Last Updated on 10 March 2021 by Herman Tan

Karma Menjadi Pasangan Suami – Istri; 无债不来, 無緣不緊 (Wu zhai bu lai, wuyuan bu jin)!

Mengapa seorang istri lebih banyak mengeluh? Karena pada saat dia dinikahkan ke calon suaminya, maka detik itu juga seorang istri telah menyerahkan seluruh jiwa raga ke suaminya.

Seorang istri bisa menikah dengan suami yang bagaimana, itu sudah merupakan takdirmu. Orang yang kita temui hari ini, semuanya sudah digariskan oleh takdir; adalah benih yang kita tanam di kehidupan lampau! Karena itu hari ini baru bisa memetik hasil yang demikian.

Ada sebab, ada akibat, tanpa jodoh tidak mungkin berkumpul. Kehidupan lalu berhutang kepadanya, kehidupan sekarang baru bisa menikah dengannya …

Mulai hari ini, janganlah membencinya lagi, karena di kehidupan lampau dia adalah hutangmu, jadi di kehidupan sekarang kamu harus menanggungnya …

Re-upload from : Dhamma kehidupan
Note : (tontonan wajib bagi keluarga muda!)

Tiada hutang tiada tagihan, tanpa jodoh tak mungkin berkumpul. Kebanyakan perempuan membenci suaminya, jarang yang tidak.

Mengapa seorang istri lebih banyak mengeluh? Karena pada saat dia dinikahkan ke calon suaminya, maka detik itu juga sang istri telah menyerahkan seluruh jiwa raga ke suaminya.

Setelah menikah, tugasnya adalah mencintai keluarga, mencintai suami dan anak-anaknya. Bersusah-payah demi keluarga. Tapi diakhir cerita, sang suami tidak pernah bertutur kata yang baik!

Ada suami yang seumur hidupnya tidak pernah bertutur kata yang baik. Tidak pernah berkata : “Istriku, maaf ya, telah merepotkanmu!”

Bahkan ada sang istri yang sudah sibuk bekerja seharian, berpikir ingin bermanja-manjaan dengan mendengar kata-kata yang menghibur hati dari sang suami. dan berkata ke suami : “hai ya, suamiku.. hari ini aku kerja begitu keras, capek sekali!”

Lalu apa reaksi dari sang suami? Suaranya bak halilintar yang menggelegar. “Siapa yang tidak kerja? Demi hidup, kamu capek, orang lain tidak capek?!”

1 kalimat saja sudah bisa membuat sang istri menangis pilu, merasa tersakiti yang amat sangat, Sampai di dalam kamar pun masih terus menangis dengan pilunya.

Dalam hati berpikir : “benar-benar makan hati! hiks! Kenapa bisa dapat orang yang gak punya perasaan, tak pernah bicara lembut! Awalnya kepingin dihibur, kalau gak dapat ya gak apa-apa! Malahan harus terima amarahnya!

Sang istri yang di rumah pasti sedih dan tersiksa.

Wahai sang istri! Pahamilah setelah mempelajari kebenaran ini. Kebenaran yang bagaimana?

Wahai sang istri, Anda berhutang terlalu banyak dengannya di kehidupan lampau, sehingga hari ini baru bisa menikah dengannya!

Sewaktu Anda menikah dengan hari ini dengan si A atau dengan si B, kenapa Anda tidak terpikir untuk menikah dengan si C? Karena Anda berhutang karma ke dia. Oleh karena itu, tiada hutang, tiada tagihan, tak ada jodoh tak mungkin ketemu!

Ada yang berkata : “Aku tidak berhutang karma ke suamiku, dia sangat baik terhadap aku”. Perhatikan bahwa : Yang jadi suami pun bisa berhutang karma ke istrinya. Sebab tanpa ikatan tali jodoh, tidak mungkin terbentuk sebuah keluarga.

Bagaimana melunasi utang karma? Ada istri yang memarahi suaminya : “Kenapa aku bisa menikah dengan manusia yang tidak berguna seperti kamu, apapun semua tidak bisa!”

Selalu menghina suaminya di depan tetangga, dan teman-teman sekelasnya. Bahwasannya, suaminya sangat tidak berguna, semua hal akulah yang pergi menyelesaikannya. Benar-benar capek hidupku!

Seandainya hari ini Anda menikah dengan seorang bagong, itu dikarenakan di kehidupan lalu, dia membantumu terlalu banyak! Oleh karena itu, hari ini Anda harus mengembalikannya (utang budi) kembali!

Ini bukan karena nasib Anda yang malang, melainkan benih yang Anda tanam pada kehidupan lalu, di kehidupan ini telah berbuah! Anda sendiri yang menanam benih-benih karma di kehidupan lampau, maka di kehidupan sekarang Anda harus menanggungnya.

Nabi Kongcu bersabda : “Terimalah dan tunaikanlah. Terima maka selesailah!”. Baru bisa menyelesaikan hukum karma ini.

Setelah Anda sampai di rumah, terimalah dengan hati dan pikiran yang tenang. Mulai hari ini, janganlah membencinya lagi, karena Dia itu di kehidupan lampau adalah dosa hutang karmamu, jadi di kehidupan sekaranglah Anda harus menanggungnya.

Setelah Anda mengerti hukum sebab akibat, masih bisakah menyalahi orang lain? Seorang istri bisa menikah dengan suami yang bagaimana, itu sudah merupakan takdirnya …

Orang2 yang kita temui hari ini, semuanya sudah digariskan oleh takdir, yang adalah benih yang kita tanam pada kehidupan lampau, sehingga hari ini baru bisa memetik hasil yang demikian.

Ikhlaskanlah, karena tak ada sebab, tak ada akibat. Tanpa jodoh, tak mungkin berkumpul. Kehidupan lalu berhutang kepadanya, di kehidupan sekarang baru bisa menikah dengannya.

Katakanlah suamimu sangat baik, lalu Anda bilang Anda tidak berhutang kepadanya, Tetapi Anda bisa saja berhutang pada ibu mertuamu.

Di kehidupan sekarang, menantu dan mertua selalu hidup tidak akur (apalagi jika tinggal serumah), ini semuanya adalah ikatan jodoh batil di kehidupan lampau. Maka sekarang baru bisa ketemu lagi.

Ada sang mertua yang menggerutu : “Aku telah habiskan begitu banyak uang ke anakku demi menikahi dia, tapi akhirnya, dia begitu jahat kepadaku. Benar-benar makan hati … malang sekali nasibku!”

Sebenarnya bukan malang, tnamun uang yang Anda habiskan itu digunakan untuk mengundang musuh lampaumu untuk tinggal bersamamu! Bukan sial atau malang, jikalau kamu dan dia tidak ada ikatan jodoh masa lampau, maka tak mungkin bisa jadi menantumu.

Bukanlah dia yang meresahkanmu, melainkan kamulah yang sudah menanam bibit tersebut! Maka hari ini baru bisa memetik buahnya.

Tak ada hutang, tak mungkin ditagih; tak ada dendam, tak mungkin berkumpul!

Mengapa ada keluarga yang sangat rukun, harmonis, saling menghormati? Karena mereka semuanya adalah jodoh baik! Mereka juga sedang melunasi ikatan sebab jodoh baik.

Melunasi hutang karma dengan ikhlas dan tidak membuat dosa baru. Hari ini, Anda harus memahami hukum sebab akibat dengan jelas, sampai dirumah jangan lagi kecewa, karena bertemu dengan siapapun adalah sebab jodoh.

Ikhlaskanlah, rendahkan hatimu, turunlah dari tempat yang tinggi. Sebagai seorang istri, Anda jangan merasa minder, tetap rendah hati, juga jangan menjadi manusia galak 🙂

Harus dipahami, karena ada hutang karma ke dia, hari ini baru bisa menikah dengannya. Jadi janganlah ngoceh tidak karuan, sudah bertahun-tahun hidup dengannya, Anda seharusnya tahu jelas sifat suamimu.

Bahkan anak-anakmu sangat tersiksa dengan temperamenmu yang mengerikan. Gara-gara temperamenmu yang membara, mereka sangat tersiksa juga.

Setiap ketemu, langsung marah-marah, komplain ini itu! Mereka juga tidak pernah merasakan kehangatan seorang ibu, dan Anda sendiri juga tidak bahagia.

Hari ini, sudah saatnya sadar, orang2 yang ada disekitar kita, ada yang datang untuk menagih hutang, membayar hutang, membalas budi dan membalas dendam, Semuanya adalah orang2 yang berjodoh dengan kita di kehidupan ini!

Ada anak yang sejak kecil sakit melulu, sampai bisnis Anda bangkrut, atau seorang yang pembangkang suka memukul dan melawan orang tua.

Anak yang demikian adalah anak yang datang untuk menagih hutang, karena di kehidupan lampau Anda terlampau berhutang nyawa dengannya!

Jikalau di kehidupan lampau, Anda menipu harta benda orang, maka di kehidupan ini mereka terlahir sebagai anak Anda yang datang untuk menagih hutang.

Ada anak yang suka sakit semasa kecil, sampai keuangan rumah tangga pun habis untuk pergi berobat. Tapi setelah dewasa malah gak tahu berbakti pada orang tua lagi.

Terhadap anak yang demikian, jangan menyimpan dendam dan membencinya. Anak yang demikian cuma bisa dilayani dengan cinta kasih, karena Anda berhutang terlalu banyak padanya di kehidupan lampau.

Janganlah naik pitam, karena karma masa lampaumu belum selesai. Kalau tidak, Anda akan terus menerus membuat karma baru.

Jika Anda tidak berniat untuk membayar hutang karmamu di kehidupan ini, maka di kehidupan yang akan datang, hutang berlipat ganda, dan Anda akan dipaksa untuk melunasi hutang karma tersebut.

Sadarlah! Kebencian tidak bisa menyelesaikan masalah. Perlakukan semua orang dengan kasih, karena mereka datang untuk menyelesaikan sebab jodoh masing-masing.

Buddha bersabda : “Semua makhluk hidup adalah sama”. Suamimu bukanlah sebuah properti pribadi.

Dikarenakan dia ada ikatan jodoh denganmu di kehidupan lalu, maka di kehidupan sekarang dia datang untuk menyelesaikan sebab jodoh tersebut.

Anak juga bukanlah sebuah properti pribadi, mereka juga umat manusia, cuma saja mereka ada saling hutang denganmu.

Ada yang datang untuk membayar hutang karma, ada juga yang datang untuk menagih hutang. Semuanya tidak lepas dari ikatan sebab jodoh.

Anda harus benar-benar memahami inti dari Dharma ini, dengan demikian baru bisa terbuka kebijaksanaanmu. Hatimu baru bisa tidak tercekat oleh suami dan anak-anakmu.

Mengapa Buddha mau Anda berikhlas? Agar Anda tidak menganggap suamimu bagaikan properti milik pribadi.

Dikarenakan kalian ada ikatan sebab jodoh di masa lampau, maka hari ini baru bisa berbuah. Apa itu pertanda lenyapnya sebuah ikatan jodoh? Semua orang pun tahu, jikalau sebab jodoh selesai, maka satu per satu pun akan berpisah.

Anda mengiklaskannya, itu berarti Anda mendapatkannya!

Lepaskanlah ketercekatan hati pada semuamu. Jangan cuma menganggap dia sebagai “suami” doang. Dia juga umat manusia, dikarenakan ada ikatan sebab jodoh masa lampau. Belum jelas apakah sebab jodoh yang baik atau yang buruk. Anda harus lebih mengasihinya dan berkorban untuknya.

Sesampainya dirumah, kerjakanlah pekerjaan rumah bagianmu. Jangan mengeluh lagi. Berkeluh kesah bisa membahayakan diri, jika belum bisa berikhlas dalam berumah tangga.

Hari ini Anda sudah mengerti, bahwasannya semua umat manusia yang datang ke dunia adalah untuk melunasi sebab jodoh mereka. Setelah sampai di rumah, kuatkan batin dan imanmu.

Disisi lain, harus lebih baik kepadanya, berkorban untuknya dan lebih bercinta kasih kepadanya, membuat hari-harinya semakin indah dan semakin bahagia. Membuat hidup orang2 menjadi bahagia, itulah inti dari belajar kebuddhaan.

Sama halnya terhadap anak, juga harus bisa berikhlas hati terhadap mereka. Jangan terlalu tercekat terhadap mereka, bereskan sarapan pagi mereka, kasihilah mereka, agar mereka bisa merasakan kehangatanmu dan bahagia setiap saat.

Lalu membawa mereka ke sekolah, sehabis itu hatimu harus bisa di ikhlaskan, jangan mengkuatirkan mereka lagi, karena sejatinya, mereka telah membawa takdir dan jalan hidup masing-masing.

Ketika saat itu tiba, hati harus bersatu dengan Buddha. Jikalau Anda berhasil dalam kebuddhaan, maka mereka juga mendapat pancaran sinar kasihnya.

Keikhlasan sejati sebenarnya adalah memperoleh kembali. Bisa mengikhlaskan mereka dan satu niat belajar kebuddhaan, disaat detik-detik terakhir, Anda baru bisa mencapai kebahagiaan yang sempurna.

Anda meninggal dengan sangat kudus dan wajah berseri-seri. Biarkan suami dan anak-anakmu menyaksikan fenomena ini. Pada akhirnya, mereka pun bisa ikut belajar dan mencapai kebuddhaan bersama-sama denganmu. Ini namanya ikhlas sejati, kasih abadi.

Disaat Anda mencapai kebuddhaan, disaat itu juga mereka bisa ikut terselamatkan ke pantai bahagia. Karena berikhlas adalah cara untuk memperoleh kembali …

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru.

One thought on “Karma Menjadi Pasangan Suami – Istri; 无债不来, 無緣不緊 (Wu zhai bu lai, wuyuan bu jin)!”
  1. Selamat sore Suhu, saya mau tanya nih apakah dalam budaya tionghoa ada pantangan tidak boleh menikah dulu jika calon mempelai wanita umur 29 lunar?

    Trims

Leave a Reply to Hendra Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: eitss, mau apa nih?