Mau Punya Nama Mandarin? Simak 4 Cara Pemberian Nama Tionghoa Berikut

BERKAT kebijakan Orde Baru, tidak sedikit masyarakat Tionghoa yang kehilangan nama Cina, atau nama Tionghoa. Memang kita orang tidak dipaksa, karena sejatinya tidak ada 1 pasal pun yang tercantum kewajiban penggantian nama Tionghoa ke nama Indonesia, melainkan hanya sebatas “himbauan”.

Meski Dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia menyatakan tidak pernah ada aturan yang mensyaratkan izin untuk menamai anak dengan nama Tionghoa, namun pada masa itu (sejak 1966), 9 dari 10 masyarakat Tionghoa dengan terpaksa “meng-Indonesiakan nama mereka. Alasannya :

1. Nama Tionghoa identik dengan Cina, yang bisa diartikan sebagai simpatisan komunis. CINA = Komunis = Simpatisan PKI. Begitu suasana politik kala itu. Tidak sedikit masyarakat Tionghoa yang ikut ditahan di pulau Buru selama bertahun-tahun untuk “dididik kembali”.

2. Tidak mau ganti nama, tidak apa-apa. Namun jangan salahkan Anda akan dipersulit oleh orang2 kelurahan dalam hal mengurus KTP, SIM, Paspor, maupun hak kepemilikan tanah dan bangunan (keperluan bisnis). Mungkin Anda bisa berpikir nekad, toh bentar lagi masuk lobang; tapi bagaimana dengan kehidupan anak-anak Anda yang jalan kehidupannya masih panjang?

3. Tidak bisa jadi pelayan publik, seperti PNS, Politisi, Polisi, Tentara, apalagi Gubernur/Presiden. Meski pada kenyataannya, sudah berganti nama Indonesia pun kita orang masih “ditandai” oleh ciri fisik sebagai warga keturunan. Tetap tidak boleh! Kecuali yg punya koneksi/kenalan, atau di daerah2 luar Jawa yang seleksinya lebih longgar.

So, mayoritas kerjaan bagi masyarakat Tionghoa pada waktu itu adalah penjadi pebisnis, pedagang, atau setidaknya bekerja di kantor2 swasta. Tidak heran, saat ini kita oranglah yg akhirnya menguasai sektor bisnis di Negeri ini.

Baca jugaBagi saya pribadi, merubah Nama dan Marga sama saja dipaksa untuk tidak mengakui leluhur sendiri!

Loading...

Untuk mengakali hal ini, tidak sedikit orang Tionghoa berduit yang pada waktu itu “kabur” sementara keluar Negeri, menunggu sampai situasi mereda baru kembali lagi.

Tragis! Kisah pelatih tunggal putra badminton Indonesia, Tong Sinfu, yang hijrah ke Tiongkok daratan hanya sakit hati gara2 perpanjangan Surat Kewarganegaraannya dipersulit.

Mungkin pembaca sudah mengetahui kasus Tong Sin Fu? Pelatih bulutangkis Indonesia era 1990-an (coach Alan Budikusuma, Hendrawan cs) yang “pulang kampung” pada Juni 1998 hanya gara-gara DIPERSULIT dalam mengurus surat keterangan WNI. Ya! Seperti itulah salah satu contoh akibat jika memiliki nama dengan 3 huruf!

Namun kali ini, kita tidak akan membahas lebih lanjut soal diatas. Hanya sebagai pengantar saja, mengenai situasi kepemilikan nama Tionghoa di Indonesia pada jaman dulu. Iri rasanya sseperti negara tetangga Singapore dan Malaysia yang lebih bebas. Terutama Malaysia, meski mayoritas muslim, namun disana pluralisme lebih dihargai.

Disana, Anda bisa dengan mudahnya mengetahui seseorang itu berasal dari etnis Tionghoa hanya dari namanya saja. Sementara kita disini, ATAS NAMA SEMANGAT PERSATUAN, dipaksa untuk melebur, termasuk kebudayaannya. Kita kan sudah Indonesia, jadi sudah seharusnya dong mengganti nama menjadi Indonesia? Bahkan mempelajari budayanya. Begitu ucapan yg biasa saya temui dilapangan.

