Last Updated on 3 May 2021 by Herman Tan

Prosesi Tingjing (Hanzi : 定亲; Pinyin : Dingqin; Hokkian : Dingjing) pada dasarnya adalah prosesi lamaran (yang dilakukan oleh pihak keluarga laki-laki) menurut adat Tionghoa. Prosesi ini dilakukan pada pagi/siang hari, sekitar pukul 9 sampai 11, karena umumnya akan dilanjutkan dengan acara ramah tamah/makan siang bersama.

Prosesi Tingjing ini pun biasanya hanya dilakukan oleh orang2 suku Hokkian (propinsi Fujian dan sekitarnya, termasuk Taiwan dan masy. Tionghoa perantauan di Malaysia, Singapore, dan Indonesia). Mengingat mayoritas suku Tionghoa di Indonesia adalah Hokkian, tak heran istilah ini cukup sering terdengar di masyarakat.

A. Apa Itu Tingjing (定亲; Dingqin)?

Menurut adat istiadat tradisional Tiongkok, dikenal 2 prosedur pra-nikah yang harus diikuti, yakni Dingqin 定亲 dan Dinghun 订婚.  Dalam prosesi Dingqin/Tingjing inilah momen untuk menentukan kapan tanggal pernikahan.

Dingqin/Dingjing sendiri dianggap sebagai pertunangan tradisional ala Tiongkok, dimana Ding artinya “setuju, menetapkan”, sementara Qin  (Hokkian : Jing) artinya “orangtua, atau orang2 yang memiliki hubungan sedarah”. Jadi secara harafiah artinya kira2 “pertunangan yang ditetapkan oleh orang tua”.

Sementara beberapa keluarga Tiongkok tradisional masih memilih untuk mengatur/memilihkan pernikahan untuk anak2 mereka, banyak anak2 muda di Tiongkok yang memilih untuk menemukan jodoh mereka sendiri, serta memutuskan sendiri kapan akan bertunangan. Ini dikenal dengan sebutan Dinghun 订婚, yang secara harfiah berarti “persetujuan untuk menikah”.

Di Indonesia, Tingjing ini dianggap sebagai prosesi LAMARAN, sementara Tinghun sendiri dianggap sebagai prosesi PERTUNANGAN (versi Tionghoa).

Perwakilan keluarga mempelai pria yang datang melamar ke kediaman keluarga mempelai wanita (sumber foto terlampir)

Baca juga : Dinghun (Tinghun), Prosesi Tunangan ala Tradisi Tionghoa (Wedding Engagement)

Prosesi Tingjing umumnya dilakukan di rumah keluarga mempelai wanita, dimana keluarga mempelai pria nantinya akan datang meminang sang gadis untuk menikah dengan sang pria, tentunya dengan membawa hantaran.

Dimasa kini, dengan alasan kepraktisan, mulai banyak masyarakat Tionghoa yang melaksanakan prosesi ini di ballroom hotel, atau di restoran chinese. Namun, pihak keluarga wanitalah yang tetap bertindak sebagai tuan rumah, termasuk membayar tagihan makanannya, hehe.

Setelah sesi kata2 sambutan yang saling berbalas di awal, dan pihak keluarga mempelai wanita sudah memberi jawaban untuk menerima pinangan dari keluarga mempelai pria, maka Ibu dari si pria akan memakaikan kalung, sebagai tanda pengikat ke sang wanita (dipinang).

Setelah itu, barulah prosesi Tingjing memasuki sesi pentingnya, yakni menentukan tanggal pernikahan (Hari-H). Tanggal pernikahan akan ditentukan sesuai kesepakatan kedua belah pihak, termasuk menyiapkan BAZI masing2 mempelai (kalau di Jawa istilahnya Weton).

Bazi itu 8 angka, yang terdiri dari 2 tanggal, 2 angka bulan, 2 angka tahun, dan 2 angka jam lahir. Lalu dikombinasikan dengan Shio, unsur, dan sebagainya. Bagi masyarakat Tionghoa yang sangat percaya akan hal ini, maka seorang suhu/ahli Fengshui akan diundang dalam acara.

Namun saat ini, umumnya orang Tionghoa hanya akan menentukan tanggal pernikahan berdasarkan tanggal dan bulan unik, misalnya 20-20-2020, atau 09-09-2019. Atau tanggal2 bagus yang kebetulan jatuh di hari sabtu atau minggu (biar tidak terbentur kesibukan masing2).

Tapi jika ditanya apa bulan favorit orang Tionghoa untuk menyelenggarakan pernikahan, jawabannya tentu saja bulan 8 atau bulan 9 Imlek (biar barengan sama festival kue bulan/mid autumn festival, dipercaya bulan bersinar paling cerah), dan cenderung menhindari bulan 7 Imlek (dipercaya sebagai bulan hantu).

Umumnya tanggal pernikahan ditetapkan 6 bulan s/d 1 tahun setelah acara Tingjing dilakukan. Durasi tersebut dianggap cukup bagi mempelai pria dan wanita untuk lebih mengakrabkan diri ke keluarga mertuanya masing2.

Jadi kalau ada acara2, sudah bisa jalan bareng secara resmi, mau liburan bareng keluarga mertua, atau ber-2 juga tidak masalah, yg penting jangan sekamar, heee.

B. Urutan Tahapan Prosesi Tingjing

Dalam prosesi Tingjing (定亲; Dingqin), calon mempelai wanita akan dipakaikan kalung oleh Ibu dari calon mempelai pria.

Baca juga : Inilah 8 Tahapan Prosesi Sangjit Bagi Yang Ingin Menikah!

Berikut urutan prosesi Tingjing secara umum (menyesuaikan dengan situasi dan kondisi masing2) :

1. Sesi Penyambutan : Keluarga besar mempelai pria datang dengan membawa baki seserahan (hampers) untuk keluarga wanita. Proses seserahan ini disambut oleh keluarga wanita, dan dilakukan di ruang depan/ruang tamu.

2. Sesi Pembukaan : Sambutan pertama dibuka dari perwakilan keluarga wanita. Baru diikuti sambutan dari perwakilan keluarga pria, dengan tujuan menyampaikan maksud kedatangan mereka untuk meminang sang wanita. Suasana diharapkan segera mencair (tidak canggung), jangan kaku terus kayak pidato kenegaraan.

Setelah itu, pihak keluarga wanita akan memberi jawaban atas pinangan, dengan memberi tanda pesetujuan (bahwa setelah prosesi Tingjing ini selanjutnya dibawa ke jenjang pernikahan).

3. Sesi Pinangan : Setelah sesi sambutan diatas, dan keluarga mempelai wanita sudah menyetujui, selanjutnya Ibu dari mempelai pria akan memakaikan kalung (atau perhiasan lainnya) kepada sang wanita.

4. Sesi Menentukan Tanggal Pernikahan : Setelah sesi pinangan, barulah prosesi Tingjing memasuki sesi pentingnya, yakni menentukan tanggal pernikahan (Hari-H). Tanggal pernikahan sudah harus diputuskan disini, untuk menunjukkan niat/keseriusan kedua belah pihak. Jadi, pilihan opsi tanggal2 yang akan dipakai, ada baiknya sudah disiapkan sejak awal.

5. Sesi Ramah Tamah : Jika semua sudah fix, selanjutnya bisa dilanjutkan dengan acara ramah tamah. Jangan lupa selipkan sesi sembahyang untuk mendoakan kelancaran hubungan kedua calon mempelai, dan persiapan menuju pernikahannya.

6. Sesi penutup : Ketika keluarga mempelai pria akan pulang, ada sesi singkat dimana keluarga mempelai wanita akan mengembalikan sebagian isi seserahan untuk dibawa pulang. ditambah dengan tanda mata (marchendise) berupa handuk dan atau angpau kepada masing2 pembawa baki.

Menapa isi seserahan dikembalikan sebagian? Karena sebagai simbol bahwa keluarga calon mempelai wanita “tidak menjual” anak gadisnya kepada keluarga calon mempelai pria. Alasan lebih lengkapnya bisa dibaca pada artikel Sangjit berikut.

Dalam tradisi masyarakat Tionghoa kuno, ketika anak perempuan menikah, artinya dia sudah menjadi bagian dari keluarga pihak laki-laki. Kasarnya, seoramg perempuan yang telah menikah dianggap “telah keluar” dari keluarga asalnya (laiknya air yang telah dituang keluar) untuk berbakti kepada keluarga suaminya.

C. Isi Seserahan Dalam Baki Hantaran (Hampers)

Seserahan dibawa oleh keluarga mempelai pria, untuk diserahkan kepada keluarga mempelai wanita. Nantinya, sebagian isi seserahan akan dikembalikan pada saat keluarga mempelai pria pulang.

Sementara jumlah baki hantaran atau hampers harus berjumlah genap (umumnya berjumlah 6-12 baki), sebagai simbol sepasang (termasuk isi seserahannya). Agar semakin berkesan, pilihlah baki hantaran yang cantik, yang memiliki penutup kaca, dan terukir nama pasangan di bakinya.

 

Macam2 box baki hantaran (hampers) yang berisi aneka seserahan.

Baca juga : Tradisi Tea Pai Dalam Rangkaian Pernikahan Adat Tionghoa

Psstt, jangan membawa baki yang berjumlah 4! Karena angka 4 mempunyai makna negatif dalam bahasa Mandarin (dibaca Sì 四, yang nadanya memiliki makna yang sama dengan Sǐ死 yang berarti “kematian”).

Lalu apa saja yang perlu diisi dalam baki2 hantaran itu? Untuk Tingjing, isi bakinya hampir sama dengan Sangjit, seperti buah-buahan, aneka kue kering & basah, aneka makanan & minuman kaleng, misoa, permen, anggur/wine, dsb.

Jumlahnya bisa disesuaikan dengan keluarga mempelai pria yang ikut ambil bagian dalam menggotongnya, jadi jangan terlalu sedikit 🙂

Tapi di Tingjing ini, isi baki hantaran biasanya baru berupa “hantaran ringan” saja seperti diatas. Belum sampai ke brides’s daily things (kebutuhan sehari2 wanita, seperti pakaian, tas, sepatu, alat makeup, perhiasan, dsb), yang nantinya akan ditukar dengan groom’s daily things (kebutuhan sehari2 pria, seperti pakaian, sepatu, jam tangan, dsb) seperti pada tahapan Sangjit.

Saat ini, banyak usaha/jasa hampers yang menyediakan aneka pilihan isi hantaran dalam Tingjing atau Sangjit. Pembaca bisa menggunakan jasa mereka (termasuk menyewa box/bakinya), jika tidak mau repot mencari dan menyiapkannya sendiri.

Catatan Baki Hantaran (Hampers box) :

Untuk tulisan di hampers (baki hantaran, box hantaran), bisa disesuaikan dengan kesepakatan antar keluarga. Umumnya ditulis “The Engagement of A & B“, “Wedding Proposal A & B“, “Tingjing Ceremony A & B“, atau “Sangjit Ceremony A & B“, karena Tingjing biasanya sudah sepaket dengan tunangan.

Istilah “Wedding Proposal atau Engagement” ini sebenarnya hanya kata2 “lamaran pernikahan” dalam bahasa Inggris (sementara prosesi yang dilakukan adalah dalam tradisi Tionghoa, yang tidak ada di Negara2 barat sana).

1. Jumlah baki hantaran harus BERJUMLAH GENAP (umumnya 6-12 baki, melambangkan sepasang), dan banyaknya baki bisa disesuaikan dengan jumlah keluarga besar yang akan berpartisipasi. Karena nanti sebagian dari isinya akan dikembalikan oleh keluarga pihak wanita, dan sebagian dari sebagiannya itu akan dibagikan ke mereka sebagai oleh2.

2. Untuk item2 yang sejenis BISA DIGABUNG, misalnya buah2an bisa digabung dalam 1 baki. Contohnya buah apel, jeruk dan li bisa digabung (asal jumlahnya masing2 genap). 1 baki lagi misalnya gabungan dari kue2 kering/kue2 basah, lalu 1 baki lain gabungan aneka macam makanan kaleng, dsb.

3. Salah satu item wajib biasanya adalah KUE BULAN (kue pia). Sekalipun belum momennya (bulan 8 tanggal 15 Imlek). Cari yang kotaknya premium biar keliatan bagus.

D. Pertanyaan2 yang Sering ditanyakan (Q n A)

1. Pertanyaan : Apakah Tingjing (lamaran) bisa digabung dengan Sangjit?

Jawab : Baik Tingjing maupun Tinghun sebenarnya sama2 prosesi untuk melamar anak gadis orang, hanya saja “benda pengikat” yang digunakan berbeda.

Kalau Tingjing biasanya menggunakan kalung (yang dipakaikan calon ibu mertua kepada menanantu nya), dan dilakukan jauh2 hari sebelum hari pernikahan, sekitar 1 bulan s/d 1 tahun, sembari menentukan tanggal pernikahan. Karena itu, Tingjing lebih tepat dinamakan “lamaran”.

Sedangkan Tinghun menggunakan cincin (tukar cincin antar mempelai), sebagai tanda “pertunangan”, dan sudah mantap kearah persiapan menjelang pernikahan.

Prosesi Tinghun dilakukan tidak jauh dari hari pernikahan (Hari-H), biasanya sekitar 1 minggu s/d 1 bulan, sehingga biasanya ada yang menggabungkan dengan Sangjit itu. Jadi boleh saja jika Tingjing ingin digabung dengan Sangjit, hal ini bisa dibicarakan dulu dengan keluarga mempelai.

Apalagi barang2 seserahan dalam prosesi Tingjing pun kurang lebih sama dengan prosesi Sangjit (simbolis kebutuhan2 hidup pasangan ini nanti, seperti perhiasan, tas, sepatu, pakaian, perlengkapan mandi, perlengkapan makan, makanan kaleng, buah2an, lilin, arak, dsb).

Bahkan jika hanya melangsungkan Sangjit tanpa Tingjing atau Tinghun pun tidak masalah. Sangjit sendiri bisa dilakukan 1 minggu s/d 3 bulan menjelang hari pernikahan. Hal ini disebabkan karena tuntutan jaman sekarang yang lebih condong kearah pernikahan yang simpel.

Apalagi dengan kesibukan masing2 (mengumpulkan keluarga besar dalam 1 hari itu sulit lho!), dan tentunya semakin banyak acara, semakin menelan biaya juga.

Tingjing (定亲; Dingqin), prosesi lamaran pernikahan ala Tionghoa.

Baca juga : Tradisi SANGJIT Dalam Budaya Tionghoa

2. Pertanyaan : Bisakah Tingjing sama Tinghun diadakan barengan, sementara Hari-H nya 1 tahun lagi?

Jawab : Prosesi Tingjing umumnya dilakukan jauh2 hari sebelum Hari-H nya. Hal ini bertujuan untuk memberikan waktu pada kedua keluarga besar untuk saling mengenal satu sama lain “secara resmi”. Sebagai tanda “resmi dipinang”, sang mempelai wanita akan dipakaikan kalung ibu calon mempelai pria.

Sedangkan Tinghun ditandai dengan saling bertukar cincin antar mempelai, dan diadakan menjelang/dekat2 Hari-H nya. Namun jika keduanya digabung, dan berjarak 1 tahun dari hari pernikahan, sebaiknya dilakukan terpisah.

3. Pertanyaan : Bagaimana cara menentukan waktu Tingjing? Apa nanti pasangan saya (cowok) datang sendiri ke keluarga saya untuk membicarakan tanggal Tingjing, atau?

Jawab : Menentukan tanggal Tingjing tentu saja diinisiatif dari mempelai pria (sudah siap secara mental & finansial). Pertama, dibicarakan dulu dengan pasangannya. Baru didiskusikan ke keluarga inti masing2. Kalau sudah disetujui (lampu hijau), lanjut tahap berikutnya.

Cari hari luang (weekend/htm) untuk diadakan pertemuan awal dulu antar keluarga inti (anggap saja pra-tingjing), mendiskusikan maunya gimana. Apa mau dilakukan secara besar2-an, atau secara sederhana.

Tanggal Tingjingnya kapan, apa2 yang mau disiapkan, semua dibicarakan dulu disini. Jika sudah menemui kata sepakat, baru disampaikan ke keluarga besar. Secara tidak resmi, pra-tingjing ini seperti sudah melamar anak orang ke keluarganya. Resminya ya nanti pas acaraTingjing itu.

Kalau keluarganya saling berjauhan, seperti beda pulau, bisa didiskusikan lewat telepon, video call, atau lainnya. Tapi tetap pihak laki-laki-lah yang menghubungi (menelepon) pihak perempuan. Tapi ingat, jarang ada cerita pernikahan beda pulau hanya habis sedikit. hehe.

4. Pertanyaan : Dulu saya menikah tanpa Tinjing & Tinghun, semua dijadikan satu dalam Sangjit, hehe. Saya malah baru tahu ada prosesi Tingjing dan Tinghun setelah beberapa bulan menikah, ketika ditanya teman. Benar2 simpel. Hanya saya mau tanya soal perhitungan tanggal pernikahan menurut adat Tionghoa. Katanya ada ciong2 nya, itu bagaimana ya?

Jawab : Di jaman sekarang, orang2 umumnya hanya mengenal Sangjit saja, yang dilakukan 1 minggu s/d 3 bulan sebelum pernikahan. Memang sudah lebih ringkas, apalagi Tingjing & Tinghun itu umumnya hanya dikenal orang2 perantau Hokkian, dan hanya populer di Semenanjung Peninsula saja (Malaysia dan sekitarnya).

Mengenai tata cara perhitungan tanggal pernikahan yang baik, rencananya akan kita siapkan 1 artikel eksklusif. Tapi yang utama, adalah menyiapkan BAZI masing2 mempelai (kalau di Jawa istilahnya Weton). Bazi itu 8 angka, yang terdiri dari 2 tanggal, 2 angka bulan, 2 angka tahun, dan 2 angka jam lahir. Lalu dikombinasikan dengan Shio, unsur, dan sebagainya.

Namun di jaman ini, orang2 Tionghoa cenderung suka menikah di bulan 8 Imlek, dan menghindari menikah di bulan 7 Imlek.

Tampak seserahan/hantaran dalam Sangjit (Foto : Yanti Tjan Manado)

Baca juga : Inilah 10 Macam Seserahan Wajib Dalam Sangjit; Seserahan ala Tionghoa

5. Pertanyaan : Pacar saya (laki2) bukan keturunan Tionghoa (non chinese), apakah wajib melakukan prosesi ini sebelum menikah?

Jawab : Tergantung keluarganya mau apa tidak. Dianya mungkin mau, namanya juga sudah kesengsem, tapi keluarganya ini yang susah diyakinkan. Belum lagi keluarga pihak wanita, apa rela anaknya dipinang orang tanpa adat Tionghoa? Yang pasti, orang tua pihak pria (atau wakil/walinya) harus datang ke rumah pihak wanita untuk membicarakan hal ini.

Prosesi ini sebenarnya wajib untuk dilakukan. Minimal Sangjit itu harus ada (item2 hantarannya nanti bisa disederhanakan). Namanya juga melamar anak orang, masa modal dengkul doank? Karena pernikahan ala Tionghoa itu bukan hanya soal 2 insan, tapi bagaimana mempersatukan 2 keluarga besar.

6. Pertanyaan : Saya berencana untuk menikah dalam waktu dekat. Saya mau tanya, pada saat Tingjing atau Sangjit apakah wajib membawa seserahan kepada pihak wanita? Apakah kalung sebagai tanda ikatan juga sudah harus siapkan?

Jawab : Pada acara/prosesi Tingjing dan Sangjit, umumnya tetap membawa baki seserahan sebagai hantaran. Pada prosesi Tingjing, dipakaikan kalung oleh Ibu mempelai pria (sebagai tanda “resmi dipinang”), sementara pada prosesi Sangjit, bisa diselipkan sesi saling menukar cincin sebagai “tanda ikatan”.

Namun karena item2 seserahannya mirip, kedua prosesi ini sering digabung (tapi tidak ada sesi tukar cincin, yang diambil hanya sesi pemakaian kalung saja oleh calon mertua). Nanti pada saat Pemberkatan Nikah (Hari-H nya), cincin bisa kembali disimpan dalam kotak cincin, untuk saling ditukarkan lagi saat prosesinya.

Pada saat akhir acara, sebagian hantaran/seserahan dari pihak laki-laki akan dikembalikan, atau ditukar dengan marchendise berupa handuk, sapu tangan, atau angpau kepada masing2 pembawa baki.

7. Pertanyaan : Saya mau tanya, apakah pada saat Ting Jing saya bisa memberikan 1 set perhiasan ke calon istri?

Jawab : Pada prosesi Tingjing, biasanya hanya pemberian “hantaran ringan” saja (item2 di box/bakinya lebih sedikit) dan pengalungan saja sebagai tanda akan meminang anak gadis orang. Untuk pemberian 1 set perhiasan ke pihak wanita, biasanya dilakukan pada Sangjit (“hantaran berat“, seberat duit yang harus dikeluarkan, hehe).

Pstt, istilah ini hanya digunakan untuk membedakan Tingjing dan Sangjit 🙂

8. Pertanyaan : Apakah saat Tingjing dan Sangjit, mempelai pria harus ikut hadir? Atau bisa hanya diwakilkan orang tua dan keluarganya saja?

Jawab : Sebaiknya harus hadir di ke-2 acara itu, sebagai bentuk restu dan dukungan, kecuali ada suatu dan lain hal. Namun sebagian orang beranggapan (dan melaksanakan) bahwa mempelai pria dan orang tuanya tidak diharuskan untuk hadir saat prosesi Sangjit.

Kecuali pada saat “pra Tingjing”, atau saat pembicaraan pertama, biasanya yang melamar adalah orang tua/wakil dari mempelai pria, dimana ybs tidak wajib hadir. Kasarnya, ini adalah pembicaraan antar orang tua.

Tampak keluarga besar mempelai pria yang datang melamar ke rumah mempelai wanita.

Baca juga : Dinghun (Tinghun), Prosesi Tunangan ala Tradisi Tionghoa (Wedding Engagement)

9. Pertanyaan : Saya mau tanya, seserahan apa yang diberikan pihak keluarga wanita kepada pihak keluarga pria pada prosesi Tingjing? Lalu pada saat Tinghun/tunangan, apakah pihak wanita harus memberikan seserahan juga?

Jawab : Hal ini sebenarnya sama seperti prosesi Sangjit, dimana untuk pihak wanita, nantinya akan memberi balasan seserahan dengan cara mengembalikan sebagian dari seserahan yang diberikan oleh keluarga pihak pria. Misalnya dalam 1 baki terdapat 8 buah apel, maka pihak wanita biasanya akan mengembalikan 2 buah apel ke baki seserahan pihak pria.

Begitupun dengan item2 yang lainnya, seperti buah2an, kue, permen, makanan kaleng, anggur/wine, misoa, dsb. Ada juga item yang ditukar, seperti anggur/wine (melambangkan arak pernikahan) yang ditukar botol sirup oleh pihak wanita. Ada juga item yang memang sudah disiapkan pihak wanita sebagai tanda mata (merchandise), seperti handuk.

Jika pihak wanita dari keluarga orang berada (wealthy family), kadang ditambahkan Angpau di setiap baki hantarannya (buat ongkos yang gotong baki, hehe). Psstt, box/bakinya ikut dibawa pulang bos, jangan ditinggal, kan cuma disewa tuh, heee.

Tapi di Tingjing ini, isi baki hantaran biasanya baru berupa makanan & minuman saja (gunakan saja istilah “hantaran ringan” diatas).

Belum sampai ke brides’s daily things (kebutuhan sehari2 wanita, seperti pakaian, tas, sepatu, alat makeup, perhiasan, dsb), yang nantinya akan ditukar dengan groom’s daily things (kebutuhan sehari2 pria, seperti pakaian, sepatu, jam tangan, dsb) seperti pada tahapan Sangjit.

Sementara pada prosesi Tinghun, umumnya tidak ada seserahan2 lagi, karena lebih ke persiapan akhir menjelang pernikahan, dimana didalamnya terdapat sesi tukar cincin.

10. Pertanyaan : Siapa yang biasanya memberikan kata-kata sambutan dari pihak memlepai pria? Apakah ybs, atau ayahnya, atau orang2 yg paling dituakan dari keluarga besarnya?

Jawab : Kata2 sambutan merupakan pengantar sebelum “melamar” calon mempelai perempuan. Biasanya diawali dari tuan rumah, alias keluarga pihak wanita, untuk menanyakan maksud kedatangan.

Mengenai siapa yang harus maju, karena datangnya rame2/rombongan, tentu saja yang kemampuan cakapnya paling bagus. Jangan suruh orang yang bodog bicara maju, ntar belepotan karena gugup :v

Begitupun halnya dengan kata2 sambutan dari keluarga pihak pria. Namun menurut kebiasaan, orang2 yang dituakanlah yang diberikan kesempatan/peluang pertama sebagai perwakilan untuk melamar mempelai wanita.

Ini bisa kakeknya (atau dari baris generasi kakeknya), bisa juga dari pamannya (atau dari baris generasi ayahnya), sebagai budaya menghargai generasi yang lebih tua.

Baca juga : Dinghun (Tinghun), Prosesi Tunangan ala Tradisi Tionghoa (Wedding Engagement)

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow Facebook & Twitter @tionghoainfo untuk info2 terbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *