Mengapa Orang Tionghoa Perantauan Sulit Beradaptasi di Tiongkok?

Mempekerjakan orang Tionghoa Daratan (Mainland Chinese talent – selanjutnya disebut Tionghoa) yang cakap merupakan hal yang penting di Tiongkok Daratan (selanjutnya disebut Tiongkok). Namun beberapa tahun terakhir ini cukup sulit untuk menemukan orang Tionghoa yang cakap dikarenakan besarnya jumlah perusahaan Barat (Western) yang mengembangkan bisnis mereka di Tiongkok, sementara perusahaan milik Tionghoa berusaha menarik para Tionghoa yang cakap tersebut dari pesaing Barat mereka dengan menawarkan insentif yang lebih baik.

Kualitas sistem pendidikan di Tiongkok yang rendah juga tidak membantu, dan bahkan hanya mampu menghasilkan sejumlah kecil lulusan yang cakap bekerja di lingkungan kerja global. Oleh karena itu, untuk memecahkan persoalan Tionghoa yang cakap ini, perusahaan-perusahaan Barat berusaha untuk merekrut para Tionghoa Perantauan (Overseas Chinese talent) yang cakap untuk mengisi posisi-posisi penting di Tiongkok. Dalam artikel ini, Tionghoa Perantauan merujuk kepada orang Tionghoa yang lahir di Tiongkok maupun keturunan Tionghoa di luar Tiongkok.

Loading...

Bagi perusahaan-perusahaan Barat, mempekerjakan Tionghoa Perantauan di Tiongkok merupakan sebuah langkah yang cerdas, karena bagaimanapun juga para Tionghoa Perantauan ini toh tetap orang Tionghoa; dimana mereka mampu berbicara dalam bahasa Mandarin dan memahami budaya Tionghoa, namun pada kenyataannya tidak semudah itu. Fakta menunjukkan bahwa memiliki darah Tionghoa tidak menjamin para Tionghoa Perantauan yang cakap ini untuk berhasil atau untuk membantu keberhasilan perusahaan Barat di Tiongkok.

Asal-usul budaya boleh sama, namun…

Sudah merupakan rahasia umum bahwa Tionghoa Perantauan di seluruh dunia selalu diidentifikasi sebagai “Tionghoa”. Ada pepatah yang beredar diantara orang Tionghoa yang mengatakan bahwa “tidak peduli di belahan dunia manapun mereka berada, Tionghoa tetaplah Tionghoa”. Hal ini dikarenakan mayoritas Tionghoa Perantauan tetap bangga akan warisan budaya mereka yang sudah berusia ribuan tahun itu.

Budaya Tionghoa memiliki banyak keunikan dan karakteristik yang meliputi bahasa, sistem penulisan, budaya, dan nilai-nilai yang membedakannya dari negara lain; apalagi mengingat peranan Tiongkok terhadap negara-negara lainnya di Asia Timur – Jepang dan Korea, yang diwariskan melalui budaya, sistem penulisan, filsafat, dan agama.

Budaya dan ideologi Tiongkok kuno biasanya diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya, dan tetap merupakan bagian dari struktur dan kehidupan sebuah keluarga Tionghoa. Hal ini juga umum terjadi di kalangan Tionghoa Perantauan. Mereka senang berkumpul dalam suatu komunitas yang eksklusif agar tetap bisa memelihara keunikan “identitas Tionghoa” mereka.

chinese overseas

Foto : theatlantic.com

Meski pertalian para Tionghoa Perantauan di seluruh dunia terikat melalui budaya asal mereka namun perbedaan diantara mereka tetap ada, yang disebabkan oleh pengaruh dari negara dan masyarakat di negara tempat mereka tinggal; bahkan orang Tionghoa yang tinggal di wilayah yang berdekatan dengan Tiongkok, seperti Taiwan dan Hong Kong, memiliki perbedaan dengan Tionghoa!

