Last Updated on 7 February 2022 by Herman Tan

Mendengar masalah sepelik itu, saya pun bertanya apakah dia ada solusinya.

Teman saya yang paham Tao ini pun hanya geleng-geleng kepala. Dia mengaku kemampuan dia tidak cukup untuk membantu. Harus mencari seorang pendeta Tao yang tatarannya lebih tinggi untuk melakukan ritual di kuil Chenghuang¹. Tujuannya untuk meminta Dewa Chenghuang (城隍爷) agar mengurus masalah Yin Yang ini dan membuat “kesepakatan damai”.

Roh gentayangan berada di bawah naungan Dewa Chenghuang. Jadi mungkin saja roh tersebut akan menaati perintah Dewa. Kemudian dia mengucapkan pernyataan yang bagi saya menarik, “Seorang dokter terhebat pun tidak akan bisa mengobati dirinya sendiri.”

Saya kemudian pun dengan penasaran bertanya, “Karena ini roh terikat, kalau kami sudah tidak tinggal di kamar itu lagi, berarti sudah tidak masalah lagi bukan?”

Teman saya menjawab “Kalau saja kalian tidak cari gara-gara, tidak mengganggu dia, maka seharusnya dia tidak akan apa-apa. Tetapi kalian sudah membantu dia untuk membuat jalur Yin Yang nya sendiri, sehingga dia sudah mematok pada teman kalian yang itu. Jadi, tidak peduli teman kamu pergi ke mana, roh itu pasti akan melalui jalur Yin Yang ini untuk mencari teman kalian, jadi mana ada batas tempat lagi!

Si A kemudian tanya, “Jadi, memang tidak ada jalan keluarnya?”

Teman Tao sambil tersenyum menjawab, “Kalau memang sudah bisa diatasi, mungkinkah saat ini dia masih bisa berkeliaran mencelakai orang?”

Setelah pertemuan itu, saya memutuskan tidak akan kembali lagi ke asrama itu. Beberapa hari kemudian saya pergi ke sana untuk packing semua barang dan pindah keluar. Teman yang lain juga akhirnya pindah ke tempat lain sampai lulus. Si C yang walaupun sudah pindah ke apartemen baru, tetap saja hari demi hari dia terlihat lemah.

Dengar-dengar, berkat rekomendasi seorang master tantrayana, dia bertemu seorang Pendeta Tao senior untuk melakukan ritual di kuil Chenghuang, baru akhirnya berhasil menghindar dari roh itu.

Pada hari wisuda, saya bertemu kembali dengan teman-teman yang pernah sekamar. Si C walaupun terlihat tidak ada masalah apa-apa lagi, tetapi sekarang sudah menjadi lebih kalem. Si C cerita, beberapa hari setelah proses ritual, sang pendeta Tao mengalami kecelakaan di jalan. Dengar-dengar sampai dirawat inap di rumah sakit.

Sambil menunggu sesi penyebutan nama-nama wisudawan, saya juga sengaja bertemu teman saya yang ahli Tao itu. Saya memberi dia kabar terakhir mengenai si C, sekalian juga menyinggung Pendeta Tao yang kecelakaan. Dia ternyata tidak merasa heran, dan malah dia sudah memprediksinya.

Baca Juga :  Kucing Pembawa Roh: Kisah Seram Kampus di Taiwan (Part 9)

Dia menjelaskan sebetulnya ritual ini tidak butuh kekuatan yang besar. Semua pendeta bisa melakukannya. Yang harus dilakukan cukup memohon ke Dewa Chenghuang. Jadi ini hanya ritual permohonan, sama sekali tidak membutuhkan kekuatan apa-apa. Yang terpenting adalah niat untuk menggugah Dewa Chenghuang.

Tetapi coba dipikirkan saja. Biarpun roh itu harus mendengar perintah sang Dewa Chenghuang, apakah mungkin dia menerimanya dengan ikhlas begitu saja?

Sudah pasti dia akan berusaha mencari si Pendeta Tao yang mendoakan itu untuk balas. Pada saat itu, saya kembali teringat ucapan dia “Dokter terhebat sekalipun tidak bisa mengobati dirinya sendiri.” Saya mulai paham maksudnya. Pendeta Tao jugalah hanya manusia, yang bisa diganggu hantu juga.

Penutup

Kisah ini ada beberapa bagian kecil merupakan imajinasi saya pribadi, tetapi sisanya merupakan kisah nyata pengalaman pribadi. Ketika menulis kisah ini saya berusaha mengingat-mengingat perasaan dan kondisi pikiran saya waktu itu, sehingga pembaca bisa ikut merasakan apa yang saya rasakan tanpa harus mengalaminya langsung.

Teori teman Tao saya itu mengenai 3 Jiwa dan 7 Roh, pada awalnya saya hanya sekedar mendengar saja. Tetapi seiring dengan pengalaman hidup dan kejadian yang saya jumpai. Saya menjadi lebih memahami. Apakah mungkin 3 Jiwa ini sebetulnya seperti tiga sistem peredaran di tubuh manusia?

Jiwa Utama merepresentasikan sistem pernapasan, Jiwa Lahiriah merepresentasikan sistem peredaran limfa, dan Jiwa Perasa seharusnya merupakan sistem syaraf. Kejadian teman saya yang dirasuki ditengah malam sebetulnya mirip dengan gejala tidur berjalan. Jika menggunakan teori 3 Jiwa ini, sebetulnya cukup bisa diterima.

Sebetulnya ilmu pengetahuan dan ilmu metafisika merupakan 2 dunia yang berbeda. Namun pasti selalu ada hal-hal tertentu yang justru metafisika bisa menjelaskan lebih baik. Ini sebetulnya sangat menarik.

Kalau kalian mengatakan kecelakaan si Pendeta Tao ini hanya sebuah kebetulan belaka, sebetulnya tidak masalah bagi saya. Yang pastinya semenjak kejadian-kejadian, itu saya semakin menghormati alam dan hal-hal yang tidak kasat mata.

Catatan¹ : Dewa Chenghuang (城隍爷; Cheng Huang Ye) secara harafiah berarti “Dewa parit dan tembok” atau “Dewa perbatasan”, adalah nama Dewa pelindung kota dalam kepercayaan Taois. Beliau dipercaya sebagai pejabat pengadilan di akhirat (alam baka) yang bisa mengisi kelemahan pengadilan di dunia. Demikianlah Cheng Huang Ye sangat dihormati di kalangan rakyat jelata.

Belakangan, istilah itu ternyata digunakan untuk para pemimpin yang didewakan di kota itu, yang memiliki otoritas atas roh-roh orang yang meninggal di kota itu. Dipercaya bahwa arwah orang yang telah meninggal dunia akan dibawa ke hadapan Cheng Huang Ye untuk diperiksa, lalu diputuskan akan menjalani proses reinkarnasi kembali, atau di tahan di neraka (地狱; Diyu).

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru. PLAGIAT KONTEN bermodal COPY PASTE adalah tindakan yang tidak terpuji.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Jangan jadi penulis dengkulan, yg bermodal Copas artikel Tionghoa.INFO!