Tradisi Pernikahan Tionghoa

Karakter Sung Hi, yang bermakna Kebahagiaan Ganda kepada pasangan pengantin

Kita sering melihat sebuah karakter Tionghoa yang tertera pada kertas merah atau potongan kertas selalu ada pada saat pesta pernikahan. Karakter ini juga biasanya ada tertera di kertas Angpao yang akan diberikan kepada pasangan pengantin baru. Karakter tersebut adalah “Sung Hie” atau “Suang Hi” yang berarti Kebahagiaan Ganda (double joy). Ternyata terdapat asal usul sejarah dibalik penulisan huruf tersebut.

Contoh penggunaan karakter Suang Hi dalam undangan pernikahan orang Tionghoa

Pada masa Dinasti Tang, terdapat seorang pelajar yang ingin pergi ke Ibukota untuk mengikuti ujian negara, dimana yang menjadi juara satu dapat menempati posisi menteri.

Sayangnya, pemuda itu tersebut jatuh sakit di tengah jalan saat melintasi sebuah desa di pegunungan. Untung seorang tabib dan anak perempuannya membawa pemuda itu ke rumah mereka dan merawat sang pelajar. Pemuda tersebut dapat sembuh dengan cepat berkat perawatan dari tabib dan anak perempuannya.

Setelah sembuh, pelajar itu harus meninggalkan tempat tersebut untuk melanjutkan perjalanan ke Ibukota. Namun pelajar itu mengalami kesulitan untuk mengucapkan selamat tinggal kepada anak perempuan sang tabib, begitu juga sebaliknya. Mereka saling mencintai.

Maka gadis itu menulis sepasang puisi yang hanya sebelah kanan agar pemuda itu melengkapinya, “Pepohonan hijau dibawah langit pada hujan musim semi ketika langit menutupi pepohonan dengan gerhana”.

etelah membaca puisi tersebut, sang pelajar berkata, “Baiklah, saya akan dapat mencapainya meskipun bukan hal yang mudah. Tetapi kamu harus menunggu sampai aku selesai ujian”. Sang gadis mengangguk-angguk.

Pada ujian negara, sang pelajar mendapatkan tempat pertama, yang mana sangat dihargai oleh kaisar. Pemuda itu juga bercakap-cakap dan diuji langsung oleh kaisar.

Keberuntungan ternyata pada pihak sang pemuda. Kaisar menyuruh pemuda itu agar membuat sepasang puisi. Sang kaisar menulis: “Bunga-bunga merah mewarnai taman saat angin memburu ketika taman dihiasai warna merah setelah sebuah ciuman”. Pemuda itu langsung menyadari bahwa puisi yang ditulis oleh sang gadis sangat cocok dengan puisi kaisar, maka ia menulis puisi sang gadis sebagai pasangan puisi kaisar.

Kaisar sangat senang melihat bahwa puisi yang ada merupakan sepasang puisi yang harmonis dan serasi sehingga ia menobatkan pemuda itu sebagai menteri di pengadilan dan mengijinkan pemuda itu untuk mengunjungi kampung halamannya sebelum menduduki posisinya. Pemuda itu menjumpai sang gadis dengan gembira dan memberitahu kepada sang gadis puisi dari kaisar. Tidak lama kemudian mereka menikah.

Untuk pesta perayaan pernikahan, sepasang karakter Tionghoa, bahagia, dipasang bersamaan pada selembar kertas merah dan ditempel di dinding untuk menunjukkan kebahagiaan dari dua kejadian yang bersamaan, pernikahan dan pengangkatan sang pemuda.

Sejak saat itu, tulisan “Sung Hie” yang berarti Kebahagiaan Ganda menjadi sebuah tradisi yang dilakukan pada setiap pesta pernikahan.Perkembangan acara pernikahan orang Tionghoa di Indonesia

Pernikahan orang Tionghoa dimasa sekarang, sudah mengikuti konsep budaya barat, dimana untuk pasangan pengantin tidak wajib lagi dalam memakai baju/gaun berwarna merah.

Di Indonesia sendiri, pernikahan yang berlangsung antara orang Tionghoa dengan orang pribumi (kawin campur) atau pun sesama orang Tionghoa pada umumnya sudah mengikuti konsep budaya luar. Dalam pernikahan, pemakaian baju merah-merah untuk pengantin laki-laki dan gaun untuk pengantin perempuan sudah tidak diwajibkan lagi. Gaun/tata busana sudah menyesuaikan dengan budaya saat ini, yang lebih dominan berwarna putih-putih mengikuti corak pernikahan barat-universal. Adapun pemakaian gaun berwarna merah sekarang hanya dipakai oleh saudara perempuan yang belum menikah (baik dari mempelai laki-laki atau perempuan) saja sebagai pendamping, sebagai tanda turut berbahagia, sementara untuk saudara laki-laki (baik dari mempelai laki-laki atau perempuan) biasanya memakai jas hitam.