Nah, Pada artikel Dahlan Iskan terbitan 22 April 2018 yang berjudul “Nama Tionghoa untuk Zarra Zetira“, terdapat pertanyaan : Bagaimana jadinya nama saya (Zettira) dalam bahasa Mandarin?

Komentar dari Dahlan dalam blognya DISWAY.ID : (dengan pengeditan seperlunya agar tidak dianggap duplikasi konten oleh google).

Zettira yang cantik, Anda benar serius ingin punya nama Tionghoa? Saya melihat setidaknya terdapat 4 pola dalam pemberian nama di Tiongkok. Bagi yang lebih tahu, mohon koreksi saya.

Yang ke 1 : Orang tersebut memang punya nama Mandarin/Tionghoa yang diberikan orang tuanya.
Yang ke 2 : Orang asing yang tanpa sepengetahuan mereka diberikan nama Mandarin/Tionghoa. Tujuannya? Untuk memudahkan orang asing mengingatnya, atau memudahkan dalam pengucapan/pelafalan.

Yang ke 3 : Orang asing yang MINTA untuk diberi nama Mandarin/Tionghoa. Seperti Anda ini, atau seperti saya ini 🙂
Yang ke 4 : Orang Tionghoa yang ingin punya nama dengan ejaan inggris. Misalnya Robert Lai. Nama aslinya : Lai Chong Wing. Orang2 Tiongkok perantauan (Amerika, Eropa, Singapore, Hongkong) juga umumnya mempunyai 1 nama inggris.

Loading...

Bagi etnis Tionghoa, pemberian nama itu dianggap sangat penting. Salah2 malah bisa mengubah nasib anaknya menjadi kurang baik. Makanya tak jarang mereka konsultasi dengan ahli Fengshui untuk sekadar menentukan karakter huruf yang bagus/cocok pada namanya.

Umumnya, para orang tualah yang bertanggung jawab dalam memberi nama anak. Namun ada juga golongan yang fanatik : Pemberian nama bayi adalah hak kakeknya, atau bahkan buyutnya (generasi paling senior yang masih hidup).

Marga Tionghoa di Indonesia

Sebagai info : Menurut Kamus Besar Marga Tiongkok (中姓氏大辞典; Zhōnghuá xìngshì dà cídiǎn) jumlah marga yang tercatat dalam sejarah sekitar 11.969 buah. Dimana Danxing atau marga berhuruf tunggal berjumlah 5.327, dan Fuxing atau marga berhuruf dobel berjumlah 4.329 buah, sedangkan marga lainnya jumlahnya 2.313 buah. Dari sejumlah 11.969 marga, hingga sekarang hanya tinggal sekitar 300 buah saja yang masih dipakai orang.

Nama mandarin/nama Tionghoa itu umumnya terdiri dari 3 huruf Mandarin. Meski ada juga yang hanya 2 huruf, atau bahkan 4 huruf (marga ganda 复姓; Fùxìng; marga dengan dua huruf), contohnya : 诸葛 (zhuge), 上官 (shangguan), 欧阳 (ouyang) dan sebagainya.

A. Aturan penamaan Tionghoa pada umumnya adalah :

♦ Huruf pertama adalah marga atau nama famili (marga Tunggal 单姓; Dānxìng; marga dengan satu huruf) Misalnya 李 (Li), 王 (Wang), 張 (Zhang), Chen (陈) , 楊 (Yang) atau Huang (黄)  atau yang lain. Marga yang paling banyak dipakai orang hanya sekitar 200 marga. Tapi itulah 6 marga yang termasuk dalam 10 besar marga yang paling banyak dipakai orang.

Urutan dan populasi marga Tiongkok terbanyak di dunia

Baca jugaDaftar Urutan 300 Marga Tionghoa. Margamu di Posisi ke Berapa?

Huruf kedua merupakan NAMA TENGAH, yang menunjukkan tingkatan generasi dalam keluarga.

Misalnya nama kung-Kung saya Tjong Nyi Chai (dalam bahasa hakka/khek).
Terus nama papa saya Tjong Ik Sin (juga dalam bahasa khek).
Terus nama saya Tjong Se Wie (juga dalam bahasa khek).

Silsilah nama Nyi, Ik dan Se itu biasanya sudah disusun oleh nenek moyang, dan sudah diatur 3-7 generasi dibawahnya; Nama silsilah ini biasanya disusun berdasarkan kata-kata syair. Seperti pada contoh diatas, nama-nama ‘Tjong Nyi Chai’, Tjong Ik Sin’, dan ‘Tjong Se Wie’ mungkin menggunakan syair yang bunyinya ‘Nyi Ik Se’.

Jadi jika sudah sampai di akhir syair (‘Se’), maka akan kembali ke kata yang pertama (‘Nyi).

Namun yang unik, sebagian besar etnis Tionghoa yang lahir di tahun 1960-an akhir hingga saat ini bisa dibilang “lost generation”, alias tidak lagi memiliki nama Tionghoa, apalagi nama generasi/nama silsilah, akibat gerakan anti China yang dimulai akhir tahun 1965 dan diskriminasi terhadap kaum Tionghoa pada 1998.

Huruf ketiga baru benar-benar namanya. Yup, hanya 1 huruf! Ibarat nama kecil.

Tapi untuk 2 huruf terakhir itu (padanan nama generasi dan nama sendiri) harus dicarikan huruf yang memiliki makna bagus. Seperti harapan, atau doa, atau hal2 yang bersifat naik/berkembang.

Misalnya nama saya : 余世甘 (Yu Shigan). Huruf pertama (余; Yú) merupakan marga. Karena bukan orang Tionghoa, marga saya “dianggap” dari marga 余 (Yú, dibaca : I). Itu karena MARGA ASLI saya diawali dengan huruf I (Iskan).

Huruf kedua 世 (Shì, dibaca : se) secara harafiah artinya “jagad raya”.
Sedangkan huruf ketiga 甘 (Gān, dibaca : kan) yang secara harafiah artinya “manis”.

Bunyi nama mandarin saya menjadi “Isekan”. Mirip dengan nama asli saya. Artinya pun bagus : Jagad raya yang manis. Atau menyebar rasa manis ke seluruh penjuru dunia.

Pssttt, ini nama Tionghoa penulis artikel ini lho. Ada yang tahu ejaan pinyinnya apa?

B. Kelompok kedua : Orang asing yang diberi nama Mandarin

Hal ini cukup unik. Orang2 Tiongkok pada umumnya sangat sulit dalam melafalkan/mengucapkan nama-nama orang asing. Dan lagi tidak ada huruf yang bunyinya bisa mengakomodasikan nama orang asing. Disana, semua surat kabar, tv, radio, media internet, umumnya memberikan nama Mandarin yang mendekati ejaan latinnya untuk semua orang yang mereka beritakan.

Anda tidak akan menemukan nama Donald Trump, Meryl Streep atau Liverpool di koran-koran Tiongkok.

Loading...

Kalau di koran ada tulisan 特朗普 (Tè lǎng pǔ), itulah nama presiden Amerika Serikat saat ini, Donald Trump. Kalau dieja bunyinya : Te Lang Pu.

Kalau di koran ada tulisan 利物浦 (Lìwùpǔ) Kalau dieja bunyinya : Li Wu Pu. Maksudnya adalah tim sepakbola asal Inggris, Liverpool. Lantas siapakah pencetak gol terbanyak di Liga Inggris dari Liverpool? Dialah 萨拉赫, Sa La He. Maksudnya Mohamad Salah (26), yang sejauh ini sudah mencetak 31 gol.

Tapi nama bintang film terkemuka Holywood ini ditulis sampai tujuh huruf : 梅丽尔 斯特里普 / Si Li Er Di Te Li Pu. Tidak perlu mikir panjang. Itulah nama Mandarinnya bintang kesayangan saya : Meryl Streep.

Selain itu, ada juga Hendra Setiawan, pemain bulutangkis nomer terkenal asal Indonesia, yang notabene adalah seorang warga keturunan Tionghoa, tapi tidak memiliki nama cina Mandarin. Akhirnya dengan sangat terpaksa, pun diberikan nama mandarin yang panjang, yang mendekati karakter/ejaan huruf latinnya : 亨德拉 塞蒂亚万 / Hēng dé lā Sāi dì yà wàn.

Nasib yang sama pun menimpa Marcus Fernaldi Gideon, ganda terbaik asal Indonesia yg disepanjang tahun 2017 meraih 7 title, sebuah rekor tertinggi dalam BWF! Karena tidak memiliki nama Tionghoa, terpaksa diberikan nama super duper panjang : 吉德翁·马库斯·费尔纳尔迪 / Jí dé wēng . Mǎ kù sī . Fèi ěr nà ěr dí.

Begitupun dengan mahasiswa/i asal Indonesia yang bersekolah di Tiongkok. Untuk memudahkan penyebutan, mereka semua memiliki nama Mandarin. Terlalu sulit bagi orang Tiongkok untuk mengingat nama2 Indonesia, seperti contohnya Citra Adetia Rahayu. Maka dia diberi nama 康圣仙 (Kang Sheng Xian).

Apalagi nama2 panjang seperti Bernita Cahyaning Anuraga. Sampai mati orang Nanjing tidak akan bisa mengucapkannya. Maka Bernita diberi nama 陈香丽 (Chen Xiang Li). Semua dosen lokal memanggil mereka dengan nama Mandarin. Hanya dosen asing/bule yang memanggil mereka dengan nama asli.

Halooo, Zettira … Apakah Anda masih ingin saya beri nama Mandarin? Kalau mau, inilah nama Anda : 蔡蒂亚. Tulisan Pinyinnya : Cai Ti Ya, yang secara harafiah artinya “Ratu”. Nah, Zettira, lewat nama itu Anda bisa berkenalan dan mudah diingat oleh orang Tiongkok.

Loading...

The following two tabs change content below.
Tertarik dengan tradisi & budaya Tionghoa di Indonesia. Ikuti Twitter @tionghoainfo untuk info-info terbaru.

3 Responses to Mau Punya Nama Mandarin? Simak 4 Cara Pemberian Nama Tionghoa Berikut

  1. dragono says:

    Sekarang, rasanya wajar kalau ada Tionghoa Indonesia yang sudah tidak terlalu peduli dengan nama Tionghoa. Di sisi lain ada juga yang malah bersemangat dan excited untuk bisa punya nama Tionghoa dengan urutan yang sesuai. Malah banyak pasangan-pasangan muda yang akhirnya menanyakan nama ke orang luar keluarga.

    Di kasus saya, sayangnya tidak ada catatan silsilah nama generasi. Jadi mesti berusaha menelusuri ke desa kampung halaman engkong. Agak iri dengan sepupu dan kenalan yang masih menyimpan catatan syair tersebut dan bisa dibaca sewaktu-waktu.

    Saya sudah menulis dan membagi fotonya. Bila berkenan bisa dibaca di dragonohalim.com/apa-nama-tionghoa-untuk-anakku

  2. Edwin Li says:

    Kenapa di keluarga saya (marga Li) tingkat generasi ditaruh di huruf ke tiga dan nama saya sendiri (nama kecil) ditaruh di huruf kedua? Begitu pula dengan papa saya, kungkung saya, dan kakek buyut saya, dan seterusnya sampai beberapa puluh generasi di atas saya, nama generasinya di taruh di huruf ke tiga begitu menurut catatan silsilah keluarga saya. Apakah aturan penamaan Tionghoa seperti itu lazim?

    *NB: Dulu saya pernah menanyakan ini kepada tionghoa.info tetapi jawabannya sama sekali tidak menjawab pertanyaan, malah dikira marga saya yang ditulis di huruf ketiga akibat kesalahan penempatan nama yang mengikuti model barat. Padahal saya tidak bertanya tentang itu dan yang ditaruh di huruf ketiga adalah nama generasi bukan marga.

    • Herman Tan says:

      Hi Edwin,

      Mengenai pertanyaan Anda diatas, saya pribadi belum pernah melihatnya, dimana nama generasi justru ditaruh di paling akhir. Jadi jika Anda bertanya, Apakah aturan penamaan Tionghoa seperti itu lazim? Tentu, untuk saat ini, saya akan menjawabnya TIDAK LAZIM.

      Bisa jadi ada satu dan lain hal, atau berupa pengecualian untuk kasus Anda ini. Kira2 demikian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

error: eits, mau ngapain nih?