang baru diberikan setahun setelahnya. Juga ada yang telah menetapkan nama terlebih dahulu sebelum kelahiran sang anak.

Di zaman Dinasti Shang, orang-orang masih menggunakan nama dengan 1 karakter. Ini dikarenakan mereka belum mengenal marga dan juga karena jumlah penduduk yang tidak banyak.

Sebelum zaman Dinasti Han, biasanya nama Tionghoa hanya terdiri dari 2 karakter yang terdiri dari 1 karakter marga dan 1 karakter nama. Namun setelah Dinasti Han, orang-orang mulai memiliki sebuah nama lengkap yang terdiri dari 3 karakter (1 karakter marga dan 2 karakter nama pribadi yang terdiri dari 1 karakter nama generasi dan 1 karakter nama diri) selain daripada nama resmi mereka yang 2 karakter itu.

Di zaman Dinasti Jin, orang-orang baru memakai nama dengan 3 karakter seperti yang kita kenal sekarang. Nama menjadi sebuah hal yang penting bagi seseorang dipengaruhi oleh pemikiran Konfusius tentang pentingnya penamaan bagi penonjolan karakter seseorang.

Pada kasus-kasus yang sangat langka, seseorang dapat memiliki nama dengan lebih dari tiga karakter :

1. Dua karakter marga (seperti Sima, Zhuge), satu karakter generasi, dan satu karakter nama diri. Contoh: Sima Xiangru
2. Satu karakter marga dan tiga karakter nama. Contoh: Hong Tianguifu (anak dari Hong Xiuquan)
3. Nama marga suku minoritas yang mengadopsi nama Tionghoa. Contoh: suku Manchu yang menguasai dinasti Qing menggunakan marga Aisin Gioro; kaisar dinasti Qing terakhir bernama Aisin Gioro Puyi (enam karakter)

Tingkatan marga

Di zaman dulu, marga-marga tertentu mempunyai tingkatan lebih tinggi daripada marga-marga lainnya. Pandangan ini terutama muncul dan memasyarakat pada zaman Dinasti Jin dan sesudahnya. Pengelompokan tingkatan marga ini terutama juga dikarenakan oleh sistem feodalisme yang mengakar zaman dulu di China. Ini dapat dilihat di zaman Dinasti Song misalnya, Bai Jia Xing yang dilafalkan pada masa tersebut menempatkan marga Zhao yang merupakan marga kaisar menjadi marga pertama.

Di masa sekarang tidak ada pengelompokan tingkatan marga lagi di dalam kemargaan Tionghoa. Bila beberapa marga didaftarkan maka biasanya diadakan pengurutan sesuai dengan jumlah goresan karakter marga tersebut.

Munculnya berbagai macam marga antara lain karena :

1. Menggunakan lambang2 suku2 kuno, misalnya Ma (kuda), Long (naga), Shan (gunung), Yun (awan)
2. Menggunakan nama negara, misalnya: Qi, Lu, Wei, Song
3. Menggunakan daerah kekuasaan, misalnya: Zhao, yang mendapatkan daerah kekuasaan di kota Zhao.
4. Menggunakan gelar jabatan, misalnya: Sima (menteri Perang), Situ (menteri tanah dan rakyat), Sikong (menteri Pu)
5. Menggunakan nama pekerjaan, misalnya: Tao (keramik), Wu (dukun/tabib)
6. Menggunakan tanda dari tempat tinggal, misalnya: Ximen (gerbang barat), Liu (pohon yangliu), Chi (kolam)

Nama Tionghoa di Indonesia

Marga Tionghoa di Indonesia terutama ditemukan di kalangan suku Tionghoa Indonesia. Suku Tionghoa Indonesia walau telah berganti nama Indonesia, namun masih banyak yang tetap mempertahankan marga dan nama Tionghoa mereka yang masih digunakan di acara-acara tidak resmi atau yang bersifat kekeluargaan.

Diperkirakan ada sekitar 300-an marga Tionghoa di Indonesia, data di PSMTI (Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia) mencatat ada sekitar 160 marga Tionghoa di Jakarta. Di Singapura sendiri ada sekitar 320 marga Tionghoa. Atas dasar ini, karena daerah asal suku Tionghoa di Indonesia relatif dekat dengan Singapura maka dapat diambil kesimpulan kasar bahwa jumlah marga Tionghoa di Indonesia melebihi 320 marga.

Marga Tionghoa di Indonesia mayoritas dilafalkan dalam dialek Hokkian (Minnan). Hal ini tidak mengherankan karena mayoritas keturunan Tionghoa Indonesia adalah berasal dari Provinsi Fujian (Provinsi Hokkian).

Marga yang lazim di kalangan Tionghoa Indonesia misalnya :

Cia/Tjia (Hanzi: 謝, hanyu pinyin: xie)
Gouw/Goh (Hanzi: 吳, hanyu pinyin: wu)
Kang/Kong (Hanzi: 江, hanyu pinyin: jiang)
Lauw/Lau (Hanzi: 劉, hanyu pinyin: liu)
Lee/Lie (Hanzi: 李, hanyu pinyin: li)
Oey/Ng/Oei (Hanzi: 黃, hanyu pinyin: huang)
Ong (Hanzi: 王, hanyu pinyin: wang)
Tan (Hanzi: 陳, hanyu pinyin: chen)
Tio/Thio/Theo/Teo (Hanzi: 張, hanyu pinyin: zhang)
Lim (Hanzi: 林, hanyu pinyin: lin)

Masih banyak lagi marga-marga lain yang dapat ditemui. Sebagai info, pengguna marga tionghoa terbanyak di dunia adalah marga Li [], lalu diikuti marga Wang [] di tempat kedua dan marga Zhang [] di tempat ketiga. Salah satu fenomena umum di Indonesia adalah karena marga dilafalkan dalam dialek Hokkian, sehingga tidak ada satu standar penulisan (romanisasi) yang tepat. Hal ini juga menyebabkan banyak marga-marga yang sama pelafalannya dalam dialek Hokkian kadang-kadang dianggap merupakan marga yang sama padahal sesungguhnya tidak demikian.

Tio selain merujuk kepada marga Zhang (張) dalam Mandarin, juga merupakan dialek Hokkian dari marga Zhao (趙)
Ang selain merujuk kepada marga Hong (洪) dalam Mandarin, juga merupakan dialek Hokkian dari marga Weng (翁)

Suku Tionghoa Indonesia sebelum zaman Orde Baru rata-rata masih memiliki nama Tionghoa dengan 3 karakter. Walaupun seseorang Tionghoa di Indonesia tidak mengenal karakter Han, namun biasanya nama Tionghoa di Indonesia tetap diberikan dengan cara romanisasi. Karena mayoritas orang Tionghoa di Indonesia adalah pendatang dari Hokkian, maka nama-nama Tionghoa berdialek Hokkian lebih lazim daripada dialek-dialek lainnya.

Daftar Nama Tionghoa Yang di Indonesiakan

Tabel dibawah berdasarkan penulisan pinyin. Karakter yang menggunakan koma berarti ada lebih dari satu macam karakter untuk pinyin yang sama. Karakter dengan tanda garis miring berarti di sebelah kiri adalah Hanzi tradisional, dan di sebelah kanan Hanzi sederhana.

