Kristoforus Sindhunata

Kristoforus Sindhunata lahir dengan nama Ong Tjong Hay di Batavia (Jakarta) pada 20 Maret 1933; meninggal di Jakarta pada 16 Agustus 2005 dalam usia 72 tahun. Beliau adalah seorang tokoh pembauran Indonesia. Namanya tidak bisa dipisahkan dari gerakan asimilasi atau pembauran keturunan Tionghoa di Indonesia. Ia belajar di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, dan mengikuti pendidikan wajib militer ALRI pada tahun 1962 dan terakhir berpangkat mayor Angkatan Laut.

Kristoforus Sindhunata aktif berorganisasi dan pernah menjadi Wakil Ketua PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia). Ia pun ikut mendirikan dan menjadi ketua Yayasan Trisakti. Dalam aktivitasnya, Sindhunata pernah mengatakan bahwa pembauran keturunan Tionghoa di Indonesia harus dipercepat, agar tidak ada lagi hal-hal yang eksplosif dalam masyarakat. Salah satu upaya pembauran yang paling tepat dan cepat menurutnya, adalah melalui asimilasi perkawinan antara kaum pribumi dan keturunan; karena selain saling mencintai, prosesnya wajar dan alami. Sindhunata pun melihat kesempatan menjadi militer sebagai proses untuk menanamkan semangat nasionalisme yang paling kuat. Menurutnya, bila setiap warga keturunan diberi kesempatan masuk dinas militer, maka proses pembauran akan lebih lancar.

Loading...

Sindhunata menjadi ketua BKPKB (Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa). Pada Seminar Angkatan Darat ke-2 di Lembang, Jawa Barat tahun 1966 yang membahas masalah keturunan Tionghoa di Indonesia, Sindhunata diminta memilih dari dua istilah, “Cina” atau “Tionghoa“. Ia menganjurkan penggunaan istilah “Cina”. Ia juga mengaku bahwa ia bersama kelompoknya (para penganjur asimilasi di Indonesia) adalah konseptor Inpres 14/1967 yang melarang kebudayaan, adat-istiadat dan tradisi Tionghoa diselenggarakan di tempat terbuka; termasuk penutupan semua sekolah Tionghoa, atau yang mengajarkan kebudayaan dan bahasa Tionghoa; termasuk pelarangan penggunaan aksara/kaligrafi di tempat terbuka.

Pada saat pertemuan Siauw Tiong Djien dengan Shindunata di Los Angeles, yang di fasilitasi oleh CHI (Committee for Human Rights in Indonesia); saat itu pernah diperdebatkan penggunaan istilah “Cina” atau “Tionghoa”. Ketika itu suara mayoritas dari peserta seminar memilih istilah Tionghoa dengan tegas, dan hanya satu orang saja yang bicara (AD) bahwa dia condong 60% ke istilah “Cina”. Kata-kata ini lalu dipegang oleh Sindhunata dan disebarkan di tanah air pada tahun 1966 bahwa di Los Angeles dia memenangkan istilah “Cina” dengan 60% suara.

Sindhunata juga mengusulkan pelarangan total terhadap perayaan kebudayaan Tionghoa. Namun, Presiden Soeharto kala itu menilai usulan Sindhunata terlalu berlebihan. Soeharto tetap mengizinkan perayaan kebudayaan Tionghoa, namun dilakukan secara tertutup. Aturan itu kemudian diresmikan dengan Inpres Nomor 14 Tahun 1967. Hampir 33 tahun warga Tionghoa tak bisa merayakan kebudayaannya di depan umum. Angin segar kemudian datang setelah reformasi. Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang pementasan kebudayaan Tionghoa. Dengan Kepres Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2000, Gus Dur mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967 tentang pelarangan Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China.

Sejak itulah kebudayaan Tionghoa kembali menggeliat. Pada 19 Januari 2001, Menteri Agama mengeluarkan Keputusan Nomor 13 Tahun 2001 tentang Penetapan Hari Raya Imlek sebagai Hari Libur Nasional Fakultatif. Pada Februari 2002, Presiden Megawati Soekarnoputri mengumumkan mulai 2003, Imlek menjadi Hari Libur Nasional. Maka itu, jangan heran apabila anda menemukan  banyak warga keturunan di Indonesia yang tidak bisa berbahasa Mandarin. Kebanyakan dari mereka lahir pada 1960 an hingga 1980 an. Yang lahir diatas tahun 1990 an sudah mulai banyak yang belajar bahasa Mandarin (atau mendapat pelajaran bahasa Mandarin di sekolah-sekolah swasta) semenjak Sekolah Dasar ketika akses dibuka oleh pemerintah pada 2000.

Bagi masyarakat Tionghoa yang mementingkan kesinambungan nama keluarga dan kebudayaan Tionghoa di Indonesia, Sindhunata dianggap sebagai seorang penghianat leluhurnya. Setidaknya ia dianggap sesat karena kebodohan. Banyak keluarga Tionghoa yang tetap memakai marga mereka di kalangan Tionghoa dan hanya memakai nama Indonesia ketika harus berkomunikasi dengan kalangan lain. Ada juga yang mengganti namanya kembali ke marga Tionghoa setelah Reformasi.

Secara umum, kebanyakan orang-orang Tionghoa di Indonesia yang beragama Kristiani menolak untuk menggunakan nama Tionghoa, dan menolak mengikuti tata krama, adat istiadat, dan budaya Tionghoa. Kristoforus Sindhunata adalah seorang Kristiani yang fanatik. Apalagi pada tahun 1960 an terjadi revolusi kebudayaan di Tiongkok, yang salah satu korbannya adalah warga  Kristiani di Tiongkok. Karena itu terdapat dugaan bahwa segala tindakannya untuk melarang dan menghapuskan tradisi, budaya, adat istiadat, dan bahasa Tionghoa di Indonesia, didasarkan atas rasa balas dendam. Sebagai akibat dari tindakannya, banyak sekolah-sekolah Tionghoa yang ditutup oleh pemerintah. Maka mau tidak mau orang-orang Tionghoa akan cenderung menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah swasta (yang mayoritas Kristen). Ada yang berpendapat bahwa ini merupakan salah satu tujuan dari Kristoforus Sindhunata untuk meng-Kristenkan orang-orang Tionghoa di Indonesia.

Loading...

The following two tabs change content below.
Tertarik dengan tradisi & budaya Tionghoa di Indonesia. Ikuti Twitter @tionghoainfo untuk info-info terbaru.

4 Responses to Kristoforus Sindhunata

  1. charles tan says:

    kristoforus sindhunata adalah tipikal seorang “tionghoa” dengan karakter axxx penjilat dan tukang cari muka, hal tsb dia buktikan dengan menjilat pantat penguasa orba dengan mengusulkan kebijakan yg sangat rasis, secara tidak langsung itu adalah proses Genosida ala orba secara halus, tidak dapat dipungkiri bahwa pada masa orba banyak “tionghoa” dengan sifat dan karakter macam axxx penjilat ini, yang tidak segan2 dan amat tidak tahu malu untuk menggadaikan budaya leluhur dan nenek moyang mereka serta menghambakan diri dan keluarganya kepada penguasa. Semoga dimasa era reformasi saat ini tidak ada lagi dari kalangan Tionghoa manusia macam kristoforus sindhunata ini karena walau leluhur kita dari Daratan Tiongkok dan kita menghormati dan menjunjung tinggi tradisi dan budaya luluhur tapi jiwa dan kebangsaan serta tanah air kita tetap adalah NKRI tercinta dan itu adalah harga mati.

  2. Djoefri Yan says:

    Katolik itu sebenarnya perpanjangan tangan Penjajah Roma lewat kaki tangannya kerajaan Portugal kerajaan Spanyol. Fakta Sejarah membuktikan bahwa kedua ras Biadab ini adalah ras perampok haus darah yang menyebarkan keyakinannya dengan kekerasan seperti yang mereka lakukan di India dan Srilangka dengan membunuh penduduk asli lokal India dan Srilangka yang menganut keyakinan Agama Hindu dan Agama Buddha yang menolak masuk keyakinan najis katolik.

    Justru Sangat- Sangat Memprihatinkan Bahwa Banyak Orang Tionghoa Generasi Muda Saat ini yang malah Tidak Sadar Menghina Leluhur Mereka Sendiri dengan Membenci Asal-Usul Mereka Sendiri dengan mengatakan diri mereka sebagai kata “ Cina “ malah saat mereka belajar Bahasa Tionghoa mereka malah menyebutnya dengan Bahasa “ Cina “ Padahal Jelas Jelas di Huruf Kanjinya Tertulis “ Cung-Kuo atau Zhong-Guo “ yang artinya Kerajaan Tengah Karena Memang Saat itu Kerajaan Tiongkok dikelilingi oleh Kerajaan Yamato-Wa atau Kerajaan Nippon di sebelah Timur dan Kerajaan Tibet, Kerajaan India di Sebelah Barat Sedangkan di Sebelah Utara Berbatasan dengan Kerajaan Mongolia , Kerajaan Rusia Serta Kerajaan Khitan dan Kerajaan Manchuria dan di Sebelah Selatan Berbatasan dengan Kerajaan Siam, Kerajaan Vietnam, Kerajaan Burma, Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit

    Istilah “ Cina “ itu istilah yang sangat “ Rasis “ Sangat Menghina Sangat Merendahkan Kita Orang Tionghoa. Ayah saya Orang Tionghoa Ibu saya Orang Bugis-Makassar. Saya rasa wajar jika kita sebagai orang Bugis-Makassar Tidak Melupakan Adat Kebiasaan kita Sebagai Orang Bugis-Makassar Sebagaimana Orang Tionghoa Tidak Melupakan Adat Kebiasaan Leluhur Mereka.

    Cristoporus Sindunata Jelas-Jelas Adalah Antek=anjing katolik roma Keyakinan Penjajah Bangsa Asing Roma Katolik karena Mengkhianati Ras Leluhur Kakek Nenek Moyangnya Sendiri dengan sengaja sesadar-sadarnya mempopulerkan istilah “ Cina “ kepada orang-orang Tionghoa yang polos, lugu dan bodoh serta tak pernah belajar sejarah Asal-Usul Mereka Sendiri dengan Melupakan Budaya Leluhur mereka sendiri dan malah mengikuti budaya bangsa Kafir Asing roma katolik yaitu : budaya sinterklas dan pohon natal. Padahal Sinterklas CUMA DONGENG OMONG KOSONG YANG TAK PERNAH ADA FAKTANYA SAMA SEKALI !

    Orang-Orang Tionghoa Yang SUDAH DITIPU HABIS SAMA Srigala Katolik Berbulu/bertopeng Domba Memanggil Abraham Sebagai Bapak Mereka Padahal kalau baca di Bijbel jelas-jelas bahwa Abraham adalah orang Ur-Kasdim orang Persia-Irak Sana Leluhur Bangsa Isra-EL dan SAMA SEKALI BUKAN LELUHUR Orang Tionghoa Bahkan dengan bangganya (bodohnya) menyebut diri mereka sebagai orang cina Padahal Sudah Jelas Mereka Adalah Keturunan Leluhur Orang Tionghoa DAN BUKAN cina !

    Inilah Hebatnya setan katolik roma si Serigala bertopeng Domba sehingga tanpa sadar banyak orang Tionghoa Generasi Mudanya menyebut diri mereka “ cina “ dan tanpa sadar menjadi antek = anjing yang melayani tuan katolik mereka dengan Membuang Tradisi Budaya Agung Leluhur Mereka Sendiri dan Malah Mengikuti Tradisi Kafir Bangsa Asing Najis Setan Katolik Roma.

    Bagi Generasi Muda Orang-Orang Tionghoa Di Indonesia ini kita sebagai sesama Kaum Perantauan Di Bumi Indonesia Tercinta ini Saya Cuma Menghimbau Agar Kalian Belajar Sejarah Asal-Usul Kalian Lebih Dalam dan Marilah kita BUANG ISTILAH RASIS “ cina “ YANG SANGAT MERENDAHKAN HARKAT DAN MARTABAT KITA SEBAGAI MANUSIA CIPTAAN TUHAN YANG MAHA ESA. BELAJARLAH MENGGUNAKAN ISTILAH “ TIONGHOA “ KEMBALI.

    Terimakasih Saudara Admin

    • putu says:

      suatu ketika, saya pernah dalam posisi “tidak dianggap” oleh rekan2 Tionghoa yang sebagai “bagian” dari mereka karena saya adalah “produk” hasil dari pernikahan Tionghoa dan Non Tionghoa. Tapi setidaknya saya masih jauh lebih terhormat dari mereka2 ini karena saya masih menganggap leluhur saya yang Tionghoa sebagaimana leluhur saya yang non Tionghoa (termasuk kerap sembahyang untuk beliau2), dibandingkan mereka2 yang mengaku Tionghoa tapi tidak pernah mengakui leluhur mereka (bahkan memperlakukan leluhur mereka sebagaimana mestinya).

  3. dessy says:

    Kristoforus Sindhunata itu adalah huana, gimana kagak di bilang penghianat suku tionghua karena ikut huana yang di bungkus dengan kain setiap hari makanya huana jadi busuk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Loading...