Tionghoa Perantauan yang lahir dan dibesarkan di negara-negara Barat, misal Amerika Serikat, tumbuh menjadi orang Barat yang mencoba untuk memelihara ke-Tionghoa-annya. Sementara itu, di dalam Tiongkok sendiri terjadi banyak perubahan; perubahan dari komunisme ke kapitalis yang berdampak pada munculnya kepribadian Tionghoa modern yang berbeda dari Tionghoa di perantauan.

Dari penjelasan diatas, dapat dikatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara Tionghoa Perantauan dan Tionghoa dalam hal: cara mereka dibesarkan, normal sosial, gaya berkomunikasi, dan kepercayaan. Hal inilah yang harus diingat oleh para eksekutif dan manajer perusahaan Barat dalam merekrut pegawai dari golongan Tionghoa Perantauan agar mereka nantinya bisa bekerja secara efektif di Tiongkok.

Orang Tionghoa yang dibesarkan di Barat cenderung kurang cakap dalam berbahasa Mandarin dan memiliki pemahaman sosial yang rendah.

Tionghoa Perantauan yang lahir dan dibesarkan di negara-negara Barat, contohnya seperti Tionghoa Amerika – mungkin merupakan perantauan yang paling sulit beradaptasi dengan kehidupan dan pekerjaan di Tiongkok. Dalam banyak kasus, meskipun para Tionghoa Amerika ini dibesarkan oleh orang tua yang datang dari Tiongkok, namun ide bahasa, budaya, atau sosial yang diajarkan belum tentu terserap dengan baik oleh mereka. Dan meski mereka belajar berbicara, membaca, dan menulis dalam karakter Mandarin sekalipun, tetap sulit bagi mereka untuk menyamai tingkat kefasihan orang Tionghoa, apalagi jika kesempatan mereka untuk belajar tergolong kurang, mereka akan cenderung pro budaya Barat dan agak anti budaya Tionghoa. Selain itu, banyak Tionghoa Amerika yang minim pengalaman dalam menghadapi lingkungan sosial di Tiongkok.

Berdasarkan pengamatan yang pernah dilakukan oleh penulis, jika seorang Tionghoa Perantauan dari negara Barat ditempatkan di Tiongkok maka orang tersebut cenderung dipandang sebagai orang Barat oleh orang Tionghoa, dan akibatnya tidak secara langsung memperleh “akses sosial” ke masyarakat setempat dengan alasan: tidak cakap berbahasa, jika berbicara ada aksennya, perilaku mereka seperti orang Barat, dan bahkan warna kulit mereka berbeda dari orang Tionghoa pada umumnya. Sebenarnya tidak ada masalah jika mereka dianggap sebagai orang Barat karena kebanyakan orang Tionghoa cenderung menyukai mereka, namun para Tionghoa Perantauan ini akan menemui kesulitan yang tidak dialami oleh orang Barat asli yang bukan keturunan Asia.

Mengapa? Karena “tidak peduli di belahan dunia manapun mereka berada, Tionghoa tetaplah Tionghoa”, maka tentu saja para Tionghoa Perantauan dari Barat ini diharapkan untuk mampu bersikap sebagaimana orang Tionghoa pada umumnya. Dan jika orang Tionghoa Perantauan dari Barat ini tidak bisa berbicara dalam bahasa Mandarin, atau tidak mengenal budaya Tionghoa, maka mereka pasti dipandang rendah oleh orang Tionghoa plus dianggap sebagai pemalas, bukan Tionghoa asli, dan dalam beberapa kasus yang sangat jarang – tidak patriotik. Salah satu contohnya adalah Gary Locke, Duta Besar Amerika untuk Tiongkok. Beliau dicemooh oleh media Tiongkok karena tidak mampu berbicara dalam bahasa Mandarin!

chinese overseas 2

Foto : asianweek.com

Kesimpulannya, para Tionghoa Perantauan yang dibesarkan di negara Barat cenderung mengalami kesulitan untuk beradaptasi di Tiongkok dan oleh sebab itu mereka kurang dihormati.

Loading...

Tionghoa Perantauan dari negara-negara lain juga sulit untuk beradaptasi

Sebagaimana telah disebutkan diatas, banyak wilayah dan negara diluar Tiongkok yang meskipun memiliki populasi Tionghoa dalam jumlah cukup besar dan mampu berbahasa Mandarin namun tetap saja berbeda dengan budaya dan masyarakat Tionghoa. Perbedaan inilah yang kurang dipahami oleh para eksekutif dan manajer perusahaan Barat yang menjalankan bisnis di Tiongkok. Sebagai contoh, setelah Hong Kong menjadi milik Inggris pasca Perang Opium, wilayah tersebut berkembang dan perkembangan tersebut menjadikannya ‘berbeda’ dari Tiongkok. Hong Kong berkembang dibawah pengaruh Inggris selama 100 tahun. Bahasa Mandarin tidaklah menjadi bahasa resmi di Hong Kong, melainkan bahasa Kanton dan Inggris, sehingga jika orang Hong Kong ingin hidup dan bekerja di Tiongkok maka ia harus berusaha untuk mempelajari kembali bahasa Mandarin. Contoh lainnya adalah Taiwan.

Meskipun Taiwan tidak mengalami perbedaan budaya dengan Tiongkok setajam Hong Kong, namun Tionghoa Perantauan asal Taiwan akan mengalami kesulitan tersendiri dalam berkomunikasi. Gaya komunikasi orang Taiwan yang terkenal blak-blakan, ditambah reputasi buruk mereka sebagai atasan yang kejam dan tidak adil, dipastikan akan mengganggu jalannya bisnis di Tiongkok. Meskipun demikian, orang Tionghoa Perantauan dari Hong Kong dan Taiwan tetap memiliki tingkat kegagalan yang lebih rendah untuk bekerja di Tiongkok dibandingkan perantauan dari negara Barat.

Orang Tionghoa Daratan cenderung ‘kebarat-baratan’

Jika ada perusahaan Barat yang mencari Tionghoa Perantauan yang cakap untuk bekerja di Tiongkok, maka akan lebih efektif jika mereka merekrut orang Tionghoa yang pernah bersekolah, hidup, atau bekerja di luar negeri. Orang Tionghoa tipe ini tentunya dibesarkan dan menghabiskan banyak waktu hidupnya di Tiongkok sehingga mereka lancar berbicara dalam bahasa Mandarin dan memahami budaya masyarakat setempat. Namun perlu tetap dicatat bahwa orang Tionghoa yang menghabiskan waktu hidupnya di negara Barat mungkin akan mengalami beberapa tantangan yang dapat mempengaruhi kemampuan mereka untuk kembali terintegrasi dengan masyarakat setempat. Ada dua alasan untuk hal ini.

Pertama, kehidupan bisnis dan sosial di Tiongkok dikendalikan oleh ‘jaringan pribadi dan sosial’ (关系; Guanxi). Mengingat orang Tionghoa menyukai tatap muka langsung maka hubungan ini akan sulit terpelihara jika ada jarak yang memisahkan kedua belah pihak, misalnya karena salah satu pihak berada di luar Tiongkok dalam jangka waktu yang cukup lama yang mengakibatkan rasa tidak nyaman dalam diri orang Tionghoa terhadap rekan kerjanya. Rasa tidak nyaman ini akan mengakibatkan timbulnya kesulitan dalam pekerjaan.

Kedua, orang Tionghoa yang menghabiskan waktu untuk belajar dan bekerja di negara Barat sering kali terpengaruh dengan budaya, gaya hidup, dan pandangan sosial politik masyarakat Barat; sehingga ketika mereka kembali ke Tiongkok, maka mereka akan menghadapi tantangan dari masyarakat setempat karena tidak lagi berpikir ataupun bertindak sebagaimana orang Tionghoa lainnya.

Kesimpulannya, para eksekutif dan manajer perusahaan Barat harus menyadari bahwa semakin panjang waktu yang dihabiskan oleh seorang Tionghoa untuk hidup di negara Barat maka semakin kecil pula pengalamannya bekerja di Tiongkok.

Apa saja elemen penting yang harus ada dalam diri Tionghoa Perantauan yang akan di-rekrut?

Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah dari mana asal seseorang melainkan apakah orang tersebut cakap (baca : memiliki keahlian, pengalaman, dan mentalitas) untuk beradaptasi dengan lingkungan bisnis di Tiongkok. Dari pengalaman penulis, para eksekutif dan manajer Barat akan berhasil menjalankan bisnis mereka jika fokus pada elemen-elemen berikut saat melakukan seleksi dan wawancara terhadap Tionghoa Perantauan untuk dipekerjakan di Tiongkok.

1. Kemampuan bahasa: Bahasa merupakan penghambat utama yang harus ditaklukan oleh si pekerja untuk sukses di Tiongkok. Mengingat tidak pernah adanya kepastian apakah orang Tionghoa memiliki kompetensi berbahasa Inggris yang cukup tinggi, bahkan untuk sekedar berkomunikasi sehari-hari, maka kandidat dari perantauan harus dipastikan fasih berbahasa Mandarin dengan menggunakan dialek setempat. Kemampuan membaca dan menulis karakter Mandarin ini tidak boleh diabaikan. Tanpa kemampuan mendasar ini maka tugas yang paling mudah sekalipun, seperti mengisi lembar kerja atau melakukan riset secara online akan terasa sangat sulit.

2. Pengetahuan dan pengalaman dengan masyarakat Tionghoa : Disamping bahasa, elemen lainnya untuk menentukan tingkat keberhasilan seorang Tionghoa Perantauan dalam berintegrasi dengan perusahaan Barat yang melakukan bisnis di Tiongkok adalah pengetahuan dan keahliannya untuk berbaur dengan masyarakat Tionghoa setempat. Hal ini mencakup : etiket sosial dan bisnis, gaya berkomunikasi, kepercayaan dan pola pikir yang dianut oleh masyarakat setempat. Jika seorang Tionghoa Perantauan tidak mampu menyeleraskan perkataan dan tindakannya di depan masyarakat dan pebisnis profesional di Tiongkok, maka ia dipastikan akan kehilangan nilai potensial-nya.

3. Kemampuan untuk ber-empati terhadap orang Tionghoa : Yang terakhir, sangatlah penting untuk tidak hanya memahami orang Tionghoa namun juga berempati terhadap mereka. Penulis telah mengamati banyak ahli Tionghoa maupun Barat yang bekerja di Tiongkok dalam jangka waktu yang panjang serta memahami perilaku masyarakat Tionghoa, ternyata kurang berhasil dalam pekerjaan mereka di Tiongkok dikarenakan lebih banyak menghabiskan waktu dengan rekan-rekan senegaranya sepulang dari tempat kerja. Seandainya mereka memilih untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan rekan Tionghoa mereka, maka keberhasilan mereka dalam bisnis akan lebih terjamin.

Penutup

Kesimpulan dari tulisan diatas adalah bahwa terlepas dari masalah yang ditimbulkan, orang Tionghoa Perantauan tetap merupakan aset yang berharga bagi perusahaan Barat yang ingin menjalankan bisnis di Tiongkok karena cukup banyak orang Tionghoa Perantauan yang paham tentang bahasa, budaya, dan masyarakat Tionghoa.

Sumber : chinaculturecorner.com
Ditulis oleh : Sean Upton-McLaughlin
Diterjemahkan oleh : Audie Jo Ong

Loading...

The following two tabs change content below.

Audie Jo-Ong

Penulis @Newport Times dan pendidik yang gemar nonton film, basket, dan minum kopi. Part-time Lecturer @Binus Business School.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Loading...