Sekilas Tentang Perayaan Ronde

Festival Dongzhi (Hanzi : 冬至; Pinyin : Dōngzhì) atau perayaan musim dingin (bahasa inggris : winter solstice) adalah satu dari perayaan penting masyarakat Tionghoa yang dirayakan pada siklus Dongzhi.

Loading...

Orang Tiongkok membagi musim dalam satu tahun kedalam duapuluh empat siklus, Dongzhi adalah siklus ke 22, dimulai pada saat matahari berada pada posisi 270° dan berakhir pada posisi 285° yang biasanya jatuh pada tanggal 22 Desember kalender masehi.

Awal mula perayaan ini berdasar pada filosofi Yin Yang, keseimbangan dan harmoni dalam alam semesta. Setelah hari perayaan, maka siang hari berangsur-angsur menjadi lebih panjang sehingga energi positif juga mulai mengalir masuk. Ketika siklus Dongzhi dimulai, pancaran sinar matahari akan terasa lebih lemah dan siang hari berlangsung lebih singkat.

Datangnya siklus Dongzhi ini oleh masyarakat tiongkok dianggap sebagai hari terakhir masa panen dan dirayakan dengan reuni keluarga pada malam hari yang lebih panjang dari biasanya sambil menyantap tangyuan” (汤圆) berwarna merah muda dan putih berkuah manis sebagai lambang keutuhan keluarga dan datangnya rejeki bagi mereka.

Perayaan ronde identik dengan ‘makan ronde’ atau ‘makan onde’ yang dibuat dari tepung ketan yang dicampur sedikit air dan dibentuk menjadi bola-bola kecil, lalu direbus dan disajikan dengan kuah manis. Tangyuan pertama kali direbus dalam air kemudian disajikan dengan kuah sup.

Tangyuan yang diberi isi manis disajikan dengan kuah jahe yang diberi sirup. Tangyuan yang tidak diberi isi juga disajikan sebagai makanan penutup berupa sup manis. Di daerah Kanton dikenal sebagai ‘tongsui’ (糖水; tángshuǐ) yang secara harafiah berarti air gula atau sirup). Jenis-jenis penyajian penganan ronde yang umum di Indonesia antara lain :

1. Sup kacang merah
2. Sup wijen hitam
3. Jahe dan gula batu
4. Jiuniang (酒釀; ketan terfermentasi), bunga sweet osmanthus dan gula batu.

Awal festival ini mulai dirayakan adalah pada masa dinasti Han (206 SM-220 M) dan berlanjut hingga dinasti Tang dan Song (tahun 618-1279). Bangsa Han memperingati awal musim dingin ini sebagai Festival Musim Dingin dengan berbagai perayaan yang meriah. Hari pertama musim dingin menjadi hari libur nasional.

Pada masa dinasti Tang dan Song, perayaan awal musim dingin ini dilengkapi dengan upacara penghormatan bagi para dewata dan leluhur. Kaisar akan berdoa kepada para dewata, sementara rakyat umumnya berdoa bagi arwah para leluhur. Pada masa dinasti Qing (1644-1911) perayaan ini bahkan dianggap sama pentingnya dengan perayaan musim semi.

Secara turun-temurun, festival ini menjadi saat berkumpul bagi seluruh anggota keluarga dengan satu kegiatan utama yang dilakukan (terutama bagi keluarga-keluarga di Tiongkok selatan dan perantauan), yaitu membuat dan menikmati Tangyuan (orang Indonesia menyebutnya wedang ronde) yaitu hidangan berbentuk bola-bola dari beras ketan yang melambangkan persatuan.

Tangyuan dibuat dengan warna-warna yang cerah, masing-masing anggota keluarga mendapat setidaknya satu bola Tangyuan berukuran besar disamping beberapa lainnya yang berukuran kecil. Tangyuan ini ada yang tanpa isi, ada juga yang diisi kacang tanah tumbuk atau selai kacang merah. Tangyuan dihidangkan bersama dengan kuah manis dalam sebuah mangkuk. Tradisi perayaan ini lebih dikenal dengan sebutan Perayaan Ronde.

Loading...

The following two tabs change content below.
Tertarik dengan tradisi & budaya Tionghoa di Indonesia. Ikuti Twitter @tionghoainfo untuk info-info terbaru.

2 Responses to Sekilas Tentang Perayaan Ronde

  1. NN says:

    Tradisi makan onde juga dikenal di daerah Taiwan, dimana saat akan melangsungkan pernikahan, keluarga mempelai wanita akan menyediakan penganan onde ini kepada tamu yang datang sebagai tanda sukacita.

  2. Sudah terbayang enak makan ronde dan juga kumpul-kumpul bareng keluarga.
    Sayang masih lama juga ya. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Loading...