Nama TionghoaEjaan Latin HokkianPeng-Indonesiaan
欧阳/歐陽 (Oūyáng)

AuwjongOjong
安 (Ān)AnAnadra, Andy, Anita, Ananta
蔡 (Cài)TjoaCahyo, Cahyadi
程, 成 (Chéng)SengSengani
陳 (Chen)Tan, TjhinTanto, Tanoto, Tanu, Tanutama, Tanusaputra, Tanudisastro, Tandiono, Tanujaya, Tanzil/Tansil, Tanasal, Tanadi, Tanusudibyo, Tanamal, Tandy, Tantra, Intan
鄧 (Deng)Tenggara, Tengger, Ateng
徐 (Xú)Djie, Tjhie, Chi (Hakka), Chee, Swee, Shui (Teochew, Hokkien), Tsui (Cantonese)Dharmadjie, Christiadjie
胡 (Hú)Aw, Auw (Teochew, Hokkien), Wu (Cantonese)
郭 (Guo)Kwee, KwikKartawiharja, Kusuma/Kusumo, Kumala
韓 (Han)HanHandjojo, Handaya, Handoyo, Handojo, Hantoro
洪 (Hong)AngAnggawarsito, Anggakusuma, Angela, Angkiat, Anggoro, Anggodo, Angkasa, Angsana
黄 (Huang)Oei, OeyWibowo, Wijaya, Winata, Widagdo, Winoto, Willys, Wirya, Wiraatmadja , Winarto, Witoelar, Widodo, Wijonarko, Wijanarko
江 (Jiang)KangKangean
李 (Li)Li, Lie, LeeLijanto, Liman, Liedarto, Lieva
梁 (Liang)NioLiangani, Liando/Liandow/Liandouw
林 (Lin)Liem, LimHalim, Salim, Limanto, Limantoro, Limianto, Limijanto, Liemena, Alim, Limawan, Liemantika, Liman
陸 (Lu)Liok, LiukLoekito, Loekman, Loekali
呂 (Lü)Loe, LuLoekito/Lukito/Lukita, Luna, Lukas, Loeksono
羅 (Luo)Ro, Loe, Lou, Lo, LuoLolang, Louris, Robert, Rowi, Robin, Rosiana, Rowanto, Rohani, Rohana, Samalo, Susilo
施 (Shi)SieSidjaja, Sidharta, Sieputra
司徒 (Situ)Sieto, Szeto, Seto, Siehu, SuhuLutansieto, Suhuyanli/Suhuyanly
蘇 (Su)Souw, So, SoeSoekotjo, Soehadi, Sosro, Solihin, Soeganda, Suker, Suryo/Surya/Soerjo
王 (Wang)Ong, WongOngko, Wangsadinata, Wangsa, Radja, Wongsojoyo, Ongkowijaya
温 (Wen)Oen, Boen, WoenBenjamin, Bunjamin, Budiman, Gunawan, Basiroen, Bunda, Wendi, Unang, Wiguna
武,伍, 烏 (Wu)Go, Gouw, Goh, NgGono, Gondo, Sugondo, Gozali, Gossidhy, Gunawan, Govino, Gotama, Utama, Widargo, Wurianto, Sumargo, Prayogo, yoga
許 (Xu)Kho, Khouw, KhoeKosasih, Komar, Kurnia, Kusnadi, Kholil, Kusumo, Komara, Koeswandi, Kodinata
謝 (Xie)Cia/TjiaTjiawijaya, Tjahyadi, Sudarmadi, Ciawi
楊 (Yang)Njoo, Nyoo, Njio, Injo, Inyo, Jo, Yo, YongYongki, Yoso, Yohan, Yuwana, Yudha
叶 (Ye)Yap/JapJaphar, Djapri
曾 (Zeng)Tjan, TsangTjandra/Chandra, Tjandrakusuma/Candrakusuma
張 (Zhang)Thio, Tio, Chang, Theo, Teo, TjongCanggih, Setyo, Setio, Sulistio, Sutiono, Santyoso
鄭 (Zheng)Te, TheTjokrorahardjo (Cokroraharjo), Tjokrowidjokso (Cokrowijokso)
朱 (Zhū)Zulkifri, Zuneng

Di zaman Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, warga negara Indonesia keturunan Tionghoa dianjurkan untuk mengindonesiakan nama Tionghoa mereka dalam arti mengambil sebuah nama Indonesia secara resmi. Misalnya Liem Sioe Liong diubah menjadi Soedono Salim. Walaupun demikian, di dalam acara kekeluargaan, nama Tionghoa masih sering digunakan, sedangkan nama Indonesia digunakan untuk keperluan surat-menyurat resmi.Namun sebenarnya, ini tidak diharuskan karena tidak pernah ditetapkan sebagai undang-undang dan peraturan yang mengikat. Hanya tarik-menarik antara pendukung teori asimilasi dan teori integrasi wajar di kalangan Tionghoa sendiri yang menjadikan anjuran ini dipolitisir sedemikian rupa.

Anjuran ganti nama tersebut muncul karena ketegangan hubungan Republik Rakyat China dengan Indonesia setelah peristiwa G30S. Tahun 1966, Ketua Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa (LPKB), Kristoforus Sindhunata menyerukan penggantian nama orang-orang Tionghoa demi pembangunan karakter dan nasionalisme bangsa.Seruan ini mendapat kecaman dari kalangan orang Tionghoa sendiri dan cemoohan dari kalangan anti Tionghoa. Yap Thiam Hien secara terbuka menyatakan bahwa nama tidak dapat menjadi ukuran nasionalisme seseorang dan ini juga yang menyebabkan nasionalis terkemuka Indonesia itu tidak mengubah namanya sampai akhir hayatnya.

Cemoohan datang dari Organisasi KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) yang pada waktu itu mengumandangkan nada-nada anti Tionghoa yang menyatakan bahwa ganti nama tidak akan mengganti otak orang Tionghoa serta menyerukan pemulangan seluruh orang Tionghoa berkewarganegaraan RRC (Republik Rakyat China) di Indonesia ke negara leluhurnya. Ganti nama ini memang merupakan satu kontroversi karena tidak ada kaitan antara pembangunan karakter dan nasionalisme bangsa dengan nama seseorang, juga karena tidak ada sebuah nama yang merupakan nama Indonesia asli.

Herman Tan

Sangat tertarik dengan tradisi & budaya Tionghoa di Indonesia. Follow @tionghoainfo untuk mendapatkan artikel terbarunya.

Latest posts by Herman Tan (see all)

112 Responses to Marga Tionghoa di Indonesia

  1. Zhang says:

    Sip Mas Bro artikelnya!
    Keep up the good work!

  2. Boby Candra says:

    nice artikel om,btw margaku chan :)

  3. Alie says:

    ada yg bisa bantu buatkan nama tionghoa untuk wanita dgn marga The?

  4. “Ganti nama ini memang merupakan satu kontroversi karena tidak ada kaitan antara pembangunan karakter dan nasionalisme bangsa dengan nama seseorang, juga karena tidak ada sebuah nama yang merupakan nama Indonesia asli.”

    Nice article, saya suka dengan kalimat yang saya kutip dari artikel di atas karena saya sangat setuju.

    Misalnya saja saya, di mana keluarga besar saya mengambil nama belakang “Subrata” sebagai pengganti marga, banyak yang ngotot itu nama Indonesia asli, padahal sebenarnya banyak kurang mengerti kalau itu nama dari bahasa Sansekerta, di mana juga banyak orang India / Bangladesh / Sri Langka yang juga memakai nama Subrata. Dan masih banyak contoh nama-nama yang lain, tidak hanya itu.

    Ganti nama bukan suatu ukuran seberapa seseorang cinta negeri ini, tapi sikap dan perbuatan yang telah dilakukan untuk negeri ini.

    • Herman Tan says:

      Halo, Audrey…

      Itulah akibat dari perpolitikan di tanah air ini sewaktu orde baru dulu.
      Semua “kaum pendatang” (bahkan termasuk yang sudah lahir di Indonesia) dipaksa untuk ganti nama/peng-indonesia-an.
      Tapi sekarang, untuk penggunaan nama/aksara China, sudah bisa/tidak ada larangan lagi.
      Tapi tetap saja kebanyakan orang tua sekarang, tetap menggunakan nama Indonesia (beserta fam/marga Indonesia) di akte kelahiran sang anak untuk menghindari hal-hal yang akan mempersulit si anak dikemudian hari.

      Demikian yang dapat saya tambahkan mengenai persoalan marga tionghoa di Indonesia ini.

  5. ricky says:

    marga THEN(b.hokkian nya) itu kalo di pinyin apa yah?

  6. agan2, permisi numpang tanya dan konsultasi ya

    saya lahir di budaya jawa-madura yang jelas tidak mempunyai tradisi marga. Tapi keluarga ayah saya punya marga “gun” dan sepertinya sudah di-indonesia-kan menjadi gunawi, guntamtoko, guntur, dll.

    Apakah “gun” adalah salah satu marga tionghoa yang langka? atau “gun” adalah variasi pengejaan dari marga tertentu?

    mengingat saya dan keluarga terlihat seperti orang tionghoa, dan paman2 (alm) saya fasih berbicara mandarin, serta ada kedekatan dengan orang-orang tionghoa asal keturunan taiwan.

    saya sangat penasaran ingin menggali silsilah keluarga saya dan jati diri saya.

    mohon pencerahannya,

    terima kasih sebelumnya
    Adien Gunarta

    • Herman Tan says:

      Halo Adien;

      Dalam artikel marga “Gun” (dibaca : Kun) memang tidak dicantumkan. Ini karena marga asli Tionghoa yang telah “di Indonesiakan” akibat kebijakan telah menjadi sangat VARIATIF. Seperti yang sudah Adien kemukakan, marga “Gun” di Indonesiakan menjadi Gunawi, gutamtoko, guntur, guntoro, gunawan, dsb. Sepengetahuan Admin, memang terdapat/ada marga “Gun” tersebut; cuma yang memakai marga tersebut mungkin sangat sedikit jumlahnya dibandingkan dengan marga-marga umum yang lain.

      Alangkah bagusnya, kalau Adien dapat pula mencantumkan huruf Hanzi atau letter goresannya, biar kami dapat lebih mudah untuk membantu menelusurinya jika berminat.

      Demikian info

      Salam hangat

  7. Hendra Purnomo says:

    Nah Kalo marga ejaan lama Tjung, ejaan baru Cung atau Zhong itu mayoritas nama Indonesianya apa ya??

  8. Song Lie says:

    Maaf mau tanya untuk nama Lee dan Lie terdapat berbedaan apa ya? Kok banyak yang bilang tidak ada marga Lee dan orang2 memakai kata Lie. Makasihhh

    • Herman Tan says:

      Halo, Song Lie.

      Baik “Lee” maupun “Lie” sama-sama dibaca “Li”. Mungkin hanya perbedaan struktur tulis saja, yang satu memakai ejaan Inggris yang satu memakai ejaan Indonesia.

  9. silla says:

    marga buyut saya han. saya nggak tau gimana nulisnya, karena kakek dan papa sudah tidak mencantumkan marga, semua pakai nama jawa. yg saya bingung teman saya bilang han itu artinya korea. padahal kata papa, papa yakin kalau keluarganya hokian, bukan korea.

    • kiroisenkou says:

      Halo Silla…

      Berikut adalah karakter “Han” : 韓/韩(sebelah kiri adalah Traditional Chinese). Dan benar huruf han tersebut digunakan untuk pengucapan negara Korea Selatan.

  10. Brigitta yo says:

    Kalo marga yo hanzinya apa ko

    • Herman Tan says:

      Marga Yo, dalam mandarin nya adalah “Yang”, hanzi nya 楊. Pernah nonton film Saving General Yang? Konon marga “Yang” berasal dari clan “Yang” tersebut; clan pahlawan.

  11. rizki says:

    Saya baru tahu kalau marga saya then, bisa tolong jelaskan tentang marga then tersebut..
    Terima kasih

    • Herman Tan says:

      Sudah dijelaskan oleh kiroisenkou diatas. Berikut saya copaskan kembali :

      Marga “Then” dalam bahasa mandarin dibaca “Deng”
      Berikut adalah karakternya : 鄧/邓

      Btw, marga Teng ini waktu tahun 1970-1990 an cukup terkenal, karena ada Deng Xiao Ping (marga Deng) sebagai salah satu pemimpin/petinggi partai politik yang sedang berkuasa di China pada waktu itu. Selain itu, ada juga ratu penyanyi pop Teresa Teng yang poluler di Taiwan pada kurun waktu yang sama, 1970-1990 an.

      Kira-kira demikian, semoga membantu :)

  12. Lexsan Tjhin says:

    Hallo teman2 yg baik hatinya.saya ingin tahu ;
    Nama papa saya sesuai akta kelahiran
    TJHIN TUNG NGIAN

    lalu nama saya sekarang
    LEXSAN TJHIN

    Tetapi,marga asli dari leluhur saya marga YAP

    Tolong jelaskan teman2, Gimana seharusnya saya mengambil marga
    Apakah ikut Akta kelahiran atau sesuai dari asli marga dari leluhur.dan bagaimana tulisan bahasa chinese nya ?

    ditunggu share nya.tq

  13. kiroisenkou says:

    Halo Lexsan

    Marga Yap/Jap dalam karakter mandarin adalah sebagai berikut.
    叶/葉 dibaca “Yè” dalam bahasa mandarin karena “Yap” adalah pelafalan dari bahasa minnan.
    Setahu saya marga biasa mengikuti ayah, tapi leluhur marganya beda dengan ayah, apakah leluhur dari ibu atau mungkin di keluarga punya history nya sendiri.
    Thanks

    • Lexsan Tjhin says:

      Hi,kiroisenkou

      Terimakasih jawaban anda, tapi saya ingin mengkonfirmasi bagaimana penulisan Chinese untuk nama saya

      mengenai, history dari papa saya sudah benar marga Yap
      tetapi sesuai akta kelahiran sekarang yang valid itu TJHIN

      LEXSAN TJHIN

      Thanks
      Lexsan Tjhin

  14. Mokhsin Pho 傅永成 says:

    Hai Semua,

    Saya 傅永成 asal pekanbaru riau , menyukai artikel ini. Semoga bermanfaat bagi para generasi muda saat ini maupun yg akan datang.

