Last Updated on 21 July 2019 by Herman Tan

Akhir-akhir ini, sedang populer kata ‘Cuan‘, berkat film yang diangkat dari novel Filosofi Kopi, karya Dewi Lestari. ‘Cuan’ itu apa sih? Cuan artinya untung. Tokoh Utama, Ben dan Jody yang gemar ngomong cuan menjadikan kata ini sangat populer, hingga banyak digunakan di berbagai konten seperti iklan produk atau jasa.

‘Cuan’ tidak melulu soal uang, karena makna sebenarnya adalah hal yang bermanfaat. Prinsipnya, segala sesuatu harus dipertimbangkan, apakah ada manfaatnya atau tidak.

Sebenarnya, banyak sekali kata2 dari bahasa Tionghoa yang sudah akrab dipakai dalam keseharian, yang mungkin kita sendiri tidak sadar bahwa ini sebenarnya dari serapan bahasa Tionghoa. Namun, kata-kata ini tidaklah berasal dari bahasa Mandarin. Tetapi justru dari bahasa (dialek) Hokkian dan Kanton.

Hal ini dikarenakan sebagian besar warga Tionghoa yang tinggal di Indonesia, merupakan penutur dialek bahasa tersebut (berasal dari wilayah Fujian, Guangdong, Tenggara Tiongkok). Karena itulah, pengaruh kata-kata tersebut menjadi kuat, dan diterima sebagai istilah yang dipahami oleh masyarakat lokal.

Bahasa Tionghoa merupakan salah satu pendonor kosa kata bahasa Indonesia. Total ada 10 pendonor terbesar dalam bahasa Indonesia, yakni : Belanda, Jepang, Inggris, Arab, Sansekerta/Jawa Kuno, Tionghoa, Portugis, Tamil, Parsi/Persia, dan Hindi.

Dalam prosesnya, bahasa asli Tionghoa kerap mengalami perubahan dalam proses penyerapan istilah dalam penggunaan keseharian, atau ke bahasa formal masyarakat Indonesia. Misalnya perubahan fonem (bunyi), yang juga mengakibatkan perubahan penulisan dan makna.

Mangkok cap Ayam Jago yang legendaris di tanah alir : Berasal dari Tiongkok

Baca juga : Selain Mandarin, Ini 5 Dialek Bahasa Lainnya Yang Digunakan di Tiongkok
Baca juga : Mangkok Ayam Jago Yang Legendaris : Berawal Dari Kekaisaran Tiongkok

A. Kata2 Sapaan Sehari2 Yang Merupakan Serapan Dari Bahasa Tionghoa

Sapaan untuk orang Tionghoa yang khas terkadang ditiru oleh masyarakat lokal, yang biasanya mereka gunakan untuk menyapa orang yang terlihat seperti keturunan Tionghoa. Alhasil, banyak yang menyapa perempuan dengan sebutan cici, encik, cik, sementara laki-laki dengan sebutan koko, engkoh, koh; terutama di daerah2 Pecinan.

Koko dan cici adalah sapaan khas untuk kakak laki-laki dan perempuan. Ada yang unik terkait dengan kata ‘koko’ ini. Menjelang bulan Ramadhan, mereka yang muslim pasti akrab dengan kata “baju koko“. Ya, seperti dugaan kita, ‘baju koko’ ini merupakan asimilasi budaya Tionghoa.

Menurut Agni Malagina, sinolog dari Universitas Indonesia, orang Tionghoa yang bermigrasi ke Nusantara kebanyakan berasal dari propinsi Fujian. Karena itu serapan bahasa Hokkian banyak sekali dalam bahasa Indonesia, termasuk 2 panggilan kekerabatan diatas.

Menurut budayawan Remy Silado, baju ini sebenarnya adalah baju tui-khim, yang sering dipakai koko-koko/engkoh-engkoh di jaman dulu, dan mulai marak dipakai sebagai baju laki-laki muslim pada tahun 1980-an. Ini menunjukkan bahwa pengaruh Tionghoa cukup kuat di Indonesia.

Koko dan Cici
Koko dan Cici Jakarta 2016 (Foto : liputan6.com)

Baca juga : Daftar Panggilan Kekerabatan Dalam Tradisi Tionghoa (Dialek Hokkian)
Baca juga : Daftar Panggilan Kekerabatan Dalam Tradisi Tionghoa (Dialek Hakka)

Selain koko dan cici, sapaan encang, encing, dan engkong juga pasti akrab di telinga masyarakat Betawi. Sapaan ini juga merupakan serapan dari bahasa Tionghoa, dimana memiliki arti yang sama dengan bahasa Indonesia. Encang artinya Paman, encing artinya bibi, dan engkong artinya kakek.

Mungkin banyak yang tidak tahu, penyebutan ‘Gue’, yang artinya ‘aku’ adalah bahasa serapan Tionghoa juga. Gue, istilah yang sering disebut ‘bahasa gaul’ anak-anak muda Jakarta ini berasal dari kata ‘Gua’, yang dalam bahasa Hokkian berarti saya atau aku.

Begitu juga dengan kata ‘Lu’ yang bermakna kamu. Kata ‘Gue’ dan ‘Lu’ berasal dari dialek bahasa yang digunakan orang Tionghoa di wilayah Fujian, bagian tenggara Tiongkok, dekat Taiwan.

Letak propinsi Fujian, Tiongkok (Foto : chinahighlights.com)

Baca juga : Bangsa Han dan Perantauannya ke Indonesia. Inilah Sejarah Nenek Moyangmu!

B. Kata2 Dalam Kuliner Yang Merupakan Serapan Dari Bahasa Tionghoa

Sudah tidak asing lagi di masyarakat, kalau kuliner Tionghoa memang sudah mendarah daging dan sering dianggap sebagai bagian dari makanan lokal. Kuliner khas Tionghoa memang memiliki rasa yang tidak jauh dari selera masyarakat lokal; meskipun dalam perkembangannya, sebagian orang sini menyukai perubahan dalam kombinasi bumbu dapur.

Ada yang sifatnya agar lebih diterima masyarakat luas, terutama untuk jualan, dan ada yang sifatnya karena selera pribadi. Ada banyak sekali contoh kuliner Tionghoa yang angat populer di masyarakat Indonesia, seperti :

1. Bakpao : Merupakan makanan tradisional ala Tionghoa. Dikenal sebagai bakpao, karena diserap dari bahasa Hokkian yang dituturkan mayoritas orang Tionghoa di Indonesia. Pao itu berarti “bungkusan”, dan bak itu artinya “daging”, jadi bakpao berarti “bungkusan yang berisi daging”.

2. Mie : Adalah adonan tipis dan panjang, yang telah digulung, dikeringkan, serta dimasak dalam air mendidih. Perbedaan bentuk mie terjadi karena campuran bahan, jenis tepung sebagai bahan baku, serta teknik pengolahan.

3. Kwetiau : Adalah sejenis mie Tionghoa berwarna putih, yang terbuat dari beras. Dapat digoreng ataupun dimasak kuah. Kwetiau merupakan makanan yang cukup populer di Indonesia, terutama di daerah2 yang banyak didiami oleh warga keturunan.

4. Bihun : Merupakan nama salah satu jenis makanan dari Tiongkok, bentuknya seperti mie, namun lebih tipis dan halus. Bihun berasal dari bahasa Tionghoa, yaitu “Bi” artinya beras, dan “Hun” artinya tepung. Bahan baku bihun sendiri terbuat dari tepung beras.

5. Bakmi : Adalah salah satu jenis olahan mie yang awalnya dibawa oleh pedagang2 Tiongkok ke Indonesia. Bakmi juga sering disebut yamien, atau yahun. Kini bakmi telah diadaptasi dengan menggunakan bumbu2 Indonesia. Bakmi yang paling umum adalah yang terbuat dari tepung terigu, atau bakmi kuning.

Tahukah kamu, makanan Cahkwe ini punya sejarah yang berhubungan dengan Jenderal Yue Fei. Jangan taunya hanya makan saja!

Baca juga : Sejarah Cakwe : Jenderal Yue Fei DIFITNAH Pejabat Qin Hui

6. Cahkwe : Di Indonesia, cahkwe dijual di toko kue, atau dijajakan oleh pedagang di pasar. Cara penyajiannya pun beragam, seperti di daerah Solo, Jawa Tengah, penyajiannya disertai susu kedelai. Sedangkan di daerah lain, Cakhwe disajikan dengan sambal asam cair. Sementara di Tiongkok, Cakhwe sendiri disantap dengan cara mencelupkannya ke dalam bubur panas, atau dimakan bersama susu kedelai.

7. Siomai : Merupakan salah satu jenis dimsum ala Hongkong. Kulit siomai serupa dengan kulit pangsit yang terbuat dari tepung terigu. Dalam masakan Indonesia, terdapat berbagai jenis variasi siomai berdasarkan daging isian, mulai dari daging babi, ikan tenggiri, ayam, udang, kepiting, ataupun kombinasi. Setelah dimatangkan dengan cara dikukus, siomai disantap dengan cuka atau kecap asin.

8. Lumpia : Terbuat dari tepung gandum yang dijadikan lembaran kulit, lalu digunakan sebagai pembungkus isian, yang biasanya terdiri atas rebung, telur orak-arik, sayuran segar, pasta kacang, dan sedikit daging. Di Indonesia, lumpia dikenal sebagai makanan khas Semarang, dengan cara pengolahan dan bahan2 yang telah disesuaikan dengan tradisi lokal.

9. Bakso : Adalah sejenis “bola daging” (meat ball) yang paling lazim dalam masakan Indonesia. Bakso pada umumnya dibuat dari campuran daging sapi giling dan tepung tapioka. Kini, isian bakso begitu beragam, mulai dari dari daging ayam, ikan, udang, hingga ke bakso isian buah. Berbagai jenis bakso sekarang banyak ditawarkan dalam bentuk makanan beku, yang dijual di pasar swalayan.

10. Cap cay : Menu sajian sayur khas Tionghoa yang paling terkenal di Indonesia! Capcay berasal dari dialek Hokkian, yang secara harafiah berarti “10 macam sayur”. Jumlah sayuran tidak mengikat, namun banyak yang mengira bahwa capcay harus berisi 10 macam sayuran.

Kurang? Masih banyak lagi kata serapan dalam kuliner, seperti bakwan, bakpia, cincau, kuaci, fuyunghai, dan sebagainya.

Baca juga : Kuliner Khas Tionghoa

C. Kata2 Dalam Keuangan Yang Merupakan Serapan Dari Bahasa Tionghoa

Di pasar, atau di tempat-tempat terjadinya transaksi jual-beli, tentu saja tidak luput dari pengaruh Tionghoa. Sudah secara umum diketahui bahwa kebanyakan warga Tionghoa adalah pedagang dan pebisnis. Pada perkembangannya, memang banyak juga warga Tionghoa yang berprofesi lain, seperti pegawai dan guru; namun profesi pedagang & pebisnislah yang paling melekat dengan citra warga Tionghoa.

Pasar, merupakan tempat bertemunya antara penjual dan pembeli.

Karena itu, istilah dalam dunia keuangan juga banyak menggunakan bahasa Tionghoa. Cepek (seratus), gopek (lima ratus), goceng (lima ribu), adalah beberapa kata serapan dari bahasa Hokkian yang sering dipakai saat transaksi jual beli. Karena angka-angka ini sering muncul dalam harga, maka kita akrab mendengarnya.

Jangan khawatir, mengenalinya cukup mudah. Dalam waktu singkat, Anda akan bisa menawar harga dengan lancar dalam bahasa Hokkian. Yang pertama adalah mengetahui cara penyebutan nominal puluhan, ratusan, ribuan, dan jutaan :

• Puluhan : Ban
• Ratusan : Pek
• Ribuan : Ceng
• Jutaan : Tiau/Tiaw

Selanjutnya, kenali angkanya :

1 = It/Ce (Penggunaan ‘Ce’ khusus untuk ratusan, ribuan, puluhan ribu, jutaan)
2 = Ji/No (Penggunaan ‘No’ khusus untuk ratusan, ribuan, puluhan ribu, jutaan)
3 = Sa
4 = Si
5 = Go
6 = Lak
7 = Cit
8 = Pek
9 = Kau/Kaw
10= Cap

Baca lebih detail : Tahukah Pembaca Arti Kata Gocap, Cepek, Gopek, Seceng, Noceng, Goceng, Ceban, Goban, Cepek Ceng, Cetiao, Gotiao?

Setelah itu, tinggal gabungkan saja angkanya, contohnya :

50.000 : Go Ban Ceng (tapi kata ‘ceng’, atau ribu, sering ditinggalkan, karena dengan mengatakan goban, orang sudah paham bahwa maksudnya 50.000 rupiah, bukan 50 rupiah).

100.000 : Cepek Ceng.

125,000 : Cepek Noban Go Ceng (lagi-lagi, kata ‘ceng’ boleh dihilangkan, selama lawan bicara paham).

Mudah bukan? Penyusunannya pun mirip dengan tata bahasa Indonesia, dan tidak sulit untuk mengadaptasinya dalam percakapan sehari-hari.

D. Kata2 Benda Yang Merupakan Serapan Dari Bahasa Tionghoa

Selain kata sapaan keseharian, kuliner, dan uang, banyak juga kata benda serapan dari bahasa Tionghoa, yang diadaptasi oleh masyarakat Indonesia. Berikut beberapa kata benda serapan bahasa Tionghoa :

1. Becak : Dari kata ‘bah’ dan ‘chia’, yang mengalami perubahan fonem dari ‘bahchia’ menjadi becak. Juga terdapat perubahan makna, dari kereta kuda ke alat transportasi beroda 3, seperti yang kita kenal sekarang.
2. Loak : Dari kata ‘Loa’ yang sebenarnya bermakna ‘keranjang anyaman’, yang bergeser makna menjadi ‘barang bekas’.

Pecinan Surabaya
Kya-kya, kawasan Pecinan di Surabaya (Foto : lifestyle.okezone.com)

3. Gincu : Meskipun sudah tidak terlalu populer, kita masih memahami maknanya, yakni pewarna bibir. Saat ini, istilah yang lebih sering dipakai adalah lipstik, yang merupakan serapan dari bahasa Inggris.
4. Kongsi : Bermakna menjalin kerjasama, Berasal dari kata yang bermakna sama, yakni ‘kongsi’.
5. Loteng : Maknanya adalah ruangan dalam rumah ditingkat atas.

6. Giwang : Atau disebut juga anting-anting. Perhiasan yang biasa dipakai sebagai hiasan ditelinga.
7. Lonceng : Benda yang menghasilkan bunyi nyaring, berbentuk mirip tabung.
8. Taifun/Taipun : Artinya angin ribut yang muncul di daerah tropis, bersifat merusak.
9. Pisau : Berasal dari kata 匕首 (bi shou). Memiliki makna yang sama, yakni benda tajam untuk memotong sesuatu.

Baca juga : Dialek Minnan dan Kanton

E. Kata2 Istilah Lainnya

Masih banyak lagi kata2 istilah yang diadaptasi dari bahasa Tionghoa, seperti banyak cingcong (cerewet), dan cingcai/cincay (sudahlah), kate (pendek), dan bopeng (luka wajah yg berbekas).

Contohnya jika ada orang yang bersengketa, sering dinasihati dengan kata2 “cingcailah”. Makna sebenarnya adalah toleransi atau pemakluman. Namun dapat diperluas lagi, misalnya dalam perdagangan, kata “cincay” biasa dipakai untuk meminta potongan harga; karena bisa dimaknai sebagai pemakluman atas keadaan orang lain, sehingga penjual mau berbaik hati.

Cincay juga bisa bermakna sifat, seperti sederhana, dermawan, dan tidak pelit. Misalnya, “Dia orangnya cincay kok”.

Selain itu, ada pula kata ‘kongkalikong‘, yang sebenarnya bermakna sama dengan kongsi, yakni bekerjasama. Namun dalam penggunaannya, ‘kongkalikong’ bermakna negatif; berarti kerjasama yang dilakukan dalam niatan buruk.

Kata lainnya adalah ‘cengli‘. Sebenarnya maknanya adalah ‘adil’.Contohnya : “Jangan khawatir, dia cengli kok”, atau “Cenglinya dimana?”

Di sini, kata ‘cengli’ juga bermakna integritas,dapat dipercaya, dan masuk diakal. Tidak menutup cakupan pada manusia saja, tapi untuk semua hal, bisa tentang sumber informasi, bisnis, atau hal-hal lainnya. Lalu ada kata ‘bohwat‘, yang artinya pasrah atau menyerah.

Baca juga : 9 Hal Yang Cuma Dimengerti Orang Tionghoa di Indonesia

Bahasa Sebagai Simbol Budaya

Dengan adanya asimilasi bahasa Tionghoa ini, merupakan bukti bahwa masyarakat Indonesia memiliki jiwa toleransi untuk budaya lain yang masuk, dan bisa menerima perbedaan. Menurut ahli sejarawan, nenek moyang bangsa Indonesia sendiri berasal dari Yunan (wilayah Tiongkok Selatan), sehingga banyak budaya dan filosofi yang dapat diterima, karena memiliki akar yang sama.

By Nabilla Khudori

Saya seorang Head of Business Development di sebuah startup. Dengan menulis, saya dapat belajar dan berbagi pengalaman dengan khalayak. Memahami budaya Tionghoa menarik bagi saya yang lahir dan besar di lingkungan yang plural. Hal ini juga menjadikan saya memiliki banyak referensi mengenai budaya dan adat Tionghoa. Meskipun begitu, saya merasa masih harus belajar lebih untuk memahami budaya Tionghoa itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: eitss, mau apa nih?