Ringkasan Cerita Sun Wukong Mengacau Langit

rsz_sun-wukong-mengacau-langit

Saking besarnya ‘kecintaan’ saya terhadap legenda Sun Wukong, maka tersusunlah tulisan ini dalam bentuk ringkasan. Sekedar info, ringkasan cerita ‘Sun Wukong yang Mengacau Langit’ ini disusun dari berbagai sumber referensi, antara lain berasal dari buku-buku karya penulis terkenal Wu Cheng’en dan dari situs Wikipedia (de).

Novel Perjalanan Ke Barat

Loading...

Judul Cerita Sun Wukong mengacau Langit aslinya ‘Da Nao Tiàn Gòng’ (Huru Hara Besar di Istana Langit) adalah salah satu bagian dari novel Perjalanan ke Barat, yang merupakan salah satu dari 4 novel klasik Tiongkok. Disini yang di bahas hanya bagian pertamanya saja. Dimana si raja kera Sun Wukong memasuki istana langit, dan atas ketidak puasannya mengenai pengangkatannya sebagai pengurus kuda, membuat kekacauan yang tidak sedikit. Di dalam pemakaian bahasa Tionghoa sehari hari istilah ‘Da Nao Tiàn Gòng’ sangat disukai untuk mengatakan ‘Pembuat Onar’. Sun Wukong di Asia sangat terkenal seperti Goofy, Superman, Spongebob atau Cinderella di dunia sebelah barat. Dengan nama Jepang Sun Goku, si raja kera juga di Eropa sudah mulai disukai, lewat serial manga DragonBallZ.

Kurun Waktu Penulisan Novel

Pengarang novel Perjalanan ke Barat (xi yoú jì) adalah Wu Cheng’en, seorang pejabat pertengahan dari Huai’an di Jiangsu, sebuah propinsi yang dari dulu hingga kini merupakan propinsi yang padat penduduk dan makmur. Wu Cheng’en lahir pada tahun 1500 dan meninggal pada tahun 1582. Dia hidup se jaman dengan Michelangelo, Martin Luther, Giordano Bruno yang di tahun 1600 dibakar hidup-hidup di Campo dei Fiori dekat Roma karena mangatakan bahwa alam semesta ini tak terbatas luasnya. Novel ini di publikasikan pada tahun 1590. Dalam kurun waktu yang sama, di Eropa Miguel de Cervantes dengan Don Quijotte membuatnya hidup abadi (1605); dan William Shakespeare (1564-1616) dengan Romeo dan Julia memberikan kehidupan pada dunia literatur.

Di Tiongkok ketika itu sudah mulai mendekati akhir Dinasti Ming. Pada tahun 1644 mulailah kekaisaran baru, yaitu Dinasti Qing yang bertahan hingga tahun 1912. Pada jaman Dinasti Ming pembangunan tembok besar berhasil dirampungkan hingga seperti bentuknya yang sekarang, begitu juga dengan pembangunan terusan besar (Jīng Háng Dà Yùnhé), pemindahan Ibukota dari Nanking ke Peking dan pembangunan kota terlarang. Jaman Dinasti Ming pernah menjadikan Tiongkok kekuatan marine terkuat pada jaman itu.

Di samping peperangan yang tidak bisa dihitung banyaknya dan intrik-intrik istana serta ketegangan dalam negeri, jaman Dinasti Ming berhasil membawa perkembangan budaya dan ekonomi Tiongkok sampai pada tingkat yang luar biasa tingginya. Hal itu bukan semata-mata disebabkan oleh karena bangsa Spanyol, Portugis, Belanda dan Inggris menghamburkan perak yang diperolehnya dari benua Amerika yang baru ditemukan, untuk membeli partikel luxus yang sangat disukai, terutama Porselin dan Sutera.

Sejak tahun 1557 (sampai dengan tahun 1999) kota Àomén berada dibawah kekuasaan pemerintah Portugis dengan nama Macao. Eropa saat itu sedang mengalami perubahan jaman, yang kini disebut abad pertengahan. Dimulai dari perebutan kota Konstantinopel oleh kerajaan Osmania dan penemuan benua Amerika, maka berakhirlah abad ke 16 dan mulailah ‘abad yang lebih muda’ antara lain dengan pembangunan Petersdom, pembakaran tukang sihir, perang Turki di Austria, reformasi dan disusul oleh perang tiga puluh tahun. Untunglah itu bukan hal satu-satunya di capai di ‘abad yang lebih muda’, tapi juga penemuan jagung, kopi, tembakau, kakao, cabai, tomat dan kentang, serta gambar dunia heliozentris (planet bergerak memutari matahari).

