Tak Punya Uang untuk Berobat, Ayah Mengasapi Anaknya Agar Sembuh

Dunia memang sudah banyak mengalami perkembangan. Seperti kemajuan gadget dan tren lainnya. Namun hal yang masih banyak belum menjangkau semua lapisan masyarakat adalah kesehatan. Salah satunya seperti nasib malang yang dialami seorang petani asal Yunnan, Tiongkok bernama Wei Shufu. Putrinya yang masih berusia 6 tahun menderita penyakit berat dan membutuhkan transplantasi sumsum tulang belakang.

ayah mengasapi anaknya agar sembuh

Foto kiri : tampak putri Wei Shufu yang sedang dirawat. Foto kanan : Tampak Wei shufu sedang mengasapi putrinya (Foto : Dailymail.co.uk)

Awalnya Wei Shufu membawa putrinya ke rumah sakit. Ia menghabiskan seluruh tabungan hasil bertani untuk menyelamatkan anaknya. Namun ternyata uang sejumlah itu tidak cukup untuk biaya transplantasi sumsum tulang tersebut. Biaya yang ia butuhkan sekitar £31,000 atau senilai Rp 500 juta lebih, seperti yang dilansir dari Dailymail.

Sedih dan putus asa dengan hal ini, sang ayah kemudian dianjurkan oleh pasien lainnya sebuah metode alternatif. Caranya adalah dengan metode pengasapan. Dengan menggunakan metode ini, Wei membakar beberapa jenis herbal sehingga aromanya bisa dihirup dan membantu penyembuhan putrinya. Mungkin terlihat menyeramkan. Namun mau bagaimana lagi? Demi kesembuhan anaknya, Wei Shufu melakukan berbagai cara. Perih juga batinnya melihat anaknya tersiksa atas penyakit yang langka itu.

ayah mengasapi anaknya

Tampak ayah yang senang mengasapi anaknya (Foto : Dailymail.co.uk)

Fenomena ini menggambarkan mirisnya fasilitas kesehatan bagi orang-orang dengan kemampuan terbatas. Tidak diceritakan apakah metode ini berhasil atau tidak. Namun semoga saja ada orang yang terketuk pintu hatinya untuk membantu sehingga putri Wei Shufu mendapatkan kesembuhan.

Loading...

The following two tabs change content below.
Tertarik dengan tradisi & budaya Tionghoa di Indonesia. Ikuti Twitter @tionghoainfo untuk info-info terbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Loading...