Last Updated on 11 September 2021 by Herman Tan

Festival Bulan Hantu ( 鬼節, Gui Jie) adalah sebuah tradisi perayaan dalam kebudayaan Tionghoa. Festival ini disebut  juga Festival Hantu Lapar (Hungry Ghost Festival) atau Festival Tiong Goan (中元, Zhong Yuan). Perayaan ini jatuh pada tanggal 15 bulan 7 penanggalan Imlek (七月十五; Qi Yue Shiwu).

Di rumah2 abu, biasanya dilakukan acara sembahyang rebutan untuk menenangkan para hantu/arwah umum yang bergentayangan dan kelaparan.

Dalam budaya barat, “Festival Hantu Lapar” ini sama saja seperti Festival Halloween, yang dapat dijumpai di sejumlah negara (termasuk di Indonesia, yang belakangan makin doyan memperingati festival ini), yang dirayakan setiap tanggal 31 Oktober.

So, kalian tidak perlu mengolok2 orang Tionghoa yang memperingati ini, karena di dunia barat (budaya orang barat) pun ada festival untuk menghormati para orang mati ini.

A. Kapan Festival Bulan Hantu (Sembahyang Rebutan) Dilakukan?

• Festival Hantu Lapar (Hungry Ghost Festival) 2019 : 15 Agustus 2019
• Festival Hantu Lapar (Hungry Ghost Festival) 2020 : 2 September 2020
• Festival Hantu Lapar (Hungry Ghost Festival) 2021 : Minggu, 22 Agustus 2021

• Festival Hantu Lapar (Hungry Ghost Festival) 2022 : Sabtu, 10 September 2022
• Festival Hantu Lapar (Hungry Ghost Festival) 2023 : Jumat, 29 September 2023

Tradisi ini sebenarnya merupakan tradisi masyarakat agraris di jaman dahulu, yang bermula dari penghormatan kepada leluhur serta Dewa-Dewi, supaya panen yang biasanya jatuh di musim gugur dapat terberkati dan berlimpah.

Namun karena pengaruh religius, terutama dari unsur Buddhisme, yang menjadikan tradisi perayaan ini sarat dengan mitologi tentang hantu-hantu kelaparan, yang perlu dijamu pada masa kehadiran mereka di dunia manusia.

Tradisi membagi2 kan hasil bumi (beras, mie, bihun, kue, buah-buahan, dsb) di kelenteng2 diwariskan turun temurun hingga sekarang, untuk memberi kesempatan kepada manusia di dunia agar bisa beramal kebajikan bagi para leluhurnya.

Menurut kepercayaan, pada setiap bulan ke-7 penanggalan Imlek, pintu neraka akan dibuka lebar2, dan para arwah akan diberi kesempatan untuk turun ke dunia menjenguk anak cucunya.

Bagi para arwah yang anak cucunya tidak menyediakan persembahyangan di rumah, mereka akan mencari makanan di rumah abu yang melaksanakan ritual sembahyang ini.

Bulan ke-7 Imlek juga biasanya dipercaya sebagai bulannya hantu untuk “berkeliaran” selama sebulan penuh, dimana sudah dimulai sejak 15 hari sebelum tanggal 15 bulan 7, sampai 15 hari sesudahnya; dan ada berbagai jenis dan karakter hantu yang akan keluar untuk merayakan hari kebebasannya.

Biasanya bagi yang masih percaya terhadap hal ini, akan jarang sekali ada yang mengadakan pesta pernikahan, pesta ulang tahun, dsb di bulan ke-7 penanggalan Imlek ini. Karena menurut kepercayaan, hal tersebut diyakini akan membawa kesialan, karena pesta tersebut konon akan dihadiri juga oleh para roh hantu yang sedang bergentayangan itu.

Cerita mengenai awal mula “Sembahyang Rebutan” atau “Festival Bulan Hantu” ini ada banyak versi. Umumnya yang kita ketahui adalah versi yang berasal dari pengaruh Budhisme. Namun ternyata terdapat “versi Taoisme” juga. Versinya adalah sebagai berikut :

B. Sejarah Asal Mula Sembahyang Rebutan

Penggal kepala (斩头) adalah salah satu teknik hukuman mati paling yang paling umum dilakukan di jaman kekaisaran perdinastian Tiongkok. Di eranya Jaksa Bao, konon ratusan kepala menggelinding akibat perbuatan mereka (foto ilustrasi : 1c1.com.hk)

Baca juga : 4 Fakta Festival Bulan Hantu, Kearifan Lokal Masyarakat Tionghoa Yang Harus Dijaga!

Pada tanggal 15 bulan 7 imlek biasanya dipakai oleh pemerintahan kerajaan pada zaman dahulu untuk melaksanakan eksekusi bagi semua tahanan hukuman mati. Acara eksekusi ini berlaku serentak di seluruh negeri. Jadi, pada saat itu (tanggal 15 bulan 7 imlek) tersebut dirasakan bermacam-macam oleh seluruh masyarakat.

Namun bagi keluarga2 terpidana, itu adalah hari yang sangat menyedihkan. Sementara bagi masyarakat umum, hari itu dirasakan sebagai hari yang cukup mencekam; dimana banyak keluarga yang menangisi anggota keluarganya yang akan di eksekusi mati.

Mereka biasanya “mengantar” arwah kerabatnya tersebut dengan memasang altar, memberikan persembahan, dan sebagainya. Karena hari eksekusi tersebut berlaku serentak diseluruh negeri, suasananya menjadi memang sangat mencekam, dan tentunya penuh dengan suasana duka dan mistis.

Arwah2 yang serentak tercabut tersebut, berubah menjadi arwah2 gentayangan yang makin menimbulkan suasana yang mengerikan.

Sebagian keluarga lainnya yang tidak mengalami adanya anggota keluarga yang di eksekusi, karena rasa ngeri dan takut, jadi ikut-ikutan memberikan sesaji, dengan harapan agar arwah2 gentayangan tersebut tidak mengganggu anggota keluarga mereka.

Akhirnya, lama kelamaan Chi Gwee Cap Go (七月十五; Qi Yue Shi Wu) tersebut menjadi tradisi persembahyangan bagi para roh & arwah yang gentayangan tersebut.

Adapun versi lain mengatakan, bahwa asal-usul dari bulan hantu ini adalah karena di jaman dulu, bulan ke-7 Imlek ini dikenal sebagai musim pancaroba. Hal ini menyebabkan banyak penyakit, bahkan timbulnya penyakit2 tropis yang aneh yang mewabah, yang menyebabkan banyak kematian.

Karena itulah dikatakan bahwa pada bulan ke-7 ini merupakan bulan yang berbahaya, yang lalu dikaitkan dengan adanya keberadaan hantu (鬼, gui) yang berkeliaran di bumi.

Baca juga : 28 Pantangan Yang Perlu Diperhatikan di Bulan Hantu

Setiap pertengahan bulan ketujuh (Tanggal 15 Bulan 7 Imlek), di Wihara2 dan Kelenteng2 seringkali mengadakan upacara sembahyang “jit gwee“, atau biasa disebut juga sembahyang Cio Ko atau Ulambana (versi Buddhisme).

Dalam upacara ini ada keunikan, yaitu ketika upacara persembahyangan selesai, maka semua sesajian/persembahan makanan yang ada diatas meja sembahyang juga diperebutkan oleh semua orang (warga sekitar) yang hadir.

Oleh karena itu, upacara ini juga disebut sebagai “sembahyang rebutan“, karena persembahan yang diberikan, selain diperebutkan oleh para roh/arwah yang kelaparan, ternyata juga diperebutkan oleh para manusia.

Terlepas dari semua mitologi religius di atas, hikmah dari perayaan sembahyang rebutan sebenarnya adalah penghormatan kepada leluhur dan perjamuan fakir miskin. Hal ini ditandai dengan tradisi dari sembahyang rebutan, yang membagi2 makanan sembahyang kepada para pengemis dan gelandangan ketika acara selesai.

Hari sembahyang rebutan ini juga digunakan umat Kelenteng untuk beramal, untuk bakti sosial membantu dan menolong kaum miskin dengan memberi bahan kebutuhan hidup. Jadi lebih sesuai kalau disebut BULAN BERAMAL. Beramal untuk arwah gentayangan, juga beramal untuk kaum miskin.

Anggap saja, tradisi mengenai persembahyangan kepada para arwah di bulan hantu ini adalah Hallowennya versi orang Tionghoa.

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow Facebook & Twitter @tionghoainfo untuk info2 terbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *