Perkembangan Agama Tao di Indonesia

laozi

Nabi Lao Zi

Pada zaman Orde baru, agama Tao terbelenggu oleh Pemerintah. Tidak boleh ada yang berbau Tao, termasuk juga tradisi-tradisi agama Tao, seperti Tahun Baru Imlek, dan Upacara-upacara riual keagamaan, dan lain sebagainya. Akibatnya generasi yang lahir pada zaman Orde baru itu menjadi kehilangan identitas dan tidak tahu lagi apa agama Tao itu sebenarnya, dan masyarakat yang menganut agama Tao pada saat itu “diminta” untuk pindah ke agama lain, dan hanya tinggal tersisa sedikit orang yang masih setia menganut agama Tao, meski tidak secara terbuka. Yang lainnya, masih menganut agama Tao, tetapi karena mereka takut dan dibatas-batasi oleh pemerintah, kemudian hanya tahu sembahyang saja, tetapi tidak tahu lagi ritual-ritual Tao lainnya. Bahkan banyak yang menjurus ke pemahaman tahayul.

Hal itu diperparah dengan adanya hal-hal yang menjelekkan agama Tao itu sendiri, seperti misalnya agama Tao itu penyembah berhala (Dewa/Dewi) dan tidak percaya kepada Tuhan. Tujuan mereka tak lain adalah untuk mengeruk “materi” dari orang Tionghoa, yang mayoritas beragama Tao. Selain itu juga, agama Tao adalah agama yang kuno, karena masih bersembahyang di Kelenteng yang kumuh dan gelap. Hal inilah yang menjadikan anak muda Tionghoa sekarang lebih tertarik ke agama yang lebih modern, yang dimana mereka bisa beribadah di mall atau di bioskop.

Akibatnya, ketika saat sekarang generasi-generasi muda (khususnya orang Tionghoa beragama Tao) yang identitasnya sudah dihilangkan menjadi tidak mengerti dan orang tua yang hidup dan membawa agama Tao ke Indonesia sudah pada meninggal dan tidak mewariskan kepada anaknya, menjadi tidak tahu juga tentang agama Tao. Jadi tidaklah heran, kalau ada anak kecil sekarang bertanya kepada orang tuanya “Pa, koq kita sembahyang sih? Memangnya agama kita itu agama apa?”. Papanya yang kebingungan dan tidak tahu harus jawab apa, yah tinggal bilang, “Nak, ini agama leluhur. Sejak dulu, kakek dan buyut kamu sudah bersembahyang seperti ini”. Inilah asal muasal kata agama leluhur.

Gara-gara masalah seperti diataslah yang agama Tao menjadi semakin terpuruk sedemikian hingga saat ini. Saat ini banyak yang sudah tidak lagi mengenal ajaran Tao, tetapi melaksanakan praktik dalam agama Tao (pasif). Mereka lebih mengenal ajaran “gado-gado” atau ajaran agama lain. Ini adalah salah satu masalah yang harus dihadapi, yaitu bagaimana menarik kembali umat yang sudah keluar atau pemahamannya sudah melenceng jauh. Sekarang ini yang ditunggu-tunggu adalah bagaimana membuat agama Tao menjadi sebuah agama resmi diakui di Indonesia. Agama Tao sendiri sudah banyak diakui di negara-negara luar, seperti Malaysia, Singapura, China, bahkan sampai USA pun ada.

Banyak sumber daya yang diperlukan untuk lebih memperkenalkan Tao ini ke seluruh lapisan masyarakat. Diantaranya adalah :

Uang

Tidak semua umat Tao adalah konglomerat yang memiliki dana. Ada juga umat Tao yang hidupnya pas pasan.

Waktu

Dalam agama Tao (khususnya aliran Thay Shang Men – Xiao Yao Pai), tidak ada yang hidup membiara/mengkhususkan diri dalam menyebarkan agama Tao. Semua taoyu/umat haruslah mandiri, bekerja dan menghasilkan uang untuk keperluannya masing-masing (terjun ke masyarakat).

SDM

Diperlukan banyak keahlian dan kecakapan untuk mengembangkan dan menyebarkan ajaran agama Tao di masa kini, tidaklah cukup hanya mampu menjabarkan ajaran Tao secara klasik.

Memang rasanya agak sulit juga mewujudkan agama Tao menjadi sebuah agama yang resmi di tanah air. Butuh kerja keras dan kemantapan hati untuk itu. Untuk itu, kita harus terus mendukung segala upaya yang telah dilakukan, seperti pendirian tempat ibadah agama Tao (Dao Guan, Tao Kwan), pendirian organisasi PUTI (Paguyuban Umat Tao Indonesia) dsb supaya kelak di Indonesia pun sudah sama dengan negara-negara lain misalnya Singapura, Malaysia, China, dsb yang agama Tao nya sudah merdeka.

Herman Tan

Apa Rasa Tidak Baik Orang Buat, Jangan Buat Pada Orang Lain.

Latest posts by Herman Tan (see all)

3 Responses to Perkembangan Agama Tao di Indonesia

  1. Feny says:

    Mantap artikelnya.

  2. Andrew says:

    Saya Chinese Indonesian yang sudah lama hidup di luar negri (Singapore dan Australia). Saya juga sering travel ke negara lain dengan Chinese communitynya yang besar. Sebenarnya orang Tionghoa (overseas Chinese) di luar Indonesia pada umumnya Budha, Tao, Christian or atheist (tidak percaya agama apapun).Saya ngak pernah dengar orang Chinese bilang agamanya Kong Hu Cu. Kong Hu Cu sebagai agama hanya di Indonesia. Tahun Baru Imlek juga sebenarnya bukan hari raya agama, itu hanya merupakan tradisi Chinese untuk menyambut datangnya musim semi. Saya pernah baca uraian imlek dari Matakin dan saya terjemahkan kepada orang tionghoa di Taiwan atau Mainland China. Mereka sangat heran, mengapa imlek dihubungkan dengan agama Kong Hu Cu. Orang Chinese di luar Indonesia semua merayakan Calendar Chinese itu sudah 4710 untuk tahun ular. 2564 saya hanya dengar tahun ini dari versi Indonesia aja. Orang agama apapun entah itu Christian, Tao, Budhist or Moslem di Tiongkok selalu merayakan imlek di tempat ibadah mereka masing masing.

Leave a Reply