Last Updated on 4 September 2021 by Herman Tan

Tahun Baru Imlek (atau disebut juga Sincia 新家; Xīnjiā) merupakan perayaan terpenting bagi orang Tiongkok dan perantauannya diseluruh dunia, termasuk orang2 Tionghoa di Indonesia.

Prosesi dalam perayaan Tahun Baru Imlek sejatinya sudah dimulai sejak pertengahan bulan ke-12 tahun sebelumnya, sampai dengan puncaknya hari ke-15 bulan 1, pada perayaan Cap Go Meh (十五; saat bulan purnama).

Malam tahun baru Imlek sendiri dikenal sebagai Chúxī (除夕) yang berarti “malam pergantian tahun”. Di Tiongkok, Taiwan, Hongkong, Singapore, Malaysia, dan di Negara2 dengan mayoritas keturunan Tionghoa, perayaan tahun baru Imlek sendiri berlangsung selama 3 hari, yakni dari sehari (H-1) sebelum Imlek, sampai sehari (H+1) sesudah Imlek.

Berikut kami sajikan daftar tahun imlek, tanggal imlek, hari imlek, dan imlek tahun berapa dibawah ini :

A. Daftar Tahun Baru Imlek Tahun 2000 s/d 2070

Sabtu, 5 Februari 2000 : Tahun Naga 2551
Rabu, 24 Januari 2001 : Tahun Ular 2552
Selasa, 12 Februari 2002 : Tahun Kuda 2553
Sabtu, 1 Februari 2003 : Tahun Kambing 2554

Kamis, 22 Januari 2004 : Tahun Monyet 2555
Rabu, 9 Februari 2005 : Tahun Ayam 2556
Minggu, 29 Januari 2006 : Tahun Anjing 2557
Minggu, 18 Februari 2007 : Tahun Babi 2558
Kamis, 7 Februari 2008 : Tahun Tikus 2559

Senin, 26 Januari 2009 : Tahun Kerbau 2560
Minggu, 14 Februari 2010 : Tahun Macan 2561
Kamis, 3 Februari 2011 : Tahun Kelinci 2562
Senin, 23 Januari 2012 : Tahun Naga 2563
Minggu, 10 Februari 2013 : Tahun Ular 2564

Jumat, 31 Januari 2014 : Tahun Kuda 2565
Kamis,19 Februari 2015 : Tahun Kambing 2566
Senin, 8 Februari 2016 : Tahun Monyet 2567
Sabtu, 28 Januari 2017 : Tahun Ayam 2568
Jumat, 16 Februari 2018 : Tahun Anjing 2569

Selasa, 5 Februari 2019 : Tahun Babi 2570
Sabtu, 25 Januari 2020 : Tahun Tikus 2571
Jumat, 12 Februari 2021 : Tahun Kerbau 2572
Selasa, 1 Februari 2022 : Tahun Macan 2573
Minggu, 22 Januari 2023 : Tahun Kelinci 2574

Daftar tanggal tahun baru Imlek (CNY)

Sabtu, 10 Februari 2024 : Tahun Naga 2575
Rabu, 29 Januari 2025 : Tahun Ular 2576
Selasa, 17 Februari 2026 : Tahun Kuda 2577
Sabtu, 6 Februari 2027 : Tahun Kambing 2578
Rabu, 26 Januari 2028 : Tahun Monyet 2579

Selasa, 13 Februari 2029 : Tahun Ayam 2580
Minggu, 3 Februari 2030 : Tahun Anjing 2580
Kamis, 23 Januari 2031 : Tahun Babi 2582
Rabu, 11 Februari 2032 : Tahun Tikus 2583
Senin, 31 Januari 2033 : Tahun Kerbau 2584

Minggu, 19 Februari 2034 : Tahun Macan 2585
Kamis, 8 Februari 2035 : Tahun Kelinci 2586
Senin, 28 Januari 2036 : Tahun Naga 2587
Minggu, 15 Februari 2037 : Tahun Ular 2588
Kamis, 4 Februari 2038 : Tahun Kuda 2589

Senin, 24 Januari 2039 : Tahun Kambing 2590
Minggu, 12 Februari 2040 :  Tahun Monyet 2591
Jumat, 1 Februari 2041 : Tahun Ayam 2592
Rabu, 22 Januari 2042 : Tahun Anjing 2593
Selasa, 10 Februari 2043 : Tahun Babi 2594

Baca Juga :  Asal Usul dan Perkembangan Tradisi Imlek Dari Masa ke Masa

Sabtu, 30 Januari 2044 : Tahun Tikus 2595
Jumat, 17 Februari 2045 : Tahun Kerbau 2596
Selasa, 6 Februari 2046 : Tahun Macan 2597
Sabtu, 26 Januari 2047 : Tahun Kelinci 2598
Jumat, 14 Februari 2048 : Tahun Naga 2599

Selasa, 2 Februari 2049 : Tahun Ular 2600
Minggu, 23 Januari 2050 : Tahun Kuda 2601
Sabtu, 11 Februari 2051 : Tahun Kambing 2602
Kamis, 1 Februari 2052 : Tahun Monyet 2603
Rabu, 19 Februari 2053 : Tahun Ayam 2604

Minggu, 8 Februari 2054 : Tahun Anjing 2605
Kamis, 28 Januari 2055 : Tahun Babi 2606
Selasa, 15 Februari 2056 : Tahun Tikus 2607
Minggu, 4 Februari 2057 : Tahun Kerbau 2608
Kamis, 24 Januari 2058 : Tahun Macan 2609

Rabu, 12 Februari 2059 : Tahun Kelinci 2610
Senin, 2 Februari 2060 : Tahun Naga 2611
Jumat, 21 Januari 2061 : Tahun Ular 2612
Kamis, 9 Februari 2062 : Tahun Kuda 2613
Senin, 29 Januari 2063 : Tahun Kambing 2614

Minggu, 17 Februari 2064 : Tahun Monyet 2615
Kamis, 5 Februari 2065 : Tahun Ayam 2616
Selasa, 26 Januari 2066 : Tahun Anjing 2617
Senin, 14 Februari 2067 : Tahun Babi 2618
Jumat, 3 Februari 2068 : Tahun Tikus 2619

Rabu, 23 Januari 2069 : Tahun Kerbau 2620
Selasa, 11 Februari 2070 : Tahun Macan 2621

B. Asal Usul Tahun Baru Imlek

Menurut legenda, asal-usul Imlek sudah dimulai sejak jaman Dinasti Zhou (1046 – 256 SM), dahulu kala terdapat seekor raksasa pemakan manusia dari pegunungan, yang bernama Nián (年兽; nián shòu), yang muncul di akhir musim dingin untuk memakan hasil panen, ternak dan bahkan manusia (penduduk desa).

Makhluk mitologi yang bernama Nian (nian shou) saat tahun baru Imlek

Untuk melindungi diri mereka, para penduduk desa menaruh makanan di depan pintu mereka pada awal tahun. Dipercaya bahwa dengan melakukan itu, Nian akan memakan makanan yang telah mereka siapkan, dan tidak akan menyerang warga atau mencuri ternak dan hasil panen mereka.

Pada suatu waktu, penduduk melihat bahwa makhluk Nian lari ketakutan setelah bertemu dengan seorang anak kecil yang mengenakan pakaian berwarna merah.

Penduduk kemudian menyakini bahwa Nian takut dengan warna merah, sehingga setiap kali menjelang tahun baru, para penduduk akan menggantungkan lentera dan gulungan kertas merah di jendela dan pintu. Mereka juga menggunakan petasan/kembang api dan aneka bunyi2an seperti gong, genderang dan tambur untuk menakuti Nian tersebut.

Cara-cara pengusiran Nian ini kemudian berkembang menjadi perayaan tahun baru. Guò nián (过年), yang berarti “menyambut tahun baru”, yang secara harafiah berarti “mengusir nian”.

Mitos tentang makhluk mitologi Nian ini juga dapat ditemukan dalam buku Jingchu Sui Shi Ji (荊楚歲時記), atau “Catatan kebiasaan tahun baru Jingchu”, yang ditulis oleh Zong Lin (498 – 561) pada jaman Dinasti-Dinasti Selatan dan Utara (南北朝; 420 – 589).

C. Sejarah Penetapan Hari Imlek di Indonesia Sebagai Hari Libur (Tanggal Merah)

Beratus2 tahun kemudian, Tahun Baru Imlek dianggap sebagai hari libur besar untuk masyarakat Tiongkok dan perantauanya (Tionghoa) diseluruh dunia, dan mulai menyebarkan pengaruh tradisi dan budayanya pada perayaan tahun baru di Negara2 tetangga.

Baca Juga :  Mengapa Lagu Gong Xi Gong Xi Ditulis Dengan Kunci Minor?

Tradisi tahun baru Imlek ini menyebar luas, dan berakulturasi dengan kebudayaan lokal, seperti Jepang, Korea, Mongolia, Nepal, Bhutan, Kamboja, Laos, Myanmar, Vietnam, Thailand, Taiwan, Hong Kong, Makau, Singapura, Malaysia, Filipina, dan Indonesia sendiri, serta di Negara2 barat dengan populasi orang Tionghoa yang signifikan, seperti di Australia, Kanada, USA, Inggris, dsb.

Alm. Gusdur semasa hidup, terkenal dekat dengan masyarakat Tionghoa di Indonesia. Ini karena beliau sendiri mengakui secara terbuka, memiliki keturunan darah Tionghoa dalam dirinya. Hal ini berbeda dengan si A (mantan gubernur, yang menolak dikatakan sebagai keturunan Tionghoa.

Di Indonesia sendiri, selama kurun waktu 1965 s/d 1998, perayaan tahun baru Imlek dilarang dirayakan di depan umum.Sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, melarang segala hal yang berbau Tionghoa, termasuk tradisi tahun baru Imlek.

Masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan merayakan tahun baru Imlek pada tahun 2000, ketika Presiden Abdurrahman Wahid a.k.a Gusdur mencabut Inpres Nomor 14/1967 tersebut.

Kemudian Presiden Megawati Soekarnoputri menindaklanjutinya, dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2002 tertanggal 9 April 2002, yang meresmikan Imlek sebagai Hari Libur Nasional Agama Konghucu. Lalu sejak tahun 2003, Hari Imlek mulai ditandai dan dicetak sebagai tanggal merah, di kalender2 nasional.

D. Daftar Jumlah Hari Libur Imlek dan Istilahnya di Negara-Negara Lain

♦ Indonesia (Tahun Baru Imlek) : Hanya 1 hari saja
♦ Malaysia (Tahun Baru Cina) : 2 hari + ½ hari H-1 (malam tahun baru Imlek)
♦ Singapura (Chinese New Year)  : 2 hari + ½ hari H-1 (malam tahun baru Imlek)

♦ Brunei (Tahun Baru Cina) : 1 hari + ½ hari H-1 (malam tahun baru Imlek)
♦ Filipina (Bagong Taong Tsino) : 1 hari + ½ hari H-1 (malam tahun baru Imlek)
♦ Thailand (Wan Trut Chin, Chinese New Year’s Day) : 1 hari (swasta & beberapa propinsi menerapkan libur kualitatif, 3 hari sejak H-1)
♦ Vietnam (Tết Nguyên Đán, Vietnamese New Year) : 3 hari

♦ Tiongkok (Spring Festival, Chūn Jié) : 3-8 hari (termasuk H-1, ditambah libur akhir pekan sabtu & minggu)
♦ Taiwan (Lunar New Year) : 4 hari (termasuk H-1)
♦ Hongkong (Lunar New Year) : 3 hari
♦ Makau (Novo Ano Lunar) : 3 hari

♦ Korea Selatan (Korean New Year, Seollal) : 3 hari
♦ Jepang (Shunsetsu) : 1 hari
♦ Mongolia : 1 hari

E. Kebiasaan2 yang Dilakukan Menjelang Imlek Sampai Cap Go Meh

Adapun kebiasaan2 yang dilakukan menjelang perayaan Imlek, adalah seperti membersihan rumah secara besar2 an, termasuk mengecat baru pintu2 dan jendela2 rumah. Ini dimaksudkan untuk membuang segala kesialan serta hawa kurang baik yang ada dalam rumah, dan memberikan kesegaran dan jalan bagi hawa baik serta rejeki untuk masuk.

Juga dilanjutkan dengan memasang hiasan2 tahun baru yang terbuat dari guntingan kertas merah maupun tempelan kata-kata (syair) harapan, sebagai perlambang U FUK (五福), yang berarti “5 Rejeki“, yakni Fu (福, hoki), Lu (禄, nama baik atau jabatan), Shou (寿, usia), Cai (财, kekayaan), dan Ting (厅, keturunan).

Baca Juga :  Petasan, Salah Satu Temuan Terbesar Bangsa China

Pada saat sehari sebelum Imlek, keluarga besar biasanya berkumpul untuk melakukan sembahyang terhadap leluhur, dimana bermacam2 makanan, minuman, dan buah2an diletakkan di depan altar sembahyang, sebagai bentuk syukur dan persembahan kepada leluhur.

Pada malam menjelang tahun baru, setiap keluarga Tionghoa akan mengadakan jamuan makan malam, dimana setiap anggota keluarga inti diwajibkan hadir untuk bersantap bersama. Setelah makan, biasanya mereka akan duduk2 bersama ngobrol, main game, nonton acara Imlek di CCTV, atau pergi bersembahyang ke klenteng.

Kembang api dan petasan akan dinyalakan tepat tengah malam, dimana langit akan bergemuruh dan gemerlap. Di malam itu, semua bergembira, dan pantang untuk bersedih. Semua lampu dibiarkan menyala, terang-benderang sepanjang malam.

Keesokan harinya, anak2 akan bangun pagi2 sekali, lalu bersiap2 diri dengan mengenakan pakaian terbaiknya. Selanjutnya mereka akan memberi salam dan hormat kepada orang tua, lalu setelah itu mengunjungi sanak keluarga lainnya, dimana dan mereka biasanya akan mendapat Angpao yang berisi uang.

Dengan bersama2 saling mengunjungi antar saudara (yang dituakan) dan kerabat dekat, dimaksudkan untuk mempererat ikatan tali kekeluargaan.

Suasana Imlek baru berakhir 15 hari kemudian, bersamaan dengan ditandainya “Perayaan Lentera” Atau perayaan “Cap Go Meh”. Lentera lampion warna-warni yang sudah terpasang sejak sebulan yang lalu, semakin memeriahkan suasana di kelenteng2, dimana tarian barongsai serta liong juga digelar. Disini, tak jarang juga terdapat atraksi lokthung/thangsin, yang diyakini sebagai perwujudan Roh Suci.

Makanan khas pada saat itu adalah “Yuan Xiao”, atau semacam kue ronde.

Tradisi dan kebiasaan boleh berbeda, karena tradisi Imlek dilakukan oleh setiap masyarakat Tionghoa yang tersebar diseluruh penjuru dunia, dan tentunya pasti membaur dengan kebiasaan daerah masing2. Jadi diharapkan, ada semangat yang sama dalam merayakan Tahun Baru Imlek, yaitu suatu harapan akan kedamaian dan kebahagiaan keluarga, teman2, maupun seluruh masyarakat dunia.

Selama tahun baru Imlek, semua anggota keluarga harus berkumpul, semuanya harus kembali ke rumah mereka. Tak peduli seberapa jauh lokasinya, Anda harus kembali ke rumah pada malam sebelumnya! Tak peduli seberapa sibuk, Anda harus merayakannya di rumah!

Jika tidak, apapun alasannya, sama saja artinya dengan Anda tidak lagi menghormati leluhur

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru. PLAGIAT KONTEN bermodal COPY PASTE adalah tindakan yang tidak terpuji.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Jangan jadi penulis dengkulan, yg bermodal Copas artikel Tionghoa.INFO!