    Salam Kenal

  15. Seng Tiong Hui says:

    salam hormat,, sy tionghoa keturunan,,, kakek sy SENG GIE KIANG,,ayah saya SENG KAI TJOAN ,,dan saya sendiri SENG TIONG HUI,,,. Pertanyaqaqn saya apakah saya dapat mengetahui asal saya dari daerah china mana dan saya keturunan generasi ke berapa dan apa saya bisa dibantu untk menemukan kerabat leluhur saya ? trima kasih sblmnya. salam.

  16. Lolly says:

    Permisi tanya Ko,

    Kakek sy marga Lan, nenek sy Huang/Wong, nah papa sy ikut marga nenek, sementara sy ikut marga kakek. Yg mau saya tanya: sebenarnya bisa gak kl sy pakai marga papa sy yg adalah marga nenek? Terimakasih sebelumnya :)

  17. 郭忠仪 says:

    Dear Admin,

    Mohon info alamat persatuan marga 郭guo/kwee/kwik di jakarta?

    Trim’s

  18. Pamela says:

    Ko, kalo marga Tjiu, penulisannya gimana yah?

  19. 郭忠仪 says:

    Haiks, pertanyaan saya di cuekin…

  20. Lussy Siausentri says:

    Kalo marga siau (bahasa hakka/khek) bahasa internasionalnya apa ya?

  21. Hindra then says:

    Mlm mau memberi info kalau di Tasikmalaya Jawa Barat sudah ada paguyuban marga then, bila ada teman2 di sekitar tasikmalaya baik tua atau muda bisa gabung. untuk info lebih lanjut bisa hub saya di 083826130555 hindra

  22. Christoforus Petrus Ho says:

    Nama asli kelahiran saya yang diberi orangtua adalah Ho Han Hian sebelum diganti nama seperti penjelasan artikel diatas.

    Dari beberapa artikel yang saya baca marga Ho berasal dari marga HE. Saya ingin konfirmasi apakah benar. Saya ada bukti penulisan / keterangan yang ditulis di selembar kalender karena tidak bisa membaca karakternya maka saya agak bingung soal penulisan Aksara Marga HO saya.

  23. royal jack says:

    kalau marga wen/bun, cocok nya pake nama apa ya

  24. silla says:

    Yang punya nama cina pada masih nulis namanya diidentitas nggak sih? Kayak ktp ato paspor ato akte? Cara nyantuminnya gimana sih? Ditulis kanjinya ato latin?

    • Herman Tan says:

      Untuk KTP dan Paspor menggunakan nama yang tertera sesuai di akte kelahiran. Biasanya sudah menggunakan nama yang telah di Indonesiakan. Tapi untuk yang memang tidak ada nama Indonesia, tetap bisa dicantumkan nama asli nya (dengan huruf hanzi). Tapi biasanya akan dipersulit, seperti akan dimintai identitas kewarganegaraan, dsb.

    • Ha Djun Khoi says:

      Kita tidak usah terlalu berlebihan takut pada birokrasi administrasi, yang penting semua surat-surat kita lengkap (dalam artian tulisan untuk semua dokumen sama) sebagaimana yang diisyaratkan undang-undang negara yang berlaku, saya termasuk salah seorang yang mempertahankan nama lahir pemberian kakek saya, terima kasih

  25. esper says:

    Admin…
    Saya mau tanya… Sy punya leluhur jauh diatas saya kata ortuku adalah dari china yang dikenal dg nama “kun cung” dan “ang san” kalo di runut dari mereka aku adalah turunan k 12, tapi setelah ang san” leluhurku sÙdah tÍdak menggÙnakan nama china, tp nama arab. Menurut admin sebenarnya apa sieh marga dari leluhurku tersebut… Oh ya sy dilahirkan di madura dan leluhurku itu juga meninggalnya di madura… Cuman sayang kuburannya skrg sdh tdk ada…

  26. Kai says:

    saya pengen nanya,,
    dalam suku tionghoa sebenarnya bisa ganti marga kgk ???? ^_^

  27. Herman Tjen says:

    Saya marga Tjen..eja’anny gimana ya,trus apa nama marga punya arti?

  28. esper says:

    Admin mohon penjelasannya dari pertanyaan saya diatas… Trims bang admin.

  29. joseph says:

    Klo marga dgn penulisan romanisasi Tjiong dari suku hokkian banyak yg ga kenal walau sama2 org hokkian.. apakah benar tdk ada atau kesalahan ejaan romanisasi saja?

  30. esper says:

    Salam admin….

    Ada titipan pertanyaan dari temenku nih… Mohon bÀntuÀnnya ya min.. Temenku istrinya Chiness nah temenku itu bukan chiness, apakah anaknya boLeh menggunakan marga ibunya (istrinya temenku)?

    Trims admin

    • Herman Tan says:

      Halo esper,

      Seharusnya tidak Boleh. Marga harus ikut marga ayah, kecuali ada beberapa daerah/adat yang memperbolehkan itu; atau ada pertimbangan lain yang SANGAT URGENT sehingga harus menggunakan marga ibunya. contoh : Suami tidak mau bertanggung jawab dan belum menikah secara resmi atau korban perkosaan, anaknya mau tidak mau, meski untuk sementara harus menggunakan marga ibunya. Kasarnya (maaf) Inilah salah satu resiko yang harus diterima oleh para wanita etnis tionghoa yang ngotot ‘nikah’ dengan lelaki pribumi. Otomatis marganya harus ikut suami dan anaknya juga ikut marga suami.

      Kalau mau buka-bukaan sedikit, mungkin ada yang sudah dengar “doktrin” bapak Gubernur DKI, Ahok; yang dari statemennya selama ini getol menyarankan agar warga etnis keturunan melakukan asimilasi dengan etnis pribumi. Bukannya salah, ini memang bagus dimana kita harus membaur, karena kita sudah lahir disini maka otomatis harus ikut “aturan” di negeri ini (menjadi WNI). Ini juga cocok dengan konsep pemikiran pak Sindhunata. Tapi numpang tanya, apa mereka sudah melakukannya sendiri (bentuk asimilasi), yang salah satu pointnya adalah menikahi gadis pribumi ???

      Indonesia agak berbeda dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Disana warga perantauan dari Tiongkok juga banyak. Tapi di negara mereka tidak ada pemaksaan untuk melakukan asimilasi, sehingga komunitas Tionghoa disana masih “origin”; terlihat dari masih banyaknya yang menggunakan bahasa Mandarin dalam percakapan keseharian, adat masih dipegang teguh (meski sebagian sudah kena campur kebudayaan barat). Yang paling mencolok, disana TIDAK DIWAJIBKAN untuk mengganti nama lokal, tidak seperti di Indonesia dimana kita dipaksa untuk meng-indonesiakan nama kita. So, disana pembaruan antara warga asli dengan warga pendatang (tiongkok) agak lamban dan terkesan tidak membaur karena semua ada komunitas tersendiri.

  31. leny says:

    Kalo marga so itu suku nya apa ya admin? Hakka, hokian, hinghua atau apa? Thx

  32. toni says:

    Klu marga bui,hanzi nya apa ya ko?

  33. Natalia Helena says:

    Maaf saya mau tanya.
    Saya bermarga tjha.
    Marga tjha itu arti nya apa ya, kalau boleh tau.

  34. kho lep kie says:

    sy mau tanya nih, kakek sy ktny bernama kho lep kie, atau gmn nulisna sy gak tau krn sejak beliau meninggal di pontianak (ktnya jg sih dulu belia orang terkaya di pontianak/kalimantan) nenek kami (keturunan belanda) pindah ke pulau jawa, ayah kami yg keturunan beliau jg meninggal di belanda, sdngkn kami sejak kecil sudah terpisah dengan mereka, adakah yg tahu siapa kho lep kie itu? berhubungan dengan marga apa? ada jg cerita bertemunya kho lep kie itu dng oma di semarang (mungkin ketika berniaga atau apa gak tau)
    trims

    • Herman Tan says:

      Anda bisa cari seorang detektif untuk menyelidiki hal ini.

      • anton supriyadi says:

        Kok saya post comment gak masuk yaa..?

        • anton supriyadi says:

          Hallo salam kenal semua koko & cici..saya suka tentang artikel tionghoa 😀

          Nama kongcoh owe Lie Kie Hong
          Nama engkong owe Lie O Koen
          Nama bokap owe Lie Djie Siang
          Nama owe Lie San li, ada juga yg kasih nama Lie Men
          tp nama itu gak pernah dipakai, dari kecil pakai nama menurut akte lahir aja Anton Supriyadi 😛 hehehe..

          Kadang saya bertanya pd diri saya sendiri 😛
          Kenapa kongcoh kok nga ngajarin bahasa mandarin atau yg sejenis nya yaa ke anak2nya agar bisa turun temurun gitu melestarikan bahasa daerah asal..?
          Beda dgn tionghoa medan,kalimantan,bangka yg selalu turun temurun mengajarkan bahasa daerahnya kepada anak2nya..

          Atau mungkin kongcoh bukan asli dari tiongkok ? Hmmm…tp knapa punya marga…aah..lieur euy..hehehe

          Owe cuma tau silsilah keluarga cuma sampe kongcoh saja, diatas nya kongcoh owe udah tdk terlacak..

          Kiranya koko & cici bisa kasih masukan..:D
          Thx..salam

          • Herman Tan says:

            Halo Anton supriyadi, pertanyaan kenapa kongco mu tidak mengajarkan bahasa mandarin kepada anak cucunya, itu karena tekanan politik orde baru (setelah tahun 1965) oleh presiden Soeharto dimana semua kebudayaan yang berbau “CINA” tidak boleh ditonjolkan ke umum; termasuk soal penggunaan bahasa dan kaligrafi tulisan hanzi. Pada waktu itu siapa yang berani berbicara dalam bahasa mandarin di muka umum/masyarakat/lingkungan? Kalau kedapatan aparat bisa diamankan dan dituduh sebagai anggota PKI. Nanti pada era orde reformasi (Gusdur) baru kebudayaan Tionghoa boleh ditonjolkan kembali.

  35. steven halim says:

    Admin mohon bantuannya.. nama chinese saya lim ping wen. Sedangkan papa saya lim ming wang. Nah yg ingin saya tanyakan adalah apakah admin bs membantu mengenai urutan nama generasi marga lim? Saya perna di beritau bahwa tiap generasi hrus pnya nama generasi. Dengar2 ada 14 . Tp org tua saya hanya hafal smp urutan ke 6. Apakah admin bs membantu mengenai urutan nama generasi ini?
    Terima kasih sblumnya

  36. Yatim Widyana says:

    Hai ko.. mo tanya, papaku “ngo wie kiong” nama indonesia “eko widjono” dari surabaya, marganya apa & dari suku apa?
    aku ga tau apa2 soalnya mamaku jawa..
    xie xie..

  37. Edwin Li says:

    Admin mohon minta tolong bantuannya. Oma saya orang Hokkian marganya Kam dan kata beliau kalau dalam bahasa mandarin menjadi Kan, mohon bantuan untuk penulisan Hanzi-nya mengingat oma saya yang sudah tua juga sudah lupa cara menulisnya dan dulu juga beliau hidup dalam keluarga Tionghoa yang bergaya belanda jadi sudah jarang sekali menggunakan mandarin. Terima kasih

  38. Apheng Tan says:

    mau tanya nh…nama bagus nya untuk anak saya …….bulan 4 indo akan lahir ke dunia….kasih nama dan arti nya ya …….kalau cowok/cewek

    • Budiono Tan says:

      sebelumnya cari nama harus diperhatikan kalo nama anak dengan boleh sama dengan nama-nama saudara yang satu tingkatan atau ke atas dengan ortunya..

  39. Lee Xue Li 和平公主 says:

    Sy bermarga li kata ibuku nenek sy keturunan Tan cao ,nenek sy dari china gara gra penjajahan jepang pindah ke indonesia ,sy orang tio tjiu campur mandarin ,tapi sy hanya bisa mandarin tak bisa tio tjiu, boleh tanya siapa raja tan cao? Apkah li shi min?

  40. Lie Guang Wen says:

    Admin.. marga saya LIE. Saya tinggal di solo. Tapi saat ini saya bingung karena ga banyak penjelasan dari papa … jadi saya harus ikut perkumpulan Fujing atau Hakka ?

    Makasih .

  41. 李光文 says:

    Saya tinggal di solo, saat ini saya bingung harus ikut perkumpulan Hakka atau Fujing… karena papa ga pernah memberi informasi… tolong dibantu yaa..
    makasih

  42. herry widjaya says:

    Min… marga wa setelah di bahasa indonesiakan tu tulisanya kiang sementara wa uda ga punya orang tua kakek/nenek ponakan yg satu marga kyak papa wa. jadi wa ga tau klau marga kiang tu tulisanya gimana, wa tanya guru wa kiang itu ga ada yg ada chiang, ciang, atau kang, tapi wa yakin marga wa kiang soalnya ktp kakek ma papa wa juga tulisanya kiang, mohon penjelasanya sebenarnya wa masuk marga apa tulisan mandarinya gimana ?
    Biar lebih jelas wa kasih tau asal kakek wa dari hai lok hong, sama wa katanya orang tiochiu.
    Tq min mohon dibalas 😀

  43. Lidia Safitri says:

    salam kenal

    saya mau tanya apakah di indonesia ada semacam perkumpulan warga tionghoa bermarga lie? saya sudah lama penasaran ingin mencari keluarga nenek saya yang blm lama ini meninggal dunia di usia 84 th. ibunya bernama lie suan nio yang menikah dgn pribumi, kakeknya bernama aliangke (saya tidak tahu penulisannya

    menurut alm. nenek saya keluarganya banyak yg berada di daerah pekanbaru riau. saya hanya ingin mencari tahu keberadaan keluarga tionghoa alm. nenek saya untuk bisa menjalin silaturahmi. mohon bantuannya, terimakasih

  44. Irhan says:

    marga saya Khouw. pinyin nya apa ya?
    lalu untuk mengetahui karakter nama generasi bagaimana ya?
    terima kasih.

  45. BenJosh says:

    Saya mau tanya kalau pernikahan cewek Tionghoa sama cowok yg non-Tionghoa tapi si cowoknya masih turunan Ningrat/Bangsawan pribumi gimana ? apa boleh ? karena kan si cowok secara status sosial masih turunan Raja.
    Thx.

    • Herman Tan says:

      Tidak masalah, asal keduanya cocok. Semua orang Tionghoa di Indonesia sudah menjadi bagian dari Warga Negara Indonesia, tinggal tergantung masing-masing pribadi/keluarga saja apa bersedia untuk kawin campur atau tidak.

  46. Vanti says:

    Salam kenal. Marga saya Oen atau dalam mandarinnya Wen. Ada yang tau untuk urutan nama china (nama tengah) untuk marga Oen? Terima kasih..

  47. anggrek iskandar says:

    Halo….

    Mau nanya, apakah marga GHO sama dengan GOH/GOUW??

    Setau saya papa saya bermarga GHO, kyknya jarang ya marga ini di Indonesia ??

  48. ismawan says:

    halo koko admin…
    saya mau tanya marga saya kan NIO kalo mandarin jd liang atau hakka leung kalo gak salah,nah nama teng lang saya nio cen yung,nah lebih bagus di eja pake mana ya dari 3 lafal tersebut???
    xie xie

    • Herman Tan says:

      Bukan soal mana yang lebih bagus dieja, tapi leluhur Pak Ismawan berasal dari daerah mana. Disarankan tetap menggunakan nama asli bawaan dari orang tua; itu akan menunjukkan asal identitas bapak.

  49. Rie Xin Lau says:

    Permisi saya mau tanya, saya marganya Lau. Lalu ada teman saya yang mengaku bahwa dia itu marga Liu. Apakah Liu dan Liu sama? Jika beda apa bedanya, terimakasih

  50. Fang Hua says:

    Selamat sore, saya mau tanya, ibu saya menikah dengan pribumi dan lahirlah saya. banyak yang bilang saya mewarisi keturunan cina ibu saya dan bau darah juga cina (entah bagaimana orang-orang tua bilang bahwa sesama cina bisa mencium bau darahnya antar sesama jadi bisa mengenali antar cina)
    tetapi saya masih bingung apakah saya memang bisa disebut masih memiliki keturunan cina ? sejak saya umur 2 bln ibu saya cerai dengan ayah saya dan saya juga memiliki nama cina yaitu tio fang hua
    dari nenek saya mempunyai akta KK cina tapi tidak dengan ibu saya dan saya, bagaimana menelusuri sesepuh kami ya ? saya juga sangat ingin menggali budaya leluhur dan entah saya begitu mencintai budaya cina

    • Herman Tan says:

      Halo Fang Hua, Anda masih termasuk keturunan Tionghoa, terlepas anda mengakuinya atau tidak. Tapi posisi tawar anda lemah karena anak anda kelak harus mengikuti marga suami. Mengenai cara bagaimana untuk menelusuri leluhur anda, ini agak sulit, apalagi dengan fakta bahwa anda sejak umur 2 bulan sudah tidak memiliki keluarga utuh, ini menyulitkan untuk menggali informasi dari ayah kandung anda. Senang rasanya membaca anda masih mencintai budaya Tionghoa.

    • Pengamat says:

      Fang Hua, Saya TIDAK percaya anda lahir dari ibu Tionghoa. Sepertinya anda sedang mengarang soal nama Tio Fang Hua. Mohon maaf, nama-nama orang Tionghoa selalu mengikuti urutan silsilah dari marga Ayahnya.

      Apabila ayah anda Pribumi tentunya ybs sudah pasti tidak akan punya nama Tionghoa, dan dengan demikian nama Tio Fang Hua hanya khayalan fiksi belaka.

      Nampaknya anda seorang Pribumi yang sedang krisis identitas dan ingin di anggap sebagai orang Tionghoa.

  51. Kireina Sanjaya says:

    Selamat Malam, Saya mau tanya Ko Herman, Saya adalah seorang keturunan Tionghoa, Kakek dari Ayah saya bermarga ‘Chen’, beliau lahir di Taiwan namun karena telah lama tinggal di Jawa Tengah akhirnya dia menggunakan marga Tionghoa yang di Indonesiakan yaitu ‘Sanjaya’, yang ingin Saya tanyakan adalah, apa benar jika marga Tionghoa ‘Chen’ bisa di Indonesiakan dengan ‘Sanjaya’, sementara teman2 saya yang juga bermarga ‘Chen’ semuanya menggunakan ‘Tan’ seperti ‘Tanjaya’, ‘Tanadi’ dll. Menurut saya agak terdengar tidak pas jika ‘Chen’ di ganti dengan ‘Sanjaya’. Terimakasih.

    • Herman Tan says:

      Halo, Kireina.

      Belum pernah marga Chen [陳] diindonesiakan menjadi SANJAYA. Umumnya marga Chen sendiri di Indonesia berubah menjadi Tanto, Tanoto, Tanu, Tanutama, Tanusaputra, Tanudisastro, Tandiono, Tanujaya, Tanzil/Tansil, Tanasal, Tanadi, Tanusudibyo, Tanamal, Tandy, Tantra, Intan, dan sebagainya. Tapi TIDAK MENUTUP KEMUNGKINAN akibat keterbatasan informasi pada waktu dulu, sehingga membingungkan orang untuk “memilih” marga indonesia-nya hingga akhirnya hanya ikut ikutan arus/ikut orang saja.

      Agak sulit sekarang untuk mengubah marga di capil, seperti kesalahan PEMARGAAN seperti ini.

      Demikian info

  52. Steven Yang says:

    Apakah orang Han chinese dengan orang Tang berbeda?

    • Herman Tan says:

      Hanya beda generasi. Ciri orang dan kultur budaya nya sama.

      Dinasti Han (Hanzi: 漢朝, hanyu pinyin: Han Chao) (206 SM – 220)
      Dinasti Tang (Hanzi: 唐朝, hanyu pinyin: Tang Chao) (618 – 907)

  53. Ng Tju Sun says:

    Pemberian Nama Seseorang merupakan Hak Azasi Manusia Seseorang,jadi acara ganti nama merupakan pelanggaran HAM jika dipaksakan

  54. Chelsea says:

    Saya bermarga situ, saya pakai nama indonesia, tapi diganti dengan nama indonesia juga tetapi memakai marga Ibu saya yg bukan chinese, katanya buat jaga jaga aja takut ada perang etnis. Tapi bisakah saya tetap masuk dalam golongan marga SiTu ? Orang tua saya cerai, tapi tetap bisakan saya memakai marga situ?
    Bisakah memberi saya nama china yang bagus sesuai marga saya “Situ” tolong tulisannya juga. Saya wanita, dan masih remaja, jadi bisa kan nama chinanya lebih modern…

  55. yoseph shi says:

    Salam kenal….. marga saya Sie (“施” / pinyin “SHI”) dan nama tengah saya Soen (“顺” / pinyin “SHUN”). Mohon info urutan generasi nama china (nama tengah) untuk marga tersebut untuk urutan penamaan (nama tengah) utk anak, cucu, cicit di bawah saya nantinya. Terima kasih.

  56. otonk says:

    Saya memiliki uyut yang berdarah cina Bun Tiong, dari Kp. Pulo Kalibata jaman dulu… bisa dijelaskan nama Bun tersebut

  57. vicentsius felix reynaldi says:

    Salam kenal, nama saya vicent nama chinese saya kwee xin bo
    (郭鑫博). Saya ingin bertanya apakah marga saya kwee
    (郭) mempunyai kisah tertentu? Dan apakah nama saya mempunyai arti atau makna tertentu? Terima kasih.

    • Herman Tan says:

      Terlepas dari ada/tidaknya asal usul marga Kwee (Guo; 郭), yang jelas marga anda populer semenjak pengarang Jin Yong menerbitkan 2 novel fiksi (The Legend of the Condor Heroes & The Return of the Condor Heroes). Di kedua novel tersebut terdapat tokoh/karakter pahlawan; Guo Jing (郭靖).

  58. juli says:

    Mohon bimbingan. Pasangan saya tdk mempunyai nama china. selama ini dia cuma tau marganya tjoa. Karena kita mau menikah dan diperlukan nama china diundangan , dia meminta saya mencarikan dia sbh nama. Saya meminta dia mencari tlsan marganya dan kemudian diketahui dia bermarga 蔡. Dari generasi papanya nama ke2 adalah 建。skrg saya bgng utk memberikan nama bt dia. Krn generasi dia sdh tdk memakai nama mandarin lg. Bisakah saya mengetahui karakter ke 2 generasi sesudah papanya itu? Atau adakah kira2 nama yg sesuai bt dia. Terima kasih banyak

    • Herman Tan says:

      Halo sdri Juli,

      Apakah maksud anda adalah nama tengah; jika benar, maka nama tengah biasanya menggunakan syair/kata yang terstruktur di setiap generasi. Artinya, di satu generasi itu semua anaknya menggunakan nama tengah yang sama; atau bisa dipisah untuk anak lelaki dan perempuan. Berikut informasi mengenai penggunaan nama tengah : http://www.tionghoa.info/pemberian-nama-tionghoa-menurut-fengshui-pada-anak/

      Masalahnya sejak orde baru, pemerintah mewajibkan seluruh warga negaranya untuk meromanisasi atau mengindonesiakan nama bagi etnis tionghoa. Sejak saat itu, sudah jarang penggunaan nama tionghoa; sehingga banyak etnis tionghoa tidak lagi memiliki nama tengah keluarga sebagai patokan. Rata-rata mereka hanya mengetahui marga utamanya saja.

      Saran, dicoba tanyakan kepada orang tua/kakek nenek dari pasangan anda; siapa tahu masih punya catatan mengenai pemberian nama tengah, atau siapa tahu bisa mereka buatkan langsung jika memang anda ingin demikian. Jika tidak, bisa pilih nama tengah bebas; terlepas dari aturan syair/bait nama tengah keluarga. Tapi tidak bisa ikut nama tengah dari generasi papanya (建); karena nanti bisa dikira kakak adik.

      Demikian info & salam hangat

  59. Pengamat says:

    @ juli,

    1. Kalau masih generasi ke-3 atau ke-4, asal usul garis keturunan masih bisa ditelusuri. Baca papan Bong Pay dikuburan, di situ informasinya cukup jelas tertulis akan asal-usul seseorang.

    2. Masalah yang pertama adalah harus diyakini dahulu apakah calon suami anda memang benar-benar keturunan orang Tionghoa atau dia hanya mengaku-aku saja dgn mengambil sembarang nama marga Tionghoa di internet ?

    3. Minta ybs menunjukkan lokasi kuburan Papah-Mamah, AnKong-AnMa, GuaKong-GuaMa, KongCou-MaCou atau kuburan-kuburan saudara-saudaranya. Orang Tionghoa, biasanya sebelum mengajukan lamaran kawin harus acara sembahyang dahulu di kuburan papah-mamah,ankong-anma,& guakong-guama. Tujuannya untuk meminta doa restu kepada para leluhur, baik dari pihak suami/istri.

    Sepandai-pandai penipu maka akal bulusnya pasti akan terungkap saat dilakukan tanya-jawab secara mendetail.

    Kalau mengaku-aku sebagai orang Tionghoa kemudian sembarangan pakai nama Tionghoa nanti akan menimbulkan masalah ke depannya karena perkawinan tsb ternyata penuh kepalsuan.

    4. Sebagai pihak perempuan, nanti nama anak-anaknya akan mengikuti nama garis keturunan Tionghoa suami. Apabila suami anda ternyata orang pribumi/campuran namun kemudian anaknya diberikan nama Tionghoa maka itu sama artinya berbohong kepada anak anda sendiri.

    Kalau awalnya sudah berbohong maka ke depannya juga akan hidup dengan penuh kebohongan.

    Biasanya yang sudah keturunan ke-6 sudah pasti berdarah campuran dengan darah pribumi sekitar 25%. Bagi yang sudah keturunan ke-8 ke atas maka bisa dipastikan sudah memiliki darah pribumi di atas 60% (hasil kawin campur berkali-kali dari pihak ayah pribumi-ibu pribumi).

    Dari wujud fisik terlihat jelas apakah ybs sudah keturunan ke-4 atau ke-8. Biasanya yang masih keturunan ke-4 menunjukkan perbedaan wujud fisik yang terlihat nyata apabila dibandingkan dengan keturunan yang ke-8.

    Definisi: Keturunan ke-0 dilahirkan di Tiongkok, dan keturunan ke-1 dan seterusnya dilahirkan di Indonesia.

    5. Biasanya yang memberikan nama Tionghoa adalah AnKong-AnMa, Guakong-Guama. Apabila calon suami anda dilahirkan saat Ankong-AnMa, GuaKong-GuaMa-nya masih hidup PASTI 100% akan diberikan nama Tionghoa. Omong kosong besar apabila AnKong-AnMa, Guakong-Guama-nya tidak memberikan nama Tionghoa, biasanya di tulis corat-coret diselembar kertas.

    6. Orang Tionghoa Indonesia yang dilahirkan sebelum tahun 1965-an PASTI 100% memiliki nama Tionghoa.

    Bohong besar apabila orang-tua ybs tidak punya nama Tionghoa. Periksa & baca Surat Akta kelahiran orang-tua calon suami anda, sesuai peraturan jaman Belanda, nama Tionghoa wajib digunakan di surat-surat terutamanya akta lahir & ktp.

    Seluruh surat-surat administrasi kependudukan, kartu keluarga, akta lahir, KTP, surat tanah rumah, ijasah, buku raport, dll di jaman Sukarno & jaman Belanda masih menggunakan nama Tionghoa. Pelarangan penggunaan nama Tionghoa secara resmi baru dimulai di jaman Suharto periode di atas 1965-an.

    Bohong besar apabila sama sekali tidak ada berkas dokumentasi surat-surat yang tersisa dari jaman orang-tua calon suami anda.

    Patut di duga apabila sama sekali tidak ada berkas dokumentasi maka ada sesuatu hal yang disembunyikan oleh keluarga calon suami anda.

