Menu Makanan Sembahyang Leluhur

Tampak sekeluarga sedang melakukan sembahyang CengBeng/ziarah kubur leluhurnya dengan meletakkan sesajian didepan makam/kubur

Kita biasanya mengadakan sembahyang kecil (tuang teh) setiap Che It 初一 (tanggal satu) dan Cap Go 十五 (tanggal 15) setiap bulannya dalam penanggalan Imlek di rumah. Selain sembahyang kecil, ada juga sembahyang besar/sembahyang leluhur yang merupakan suatu kewajiban bagi mereka yang masih memegang teguh ajaran leluhur. Sembahyang besar ini biasanya memakai Sam Seng 三牲 (menggunakan tiga hewan bernyawa). Karena itu sembahyang ini juga biasa disebut dengan sembahyang Sam Seng/sembahyang bernyawa.

Nampak pada gambar suasana makan malam menjelang imlek setelah siangnya mengadakan sembahyang leluhur. Sumber gambar pada KevinSine’s Blog

Sembahyang ini biasanya dilakukan setahun tiga kali, yaitu pada saat sembahyang Ceng Beng 清明 (berziarah ke kuburan orang tua/saudara), sembahyang Chi Yue 七月 (bulan tujuh tanggal lima belas), atau yang biasa disebut juga sembahyang rebutan dan sembahyang Sin Cia 新正 (Perayaan tahun baru Imlek). Sembahyang Cheng Beng biasanya dilakukan pada pagi hari di makam/kuburan orang tua/saudara, sembahyang rebutan biasanya dilakukan pada siang hari di rumah dan sembahyang Sin Cia biasanya dilakukan pada pagi/siang hari dirumah, sedangkan pada malam harinya seluruh sanak saudara biasanya akan berkumpul bersama untuk makan malam sebelum tahun baru Imlek.

Daging babi samcan

Untuk sembahyang besar yang biasa dilakukan orang Tionghoa yang masih melaksanakannya, hidangan yang disajikan terdiri dari yang berkuah (basah) dan yang tidak berkuah (kering). Contoh makanan basah misalnya sup aneka jenis, sayuran aneka jenis dan sebagainya. Contoh makanan kering misalnya sate babi manis (tidak pakai lidi/tusukan), udang goreng, ayam goreng, mie goreng, sosis babi buatan sendiri, sunpia dan sebagainya. Untuk Sam Seng 三牲 (tiga hewan bernyawa) seperti daging babi samcan, ikan dan ayam. Jumlah dan ragam masakannya bisa disesuaikan tergantung masing-masing, atau mengikuti kesukaan leluhurnya semasa hidup yang penting seimbang/semua ada.

Buah-buahan

Untuk buah-buahan, biasanya yang umum-umum saja asal tidak berduri, seperti pisang, jeruk, apel, pear, anggur, delima, srikaya, nanas (dipotong tangkai daunnya karena tajam) dan sebagainya sebanyak lima buah. Jenis buah-buahan lokal juga bisa dimasukan sebagai variasi.

Manisan kurma

Selain itu juga ada te liau (manisan teman minum teh) misalnya tang ke (manisan buah), ang co (kurma mandarin), dan sebagainya sebanyak tiga jenis manisan. Bisa juga diganti permen/gula-gula atau manisan yang lain kalau tidak ada.

Kue Ku’ berwarna merah yang menyerupai bentuk tempurung kura-kura

Kue-kue yang biasa ada pada saat sembahyang besar leluhur diatas antara lain kue ku’ merah (berbentuk seperti tempurung kura-kura, melambangkan umur panjang) dan kue lapis (melambangkan rezeki yang berlapis-lapis), kue mangkok, kue pisang, kue bugis, kue bika ambon dan sebagainya sebanyak tiga jenis kue. Yang tentu tidak boleh ketinggalan kalau sembahyang menjelang Tahun Baru Imlek ialah kue keranjang sebagai ciri khasnya.

Nasi putih yang disajikan mangkuk

Untuk nasi sendiri biasanya disajikan di mangkuk (untuk leluhur laki-laki) dengan sumpitnya dan di piring (untuk leluhur perempuan).

Semua sesajian diatas bisa disesuaikan dengan menu masing-masing, yang penting kita tahu makan saja setelahnya, karena jangan sampai mubazir dibuang sehabis sembahyang karena kita tidak tahu makan hanya demi menjaga suatu “kewajiban” saja. Intinya jangan terlalu kaku, yang penting niat ada, itu sudah baik. Sembahyang leluhur ini berlaku umum, namun mungkin ada variasi-variasi lokal lainnya yang mengikuti kebiasaan dan tradisi daerah masing-masing.

Herman Tan

Sangat tertarik dengan tradisi & budaya Tionghoa di Indonesia. Follow @tionghoainfo untuk mendapatkan artikel terbarunya.

Latest posts by Herman Tan (see all)

2 Responses to Menu Makanan Sembahyang Leluhur

  1. kringkrong says:

    Nice info ..

  2. HANS WARDIANTO says:

    BAGUS SEKALI PENJELASAN MENGENAI BUDAYA NYA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


5 + 4 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>