Patung Sun Yat Sen di Guangzhou

Republik Tiongkok (中華民國; Zhonghua Minguo) dianggap sebagai republik demokratik pertama di Tiongkok, setelah Revolusi Xinhai yang terjadi pada tahun 1911. Berlangsung dari tahun 1912 hingga 1949 di Tiongkok daratan, Republik Tiongkok ini pada dasarnya ini merupakan masa transisi dari sistem feodal ke modernisasi.

Republik Tiongkok adalah sebuah “sistem pemerintahan modern” yang mengambil alih kekaisaran terakhir, Dinasti Qing, yang sebelum dimulainya Perang Saudara Tiongkok yang meletus pada tahun 1949.

Semenjak kekalahan Republik Tiongkok (kaum nasionalis) dari kaum komunis Tiongkok, pemerintahan Negara ini pindah ke pulau Taiwan (formosa), dan memerintah atas wilayah pulau Taiwan, Kepulauan Pescadores, Quemoy, serta Kepulauan Matsu.

Kini, nama “Tiongkok” merujuk pada Republik Rakyat Tiongkok (RRT), atau 中华人民共和国 (Zhonghua Renmin Gongheguo), yang berkuasa penuh atas daratan Tiongkok, termasuk kepulauann Hong Kong dan Makau. Secara resmi, pemerintahan mereka menganut paham komunis, dengan sistem partai tunggal.

A. Fakta Singkat Tentang Republik Tiongkok

Patung Sun Yat Sen di Guangzhou
Patung Sun Yat Sen di Guangzhou

• Nama Mandarin : 中华民国 (Zhōnghuá mínguó)
• Pendiri : Sun Yat-sen
• Ibukota : Nanjing, Beijing, Chongqing (ibukota tambahan)

• Partai Pemerintah : Kuomintang (KMT)
• Mata Uang : Yuan China

Baca juga : Lagu Kebangsaan Tiongkok : Yiyongjun Jinxingqu

B. Sejarah Republik Tiongkok

1. Periode Pertumbuhan – Revolusi Xinhai

Pada akhir abad ke-19 (1800-an), dinasti kekaisaran terakhir, Dinasti Qing, menjadi semakin korup dan merosot. Ditambah lagi, kekuatan agresi kapitalis barat membuat orang2 semakin sadar akan ketertinggalan / keterbelakangan sistem sosial Tiongkok. Berbagai kelompok revolusioner bermunculan, dan pecahlah Revolusi Xinhai.

Revolusi Xinhai adalah revolusi nasional yang terjadi di wilayah Tiongkok, sejak 1911 hingga 1912, yang akan menggulingkan rezim feodal Dinasti Qing (1636-1912).

Pemberontakan Wuchang menandai awal revolusi di tahun 1911. Ini adalah gerakan bersenjata pertama yang sukses melawan rezim pemerintahan Qing. Setelah pemberontakan Wuchang, banyak provinsi memproklamirkan kemerdekaannya (lepas dari kekuasaan Dinasti Qing). Kemudian, pemerintah militer regional setuju untuk membentuk pemerintahan nasional sementara di Nanjing.

2. Pendirian Republik (Januari 1912 – April 1912)

Istana Presiden di Nanjing
Istana Presiden di Nanjing

Pada Januari 1912, Sun Yat-sen 孫逸仙 terpilih menjadi presiden sementara. Ketika mulai menjabat, beliau mengumumkan nama negara berubah menjadi Republik Tiongkok, dimana bendera lima warna menjadi bendera nasional, dan penanggalan matahari (masehi) menjadi kalender kerja.

Pemerintahan sementara juga mempublikasikan Konstitusi Sementara Republik Tiongkok. Untuk mengambil alih kendali pemerintah sepenuhnya, pemerintah sementara berkompromi dengan Yuan Shikai 袁世凱, seorang pejabat militer era Dinasti Qing, dan pemimpin tentara (jenderal) di Beiyang, wilayah timur laut China (meliputi Hebei, Liaoning, Shandong).

Pada Februari 1912, Yuan Shikai membujuk Puyi 溥儀 (Kaisar Xuantong) kaisar terakhir Dinasti Qing, untuk turun tahta pada bulan April 1912. Sun Yatsen (Sun Yixian) juga mengundurkan diri dari jabatan presiden sementara. Setelah itu, Yuan Shikai dipilih sebagai Presiden Sementara Republik Tiongkok, dan pemerintahan Beiyang pun dimulai.