    7. Saya agak merasa aneh dengan kasus anda. Sebagai orang Tionghoa, biasanya mamah anda yang sibuk menelusuri asal-usul keturunan calon suami anda. Bahkan soal cari tahu asal-usul keturunan seharusnya dilakukan sebelum masa pacaran.

    Biasanya pula dari pihak lelaki dan perempuan akan saling memberitahukan silsilah asal-usul keturunannya saat memulai pacaran. Agak aneh & ganjil apabila hal asal-usul keturunan baru dibahas saat akan menikah.

    8. Mohon maaf, apabila calon suami anda meminta diberikan nama Tionghoa dari anda sebagai calon istri maka itu artinya ybs sama-sekali tidak mengerti adat-istiadat Tionghoa. Besar kemungkinan 99%, calon suami anda merupakan orang Pribumi.

    = Tan =

  60. Pengamat says:

    @ juli,

    Tambahan,
    1. Informasi di papan Bong Pay biasanya minimal mencakup:
    a. nama Tionghoa yang meninggal; waktu dan tanggal;
    b. nama Tionghoa anak-anak dari yang meninggal, dan;
    c. nama-nama Tionghoa kedua-orang tua dari yang meninggal.

    Informasi minimumnya serupa dengan yang ditampilkan di iklan berita duka cita di kompas.

    2. Namun untuk informasi di papan Bong Pay biasanya lebih lengkap lagi karena mencakup naratif dan deskriptif kisah & riwayat hidup ybs secara singkat, dilahirkan dimana, siapa nama ayahnya, siapa nama ibu yang melahirkan, dibesarkan dimana, kapan menikah, dengan siapa menikah, lulus perguruan tinggi dimana, punya anak berapa, punya cucu-cicit berapa, siapa saja nama-namanya, tempat meninggal dimana, penyebabnya apa, jam dan tanggalnya kapan, dst.

    Di jaman dahulu, ada yang menuliskan riwayat hidup lengkap 7 (tujuh) generasi garis keturunan, bahkan sampai ada pula yang menuliskan lengkap silsilah 18 garis keturunan.

    3. Patut di duga apabila sampai ada keluarga “Tionghoa” yang tidak mau menuliskan riwayat hidupnya di papan Bong Pay mungkin karena keluarga orang “Tionghoa” tsb merasa malu apabila ada informasi yang diungkapkan, misalkan: dilahirkan oleh ibu “Maemunah”, “Marsiyem”,”Aisyah” atau nama ayahnya ada yang bernama “Muhammad bin Jamal”, “Peter de Jong”, dst.

    4. Sangat disayangkan setelah masa reformasi tahun 2000-an ini informasi di papan Bong Pay khususnya di kuburan Tionghoa Kristen Indonesia hanya mencantumkan informasi ala kadarnya bahkan terkesan asal-asalan tidak mengikuti kaidah Tionghoa.

    Yang lebih tolol & bodohnya lagi, generasi Tionghoa Kristen sampai tidak mau menuliskan nama Tionghoa-nya di papan Bong Pay padahal almarhum memiliki nama Tionghoa.

    Bukti & contoh sederhana, silahkan lihat di iklan berita duka cita di koran kompas.

    5. Yang lebih miris lagi di rumah-rumah Tionghoa sekarang sudah tidak ada lagi meja abu atau lingwei (lembar papan kayu bertuliskan nama almarhum leluhur yang dibuat saat ybs meninggal). Begitu pentingnya makna lingwei bahkan apabila saat terjadi kebakaran yang pertama-kali akan diselamatkan adalah papan kayu lingwei leluhur & abu leluhur.

    6. Bahkan hal yang lebih parah lagi terjadi di keluarga-keluarga Tionghoa Kristen yang baru selesai dibaptis di Gereja. Langkah pertama yang dilakukannya saat pulang ke rumah adalah membuang meja abu beserta papan nama lingwei ke selokan / got pinggir depan rumah. Bahkan abu kremasi leluhur dari orang-tuanya sendiri dibuang ke saluran got depan rumah / WC belakang.

    Peristiwa di atas merupakan peristiwa yang patut disesali, dan memprihatinkan karena keluarga tsb secara sadar telah menghapuskan asal-usul garis keturunannya sendiri.

    = Tan =

  61. juli says:

    Terima kasih atas penjelasannya. Benar maksud saya adalah nama tengah. Yang sangat disayangkan kakek nenek(leluhurnya)sdh tdk ada. Orang tuanya sdri tdk mengenal huruf hanzi sama sekali krn diklrganya sdh mengunakan b.indo. Marganya saya ketahui dari srt wni kakeknya. Jadi utk pemberian nama mereka sepenuhnya percayakan pd klrga saya. Yg ingin saya tanyakan adakah artikel atau contoh nama tengah (generasi ) yg bs saya pilihkan utk dia? Atau bs beri saya saran nama sesuai utk dia. Dia lahir ditahun kelinci 1987 .Terima kasih atas perhatian n bantuannya.

  62. king hok says:

    mau nanya nih

    nama chinese saya 吳景福

    ada dua pronunciation

    mandarin = wú jǐng fú

    karena leluhur saya hokkian , maka saya tanya Apek saya klo hokkian itu pronunciation nya gimana ?

    kata apek saya sih :

    GO KING HOK

    benar ga pak ?

  63. martin siet says:

    marga saya: 薛 (Xuē)
    di indonesia jadi “siet”

    salam kenal
    dari tg. balai karimun, kep. riau

  64. ariansyah says:

    Koko koko sama cici cici..
    Mau nanya ini yang benar yang mana marga yap atau ye..
    Mohon penjelasanya.. terimakasi

  65. Hen-hen says:

    Hallo nama saya hendra asal palembang, kakek saya bernama Chu Seng He dan Ayah Saya bernama Chu Ci Bun, sedangkan ibu saya pribumi Sedangkan saya sendiri di beri nama menurut marga kakek saya sewaktu saya berumur 7 th * Chu Cing Giok * nahhh yg mau saya tanyakan apa arti dari nama saya dan bagaimana tulisan marga Chu dalam tulisan hanzi, Xie”….

    • Herman Tan says:

      Halo, Hen-hen
      Marga Zhū (Hanzi : 朱; Pinyin : Zhū) adalah sebuah nama marga Tionghoa yang umum, yang berarti “mutiara” dalam bahasa Tionghoa. Marga ini adalah marga resmi dalam Dinasti Ming. Maaf mengenai nama anda tidak dapat diartikan ataupun dituliskan dalam hanzi karena untuk karakter “Cing & Giok” itu cukup beragam.

  66. christian says:

    haloo ko herman tan
    ko mau numpang nanya
    kalo marga saya liem nama mandarin yang cocok buat saya apa ya ???
    saya lahir 19 2 1999
    shio sya kelinci
    dan saya anak laki2
    saya anak ke3 dari 3 saudara
    tolong di bales ya
    jujur saya malu saya orang cinese tapi saya tidak punya nama mandarin
    saya tanya sma ortu sya katanya beliau gg ngerti sama yang beginian
    mohon bantuannya

    oiya nama ayah saya
    liem wei fung

    xie xie ya ko

  67. bungsong says:

    saya minta tolong penjelasannya donk.. apa kah marga bong, heng dan wang itu sama..? Thx

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


7 + = 16

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>