Sumber Referensi (story) : http://www.tionghoa.com

The following two tabs change content below.
Tertarik dengan tradisi & budaya Tionghoa di Indonesia. Ikuti Twitter @tionghoainfo untuk info-info terbaru.

8 Responses to Tradisi Pernikahan Tionghoa

  1. Noviany says:

    Kebetulan saya sempat tinggal di China selama 1 tahun, dan informasi yang saya dapatkan setelah bertukar pikiran dengan berbagai kebudayaan tionghoa di Indonesia dengan budaya asli di China, bisa di katakan tidak ada perbedaan. hanya saja saat pernikahan yang saya dapatkan informasinya adalah di atas tempat tidur pengantin baru di berikan kacang kulit dan buah longan yg kering, mengapa? karena kacang kulit memiliki 2 isi yang artinya berharap agar pengantin baru ini dapat segara memiliki momongan, dan untuk longan kering ini berarti berharap pasangan baru ini dapat selalu maniss untuk selamanya.

  2. viechu says:

    Thanks buat artikelnya membuat pembaca lbh mengerti adat pernikahan tiong hoa.

    Saran saya, artikelnya di perlgkp lagi
    krna saya masih penasaran dgn adat tionghoa ini. Dr pglaman sya, byk sekali perbedaan adat tionghoa(khususnya di kalimantan barat)

    1.Saya ingin bertanya mengenai tata cara dan makna ttg khoi mien mo (bhasa khek) atau klo d artikan versi saya adlh tradisi membersihkn wajah mempelai wanita.

    2.Mengenai pelgkpn yg biasanya d siapkn wanita atau dlm bhasa kheknya adlah ka chong. Mislnya baskom,nampan,perlgkpn mandi,lampu minyak, dan msh byk lagi. (Biasanya brg2 ini d bawa plg oleh calon mempelai pria sesudah acara tunangan untuk d letakkn d kamar pengantin) Saya bgg sbnrnya ap saja yg di perlukan d an bagaimana aturannya ? Dan bnrkah ada pembagian dlm pembelian brg trsbt ?klo bnr ada bagaimana pembagiannya ? Jjr saja sya sbgai org tionghoa msh kurg paham dgn tata cara pernikahan tionghoa khususnya d kalimantan barat.

    Maaf pertanyaannya byk
    Tp menurut saya ini sgt perlu
    spaya msyarkt etnis tionghoa mengerti dan bs menjaga adat istiadat ini.

    Di tunggu penjelasannya.
    thanks

    • Herman Tan says:

      Halo vie chu,
      Untuk saat ini kita tidak memiliki referensi mengenai pernikahan adat Hakka.Tiongkok memiliki beberapa suku bangsa besar, dan masing-masing memiliki cara pernikahanan yang berbeda-beda. Apalagi begitu masuk Indonesia, sedikit banyak pasti terpengaruh dengan budaya dan adat lokal. Adapun yang dikemukakan pada artikel diatas adalah pernikahan Tionghoa secara umum di Indonesia.

      Demikian info

  3. Saya pribadi menyayangkan pernikahan adat Tionghoa makin jarang ditemui. Dulu, waktu saya masih kecil, sering melihat pernikahan adat yang dinikahkan oleh penghulu (Phan Long, kalau gak salah dalam dialek Hakka, CMIIW).

    Sekarang, Kristen atau pun non-Kristen, pernikahan hampir selalu ala barat dengan gaun putih. Sedikit membosankan karena jadi seragam.

    Kalau ada yang mau menikah secara adat Tionghoa, undang gue dong, walaupun bukan saudara. Saya beri angpau gede (tapi aku boleh dokumentasi ya…, hehe…)

    • Herman Tan says:

      Jangankan anda pak Oni Suryaman, saya juga ingin mencari foto pernikahan adat Tionghoa dimana wajah mempelai wanita ditutupi kain merah dan di dada mempelai pria di gantung kain yang berbentuk motif bunga merah besar. Jika anda dapatkan hal ini (di zaman sekarang rasanya sudah jarang), sudilah anda untuk berbagi lewat blog ini :)

  4. Zhang says:

    Mantap artikelnya bos.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *