Tridharma Masa Kini

Tampak salah satu umat sedang memasang hio dalam kelenteng

Tridharma sebagai satu organ kesatuan hanya ada di Indonesia. Tridharma tidak pernah mempunyai hubungan ke negara lain. Tridharma lahir karena dahsyatnya misi-misi Agama Nasrani yang berorientasi menyedot Umat Buddha keturunan Tionghoa pada akhir abad 19.

Kwee Tek Hoay mendirikan Sam Kauw Hwee setelah Tiong Hoa Hwee Koan gagal memelihara dan mengembangkan ajaran Khong Hu Cu dan Beliau menganggap Khong Kauw Hwee yang didirikan di Solo pada tahun 1918 dan di kota-kota lain kurang memasyarakat atau kurang memberikan harapan.

Ong Kie Tjay membentuk Tempat Ibadat Tri Dharma (TITD) karena klenteng-klenteng di Jawa Timur terancam punah sebagai akibat dari persepsi yang kurang lengkap dari Penguasa Perang Daerah terhadap klenteng yang dianggapnya sebagai Lembaga Kecinaan yang non agama pasca G30S/PKI tahun 1965. Tahun 1954 lahir di Bogor Persatuan Pemuda Pemudi Sam Kauw Indonesia (P3SKI) yang kini menjadi Pemuda Tridharma Indonesia. Salah satu pendirinya adalah Souw Tjiang Poh atau lebih dikenal dengan nama Yogamurti bermukim di Bandung.

Istilah Tridharma (3 agama) adalah nama baru dari Sam Kauw (dari bhs. Hokkian: Sam = tiga, Kauw = agama, maklum nama yang berbau Cina harus ganti nama). Sam Kauw Hwee didirikan pada Mei 1934 oleh Kwee Tek Hoay, dengan tujuan untuk membendung Kristenisasi pada orang-orang Tionghoa. Karena perubahan agama (menjadi Kristen) dianggap sebagai penolakan unsur kebudayaan Tionghoa oleh orang Tionghoa sendiri. Dalam pandangan Sam Kauw Hwee, tiga agama ini dapat disebut sebagai agama Tionghoa.

“Itoe Sam Kauw aken mendjadi satoe philosofie agama jang paling lengkep dan memberi faedah besar bagi manoesia, teroetama bangsa Tionghoa jang leloehoernja soedah kenal itoe tiga peladjaran sadari riboean taon laloe”. (tulisan Kwee Tek Hoay di Sam Kauw Gwat Po edisi Feb 1939).

Konsep Tridharma/SamKauw/Sanjiao/Tiga Agama bukan hanya ada di Indonesia, tetapi sudah berakar mulai abad ke-12 di Tiongkok. Ditambah dengan sifat bangsa Tionghoa yang suka mencampur adukkan ajaran agama (sinkretisme) yang ada. Banyak bagian kebudayaan Tionghoa yang sudah tercampur-baur dengan unsur dari ketiga agama ini.

Tridharma (Hanzi: 三教, hanyu pinyin: sanjiao) adalah sebuah kepercayaan yang tidak dapat digolongkan ke dalam agama apapun. Tridharma disebut Samkau dalam dialek Hokkian, berarti harfiah tiga ajaran. Tiga ajaran yang dimaksud adalah Taoisme, Buddhisme dan Konfusianisme.

Loading...

Tridharma lebih tepat disebut sebagai salah satu bentuk kepercayaan tradisional masyarakat Tionghoa sebagai hasil dari sinkretisme ketiga filsafat yang mempengaruhi kebudayaan Tionghoa dan sejarah Tiongkok sejak 2500 tahun lalu. Karena agama resmi yang diakui oleh pemerintah Indonesia hanya lima, maka umat Tridharma di Indonesia dikelompokkan dalam lingkup agama Buddha, namun hal ini sebenarnya keliru. (Dari arsip forum STC; Wikipedia.org)

Berdasarkan kutipan diatas, sudah tentu arti dari Tridharma tidaklah boleh di pelesetkan, berubah menjadi sebuah agama yang baru. Sebagai generasi muda saya merasa terpanggil untuk membantu teman-teman segenerasi, yang masih tidak mengerti akan arti Tridharma yang sesungguhnya.

Kutipan diatas berdasarkan sejarah apa adanya, menunjukkan jelas bahwa Tridharma dibentuk untuk membendung kristenisasi yang dilakukan para penginjil barat pada masa penjajahan Belanda dulu. Karena, dengan kesatuan umat “tiga agama” dianggap cukup kuat dalam membendung upaya kristenisasi tersebut.

Pun sesudah kemerdekaan, tepatnya pada zaman orde baru, yakni saat rezim Presiden Soeharto berkuasa, G30S/PKI 1965 dijadikan alasan untuk menutup dan mengekang semua kegiatan yang berbau “cina” (Tionghoa).

Alhasil, semua kelenteng dipaksa untuk merubah namanya menjadi Vihara, dan otomatis harus menyelamatkan diri dengan bernaung dibawah majelis Buddha. Karena kalau tidak, akibatnya fatal, yaitu kelenteng tersebut (yang menolak) akan dibongkar pemerintah.

Sebagai wujud bahwa sebuah kelenteng telah “berubah” menjadi Vihara, maka dimasukkanlah ornamen-ornamen agama Budha sendiri kedalam kelenteng. Meski begitu peran Tridharma tidak dapat dianggap sebelah mata, karena paling tidak dapat menyelamatkan ribuan aset kelenteng yang ada ditanah air ini.

Namun, seiring berjalannya waktu, tepatnya pada akhir rezim orde baru pada tahun 1998, orde reformasi pun mengganti. Pemerintah yang saat itu dipegang Presiden Abdulrahman Wahid mulai melegalkan budaya etnis china (Tionghoa) ini. Pun dikuatkan oleh Presiden sesudahnya Megawati Soekarno Puteri yang melegalkan agama Kong Hu Cu ditandai dengan membuat hari libur IMLEK sebagai hari libur nasional. Hasilnya, budaya etnis tionghoa pun berkembang ditanah air.

Berakhirnya kekuasaan orde baru membawa angin segar bagi masyarakat indonesia. Reformasi politik yang didesakkan dan diusung oleh para mahasiswa menuntut adanya kebebasan, baik dalam bersuara maupun berpolitik, termasuk dalam memilih dan melaksanakan ajaran agama. Dalam hal ini, orang-orang keturunan  Tionghoa yang dulu beragama Khonghucu, tetapi kemudian dipaksa mmemeluk agama lain pada masa orde baru, kembali menuntut kebebasan dan pengakuan Khonghucu sebagai agama

Tuntutan tersebut akhirnya dikabulkan pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 (17 Januari 2000) untuk mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 dan menyatakan bahwa “penyelenggaraan kegiatan keagamaan, kepercayaan, dan adat istiadat Tionghoa dilaksanakan tanpa memerlukan izin khusus sebagaimana berlangsung selama ini”.

Selanjutnya, Keputusan presiden Nomor 19 Tahun 2000 (9 April 2000) yang ditandatangani Presiden Megawati Soekarnoputri menyatakan bahwa “hari Tahun Baru Imlek sebagai hari nasional”. Disini saya kira menarik untuk dikaji lebih lanjut tentang bagaimana dampak dua keputusan presiden tersebut terhadap eksistensi agama Buddha di Indonesia, terutama menyangkut perubahan populasi umat Buddha. (Setelah Air Mata Kering : Masyarakat Tionghoa Pasca Mei 1998 hal.126)

Loading...

Akhirnya, saking berkembangnya kebebasan itu, kini mulai terasa perpecahan lagi di komunitas Tionghoa, khususnya dalam soal agama. Banyak yang sudah merasa kalau Tridharma sudah layak dibubarkan, ditandai dengan berdirinya agama Kong Hu Cu ditanah air.

Demikian pun halnya dengan agama Buddha yang sudah sejak lama memiliki majelis sendiri. Kini, tersisa agama Tao yang masih belum disahkan menjadi suatu agama.Padahal dibeberapa negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, agama Tao resmi diakui sebagai suatu agama dalam negaranya.

Tapi istilah Tridharma sendiri sudah sangat mendarah daging bagi kaum tionghoa. Hasilnya, tiga agama terbaur menjadi satu. Meski agama Tao (pemuja dewa-dewi) lebih mendominasi, tapi banyak juga yang sudah tercampur ke dalam pemahaman Budhisme, seperti kitab suci, keng (nyanyian), dsb.

Padahal, sangatlah tidak etis jika harus mencampur ke tiga ajaran yang mulia tersebut. Hasilnya, banyak anak muda sekarang yang terluntang-lantung tidak mengetahui apa agama mereka yang sebenarnya. Misalnya jika ditanyai teman sebaya mereka, kebanyakan tidak tahu harus menjawab apa, karena jika di jawab “saya beragama Budha” sedangkan mereka menyembah dewa/i (kelenteng).

Pada umumnya generasi muda sekarang ini sudah sangat terdokrinisasi dengan ajaran Tridharma ini. Mereka menganggap bahwa Tridharma memang benar adalah suatu agama. Dalam perkembangannya, Tridharma sendiri lebih banyak eksis di kelenteng, tetapi sudah agak keluar lintasan, seperti adanya pengajaran membaca “dhamapada” atau kitab suci umat Budha Theravada.

Sebaiknya jika ingin memang benar-benar ingin belajar agama Budha, pergilah ke Vihara. Disana anda akan lebih mendalami ajarannya. Paling tidak fungsi kelenteng adalah sebagai pengarah saja, dengan memberi gambaran umum seputar tiga agama dan tetap berpegang pada prinsip Tao, yakni menyembah dewa/i.

Kesimpulan yang dapat diambil adalah Tridharma, kalaupun memang masih diperlukan, jadilah yang baik. Ajarlah kebenaran, bukan kesesatan. Kegiatan yang dilakukan pun hanya sebatas sembahyang bersama (pemujaan dewa/i, maupun altar Sam Khaw sendiri).

Paling tidak akan terpelihara ikatan kebersamaan yang sudah terjalin selama ini antar sesama orang Tionghoa. Begitu pun dalam hal pengajaran agama, apabila di kelenteng Tridharma tersebut ada pengajaran atau sekolah minggu, ajarlah sesuai inti ajaran masing-masing (bisa secara bergiliran).

Agama Budha diajar Dhamma, agama Kong Hu Cu diajar keteladan ajaran nabi Kong Cu, dan agama Tao diajar ilmu kedewaan untuk mencapai manusia yang sempurna yang bersumber pada kitab suci Dao De Jing (nabi Lao Zi). Jangan ajarkan pembauran tiga agama, karena walau bagaimanapun, beberapa dokrin mendasar dalam ketiga agama ini jelas berbeda, salah satunya seperti dalam konsep kematian/reinkarnasi.

Loading...

The following two tabs change content below.
Tertarik dengan tradisi & budaya Tionghoa di Indonesia. Ikuti Twitter @tionghoainfo untuk info-info terbaru.

2 Responses to Tridharma Masa Kini

  1. Anonim says:

    Hmmm semakin menarik untuk d perdebatkan tulisan ini 🙂
    selama ini saya membaca tulisan tentang tridharma bnyak yang masih menyamarkan tentang keberadaan tridharma, apakah sebagai sebuah aliran, agama atau hnya sebuah organisasi..
    namun dalam tulisan ini saya menemukan bahwa tridharma hanya sebagai sebuah perhimpunan, bukan agama ataupun aliran agama…
    menurut saya hal ini perlu dikaji ulang, jika berbicara scara subjektif dan berdasarkan apa yang kita amati tentu beragam pemandangan yang akan dihasilkan, dan pastinya tidak akan menemui titik temu.
    untuk itu mari kita lihat dari perspektif keilmuan, apa sih yang dikatakan sebagai agama? apa sih yang dikatakan sebagai aliran?
    semua itu itu ada indikator2 tersendiri, jadi terserah ketika seseorang bilang ini bukan agama, ini bukan aliran, ini bukan itu, dsb. tapi jika dilihat ia sudah memenuhi indikator sebagai agama, maka ia adalah agama, jika hanya sebgai aliran maka ia aliran,, atau yang lainnya.
    ya semoga aja yang akan datang ada yang melakukan riset tentang hal ini,,,
    🙂

    by g4

    Cat : Forward from http://universal.hermantan.com

  2. Kelana says:

    ANGGIE Tjetje pernah membuat disertasi tentang kerancuan nama Tridharma di Indonesia. Menurutnya, tidak pernah ada sebenarnya penyebutan dan pengakuan untuk agama Tridharma. Pemahaman masyarakat Indonesia perihal agama Tridharma ini, menurut Aggie Tjeje adalah sebuah kecelakaan.

    Pasalnya, kata Aggie, di negeri China sesungguhnya tidak pernah ada penggabungan pemahaman itu. Selain Islam dan Kristen, tentunya, ada empat agama lainnya yang diakui di Negeri Tirai Bambu tersebut. Keempat agama itu adalah, Khonghucu, Taoisme, Buddha Mahayana versi China, dan Agama China itu sendiri atau biasa disebut agama rakyat atau volk religi.

    “Agama rakyat ini bersifat anonim, tanpa nama, sama halnya dengan agama Yahudi. Disebut demikian karena sesuai dengan suku bangsa yang menganutnya. Sama halnya dengan Hindu yang berasal dari wilayah hindustan,“ terangnya.

    Menurut Aggie, akibat kecelakaan ini hingga sekarang masih banyak orang beranggapan bahwa tiga agama tadi adalah sama. Padahal, lanjutnya, ketiganya tidak pernah bersatu kecuali menyoal falsafahnya.

    “Umat ketiga agama ini sebenarnya beragama China. Tapi karena kesalahpahaman akhirnya muncul trend orang-orang ke Buddha ayo, ke Khonghucu ayo, dan ke yang lainnya juga ayo. Padahal tidak pernah ada gabungan tiga agama itu. Semuanya muncul 2500 tahun lalu, sementara orang China sudah beragama sejak 7000 tahun lalu,“ paparnya.

    Untuk di Indonesia sendiri, kata Aggie, karena waktu itu hanya Buddha yang diakui, maka orang Tionghoa kebanyakan akhirnya memakai topeng Buddha di KTP, meskipun agama yang dianutnya adalah Taoisme atau Khonghucu.

    “Kini Khonghucu sudah diakui sebagai agama resmi di Indonesia. Tinggal Taoisme yang belum. Semoga saja dalam waktu yang tidak lama lagi status Taoisme sebagai keyakinan dan agama juga bisa menyusul diakui di Indonesia,” harap Aggie. (Alidrian fahwi)

    http://www.indochinatown.com/aggie-tjetje-berharap-taoisme-menjadi-agama-resmi-di-indonesia/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Loading...