Tag Archives: roman

Teratai Emas (Chin Ping Mei) Bab 12

Bab 12 :

Wusung dihukum buang ke perbatasan
Istri2 dan selir2 Hsimen bersenang senang di pavilyun air

Sebagai hukuman atas pembunuhan agen Li, oleh pengadilan Wusung dijatuhi hukuman pukul dengan tongkat sebanyak 40 kali, dikalungkan borgol besi dileher, di mukanya diberikan cap dengan stempel panas, lalu di giring oleh dua orang penegak hukum ke Mongtschou sebagai orang buangan, suatu perjalanan yang sangat panjang.

Teratai Emas (Chin Ping Mei) Bab 11

Bab ke 11 :
Hsimen dan Teratai emas menikah secara diam2
Wusung salah tangan membunuh agen Li

Pada hari lainnya, Teratai emas mengundang ibu Wang untuk makan perpisahan, dan sekalian menitipkan si gadis kecil Ying’rl dibawah pengawasan dan perawatannya.

Teratai Emas (Chin Ping Mei) Bab 10

Bab 10 :

Teratai emas mempertanyakan nasibnya.
Pendeta pembakar abu pemujaan mendengar suara orang bercinta.

Satu bulan telah berlalu, tanpa sekalipun Hsimen pernah mengunjungi Teratai emas. Sementara itu Hsimen telah berkenalan dengan seorang wanita kaya umur tiga puluhan, janda Mong Yuloh, dibawa kerumahnya, untuk menggantikan kedudukan Tscho Tiu’rl, istri ketiganya yang telah meninggal, dan juga telah mengangkat dayang Sun Hsueo menjadi istri keempat.

Teratai Emas (Chin Ping Mei) Bab 9

Bab ke 9 : Houkiu kena sogok dan mengelabui langit
Ibu Wang sibuk membantu perkabungan

Pada pagi hari sekitar pukul sebelas, sebelum Houkiu akan pergi memasuki rumah duka, ia bertemu dengan Hsimen di perempatan jalan. Mereka akhirnya bercakap-cakap.

Teratai Emas (Chin Ping Mei) Bab 8

Bab 8 : Yun menyusun rencana untuk menangkap tangan kedua Kekasih gelap.
Wuta diminumkan obat campur racun, dan mendapat kematian yang menyedihkan.

Setelah dipukul babak belur oleh ibu Wang, Yun pergi mencari Wuta. Di Jalan ia bertemu dengan nya dan menceritakan semua kejadian yang ia dengar dan ia alami. Kemudian kedua nya membuat rencana untuk menangkap basah perbuatan serong Teratai emas dengan Hsimen.

Teratai Emas (Chin Ping Mei) Bab 7

Bab 7 : Teratai emas menikmati kebahagiaan curian. Yun mengamuk di Kedai Teh.

Sambil menyerigai lebar ibu Wang mendekati Teratai emas dan berkata : “Aku akan membeli arak bagus di Yamen, jadi perlu waktu agak lama, harap temani tamu kita. Di guci masih ada sedikit anggur, ambillah bila cawan kalian kosong.

Teratai Emas (Chin Ping Mei) Bab 6

Bab 6 : Ibu Wang mengincar uang comblang. Tipuan membuat Hsimen menikmati cinta terlarang

“Ibu Angkat, sepuluh ons perak akan menjadi milikmu, bila kau berhasil menuntaskan urusan ini!” desak Hsimen.
“Dengarkan aku tuan besar, belakangan ini tidak mudah untuk urusan begini. Untuk itu dibutuhkan 6 hal: tampang ganteng, banyak uang, umur muda, pakaian bagus, punya waktu, dan sesuatu yang kuat bagaikan kepunyaan keledai.

Teratai Emas (Chin Ping Mei) Bab 5

Hari berganti bulan, dengan berakhirnya bulan ke 12, lambat laun datanglah waktu bunga plum. Pada suatu pagi yang menyenangkan, Teratai emas sudah rapih berpakaian, ia hanya tinggal menunggu suaminya berangkat, untuk mengambil tempat biasa, di teras di depan pintu. Adalah suatu pengalaman lama, pertemuan dua insan biasanya disebabkan oleh hal2 kebetulan yang sepele. Singkatnya, ketika si nyonya muda memasukan tongkat penganjal kebawah tirai bambu didepan pintu, tiba2 angin bertiup keras mendorong tangannya, sehingga tongkat terlepas menimpah kepala seseorang yang sedang lewat.

Teratai Emas (Chin Ping Mei) Bab 4

Di balik tirai pintu, si cantik memintal benang lembut. Ibu Wang di kedai teh. Keesokan hari nya Wusung pindah ke rumah Wuta. Ketika beberapa Serdadu membawa masuk Koffer dan perlengkapan tidur, Teratai emas merasakan satu kepuasan, se-olah ada yang membawakan harta benda tak ternilai. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan, esok pagi nya ia sudah bangun pada kentongan ke enam, pada saat ipar nya menyiapkan diri untuk berangkat apel pagi ke yamen.

Teratai Emas (Chin Ping Mei) Bab 3

Suatu hari ditengah jalan Wu Sung mendengar seseorang memanggil : “Hei Wu Sung, lihatlah, aku disini!”. Ia berbalik, dan siapa yang ada di hadapan nya, Kakak nya Wu Ta yang sudah lama dicari. Kegagalan panen dan kelaparan telah menyebabkan Wu Ta meninggalkan kampung halaman, dan mengungsi ke kota Tsinghosian, dimana ia menyewa tempat tinggal. Postur tubuh yang lemah, penampilan yang minder, wajah yang jelek membuat nya diantara tetangga mendapat nama ejekan antara lain “si Kontet” dan “si Bonsai”, dan semua itu harus ditelan nya mentah2.

Loading...