Sembahyang Dewa Dapur

rsz_tslc

Dalam kebudayaan tradisional Tionghoa, bagi sebagian kalangan masyarakat keturunan yang masih percaya mengganggap bahwa setiap pada tanggal 23 bulan 12 tahun penanggalan Imlek adalah “Hari Dewa Dapur” atau lebih dikenal dengan sebutan Cao Kung Kong/Zhao Shen. Siapa sebenarnya Dewa Dapur (Cao Kung Kong) itu? Dikisahkan dalam legenda, Dewa Dapur dikirim dari Surga ke Bumi oleh Kaisar Langit. Dewa Dapur bertugas untuk memantau perilaku dan mencatat perbuatan manusia sehari-hari, baik perbuatan yang baik maupun perbuatan yang buruk.

Setiap tahun, sang Dewa Dapur akan naik ke kahyangan dan melapor kepada Kaisar Langit tentang semua kebaikan dan keburukan yang diperbuat oleh manusia, terlebih untuk keluarga yang diawasinya sepanjang tahun tersebut. Oleh karena itu setiap rumah tangga yang ada tempat sembahyang kepada Dewa Dapur akan membuat upacara persembahan kepada sang Dewa Dapur pada tanggal tersebut dengan tujuan untuk mengantar Dewa Dapur naik ke Langit. Sembahyang kepada Dewa Dapur ini juga sebagai tanda bermulanya sambutan perayaan Tahun Baru Imlek.

Loading...

Sisa waktu 7 hari menyambut tahun baru Imlek biasanya ada waktu sehari yang dimanfaatkan oleh umat untuk membersihkan altar sembahyang dan rupang/patung Dewa/i, baik yang ada di Kelenteng ataupun di tempat sembahyang (kam) pribadi di rumah. Pembersihan altar sembahyang dan rupang/patung Dewa/i ini merupakan sebuah simbol tanda bakti yang dimaksudkan untuk menyiapkan tempat yang bersih untuk para Dewa/i ketika kembali turun pada hari ke 4 setelah Imlek nanti. Pembersihan di Kelenteng juga bertujuan untuk mempersiapkan diri karena umat akan mulai ramai datang pada saat menjelang dan sesudah Imlek nanti.

Setelah itu pada Hari ke-empat di tahun yang baru setelah Imlek, kembali ditandai lagi dengan suatu upacara persembahyangan untuk menyambut turunnya Dewa-Dewi dari Langit ke bumi. Persembahyangan ini umumnya dilakukan di Kuil/Klenteng, namun ada pula yang melakukan sembahyang di rumah masing-masing. Upacara sembahyang ini dilakukan sekitar tengah malam menjelang tibanya tanggal 4 (subuh). Tujuan upacara sembahyang ini adalah untuk menyambut kembalinya sang Dewa Dapur dan Dewa-Dewa lainnya dari Istana Langit karena telah selesai membuat ‘Laporan Tahunan’ kepada Kaisar Langit (Yu Hwang Shang Di); untuk selanjutnya kembali bertugas mengawasi jalannya Kehidupan di Dunia ini.

Bagi umat yang masih menjalankan tradisi sembahyang menyambut Dewa Dapur ini, mereka sangat percaya bahwa di hari baik inilah Para Dewa-Dewi yang baru turun dari Langit akan membawa banyak Berkah yang akan dibagi-bagikan kepada manusia di bumi. Ritual mengantar dan menyambut Dewa Dapur ini digelar setiap tahun  untuk menyambut Imlek. Seperti kata pepatah, “Ketika Dewa Dapur menyebarkan kata-kata yang baik di Surga, Bumi akan menjadi damai“. Istilah ini sudah tersebar luas di kalangan orang Tionghoa.

Loading...

The following two tabs change content below.
Tertarik dengan tradisi & budaya Tionghoa di Indonesia. Ikuti Twitter @tionghoainfo untuk info-info terbaru.

2 Responses to Sembahyang Dewa Dapur

  1. Fudianto says:

    oh baru tau nih ceritanya dewi dapur, ga banyak kalo di denpasar. kalo boleh tau ini kisah diambil darimana ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Loading...