Baca juga : Mengenang Perjuangan Dr. Sun Yat Sen

3. Masa Kelam : Periode Pemerintahan Beiyang

Pada April 1912, Yuan Shikai terpilih sebagai presiden sementara, dan segera memindahkan ibukota dari Nanjing ke Beijing. Periode dari tahun 1912 hingga 1928 disebut periode Pemerintahan Beiyang.

Pada awal periode ini, Yuan mencoba mengembalikan sistem monarki (kerajaan), namun ditolak keras oleh para pejabat pemerintahan yang lain. Setelah Yuan Shikai wafat pada tahun 1916, pemerintahan Beiyang hanya tinggal nama. Beberapa komandan militer berperang untuk meraih kontrol regional mereka masing-masing.

4. Era Renaisans : Dekade Nanjing

Bekas lokasi Akademi Militer Huangpu
Bekas lokasi Akademi Militer Huangpu

Setelah Yuan Shikai mengambil alih pemerintahan sementara, Sun Yatsen pindah ke Tiongkok selatan. Ia masih berusaha keras untuk mendorong terbentuknya reformasi demokratis di Tiongkok.

Tahun 1924, Sun Yat-sen mendirikan Universitas Sun Yatsen dan Akademi Militer Whampoa (Huang Pu; 黄埔) di Guangzhou. Setelah Sun Yat-sen wafat pada 1925, Chiang Kai-shek menjadi pemimpin KMT. Pada 12 Maret 1925, Sun Yatsen meninggal di Beijing.

3 tahun kemudian, salah seorang pengikutnya, Chiang Kai-shek 蔣介石 (seorang pejabat militer) terpilih menjadi presiden.

Pada awal tahun 1926, Jenderal Chiang memimpin Ekspedisi Utara untuk mengalahkan para komandan militer yang memiliki kontrol atas wilayahnya, serta menyatukan daratan Tiongkok kembali. Pada tahun 1927, Pemerintah Kuomintang (KMT) di Nanjing berdiri secara resmi. Tujuannya untuk membangun masyarakat modern dan demokratis.

Bersamaan dengan korupsi pemerintah pusat dan kontradiksi kelas, Negara mulai kehilangan kontrolnya. Banyak wilayah Tiongkok kembali berada dalam kewenangan semi otonomi (yang dikuasai para warlord/komandan militer. Ada perpecahan dan pertentangan secara terus menerus diantara kaum nasionalis KMT, dan kaum komunis dari PKT (Partai Komunis Tiongkok).

Tentara Merah bahkan melakukan aksi Long March pada oktober 1934 s/d oktober 1935. Long March, atau Mars Panjang, adalah suatu bentuk penarikan mundur militer yang dilakukan oleh Tentara Merah Partai Komunis Tiongkok, pendahulu Tentara Pembebasan Rakyat, untuk menghindari pengejaran tentara Kuomintang.

Peristiwa long march tersebut bukanlah satu barisan tentara yang panjang, namun berupa serangkaian pawai (seri), ketika berbagai tentara Komunis di wilayah selatan melarikan diri ke arah barat dan utara, melewati beberapa wilayah dengan kondisi geografis tersulit di Tiongkok.

Tentara Komunis yang berada dibawah komando Mao Zedong 毛泽东 dan Zhou Enlai 周恩来, melarikan diri dalam sebuah retret memutar ke wilayah barat dan utara, yang diperkirakan berjarak sekitar ±9.000 kilometer dari titik awal, selama lebih dari 370 hari.

Baca juga : Sun Yat Sen Memorial Hall Guangzhou

C. Perang Dunia II (1937 – 1945) : Bersama Mengabungkan Kekuatan Mengusir Jepang

Potret Puyi, Kaisar Manchukuo

Pada tahun 1931, Jepang mulai menginvasi Tiongkok utara. Mereka membuat negara boneka Manchukuo (1932-1945) di bagian timur laut Tiongkok (Manchuria, meliputi propinsi Heilingjiang, Jilin, Liaoning), dengan pusat pemerintahan di Changchun.

Mereka juga menjadikan mantan kaisar Dinasti Qing, Puyi, sebagai pemimpin wilayah tersebut mulai tahun 1932 hingga 1945. Selain itu, Jepang juga mencoba memperluas wilayah jajahannya ke seluruh daratan Tiongkok.

Pada tahun 1937, sebuah konflik besar terjadi di dekat Beijing antara tentara Tiongkok dengan Jepang. Ini memulai Perang Sino-Jepang. Agar Negara bisa bertahan, KMT (Kuomintang) dan PKC (Partai Komunis China) pun setuju untuk menghentikan pertikaian, dan bersama2 menggabungkan kekuatan melawan Jepang.

D. Pasca Perang Dunia II (1945 – 1949) : Perang Saudara Berlanjut

Bidang yang berwarna merah adalah wilayah Manchukuo, dibawah kekuasaan Jepang (1932-1945)

Setelah 2 kota, Hiroshima dan Nagasaki di bom sekutu, Jepang akhirnya menyerah pada 14 Agustus 1945. Namun pertikaian antara kaum komunis dan nasionalis di Tiongkok kembali, dan menjadi semakin meruncing.

Perang sipil kedua pun dimulai. Di Tiongkok daratan, peristiwa ini juga disebut Perang Kebebasan (War of Liberation, karena itulah angkatan bersenjata mereka dinamakan People’s Liberation Army), Perang sipil pertama antara pihak KMT dan PKC meletus pada tahun 1927 hingga 1937.

Pada April 1949, setelah serangkaian perang, pemerintah KMT di Nanjing ditahan oleh tentara PKC; dan KMT pun kehilangan kontrol atas wilayah Tiongkok daratan. Chiang Kai-shek lalu memimpin tentara nasionalis untuk mundur ke pulau Taiwan.

Pada 7 Desember 1949, Chiang Kai-shek memproklamasikan Taipei sebagai ibukota sementara Republik Tiongkok di Taiwan.

E. Perkembangan Ekonomi Selama Republik Tiongkok

Secara umum, tren perkembangan ekonomi selama masa Republik Tiongkok (1912-1949) naik turun.

Dengan latar belakang kekacauan politik, ekonomi, bisnis, transportasi, dan industri finansial, berbagai masalah bermunculan dengan cepat. Sebaliknya, inflasi mata uang dan kebangkrutan usaha melingkupi seluruh Republik Tiongkok.

1. Ekonomi Wilayah Pedesaan

Di area pedesaan, ekonomi swasembada pertanian unggul.

Dibanding pada masa Dinasti Qing, orang2 dapat mengolah lahan tanah lebih luas dan lebih baik. Masyarakat juga memiliki hak untuk menjual dan membeli tanah. Namun karena kelembagaan yang kurang dalam pasar pertanahan dan kekacauan perang, rata-rata ukuran ladang untuk setiap keluarga masih relatif kecil. Lahan sewa masih umum ditemukan.

2. Bisnis Perkotaan

Kapitalisme mulai muncul pada Republik Tiongkok. Banyak pendanaan asing masuk ke Tiongkok, dan menstimulasi perkembangan bisnis Tiongkok. Namun walau bagaimanapun, bisnis tidak pernah menemukan kesempatan emas, karena terus diintervensi oleh peperangan.

3. Sistem Transportasi

Kereta api super cepat Tiongkok
Kereta api super cepat Tiongkok

Berkat pertumbuhan perdagangan, kebutuhan transportasi kargo mendorong perkembangan transportasi secara umum.

Seperti pada konstruksi rel kereta api, rel sepanjang 15.000 kilometer dibangun pada masa Republik Tiongkok. Tapi, 1/3 dari konstruksi tersebut diselesaikan oleh Jepang di wilayah utara Tiongkok, yang untuk transportasi barang dan barang tambang.

Pada konstruksi jalan raya, pada dasarnya tidak ada pembangunan selama Dinasti Qing (1636-1912). Namun pada masa Republik Tiongkok, pemerintah KMT menyelesaikan konstruksi jalan raya sepanjang 116.000 kilometer. Kebanyakan jalan raya dibangun setelah tahun 1928; beberapa diantaranya bertujuan untuk membantu selama perang saudara.

4. Diplomasi Republik Tiongkok

Diplomasi Republik Tiongkok menghasilkan pencapaian yang membanggakan, tapi juga beberapa kekalahan. Banyak diplomat brilian yang bermunculan kala itu untuk membangun negara.

Keuntungan utama di bidang diplomatik selama periode Republik Tiongkok, diantaranya  :

1. Mentransfer dan memodernisasi kantor diplomatik Dinasti Qing.
2. Melakukan pembinaan pada generasi muda agar menjadi diplomat yang bertalenta dan profesional.
3. Menjalin hubungan diplomatik dengan 59 negara lainnya.

4. meninggalkan perjanjian dan konsesi yang tidak adil di Tiongkok, dan merebut kembali hak tarif independen.
5. Bergabung menjadi anggota tetap PBB, hingga tahun 1971.

Ini adalah pertama kalinya negara Tiongkok melindungi hak dan kepentingannya sendiri di panggung dunia. Republik Tiongkok mendapatkan dukungan besar dari Amerika Serikat dan Inggris selama Perang Dunia II. Ini juga mempercepat proses kemenangan dalam Perang Sino-Jepang.

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: eitss, mau apa nih?