Marga Tionghoa di Indonesia

Nama_Tionghoa

Marga Tionghoa merupakan marga yang digunakan orang Tionghoa. Marga (Hanzi: 姓氏, hanyu pinyin: xingshi) biasanya berupa satu karakter Han (Hanzi) yang diletakkan di depan nama seseorang. Ada pula marga yang terdiri dari 2 atau bahkan 3 sampai 9 karakter marga seperti ini disebut marga ganda (Hanzi: 復姓, hanyu pinyin: fuxing). 

Marga Tionghoa juga diadopsi oleh suku-suku minoritas yang sekarang tergabung dalam entitas Tionghoa. Marga dalam suku-suku minoritas ini biasanya berupa penerjemahan pelafalan dari bahasa suku-suku minoritas tadi ke dalam Hanzi. Penggunaan marga di dalam kebudayaan Tionghoa telah mempunyai sejarah selama 5.000 tahun lebih.

Loading...

A. Evolusi nama Tionghoa

Di zaman dahulu, menurut catatan literatur kuno ada peraturan bahwa nama seorang anak biasanya baru akan ditetapkan 3 bulan setelah kelahirannya. Namun pada praktiknya, banyak yang memberikan nama sebulan setelah kelahiran sang anak, bahkan ada yang baru diberikan setahun setelahnya. Juga ada yang telah menetapkan nama terlebih dahulu sebelum kelahiran sang anak.

Pada jaman dinasti Shang, orang-orang masih menggunakan nama dengan 1 karakter. Ini dikarenakan mereka belum mengenal marga dan juga karena jumlah penduduk yang tidak banyak.

Sebelum jaman dinasti Han, biasanya nama Tionghoa hanya terdiri dari 2 karakter yang terdiri dari 1 karakter marga dan 1 karakter nama. Namun setelah Dinasti Han, orang-orang mulai memiliki sebuah nama lengkap yang terdiri dari 3 karakter (1 karakter marga dan 2 karakter nama pribadi yang terdiri dari 1 karakter nama generasi dan 1 karakter nama diri) selain daripada nama resmi mereka yang 2 karakter itu.

Sedangkan pada jaman dinasti Jin, orang-orang baru memakai nama dengan 3 karakter seperti yang kita kenal sekarang. Nama menjadi sebuah hal yang penting bagi seseorang dipengaruhi oleh pemikiran Konfusius tentang pentingnya penamaan bagi penonjolan karakter seseorang.

Pada kasus-kasus yang sangat langka, seseorang dapat memiliki nama dengan lebih dari tiga karakter :

1. Dua karakter marga (seperti Sima, Zhuge), satu karakter generasi, dan satu karakter nama diri. Contoh: Sima Xiangru, Zhuge Wuwei
2. Satu karakter marga dan tiga karakter nama. Contoh: Hong Tianguifu (anak dari Hong Xiuquan)
3. Nama marga suku minoritas yang mengadopsi nama Tionghoa. Contoh : suku Manchu yang menguasai dinasti Qing menggunakan marga Aisin Gioro; kaisar dinasti Qing terakhir bernama Aisin Gioro Puyi (enam karakter)

B. Tingkatan marga

Di zaman dulu, marga-marga tertentu mempunyai tingkatan lebih tinggi daripada marga-marga lainnya. Pandangan ini terutama muncul dan memasyarakat pada zaman Dinasti Jin dan sesudahnya. Pengelompokan tingkatan marga ini terutama juga dikarenakan oleh sistem feodalisme yang mengakar zaman dulu di China.

Ini dapat dilihat di zaman Dinasti Song, misalnya Bai Jia Xing yang dilafalkan pada masa tersebut menempatkan marga Zhao yang merupakan marga kaisar menjadi marga pertama.

Di masa sekarang tidak ada pengelompokan tingkatan marga lagi di dalam kemargaan Tionghoa. Bila beberapa marga didaftarkan maka biasanya diadakan pengurutan sesuai dengan jumlah goresan karakter marga tersebut.

Munculnya berbagai macam marga antara lain karena :

1. Menggunakan lambang2 suku2 kuno, misalnya Ma (kuda), Long (naga), Shan (gunung), Yun (awan)
2. Menggunakan nama negara, misalnya: Qi, Lu, Wei, Song
3. Menggunakan daerah kekuasaan, misalnya: Zhao, yang mendapatkan daerah kekuasaan di kota Zhao.
4. Menggunakan gelar jabatan, misalnya: Sima (menteri Perang), Situ (menteri tanah dan rakyat), Sikong (menteri Pu)
5. Menggunakan nama pekerjaan, misalnya: Tao (keramik), Wu (dukun/tabib)
6. Menggunakan tanda dari tempat tinggal, misalnya: Ximen (gerbang barat), Liu (pohon yangliu), Chi (kolam)

C. Nama Tionghoa di Indonesia

Marga Tionghoa di Indonesia terutama ditemukan di kalangan suku Tionghoa Indonesia. Suku Tionghoa Indonesia walau telah berganti nama Indonesia, namun masih banyak yang tetap mempertahankan marga dan nama Tionghoa mereka yang masih digunakan di acara-acara tidak resmi atau yang bersifat kekeluargaan.

Diperkirakan ada sekitar 300-an marga Tionghoa di Indonesia, data di PSMTI (Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia) mencatat ada sekitar 160 marga Tionghoa di Jakarta. Di Singapura sendiri ada sekitar 320 marga Tionghoa. Atas dasar ini, karena daerah asal suku Tionghoa di Indonesia relatif dekat dengan Singapura maka dapat diambil kesimpulan kasar bahwa jumlah marga Tionghoa di Indonesia melebihi 320 marga.

Loading...

Marga Tionghoa di Indonesia mayoritas dilafalkan dalam dialek Hokkian (Minnan). Hal ini tidak mengherankan karena mayoritas keturunan Tionghoa Indonesia adalah berasal dari Provinsi Fujian (Provinsi Hokkian).

Marga yang lazim di kalangan Tionghoa Indonesia misalnya :

• Cia/Tjia (Hanzi: 謝, hanyu pinyin: xie)
• Gouw/Goh (Hanzi: 吳, hanyu pinyin: wu)
• Kang/Kong (Hanzi: 江, hanyu pinyin: jiang)
• Lauw/Lau (Hanzi: 劉, hanyu pinyin: liu)
Lee/Lie (Hanzi: 李, hanyu pinyin: li)
Oey/Ng/Oei (Hanzi: 黃, hanyu pinyin: huang)
Ong (Hanzi: 王, hanyu pinyin: wang)
Tan (Hanzi: 陳, hanyu pinyin: chen)
Tio/Thio/Theo/Teo (Hanzi: 張, hanyu pinyin: zhang)
• Lim (Hanzi: 林, hanyu pinyin: lin)

Masih banyak lagi marga-marga lain yang dapat ditemui. Sebagai info, pengguna marga tionghoa terbanyak di dunia adalah marga Li [], lalu diikuti marga Wang [] di tempat kedua dan marga Zhang [] di tempat ketiga.

Salah satu fenomena umum di Indonesia adalah karena marga dilafalkan dalam dialek Hokkian, sehingga tidak ada satu standar penulisan (romanisasi) yang tepat. Hal ini juga menyebabkan banyak marga-marga yang sama pelafalannya dalam dialek Hokkian kadang-kadang dianggap merupakan marga yang sama padahal sesungguhnya tidak demikian. Misalnya :

• Tio selain merujuk kepada marga Zhang (張) dalam Mandarin, juga merupakan dialek Hokkian dari marga Zhao (趙)
• Ang selain merujuk kepada marga Hong (洪) dalam Mandarin, juga merupakan dialek Hokkian dari marga Weng (翁)

Suku Tionghoa Indonesia sebelum zaman Orde Baru rata-rata masih memiliki nama Tionghoa dengan 3 karakter. Walaupun seseorang Tionghoa di Indonesia tidak mengenal karakter Han, namun biasanya nama Tionghoa di Indonesia tetap diberikan dengan cara romanisasi.

Karena mayoritas orang Tionghoa di Indonesia adalah pendatang dari Hokkian, maka nama-nama Tionghoa berdialek Hokkian lebih lazim dari pada dialek-dialek lainnya.

D. Daftar Nama Tionghoa Yang di Indonesiakan

Tabel dibawah berdasarkan penulisan pinyin. Karakter yang menggunakan koma berarti ada lebih dari satu macam karakter untuk pinyin yang sama. Karakter dengan tanda garis miring berarti di sebelah kiri adalah Hanzi tradisional, dan di sebelah kanan Hanzi sederhana.

Nama TionghoaEjaan Latin, Ejaan Hokkian, Ejaan Kanton, Ejaan Khek Ejaan lainnyaPeng-Indonesiaan
歐陽/欧阳 (Oūyáng)

AuwjongOjong
安 (Ān)AnAnadra, Andy, Anita, Ananta
蔡 (Cài)Tjae, TjoaCahyo, Cahyadi, Tjohara
程, 成 (Chéng)SengSengani
陳/陈 (Chen)Tan, TjhinTanto, Tanoto, Tanu, Tanutama, Tanusaputra, Tanudisastro, Tandiono, Tanujaya, Tanuwijaya, Tanzil, Tansil, Tanasal, Tanadi, Tanusudibyo, Tanoesoedibjo, Tanamal, Tandy, Tantra, Tanata, Intan
鄧/邓 (Deng)TengTenggara, Tengger, Ateng
徐 (Xú)Hsu, Djie, Tjhie, Chi (Hakka), Chee, Swee, Shui (Teochew, Hokkien), Tsui (Cantonese)Dharmadjie, Christiadjie
胡 (Hú)Hu, Hoo, Aw, Auw (Teochew, Hokkien), Wu (Cantonese)
郭 (Guo)Kuo, Kwee, KwikKartawiharja, Kusuma, Kusumo, Kumala
韓/韩 (Han)HanHandjojo, Handaya, Handoyo, Handojo, Hantoro
何 (He)HoHonarto
洪 (Hong)Hung, AngAnggawarsito, Anggakusuma, Angela, Angkiat, Anggoro, Anggodo, Angkasa, Angsana
黄 (Huang)Oei, Oey, Oen, BongWibowo, Wijaya, Winata, Widagdo, Winoto, Willys, Wirya, Wiraatmadja , Winarto, Witoelar, Widodo, Wijonarko, Wijanarko, Oentomo
江 (Jiang)Ciang, Kang, KongKangean
李 (Li)Li, Lie, LeeLijanto, Liman, Liedarto, Lieva
梁 (Liang)NioLiangani, Liando, Liandow, Liandouw, Niopo
林 (Lin)Liem, LimHalim, Salim, Limanto, Limantoro, Limianto, Limijanto, Liemena, Alim, Limawan, Liemantika, Liman
劉/刘 (Liu)Lau, LauwMulawarman, Lawang, Lauwita, Lawanto, Lauwis
陸 (Lu)Liok, LiukLoekito, Loekman, Loekali
呂 (Lü)Loe, LuLoekito, Lukito, Lukita, Luna, Lukas, Loeksono
羅 (Luo)Ro, Loe, Lou, Lo, LuoLolang, Louris, Robert, Rowi, Robin, Rosiana, Rowanto, Rohani, Rohana, Samalo, Susilo
施 (Shi)SieSidjaja, Sidharta, Sieputra
司徒 (Situ)Sieto, Szeto, Seto, Siehu, SuhuLutansieto, Suhuyanli
蘇/苏 (Su)Souw, So, SoeSoekotjo, Soehadi, Sosro, Solihin, Soeganda, Suker, Suryo, Surya,Soerjo
王 (Wang)Ong, Wong, BongOngko, Wangsadinata, Wangsa, Radja, Wongsojoyo, Ongkowijaya, Wijaya
温 (Wen)Oen, Boen, WoenBenjamin, Bunjamin, Budiman, Gunawan, Basiroen, Bunda, Wendi, Unang, Wiguna
吴, 武, 伍, 烏 (Wu)Goh, Go, Gho, Gouw, NgGono, Gondo, Sugondo, Gozali, Gossidhy, Gunawan, Govino, Gotama, Utama, Widargo, Wurianto, Sumargo, Prayogo, Yoga
許/许 (Xu)Kho, Khouw, KhoeKosasih, Komar, Kurnia, Kusnadi, Kholil, Kusumo, Komara, Koeswandi, Kodinata
謝 (Xie)Cia, TjiaTjiawijaya, Tjahyadi, Sudarmadi, Ciawi
楊/杨 (Yang)Njoo, Nyoo, Njio, Injo, Inyo, Jo, Yo, YongYongki, Yoso, Yohan, Yuwana, Yudha, Yosadi
葉/ 叶 (Ye)Yap, JapJaphar, Djapri, Yapari,
曾 (Zeng)Tjan, TsangTjandra, Chandra, Tjandrakusuma, Candrakusuma
張/张 (Zhang)Thio, Tio, Chang, Theo, Teo, TjongCanggih, Setyo, Setio, Sulistio, Sutiono, Santyoso
鄭/郑 (Zheng)Te, TheTjokrorahardjo, Cokroraharjo, Tjokrowidjokso, Cokrowijokso
朱 (Zhū)Zulkifri, Zuneng

Catatan :

1. Penulisan marga ditulis dengan huruf hanzi tradisional terlebih dahulu, baru diikuti hanzi sederhana dengan tanda pemisah garis miring (/).
2. Tanda koma (,) menandakan terdapat penulisan marga hanzi yang lain.

Pada masa Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, warga negara Indonesia keturunan Tionghoa dianjurkan untuk mengindonesiakan nama Tionghoa mereka; dalam arti mengambil sebuah nama Indonesia secara resmi. Misalnya Liem Sioe Liong diubah menjadi Soedono Salim.

Walaupun demikian, di dalam acara kekeluargaan, nama Tionghoa masih sering digunakan, sedangkan nama Indonesia digunakan untuk keperluan surat-menyurat resmi.

Namun sebenarnya, ini tidak diharuskan karena tidak pernah ditetapkan sebagai undang-undang dan peraturan yang mengikat. Hanya tarik-menarik antara pendukung teori asimilasi dan teori integrasi wajar di kalangan Tionghoa sendiri yang menjadikan anjuran ini dipolitisir sedemikian rupa.

Anjuran ganti nama tersebut muncul karena ketegangan hubungan Republik Rakyat China dengan Indonesia setelah peristiwa G30S/PKI.

Pada tahun 1966, Ketua Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa (LPKB) Kristoforus Sindhunata menyerukan penggantian nama orang-orang Tionghoa demi pembangunan karakter dan nasionalisme bangsa. Seruan ini mendapat kecaman dari kalangan orang Tionghoa sendiri dan cemoohan dari kalangan anti Tionghoa.

Yap Thiam Hien secara terbuka menyatakan bahwa nama tidak dapat menjadi ukuran nasionalisme seseorang dan ini juga yang menyebabkan nasionalis terkemuka Indonesia itu tidak mengubah namanya sampai akhir hayatnya.

Cemoohan datang dari Organisasi KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) yang pada waktu itu mengumandangkan nada-nada anti Tionghoa yang menyatakan bahwa mengganti nama tidak akan mengganti otak orang Tionghoa serta menyerukan pemulangan seluruh orang Tionghoa berkewarganegaraan RRC (Republik Rakyat China) di Indonesia ke negara leluhurnya.

Kebijakan ganti nama ini memang merupakan satu kontroversi, karena tidak ada kaitan antara pembangunan karakter dan nasionalisme bangsa dengan nama seseorang, juga karena tidak ada sebuah nama yang merupakan nama Indonesia asli.

E. Catatan Seputar Marga Tionghoa

Ada satu contoh begini : Ada seseorang yang bertanya, mengatakan bahwa keluarganya menggunakan nama Tjan di depan. Jadi mulai dari nama kakek adalah Tjan, bapaknya Tjan, anaknya juga Tjan, dst. Ini bukan nama, sebab sangat tidak lazim nama orang tua disamakan dengan nama anak.

Tjan yang dimaksudkan disini kemungkinan adalah Marga Tjan (曾;Céng). Huruf Tionghoanya sama 曾tetapi diucapkannya bisa berbeda-beda tergantung dialek. Cara menulis dalam huruf Latin juga beda-beda sesuai ejaan yang digunakan.

Misalnya ‘Tjan’ ditulis demikian karena dalam ejaan Belanda yang menjajah Indonesia jaman dulu, bunyi ‘tj’ pada ‘tjan’ itu adalah ‘c’. Jadi kalau ditulis menggunakan ejaan bahasa Indonesia (EYD) sekarang menjadi ‘Can’. Jadi tulisan ‘Tjan’ itu bukan baku, tapi karena ejaan lama Indonesia.

Makanya jika ada yang bertanya marga kita (terutama pemilik marga langka atau marga yang penyebutannya sama), sebaiknya sekalian ditulis huruf Tionghoa-nya. Makanya sebagian orang bingung, mengapa marga dan namanya kalau dibaca orang yang berlainan bahasa, misalnya Mandarin, dialek Hakka, dialek Kanton, dialek Hokkian, dsb kok bisa jadi berlainan?

Begitulah sifaf huruf Mandarin, dibaca berbeda namun artinya tetap sama. Makanya harus berterima kasih kepada dinasti Qin, karena tanpa mereka yang memulai melakukan standarisasi, bisa jadi huruf yang digunakan oleh Tiongkok pada saat ini beraneka ragam, sama banyaknya dengan dialek suku yang mereka gunakan disana.

Loading...

The following two tabs change content below.
Tertarik dengan tradisi & budaya Tionghoa di Indonesia. Ikuti Twitter @tionghoainfo untuk info-info terbaru.

230 Responses to Marga Tionghoa di Indonesia

  1. JordanKhong says:

    halo ko, saya jordan , saya lahir tahun 1997 dimana ayah saya nama chinese indonya khong bang long tulisannya pinyin nya kuang/ 鄺 , akhong saya asli kanton . digenerasi kami dan didaerah kami sudah jarang di berikan nama chinese dan saya mau menggali kembali budaya yang mulai pudar itu, saya mau tau kenapa nama tengah digenerasi ayah saya bang ya? terus kira kira di generasi saya harus memakai nama apa ya? terima kasih

    • irwan says:

      ijin ikut ikutan dikit ya… nama tengah di beberapa keluarga menunjukkan generasi. Generasi yang sama mempunyai nama tengah yang sama untuk jenis kelamin yang sama. Nama tengah sampai 7 generasi. Setelah 7 generasi kembali ke nama tengah generasi pertama lagi. Tiap marga mempunyai 7 tingkatan nama tengah yang berbeda beda. Marga yang sama pun belum tentu mempunyai 7 nama tengah yang sama. Sangat tergantung darimana keluarga mereka berasal dan dari latar belakang keluarga yang seperti apa. Untuk mengetahui urutan marga biasanya ditanyakan ke tetua di desa tempat leluhur kita berasal. Ada baiknya dicatat dan diikuti. Sehingga nanti kalo anda memiliki keturunan sangat baik kalo diberi nama tengah sesuai yang telah dibuat leluhur anda turun temurun.
      sukses ya…

  2. wei han says:

    Halo ko, nama saya kwee wei han, papah saya kwee tjen liang, kung kung saya kwee ju mu. Tolong dibantu barangkali admin atau anggota lain ada yg tau nama angkatan untuk anak saya, karena nama angkatan yg di infokan dari kung kung saya hanya sampai generasi saya saja. Mohon pencerahannya, trimaksaih..

    • Herman Tan says:

      Mengenai nama tengah, diberikan berdasarkan syair lagu. Nama berdasarkan silsilah ini biasanya berasal dari kata-kata syair. Seperti pada contoh lainnya, nama-nama ‘Tjong Nyi Chai’, Tjong Ik Sin’, dan ‘Tjong Se Wie’ mungkin menggunakan syair yang bunyinya ‘Nyi Ik Se’. Jadi jika sudah sampai di akhir syair (‘Se’), maka akan kembali ke kata yang pertama (‘Nyi).

      Nama silsilah ini biasanya sudah di atur sampai ke generasi terbawah (cucu/cicit) oleh nenek moyang. Oleh karena orang-orang Tionghoa masuk ke Indonesia kebanyakan sekitar pada abad ke 16-19, generasi saat ini bisa dibilang “lost generation” akibat gerakan anti China pada tahun 1965 dan diskriminasi terhadap kaum Tionghoa pada 1998.

      Umumnya dari Gen kelahiran 1970-an sudah tidak lagi memiliki nama tengah, bahkan nama Mandarin.

      Solusinya :

      1. Tanya ke anggota keluarga yang dituakan yang lain yang masih hidup.
      2. Tanya ke paguyuban marga, siapa tahu ada data leluhur yang bisa dijadikan patokan. Mereka bisa mendapatkan informasi langsung dari tanah leluhurnya, yaitu dari desa/kampung asal leluhur (ingat, banyak opa/oma buyut kita yang masih tinggal disana lho), karena biasanya mereka punya data-datanya. Tentunya hal ini dibantu oleh perkumpulan-perkumpulan Tionghoa yang sudah ada di Indonesia juga.
      3. Gunakan nama tengah yang baru.

      Baca juga : Pemberian Nama Tionghoa Menurut Fengshui Pada Anak

  3. Anto says:

    Hallo Ko herman,saya mau tanya dnx bnr ga kalau marga itu ada yang ciong?thx

  4. Aw says:

    Ko herman,
    Saya mau tanya ni apakah benar dalam marga tionghoa itu ada yg ciong ya?kok saya pernah dgr dr saudara kata na kalau marga lim tidak boleh dengan marga tio,shang,lau dll.jika benar ciong dengan marga apa aja ya.thx

    • Herman Tan says:

      Halo sdr/i Aw,
      Saya pribadi belum pernah dengar ada ciong marga, adanya ciong tahun kelahiran. Entah pembaca yang lain mungkin ada yang lebih tahu silahkan dijawab.

  5. Dian says:

    Ko herman, bisa tolong beritahu saya kira2 tulisan hanzi apa yang cocok untuk nama mertua saya Khoe Thung Tjang & Tan Giok Lan. Karena saya butuh utk dicantumkan di undangan perkawinan. Thanks before.

  6. yaser tampai-palu says:

    saya genrasi kedua dari kakek asli saya, adakah yang bisa bantu menuliskan aksara tionghoa untuk nama ayah saya : TJIA PINSUN terima kasih.

  7. anton says:

    ko, tolong cek email admin@tionghoa.info
    saya ada kirim pertanyaan, mohon bantuannya ya, makasi ko.

    • Herman Tan says:

      Hi Anton,

      Pertanyaannya dapat langsung diketik di kolom artikel yang berhubungan. Kami akan berusaha menjawab sebisanya, atau bisa dari bantuan partisipasi pengunjung yang lain. Kami tidak melayani pertanyaan secara jalur pribadi (japri).

      Terima kasih dan salam hangat

  8. Grets Lee says:

    Halo ko, saya bermarga lee pacar saya bermarga lee juga, saya laki2 dan kami sudah berpacarab 7 bulan, orang tua pacar saya memaksa anakny putus dengan saya karena bemarga sama, saya tidak mau melepaskannya, saran yang bagus bagaimana? Atau saya harus mengganti nama marga saya? Bolehkah sesama marga berpacarab/ menikah?

    • Herman Tan says:

      Tidak masalah marga sama. Kan ada nama Indonesia juga. Bilang ke orang tuanya marga Lee itu yang pakai ada jutaan orang, jangan terlalu berpikiran kuno, menganggap marga sama, nanti anaknya/keturunannya lahir cacat.

  9. Edwin Li says:

    Permisi admin, numpang tanya, nama mandarin saya Li Hui An (李輝安), koko saya Li Hong An dan sepupu saya Li Yung An. Setau saya nama generasi itu ditaruh di tengah, tetapi mengapa keluarga saya menaruh nama generasi dibelakang? Mohon pencerahannya. Terima kasih.

  10. Pengamat says:

    @Wen Wen says:
    5 November 2015 at 17:03

    Saran saudara di atas merupakan bentuk pemalsuan asal-usul dan identitas Tionghoa, dan lebih parahnya lagi hal ini merupakan bentuk penipuan terhadap diri sendiri dan keturunannya.

    Apakah bisa orang Non-Tionghoa tiba-tiba langsung menjadi orang Tionghoa ?

    Saya baru tahu apabila ada upacara tertentu yang bisa merubah silsilah keturunan seseorang menjadi keturunan orang lain ??

    Kalau upacara tersebut memang ada kenapa orang Tionghoa tidak ada yang melakukannya ?

    Kalau dari contoh anda di atas, kasusnya Orang Pribumi yang ingin menjadi Orang Tionghoa lewat upacara di kelenteng ??

    Lalu upacara apakah yang di maksud tersebut ?

    Apakah upacaranya dalam bentuk Agama Tionghoa ? atau upacara Agama Islam/Kristen yang di adakan di Kelenteng ?

    Sepengetahuan saya, tidak ada upacara Islam/Kristen (seperti acara sunatan) yang dilakukan di Kelenteng.

    Bahkan, setahu saya tidak ada kelenteng-kelenteng yang melakukan praktik upacara pengantian nama marga (yang otomatis merubah silsilah keturunan leluhur).

    Kalau yang mengadakan upacara tersebut di gereja atau mesjid mungkin saja pernah terjadi. Tapi kesannya malah jadi tambah aneh karena ada upacara Agama Tionghoa yang dilakukan di Mesjid/Gereja.

    Agak aneh apabila ada suami orang Pribumi yang diberikan nama marga Tionghoa oleh istrinya dengan tujuan agar suami dan anak-anaknya nanti bisa menjadi keluarga orang Tionghoa ??

    Apakah bisa orang Pribumi menjadi orang Tionghoa lewat ganti nama ?

    Kalau bisa, lalu apa gunanya nama marga dan silsilah Tionghoa ?

    = Tan =

  11. Dear Admin,

    Kalau Marga Tjio adakah penjelasannya, Tjio Boen Ing contohnya.

    Terima kasih

    • Herman Tan says:

      Mimin asumsikan ‘Tjio’ (ejaan lama) yang sdr Viddy maksud adalah ‘Thio’ = Zhang [张].
      Ditunggu ya, artikel yang membahas marga ini sudah siap tayang 🙂

  12. Michelle says:

    Permisi, numpang nanya, bagaimana penulisan marga “Kam” dalam Hanzi? Terima kasih.

  13. wandi says:

    selamat siang …!saya mau bertanya apakah ada catatan mengenai sejarah penyebaran warga tionghoa pada tahun 1900an di jakarta…karna sya ingin mengetahui ttg leluhur sya dari ayah sya….!yg sya tahu (berdasarkan cerita bapak sya)..nama kakeknya hj. liman dulu nama cina nya lim (karna masuk islam dan pergi haji dia mengganti mananya menjadi liman) ..tp dia gk tau panjangannya..orang2 cuma manggil tuan lim , kuburannya ada di daerah condet….!sedangkan dari ibu sya masih keturunan cina yaitu yg skrng di sebut buncit..thx

  14. Yusak says:

    Selamat sore koh,
    Saya baru saja baca artikel yang tentang marga,
    Saya mau tanya,
    Marga papa saya Go,
    Nama chinese saya Go Jian,
    Nama Indonesia saya Yusak Hartanto Gondo
    Saya mau tanya,
    Dalam artikel, marga go itu kalo dalam bentuk han zi kan menjadi wu, tetapi ada tiga macam, Itu masing” apa bedanya ya koh ?
    Sama nama Jian itu kata orang tua artinya sehat,
    Kira” bentuk hanzinya seperti apa ya koh ?
    Terima Kasih Banyak

    • Mike says:

      Marga itu identik dengan klan. Wu dilafalkan bisa 吳(2),伍(3),武(3),巫(1),.. etc .

