Tradisi Fang Sheng, Antara Ritual Dan Pelestarian Satwa

Tradisi Fang Sheng sangat erat dengan ajaran agama Buddha Mahayana Tiongkok. Tetapi ada makna yang tersirat dibalik ritual melepas makhluk hidup ini. Ritual yang digelar dengan melepaskan hewan hidup ke alam ini, dipercaya memiliki pengaruh bagi kehidupan dan keberuntungan. Biasanya, warga keturunan Tionghoa melepaskan hewan penyu, kura-kura, ikan, atau burung. Penyu yang berumur panjang dipercaya sebagai suatu permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar diberikan umur panjang bagi yang melepasnya. Kebiasaan untuk melakukan tradisi Fang Sheng ini bisa kita lihat pada saat-saat tertentu, misalnya saat tahun baru Imlek, Qing Ming (Cheng Beng), Gui Yue (Cit Gwee) atau saat ritual tolak bala.

Pelepasan makhluk hidup seperti yang dilakukan oleh warga keturunan Tionghoa diatas, dalam ajaran agama Buddha disebut sebagai Fang Sheng. Fang Sheng berasal dari bahasa Mandarin, yang mana Fang berarti “melepas” dan Sheng menunjuk pada “makhluk hidup”. Dengan demikian, Fang Sheng memiliki pengertian yang berarti melepaskan makhluk hidup ke habitatnya masing-masing agar mereka dapat mereguk kembali kehidupan alam yang bebas dan bahagia (tidak dikurung). Selain itu, tujuannya juga untuk memberikan kesempatan untuk terus hidup kepada makhluk lain.

Loading...
Lepas-Penyu

Tampak kegiatan melepas hewan tukik ke pantai

Namun secara tidak sengaja, warga keturunan Tionghoa yang melakukan tradisi Fang Shen ini, sebenarnya sudah turut serta dalam membantu melestarikan hewan yang terancam punah. Penyu dan kura-kura yang selalu diburu untuk telur dan dagingnya, diselamatkan dan dilepas kembali ke habitatnya (pantai) saat digelarnya ritual Fang Shen. Hal ini juga sama untuk hewan jenis lainnya, karena ajaran kuno ini memang diajarkan untuk saling mencintai sesama mahluk hidup.

Ya meski pada kenyataannya, banyak juga orang-orang yang memanfaatkan momen tradisi Fang Sheng untuk mencari uang, seperti menangkap hewan penyu dan burung untuk kemudian di jual di kelenteng-kelenteng atau Vihara yang akan melaksanakan ritual ini. Pada umumnya orang-orang zaman sekarang juga banyak yang sudah berpikiran rasional dan sudah tidak begitu menyetujui Fang Sheng dengan cara membeli binatang di pasar lalu kemudian dilepaskan kembali. Kita juga perlu tahu, bahwa banyak binatang itu adalah binatang yang diternak atau dipelihara, jadi jika dilepas ke alam bebas, bisa jadi binatang itu akan mati karena tidak tahu bagaimana mencari makan di alam bebas.

Semua kembali ke pribadi-masing-masing. Yang terpenting adalah paham betul apa maksud dari tradisi Fang Sheng ini, bukan hanya sekedar melepas hewan ke habitatnya, lalu di tangkap oleh orang lain, lalu di jual kembali (dijadikan bisnis). Kalau sudah seperti itu, manfaatnya sudah berkurang (bahkan percuma), karena arti kata Fang Sheng sendiri adalah melepaskan satu kehidupan, yang berarti kita menolong mereka (hewan) yang sedang terancam bahaya atau pembunuhan.

Loading...

The following two tabs change content below.
Tertarik dengan tradisi & budaya Tionghoa di Indonesia. Ikuti Twitter @tionghoainfo untuk info-info terbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Loading...