Bagi pembaca yang menonton film2 cina mandarin di tahun 1990-an hingga 2000-an, pasti pernah melihat banyak sekali film/seri sejarah Tiongkok, dimana tokoh laki-lakinya bergaya rambut kepang, dimana rambut kepalanya dicukur setengah botak licin, dengan kuncir panjang dibelakangnya.

Kebanyakan dari kita akan teringat dengan aktor kenamaan Hongkong, Jet Li, saat memerankan sosok ahli beladiri, dokter tradisional Tiongkok, sekaligus pahlawan masyarakat Kanton yang bernama Wong Fei-hung dalam film Once Upon a Time in China I-V (1991-1994).

Kita juga akan teringat dengan serial Putri Huan Zhu yang diperankan aktris cantik Vicky Zhao pada season pertama (1998), dimana tokoh2 protagonisnya, seperti Pangeran Kelima Yong Qi dan Pangeran Fu Erkang juga memakai gaya rambut berkuncir.

Gaya rambut setengah botak licin berkuncir panjang, yang kerap ditampilkan dalam film maupun serial drama itu disebut Taucang (Hanzi : 頭鬃; Pinyin : Tou zong) atau Bianzi (辫子) dalam bahasa Mandarin.

Kebanyakan orang awam pasti belum mengetahui, bahwa model rambut itu ternyata bukanlah cara berpenampilan asli masyarakat Tiongkok. Lantas dari manakah asal mula gaya rambut tersebut? Mengapa gaya rambut Taucang justru menjadi identik dengan negeri Tirai Bambu ?

A. Suku Manchu : Asal Mula Gaya Rambut Toucang

Orang2 Manchu adalah kelompok minoritas terbesar ke-2 di dataran Tiongkok. Di antara 10,4 juta orang Suku Manchu (sensus 2010), sebagian besarnya terkonsentrasi di propinsi2 bekas negara boneka kekaisaran Jepang, Manchuria (满洲; Manzhou), yakni Liaoning, Jilin, heilongjiang, dan Mongolia dalam bagian timur.

Peta kekaisaran Dinasti Qing (1644-1912)

Baca juga : Suku Manchu; Cikal Bakal Dinasti Qing di Tiongkok

Mereka tergolong sebagai bangsa non-Sinitik (non-Han). Secara kultur-linguistik, orang2 Manchu berbeda dengan orang2 Han, suku bangsa mayoritas di Tiongkok sebagaimana yang kita kenal. Keturunan orang2 Han ini yang kita sebut sebagai “etnis Tionghoa’ di Indonesia.

Suku Manchu sendiri adalah keturunan dari bangsa Jurchen (女真; Nuzhen), yang sebenarnya termasuk ke dalam kelompok ras Proto Turki. Orang2 Jurchen dikenal karena mendirikan Dinasti Jin (1115–1234) dan Dinasti Qing (1636-1912) di wilayah daratan Tiongkok.

Bersama suku-suku di Tiongkok Utara lainnya, Jurchen adalah keturunan suku Xiongnu yang semenjak zaman sebelum Masehi telah merampok dan mengancam perbatasan di utara Tiongkok, sehingga kaisar Dinasti Qin pertama, Qin Shihhuang, membangun tembok besar untuk menahan gempuran mereka.

Gaya rambut yang di kuncir kebelakang menjadi bagian dari cara berpenampilan, ikut menjadi pembeda di antara orang2 Manchu dengan orang2 dari bangsa Han. Kuncir ala Manchu atau Taucang bisa dilacak keberadaannya kembali sejak 2000 tahun silam, dan ada alasan praktis di dalamnya.

Secara tradisi, orang2 Manchu umumnya merupakan pemburu yang menunggangi kuda di kawasan pegunungan. Dengan mencukur rambut di bagian depan kepala (biasanya mencakup ½ sampai ¾ rambut) hingga botak licin, akan mempermudah mereka untuk memandang lebih jelas.

Sedangkan kuncir di belakang kepala mereka bisa digelung tinggi, sehingga menjadi bantalan di atas kepala. Alasan lainnya, konon hal ini dimaksudkan untuk menghormati kuda, yang merupakan “teman sejati” suku Manchu.

Orang2 Manchu percaya bahwa roh mereka berdiam di dalam kuncir, sehingga ketika ada prajurit maupun perwira Manchu yang meninggal di medan pertempuran, kuncir kepalanya akan dikirim kembali kepada keluarganya, untuk selanjutnya dibakar.

B. Diwajibkannya Toucang, Suatu Tragedi Bagi Bangsa Tiongkok

Penggunaan gaya rambut Toucang dimulai ketika Dinasti Ming (1368-1644), penguasa etnis Han terakhir di Tiongkok mulai mengalami kemunduran akibat Perang Imjin melawan Jepang (Invasi Jepang ke Korea tahun 1592-1598).

Di Tiongkok, perang ini disebut Kampanye Wanli, yang merujuk pada masa Kekaisaran Wanli (萬曆) yang memerintah Dinasti Ming ketika itu. Atau disebut juga “Perang Renchen untuk Mempertahankan Bangsa” (壬辰衛國戰爭), dimana kata Renchen (壬辰) sendiri dibaca  “Imjin” dalam bahasa Korea.

Pangeran Dorgon (多尔衮; Duoergun) 1612-1650

Baca juga : Perjalanan Dinasti Qing (Qing Chao), Dinasti Terakhir Tiongkok

Selain itu juga muncul berbagai pemberontakan petani yang dipimpin Zhang Xianzhong di Sichuan dan Li Zicheng dari propinsi Shaanxi, kegagalan panen, hingga intrik dari para kasim istana.

Namun pukulan yang terberat aalah ketika pemimpin Jurchen yang bernama Nurhaci (1559-1626) memproklamirkan Nadan Koro (sebuah pernyataan sikap) atau “7 Kebencian besar terhadap Dinasti Ming” (七大恨; Qi Da Hen) pada tahun 1618.

Penyebab utamanya adalah kekaisaran Ming dituduh telah membunuh ayah Nurhaci yang bernama Taksi (塔克世; Takeshi) dan kakeknya yakni Giocangga tanpa alasan yang jelas.

Dinasti Ming kemudian membalas dengan mengirim kampanye militer setahun berikutnya (1619). Alhasil, sebanyak 100.000 pasukan Ming (termasuk pasukan dari Korea) terbunuh ketika melawan 60.000 pasukan Nurhaci, yang sebenarnya jauh lebih unggul dalam hal jumlah dan persenjataan.

Setelah kematian Nurhaci seusai Perang Ningyuan (1626), penerusnya adalah Aisin Gioro Hong Taiji, alias Huangtaiji 皇太極 (1592-1643), yang berperan dalam mengubah nama bangsanya (Jurchen) menjadi “Manchu”, yang diambil dari nama Budha Manjushri (Budha kebijaksanaan dan pengetahuan).

Huangtaiji sendiri wafat pada tahun 1643 karena mendengar Hailanzhu, selir kesayangannya, meninggal akibat sakit pada tahun 1641. Kematiannya menghancurkan Hong Taiji, yang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan berduka atas kepergian selirnya, sehingga kesehatannya memburuk dengan cepat.

Dia kemudian memberinya gelar anumerta “Permaisuri utama Minhui”. Kemudian, anaknya yang bernama Aisin Gioro Fulin diangkat menjadi kaisar dengan gelar Kaisar Shunzhi 顺治帝 (1638-1661).

Shunzhi diangkat sebagai kaisar di usia yang sangat muda, yakni 6 tahun. Ketika itu, Dinasti Ming tengah mencapai titik nadir terendah dalam kekuasaanya.

Salah satu jenderal Ming ketika itu yang bernama Wu Sangui (吳三桂) kemudian mengirim surat kepada Waliraja Manchu, yang juga adalah paman dari Kaisar Shunzhi sendiri, Pangeran Dorgon (多尔衮), untuk menyerah pada Manchu. Dorgon-lah yang membangun fondasi dasar Dinasti Qing untuk memerintah di wilayah Tiongkok.

Dorgon jugalah yang mengeluarkan “Dekrit Kuncir Rambut” (剃发令; Ti Faling) di tahun yang sama (1644), yakni mewajibkan semua pria dari suku Han untuk mengadopsi kuncir rambut ala Manchu (Taucang), serta yang menolak akan dieksekusi, hingga muncullah ungkapan “pertahankan rambut ala Han dan kehilangan kepala, atau kehilangan rambut namun kepala selamat.”

Pengumuman tersebut di ultimatum selama 10 hari kepada orang2 Han. Apabila dalam waktu 10 hari mereka tidak memotong rambut menjadi ala Taucang, maka kepala mereka yang akan dipenggal.

Hal ini dipandang sebagai simbol tunduknya Dinasti Ming terhadap bangsa Manchu. Pada beberapa wilayah di Tiongkok , bagi orang2 Han yang menjunjung tinggi nilai2 ajaran Konfusianisme, memotong rambut adalah bentuk penghinaan kepada leluhur!

Gaya rambut jaman Dinasti Qing
Gaya rambut pria pada jaman Dinasti Qing, rambut harus dicukur klimis, dan sisa rambutnya dikuncir panjang dan bagian belakang kepala.

Baca juga : Dinasti Ming, Dinasti Dari Suku Han Tiongkok Terakhir

Menurut cerita, asal mula dari gaya rambut ini adalah ketika Dorgon memberikan seorang wanita Manchu sebagai istri kepada seorang pejabat Han, Feng Quan, yang telah membelot dari Dinasti Ming. Gaya rambut ala Manchu ini lalu dengan sukarela diadopsi oleh Feng Quan, sebelum diterapkan pada orang2 Han.

Selain itu, bahasa Manchu juga awalnya diwajibkan untuk dipelajari orang2 Han, terutama di kalangan pejabat dan militer. Namun yang lucunya, orang2 Manchu justru lama kelamaan lebih mempergunakan bahasa Mandarin (dan aksara Hanzi-nya) dibanding bahasa mereka sendiri, dan berasimilasi dengan orang2 Han.

Selama masa pemerintahan Dinasti Qing, budaya Tiongkok pun berakulturasi dengan budaya Manchu. Tidak hanya mengadaptasikan gaya rambut, tapi juga mengadopsi model pakaian ala Manchu, Cheongsam.

Hasilnya, terjadi perlawanan kepada pemerintahan Manchu, terutama di kota2 dekat muara sungai Yangtze di timur Tiongkok. Di tahun itu, penduduk kota Jiangyin memilih sikap “mempertahankan rambut ketimbang kepala.” Perlawanan juga muncul saat dekrit itu tiba ke kota Jiading, sampai2 terjadi “Pembantaian 3 Babak” di kota ini.

Peristiwa ini menambah catatan panjang korban penaklukan bangsa Manchu atas Dinasti Ming, yang termasuk salah satu dari “1000 Bencana Kemanusiaan Terburuk Sepanjang Sejarah”, dimana jumlah korban yang tewas ± 25 juta jiwa, sejak tahun 1616.

Diperkirakan butuh waktu lebih dari 10 tahun agar peraturan Taucang dilaksanakan secara penuh Itupun dengan banyak pertumpahan darah. Namun pada akhirnya, orang2 Tiongkok kala itu rela memotong rambut bergaya Taucang, sampai berakhirnya masa kekuasaan Manchu pada tahun 1911.

Menurut sumber catatan yang lebih valid, jumlah korban yang tewas sejak Nurhaci memproklamirkan Nadan Koro ternyata lebih banyak. Di tahun Taichang ke-1 (tahun 1620), penduduk Tiongkok berjumlah 51,66 Juta jiwa, namun di tahun Shunzhi ke-8 (tahun 1651), penduduk Tiongkok yang tersisa hanya 10,63 juta jiwa.

C. Konklusi

Tampak Jet Li yang berperan sebagai Wong Fei Hung dalam film Once Upon a Time in China.

Gaya rambut ala Taucang sendiri terus dipakai hingga 3 abad berikutnya. Model rambut ini kemudian menjadi ciri khas orang2 perantau Tiongkok yang berimigrasi ke seluruh dunia, sebelum Dinasti Qing jatuh.

Bahkan di jaman Hindia Belanda (1800-1942), para migran Tiongkok diwajibkan untuk tetap mengenakan pakaian tradisional mereka, lengkap dengan rambut kepang (Toucang, Bianzi-Pen), yang merupakan tren di dataran Tiongkok, di bawah kekuasaan Dinasti Qing (Mancuria) kala itu.

Dinasti Manchu kemudian runtuh akibat Xinhai Geming atau Revolusi 1911, atas prakarsa Sun Yat-Sen (孫逸仙,; Sun Yixian) “Bapak Nasionalis China”.

Baca juga : Republik Tiongkok (1912-1949), Era Baru Tiongkok

Tentang Taucang, atau kuncir Manchu ternyata menyimpan kisah panjang dan bermakna, melebihi kepopuleran film2 Kungfu Wong Fei-hung maupun romantisme serial Putri Huanzhu.

Nilai penting yang dapat dipetik, adalah kita harus menghargai ciri khas maupun perbedaan antar individu, maupun antar kelompok sebagai bentuk ke-bhinekaan.

Kita tidak dapat memaksakan pilihan yang kita yakini, apalagi dengan kekerasan pada orang lain, sebagaimana pemaksaan gaya kuncir rambut ala Toucang oleh Dorgon, yang menyebabkan jatuhnya puluhan juta korban di awal masa Dinasti Qing (1600-an), Tiongkok.

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Jangan jadi penulis dengkulan, yg bermodal Copas artikel Tionghoa.INFO