Su Nu Jing, Kitab “Kama Sutra” Klasik Tertua di Dunia

Seni Kamar Tidur, atau seksologi Tiongkok kuno telah berusia lebih dari 2.000 tahun. Namun sebelum dikenal beberapa abad terakhir ini, seni ini hampir lenyap dan sedikit sekali dikenal oleh masyarakat Tiongkok sendiri karena banyaknya literatur klasik seksologi yang ditelan sejarah, hingga akhirnya kembali ditemukan oleh para arkeolog.

(Untuk pembaca dewasa)

“Dalam semesta kita, semua kehidupan diciptakan dengan harmoni Yin dan Yang. Saat Yang mempertahankan keseimbangan dengan Yin, maka semua masalah akan terselesaikan dan apabila Yin mempertahankan keseimbangan dengan Yang, maka semua hambatan dalam jalannya akan hilang. Yin dan Yang harus saling membantu satu sama lain. Maka saat itulah laki-laki akan menjadi kuat dan perkasa. Sang perempuan pun akan siap untuk menerimanya dengan terbuka. Keduanya akan bersatu dalam kesatuan, dan pelepasan keduanya akan saling menguntungkan satu sama lain.” – Xuan Nu, dalam Su Nu Jing

Karya-karya klasik seksologi ini secara mengejutkan bercerita pada kita bahwa seni persenggamaan kuno ini adalah gabungan yang menakjubkan antara mistisme dan alkimia pra-sains. Uniknya, terjaminnya kepuasan seksual perempuan adalah konsekuensi yang menyenangkan dari Seni Kamar Tidur ini.

Tidak diketahui pasti apakah pendekatan ini ada hubungannya dengan kenyataan bahwa ketiga orang seksolog Tiongkok kuno yang paling pertama dan paling terkenal, serta yang pandangannya menjadi pedoman para filsuf dan ahli alkimia Tao kuno adalah para seksolog perempuan.

Kebanyakan orang hanya tahu bahwa kitab seks paling awal dan tua di dunia adalah Kama Sutra karya Vatsyayana dari India. Namun sebetulnya di Tiongkok ada kitab seks yang lebih tua dari Kama Sutra, yaitu Su Nu Jing (Hanzi : 素女经, pinyin : sù nǚ jīng, terjemahan harafiah : Kitab Gadis Elemental, Kitab Sang Perawan).

Walaupun sama-sama membahas seks, kedua kitab ini sangat berbeda. Kama Sutra hanya membahas soal teknik bercumbu, sementara kitab ini selain membahas teknik bercumbu, juga membahas teknik berhubungan seksual, kesehatan dan makna filosofis dari relasi seksual itu sendiri.

Loading...

Posisi-posisi yang dianjurkan di dalam Su Nu Jing bisa diterapkan dengan mudah dan lebih realistis karena berasal dari pengalaman nyata, sementara dalam Kama Sutra banyak posisi yang di antaranya mencontohkan posisi sulit yang lebih mudah dilakukan oleh ahli yoga atau manusia karet.

Kitab ini termasuk dari kitab-kitab klasik Taoisme paling sakral, dan berisi tentang pengetahuan tentang seksualitas dan relasi seksual bangsa Tiongkok kuno. Hingga saat ini penulisnya masih belum diketahui, namun beberapa catatan sejarah menyebutkan bahwa kitab ini berasal dari era dinasti Han, yaitu sekitar tahun 200 SM.

Salah satu konten paling terkenal di dalamnya adalah kisah tentang dialog mengenai pengalaman seksual kaisar Huang Di dengan para penasehatnya, yang terdiri dari tiga orang wanita bernama Su Nu (Gadis Elemental), Xuan Nu (Gadis Misterius) dan Cai Nu (Gadis Pelangi), serta satu orang tabib pria bernama Peng Zi. Dalam beberapa literatur lain, Su Nu sendiri disebut-sebut sebagai seorang dewi.

Secara mengejutkan, di balik kenyataan bahwa selama berabad-abad bahasan tentang seksualitas dipandang tabu dan sesuatu yang kotor serta menjijikkan oleh masyarakat Tiongkok hingga saat ini, justru di masa lalu para alkemis Tao telah menemukan sisi lain yang tidak terpikirkan oleh bangsa lainnya mengenai filosofi seks dalam kehidupan.

Saat itu bangsa barat juga masih menganggap seks sebagai tabu (walaupun mereka sangat liar dalam hal seksual), bahasan tentang seks di timur telah dibukukan hingga berjilid-jilid dan Su Nu Jing adalah salah satunya, namun berumur paling tua dari semuanya.

Para alkemis Tao kuno menemukan bahwa ritual seks memiliki unsur magis yang luar biasa, memberikan kesehatan jasmani dan rohani serta memperpanjang umur sehingga karenanya harus dilakukan dengan hati-hati dan tidak sembarangan.

Walaupun sebelumnya para seksolog Barat menganggap ini konyol, namun sekarang terbukti bahwa isi buku ini sangat relevan dengan hasil penelitian mengenai hubungan antara seks dan kesehatan saat ini. Dengan semua panduan seks yang sangat berguna dan lengkap di dalamnya, tak sedikit para ahli menyebut buku ini sebagai kitab Tao untuk bercinta.

Secara garis besar, buku ini menjelaskan manfaat dari hubungan seksual namun terdapat banyak penjelasan detail di sana. Hal ini ditunjukkan dengan berbagai pertanyaan sederhana sang kaisar mengenai seks, dijelaskan dengan penjelasan yang sangat detail oleh Su Nu.

Selain manfaat dari hubungan seks, di dalam buku ini dijelaskan juga tentang teknik-teknik hubungan seksual yang menyenangkan (bahkan tidak sedikit juga yang menantang), makna kegiatan seks tersebut dari sudut pandang mental dan spiritual alih-alih menuliskannya lewat bahasa yang penuh birahi.

Walaupun penulisnya anonim, gaya kesusastraan dan isinya memberi kesan bahwa buku ini ditulis oleh orang-orang terdidik dan memiliki pengetahuan sastra klasik yang sangat baik. Ciri khas kitab inilah yang mempengaruhi kitab-kitab seksologi klasik setelahnya, dimana para penulisnya adalah para tabib, penulis esai, pujangga ahli alkimia serta filsuf yang paling disegani karena keluhuran ilmu mereka.

Loading...

Selain teknik, posisi serta manfaat hubungan seksual, buku ini juga menulis tentang ramuan obat serta tumbuhan-tumbuhan yang bisa membantu membangkitkan gairah seksual. Dalam buku ini, hubungan seks dijelaskan dengan bahasa kiasan yang puitis namun tepat sasaran, serta menggunakan kiasan unik bagi setiap metode yang dipaparkan.

Contohnya adalah penyebutan alat kelamin pria sebagai ‘akar giok’, ‘naga’ atau ‘tongkat giok’ dan alat kelamin wanita sebagai ‘gerbang permata’, ‘istana surgawi’ atau ‘teratai merah’.

Selain itu dalam Su Nu Jing, kiasan juga digunakan untuk penyebutan beberapa teknik hubungan seksual seperti ‘Naga-Naga Bersalto’, ‘Harimau Melangkah’, ‘Kera Bergulat’, ‘Kelinci Menjilat Bulu’, ‘Leher-Leher Bangau Saling Melilit’, ‘Kucing dan Tikus Berbagi Lubang’ dan sebagainya.

Buku ini memang hanya berbentuk dialog serta garis besarnya cuma menjelaskan manfaat, namun terdapat banyak penjelasan detail di sana. Tak hanya teknik saja, tapi juga hal-hal yang berhubungan dengan psikologis.

Misalnya memanfaatkan segala hal di masing-masing pribadi seperti cinta, mental, wibawa, untuk dibawa ke ranjang dan menghasilkan satu aktivitas percintaan yang benar-benar luar biasa. Di sana dijelaskan bahwa tujuan seks bukanlah sekedar untuk melahirkan keturunan atau pelepasan kebutuhan biologis, tapi juga untuk kesehatan dan kesenangan keduanya.

Konsep Seksologi dalam Literatur Alkimia Tao

Seni berhubungan seksual dalam konsep seksologi Tao disebut juga sebagai Seni Kamar Tidur (Hanzi : 房中補益, pinyin : Fáng zhōng bǔyì, Art of Bedchamber)

Inti dari konsep peraihan energi seksual dalam seksologi Tao adalah sebagai berikut :

Bagi wanita, seringnya senggama dan orgasme merupakan cara paling efisien untuk menjaga cairan dan energi. Namun bagi pria, seringnya senggama dengan mengurangi terjadinya ejakulasi merupakan teknik tinggi untuk memelihara cairan dan energi.

Oleh karena itu, bagi wanita untuk mendapatkan energi seksual yang menguntungkan bagi tubuhnya, ia harus melepaskan sekresi ‘gerbang permata’-nya dan menyerap air mani laki-laki, atau jing (Hanzi : 精) dari proses ejakulasi.

Tapi apabila ia menyerap air mani pasangannya (terutama jika berlebihan), itu sama dengan menguras energi serta vitalitas laki-laki pasangannya dan memperpendek umur laki-laki tersebut. Berbeda dengan perempuan yang memiliki energi seksual tak terbatas, energi seksual laki-laki lebih terbatas sehingga harus lebih dikendalikan.

Lalu bagaimana caranya laki-laki mendapat kenikmatan seksual tanpa ejakulasi? Mungkin ini akan membuat kita bingung (dan rasanya mustahil) dan juga menjadi kerisauan kaisar ketika akan mempraktekkan hal ini. Tapi pertanyaan itu terjawab oleh Cai Nu, dan teknik ini disebut Teknik Pengiritan Mani :

“Tak ada kenikmatan yang terganggu. Setelah ejakulasi, seorang pria akan merasa lelah, telinganya berdengung, mata mengantuk, dan ingin segera tidur. Ia juga merasa haus. lemas dan kaku. Ejakulasi memang memberikan kenikmatan tapi cuma sesaat, selanjutnya diikuti penderitaan yang berkepanjangan. Ini kenikmatan yang artifisial, sementara.

Tetapi, jika seorang pria mau mengatur ejakulasinya seminim mungkin dan menahan maninya, maka tubuhnya akan menjadi kuat dan pikirannya tak bercabang, jernih. Dengan sesekali menghindari diri dari sensasi nikmat sesaat ejakulasi, cinta si pria terhadap pasangannya akan bertambah besar, ia seakan tidak akan pernah cukup memasuki “gerbang permata”. Bukankah ini akan menjadi kenikmatan seks yang tak ada taranya?”

Yang unik dari kitab ini serta kebanyakan konsep seks dalam alkimia Tao dari setiap penjelasan tahap per tahap tentang teknik hubungan seks di dalamnya, kenikmatan puncak wanita menjadi tujuan utama yang harus diperhatikan oleh laki-laki karena akan berpengaruh pada kesehatan seksual laki-laki pasangannya, demi mencapai manfaat kesehatan dari hubungan seksual itu sendiri.

Dalam konsep seksologi Tao, kedengarannya wanita lebih banyak diuntungkan karena adanya pertukaran energi seksual yang dilepaskan oleh masing-masing, tapi akan merugikan si laki-laki apabila ia menyerap energi terlalu banyak dari benih pasangannya. Selain itu, wanita adalah pelaku aktif hubungan seksual sama halnya seperti laki-laki, bukan sebagai obyek seksual sebagaimana posisi wanita dalam hubungan seksual berbasis tradisi patriarki umumnya.

Selain Su Nu Jing, ada beberapa lagi buku manual kitab seksologi klasik kuno yang berhasil ditemukan oleh para arkeolog dan siapa tahu pembaca masih penasaran :

  • Su Nu Fang (Hanzi : 素女方, Prescriptions of the Immaculate Girl; Resep-Resep Sang Gadis Perawan) – Era dinasti Han
  • Yu Fang Zhi Yao (Hanzi :  玉房指要, Important Matters of Jade Chamber ; Hal-Hal Penting dari Kamar Giok) – Awal dinasti Sui (581 M)
  • Yu Fang Mi Jue (Hanzi :玉房秘诀, Secret Instructions Concerning the Jade Chamber; Instruksi Rahasia tentang Kamar Giok) – Awal dinasti Sui (581 M)
  • Dong Zuan Zi (Hanzi : 洞玄子, Book of Mystery-Penetrating Master; Kitab Master Penyingkap Tabir Misteri) – Sebelum dinasti Tang (abad ke-5 M)
  • Da Le Fu (Hanzi : 大乐赋, Poetical Essay on the Supreme Joy; Esai-Esai Puitis tentang Kenikmatan Tertinggi) – Bo Xingjian, abad ke-9

Sebagai tambahan bagi pembaca yang ingin mengenal lebih jauh dan detail konsep seksologi dalam alkimia Tao selain yang tertera di referensi, ada rekomendasi beberapa literatur yang cocok dan semuanya masih berbahasa Inggris.

  1. The Sexual Teaching of White Tigress : Secrets of the Female Taoist Masters.  Hsi Lai
  2. The Sexual Teaching of Jade Dragon : Taoist Methods for Male Sexual Revitalization. Hsi Lai.
  3. The Tao of Love and Sex, Mantak Chia & William U. Wei.
  4.  Taoist Secrets of Love : Cultivating Male Sexual Energy. Mantak Chia.
  5. Art of Bedchamber : The Chinese Sexual Yoga Classics. Douglas Wile.

Walaupun budaya timur (konon lebih) dikenal sebagai budaya yang menjunjung tinggi kesusilaan dengan menganggap bahwa bahasan tentang aktivitas percintaan di kamar tidur adalah bahasan yang amat tabu, namun kita tidak bisa menampik bahwa seks dan seksualitas adalah sesuatu yang alamiah dan tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan manusia.

Kebutuhan akan hal ini sangat manusiawi, sehingga hubungan seksual adalah sesuatu yang indah dan menyehatkan apabila dilakukan dengan benar, bertanggung jawab, tidak egois dan bertujuan untuk menyenangkan satu sama lain.

Referensi :

Loading...

The following two tabs change content below.

amimah.halawati

Seorang mahasiswa perguruan tinggi teknik negeri di kota Bandung. Mojang Priangan berdarah Sunda namun memiliki minat besar dengan bahasa dan budaya Tionghoa. Pecinta buku dan senang menulis, khususnya fiksi fantasi yang bertema mitologi dan kebudayaan Tionghoa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

error: eits, mau ngapain nih?
Loading...