      Menurut saya, gondo adalah marga 吳. Nama anda 建

  15. ferdinandus says:

    halo om,

    Saya mau tanya , bapak saya nama depannya Marga Lim tapi ternyata itu diambil dari nama ibunya sedangkan nama ayahnya itu marga GO. Kira-kira alasannya apa ya pakai marga dari turunan ibu ? trims

    • Herman Tan says:

      Halo Ferdinandus,
      Pertanyaan anda ini tampaknya sudah pernah ditanyakan oleh pembaca lain sebelumnya. Untuk lebih lengkap coba search di bagian komentar.
      Namun beberapa faktor utama antara lain :

      1. Ibunya bercerai dengan ayah, dan hak asuh jatuh ke tangan si ibu, atau si ayah lepas tangan.
      2. Ada perjanjian atau pembicaraan sebelumnya dimana salah satu anak dari hasil pernikahan harus ikut marga si ibu, dengan alasan keluarga si ibu tidak punya anak lelaki sebagai penerus.
      3. Ayahnya mengalami konflik dalam kehidupan, sehingga mengancam kelangsungan hidup anak-anaknya. Pada zaman dahulu, seorang pejabat negara yang membuat kesalahan besar (bisa juga sebagai bentuk sentimen atau saling sikut antar pejabat penguasa) seluruh keluarga dan saudara semarganya biasanya akan ikut dihukum mati (agar seluruh akar rumput tercabut dan kelak tidak menimbulkan persoalan). Jadi salah satu cara meloloskannya adalah dengan mengubah marga anak lelaki agar ikut marga si ibu, dengan harapan agar si anak dapat selamat melanjutkan hidupnya; dan kelak dapat membersihkan serta membangkitkan nama keluarganya.

      Demikian beberapa alasan seperti pertanyaan anda tentang kenapa anak lelaki tetapi ikut marga ibu.

      Demikian info dan salam hangat

  16. Robert huang says:

    Ada yang Bisa beritahu saya arti dari nama 皇明歲 ( huang ming sui ) ?? saya penasaran denga arti dari nama saya. terima kasih.

    • Edwin Li says:

      皇 (Huang) adalah marga yang secara gramatikal artinya Kaisar. Tetapi karena sudah membentuk suatu nama biasanya arti dari marga tidak menggambarkan arti nama anda. 明 (Ming) artinya adalah cerah dan 歲 (Sui) artinya tahun. Jadi arti nama anda adalah Tahun yang Cerah. Semoga membantu.

  17. Ang Cin Hok says:

    Bagus artikelnya…Like This….

  18. Wangsa says:

    Hallo Ko, nama chinese saya bong chiu khiuk boleh tau itu artinya apa? Dan nama indonesia aaya Wangsa, apakah ada hubungannya dengan nama chinese saya?

  19. Sherly says:

    mau tanya marga saya kho..ada yg bilang mandarinnya ma..
    bingung kok jauh pengucapannya.. ada yg bilang juga khoe
    mana yg benar y ? trims

  20. juan says:

    Mau tanya.
    Penulisan theng joen tjin gimana ya? Itu nama seorang perempuan.
    Dan bacanya gmn

  21. JOHAN DJIE says:

    MARGA DJIE Itu adalah 余.

    itu diatas salah
    徐 (Xú) Djie, Tjhie, Chi (Hakka), Chee, Swee, Shui (Teochew, Hokkien), Tsui (Cantonese)

  22. caecil says:

    Mau numpang tanya… Kalau papa sy chinesse, kakek m nenek dri pihak pa2 chinesse smua, tpi ibu asli jawa… Kira2 penggunaan nama marga dr pa2 msh bisa dipkai u/ sy g? Kakek mrgny The,ne2k mrgny Liem n nm pa2,The geng hwie( kluarga pa2 yg sya tau n pa2 udh alm pas sy msh sd) jdi g ada yg bisa sy tanya… Makasih

  23. Nao says:

    Hmm..
    Nama mandarin saya zhang shui ling ( 張 水 铃 ) jika di thionghua indonesiakan jd cong sui ling. Cong / tjhong. Suku hakka. Hmm.. cm nama indonesia ga ambil dr nama mandarin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Loading...