Isi Novel

Novel perjalanan ke Barat mengisahkan perjalanan pendeta Xuanzang ke India dalam Dinasti Tang pada abad ke 8. Pendeta Xuanzang mendapat tugas dari Bodhisattva Guanyin untuk mengambil gulungan naskah Mahayana ke Tiongkok. Kaisar Taizong ketika itu masih tinggal di kota Xi’an, yang terkenal di dunia dengan tentara Terrakotta. Disitu sampai sekarang masih berdiri pagoda angsa liar, yang menandakan awal dan akhir perjalanan Xuanzang. Disitu pulalah dia menulis laporan perjalanan, sekembalinya dari perjalanan ke barat dan menterjermahkan gulungan naskah dari bahasa sansekerta ke bahasa Tionghoa. Xuanzang memperoleh hadiah nama Tripitaka dari Kaisar, yang dalam bahasa sansekerta berarti ‘Tiga Keranjang’. 657 gulungan Naskah yang diambilnya dari India ditempatkan dalam 3 buah keranjang besar.

Cerita ini terjadi setelah langit atas desakan Budha memutuskan bahwa manusia di belahan bumi sebelah selatan yang kehidupannya terlalu banyak mengikuti ketamakan, kesenangan, poligami dan dosa, dengan bantuan naskah Mahayana akan banyak roh-roh yang bisa dibebaskan dari hukuman. Perjalanan ke barat hanya membahas sedikit saja inti dari segi keagamaan yang terdapat dalam naskah Mahayana, yang diambil oleh peziarah dari India.

Ceritanya di bagi dalam 2 bagian. Bagian pertama berkonsentrasi pada penceritaan si raja kera Sun Wukong. Bagian pertama menceritakan tentang kelahirannya dari sebuah telur batu, kariernya sampai menjadi raja kera dan jalan kehidupannya sebagai murid aliran Tao, yang sedemikian hebat, sampai tak terkalahkan dan tidak dapat mati. Atas ketidakpuasannya, karena penolakan secara diplomasi atas jabatan yang seharusnya diperoleh di kerajaan langit, Sun Wukong membuat onar dengan mengacau di langit. Huru hara di langit ini dipadamkan oleh Budha; dan Sun Wukong dihukum di bawah gunung 5 elemen selama 500 tahun. Dengan mantra Om Mani Padme Hum gunung disegel oleh Budha. Jadi walaupun Sun Wukong ilmunya tinggi, dia tidak berdaya untuk membebaskan diri.

Lalu disusul oleh bagian pertengahan yang menceritakan asal muasal Xuanzang, dan kejadian-kejadian dari kehidupan Kaisar. Bagian selanjutnya merupakan bagian utama, mengisahkan perjalanan ke barat yang sebenarnya. Dibagi dalam 81 Petualangan yang harus dilewatkan oleh Xuanzang, agar mendapatkan gulungan naskah yang akan diserahkan pada Kaisar dan memperoleh keabadian untuk dirinya. Guanyin disini memainkan peranan yang sangat penting. Paling pertama yang diurusnya agar supaya Tripitaka tidak sendirian menghadapi marabahaya dalam perjalanan. Dia bertemu Sun Wukong di penjara gunung dan boleh membebaskannya. Tabiat kera Sun Wukong menimbulkan banyak risiko dalam perjalanan. Untuk mengendalikannya, Guanyin memasang cincin besi di kepala Sun Wukong, yang bisa mengecil apabila Tripitaka membacakan doa tertentu dan mengakibatkan sakit kepala yang luar biasa.

Selanjutnya keduanya bertemu seekor Naga, yang telah menelan kuda tunggangannya Tripitaka. Setelah tahu dia sedang berhadapan dengan siapa, menjelmalah si Naga menjadi seekor kuda yang kuat dan pintar untuk membawa Tripitaka ke perjalanan yang jauh ke India. Nasib si Naga mirip Sun Wukong, yang di janjikan pengampunan oleh Guanyin bila mereka berhasil membantu tugas Tripitaka. Si Naga dijatuhi hukuman mati oleh ayahnya raja Naga lautan barat, karena tampa sengaja telah membakar istana , yang mengakibatkan Mutiara ajaib menjadi rusak.

Hukuman keras dari raja Naga bisa di hindarkan oleh Guanyin, hanya dengan syarat , si Naga harus berjasa pada Tripitaka. Dengan cara yang hampir sama, juga siluman babi Zhu Bajie dan siluman air Sha Wujing menjadi anggota perjalanan. Mulailah suatu perjalanan yang panjang, penuh dengan kesulitan, bahaya, keperkasaan, dan perkelahian lawan manusia, hantu serta jin yang harus dikalahkan. Mereka mengenali tripitaka sebagai pendeta suci, yang bila dimakan hidup-hidup, akan membuat mereka tidak bisa mati. Selalu saja ada situasi dimana kelihatannya hanya Thian saja yang bisa menolong Tripitaka yang berani. Dan tidak jarang, hanya dengan campur tangan Guanyin mereka bisa selamat. Akhirnya tujuan perjalanan tercapai, dan semua anggota perjalanan mendapat upahnya masing-masing. Banyak kapitel yang berisi sindiran bersifat kritis terhadap gejala se jaman.

Loading...

Penulis novel Wu Cheng’en, mengambil dasawarsa Dinasti Ming terakhir, termasuk kejadian-kejadian pada waktu itu seperti korupsi, kelaliman pejabat dan intrik istana; sebagai pola bagian-bagian cerita, terutama pengambaran keadaan dan situasi istana kerajaan langit beserta pejabat-pejabatnya. Ada juga kapitel yang menceritakan tentang Tridharma, yang sejak jaman dulu di Tiongkok sudah mengisi satu sama lain. Tao, Kong Hu Cu dan Budha yang sejak dari abad ke 1 sudah menyebar sepanjang jalan sutera. Struktur penceritaan Perjalanan ke Barat sepadan dengan kisah perjalanan keperkasaan tradisi literatur Eropa. Dimulai dari Herakles, Don Quichotte, hingga penerapan cerita ini di produksi Hollywood seperti Star Wars, yang membawa pembaca atau penonton ke dunia fantasi atau dunia mitos.

Latar Belakang Sejarah

Inti dari cerita ini secara sejarah terbukti, Xuanzang lahir tahun 603 dan meninggal tahun 664, jadi hidup di jaman Dinasti Tang. Perjalanannya sepanjang jalan sutera dilakukannya dalam tahun 629-645. Dahulu banyak pendeta agama Budha melakukan perjalanan yang hampir sama, mengikuti contoh perintis di awal masuknya agama Budha ke Tiongkok. Mulai dari awal abad ke 1 agama Budha sudah mengambil tempat dalam Tridharma disamping Tao dan Kong Hu Cu. Tidak jauh dari Bodhi Gaya, tempat pohon Bodhi yang terkenal itu, dibawahnya Sidharta Gotama pernah mendapat penerangan menjadi Budha, disitulah terletak kota Nalanda. Disitulah berdirinya universitas agama Budha terbesar di dunia pada jaman itu. Untuk mencari warisan Budha, berangkatlah pada tahun 629 si pendeta muda Xuanzang ke India.

Tak ada yang bisa menahannya, baik perampok maupun badai pasir di Gobi dan Taklamakan, atau gunung salju di Pamir dan Hindukusch. Setelah 17 tahun dia kembali membawa gulungan Naskah dari perairan Ganga, dan mencurahkan 19 tahun lagi untuk mengartikan, penterjermahan dan pemahaman. Selain itu Xuanzang adalah cendekiawan yang piawai. Di India maupun di Tiongkok, dia terkenal kepintarannya. Salah satu sebab kenapa dia menjadi terkenal adalah salah satu artikelnya dalam diskusi ilmiah, dimana di pertanyakan apakah Lao Tsu guru Siddharta Gautama. Xuanzang berpendapat, bahwa itu tidak mungkin benar, karena itu dia menjadi kurang disukai oleh beberapa teman setanah airnya.

Sun Wukong Si Raja Kera

Pemegang peranan utama yang sebenarnya adalah si raja kera Sun Wukong. Pertama-tama ditampilkan kelahiran Sun Wukong dari sebuah telur batu, yang dibuahi oleh angin, tercipta dari bahan sari pati langit, wewangian terbaik dari bumi, kekuatan dari matahari dan kecantikan dari rembulan. Dia adalah kera pertama yang berani melompati tirai air terjun ke gunung bunga dan bebuahan. Disitu dia menemukan dunia baru dan membawa rakyat kera ke sana. Sebagai tanda terima kasih, Sun Wukong dijadikan raja semua kera. Tapi tidak seberapa lama kemudian, Sun Wukong mengetahui bahwa untuk menjadikan kebahagiannya lebih sempurna, dia masih kekurangan satu hal, yaitu umur yang panjang dan tidak bisa mati. Dan pergilah Sun Wukong melakukan perjalanan untuk mencari seorang Guru. Walaupun semulanya ragu-ragu, tapi akhirnya Sun Wukong diambil juga jadi murid oleh Tetua agama Tao Subhuti.

Namanya Sun Wukong yang berarti ‘kesadaran kosong’ yang diterimanya dari Subhutti. Ia belajar terbang diatas awan, salto awan melewati 108.000 li, 72 perubahan bentuk (dalam bentuk manusia, lalat, dadu) dan atas dasar kekuatan, kepintaran dan ambisinya, akhirnya dia memperoleh kekuatan tidak bisa mati. Hal itu membuatnya sombong dan takabur, sehingga akhirnya di usir oleh Subhuti. Sebelumnya Sun Wukong di ambil sumpah, agar merahasiakan siapa gurunya. Subhuti merasa yakin, bahwa Sun Wukong akan berakhir dengan tidak bagus. Tanpa menghiraukan pemikiran gurunya, Sun Wukong merajalela dengan keberaniannya sampai akhir nya harus berhadapan dengan pasukan tentara kerajaan langit. Karena ilmu Sun Wukong memang benar-benar hebat, para jendral pasukan langit tidak bisa menangkapnya untuk di tuntut.

Kebolehan nya yang paling luar biasa adalah menjangut bulu dan meniupnya dari telapak tangan, sehingga dirinya berubah menjadi ribuan banyaknya. Pasukan kerajaan langit semakin kawatir dengan keadaan itu, hanya Budha yang berhasil menaklukannya. Budha mengajak si raja kera taruhan. Sun Wukong harus berusaha terbang keluar dari telapak tangannya. Terbanglah Sun Wukong dengan kekuatan yang luar biasa sampai ke ujung dunia, disitu dia menemukan 5 buah tiang. Disanalah satu tiang dia menulis namanya, dibelakang tiang lainnya dia kencing.

Dengan bangga dia terbang kembali ke telapak tangan Budha, di situ dia menemukan graffitinya yang belum kering di jari Budha dan bau pesing di belakang jari lainnya. Budha mengurung Sun Wukong dibawah gunung 5 elemen, agar dia merenungkan kesalahan kesalahannya. Hanya pendeta peziarah ke barat saja yang boleh membebaskannya, itupun hanya bisa terlaksana dengan pertolongan Guan Yin Sebagai pelindung perjalanan ke barat. Sun Wukong berkembang menjadi penolong yang andal dalam menghadapi kesulitan. Tingkah lakunya yang lucu, kericuannya, penampilan simpatik manusia kera yang tak terkalahkan dalam setiap pertandingan, semua itu tidak bisa dihalau lagi dari hati manusia.

Disusun dan diterjermahkan oleh : Aldi Surjana

Dari Sumber Pustaka :

1. Wu Cheng’en, Der rebelische Affe, Die reise nach dem Westen, von Georgette Boner und Maria Nils
2. Wu Cheng’en, Die Reise nach Westen oder wie Hsüan Tsang den Buddhismus nach China holte: Von Renè Grousset
3. http://de.wikipedia.org/wiki/Sun_Wukong
4. http://de.wikipedia.org/wiki/Die_Reise_nach_Westen
5. http://de.wikipedia.org/wiki/Xuanzang
6. http://de.wikipedia.org/wiki/Wuxia
7. http://de.wikipedia.org/wiki/Mittelalter

Loading...

The following two tabs change content below.
Penerjemah novel, salah satunya adalah Jinpingmei (金瓶梅; Jin Ping Mei; The Golden Lotus). Tinggal di Berlin, Jerman.

Latest posts by Aldi The (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Loading...