Last Updated on 1 May 2021 by Herman Tan

Orang-orang pecinta kuliner berkuah yang besar di era tahun 70 hingga awal 90 an pasti familiar dan tidak asing dengan keberadaan mangkok ini.

Bagi mereka, keberadaan mangkok yang bergambar ayam jago ini bisa menjadi kenangan masa-masa menyantap mie ayam atau mie bakso di kios atau di penjual favorit tempo dulu.

Bahkan ada yang sampai berceletuk soal mangkok legendaris ini. Makan bakso kalau tidak pakai mangkok ini, rasanya kurang nikmat…!

Di jaman sekarang, logo ayam jago yang tampak pada mangkok legendaris tersebut telah menjadi inspirasi para kaum muda kreatif untuk membuat beragam aksesoris. seperti sarung bantal, selendang, topi, kaos, tas, dan lain sebagainya. Sasaran pasarnya jelas; yakni para penggemar yang ingin bernostalgia jaman dulu.

Mangkuk Ayam Jago Ada Pemiliknya, Jangan Sembarangan Pakai Gan!

Bahkan ada pula produsen alat makan yang mencoba untuk memproduksi “tiruan” varian mangkok dan piring yang berlogo ayam jago ini.

Melihat hal itu, produsen asli mangkok ayam jago mengimbau agar pengusaha lain tidak mencoba untuk menggunakan desain gambar yang sama, karena hal ini terkait dengan hak cipta perusahaan dari PT Lucky Indah Keramik.

Di negeri tirai bambu, mangkok ini tidak hanya tenar sebagai perangkat makan sehari-hari masyarakat disana; namun juga terkenal karena sering menjadi bahan properti di film-film ala Hong Kong karya Stephen Chow awal tahun 90-an.

Tidak hanya itu, dulunya mangkok berlogo ayam jago juga merupakan salah satu barang wajib, yang digunakan sebagai ‘hantaran / seserahan’ (simbol) dalam upacara sangjit pernikahan.

Orang Kanton (wilayah Guangdong) biasa menyebutnya dengan Jigongwan, penduduk di wilayah Tiongkok utara menamainya Gongjiwan; sementara mereka yang berdialek Minnan, atau tinggal di wilayah Tiongkok selatan memanggilnya Jijiaowan.

A. Lalu, bagaimana sejarah mangkok si ayam jago ini?

Awal kisah mangkok bergambar ayam jago berawal di masa dinasti Ming, periode pemerintahan Kaisar Chenghua (1465-1487 M).

Menurut catatan sejarah Tiongkok, pada saat itu sang Kaisar memesan 4 buah cawan yang bergambar ayam jago dan ayam betina, pada seorang ahli pengrajin keramik yang sering mengerjakan pesanan istana, di daerah Jingdezhen (Propinsi Jiangxi), yang terkenal akan kualitas keramiknya sejak abad ke-6.

Kaisar Chenghua memesan 4 buah cawan keramik dengan teknik doucai, dibuat khusus untuk dirinya dan permaisuri nya sebagai tanda pasangan cinta.

Cawan tersebut terkenal dengan sebutan Jigangbei, atau ‘cawan ayam’. Pada cawan terdapat lukisan dari gambar ayam jago, ayam betina, dan sepasang anak ayam yang bermakna kemakmuran, banyak anak, banyak rejeki.

B. Dipuja-puja Kaisar Tiongkok

Cawan dan mangkok ayam memiliki makna simbolis. Kata Ji , yang berarti ‘ayam’, mirip bunyinya dengan kata Jia yang bermakna rumah / keluarga. Sementara gambar tanaman peony melambangkan kekayaan, dan gambar pohon pisang dengan daun lebar bermakna keberuntungan untuk keluarga.

Kaisar-kaisar Tiongkok jaman dulu begitu menyukai lukisan pada cawan ayam jago tersebut. Di antaranya ada Kaisar dinasti Qing, Kaisar Wanli (memerintah tahun 1572-1620) dan Kaisar Kangxi (memerintah tahun 1661-1722).

Saking sukanya pada cawan yang bergambar ayam tersebut, mereka berani mematok harga mahal untuk sekedar memilikinya. Kaisar Qian Long (memerintah tahun 1735-1796), bahkan membuat puisi khusus yang memuja mangkok ayam jago itu pada tahun 1776.

Di akhir masa pemerintahan Dinasti Qing, mangkok bergambar ayam jago mulai diproduksi massal. Pada jaman itu, masyarakat kelas menengah bawah di Tiongkok hanya dapat menggunakan mangkok bergambar ayam. Sebab, mangkok-mangkok yang bergambar naga, burung hong, atau dan motif lainnya biasanya lebih mahal harganya.

Dalam perkembangan selanjutnya, bagi petani Tiongkok, mangkok bergambar ayam jago melambangkan kerja keras untuk mendapat kemakmuran.

Ini seperti mengingatkan peran ayam jago yang selalu berkokok untuk membangunkan mereka di pagi hari, untuk segera memulai harinya dengan bekerja di ladang.

C. Incaran kolektor

Nicolas Chow, wakil ketua Asia Sotheby, berpose dengan ‘Mangkuk Ayam’ Meiyintang Chenghua di Hong Kong. Foto : Bobby Yip / Reuters

Sekitar awal abad ke-20, mangkok ayam jago mulai merambah dunia. Awalnya mangkok ini dibawa oleh para perantau, yang pabriknya berada di sekitar Provinsi Guangdong. Lalu menyebar sebagai perantauan ke beberapa Negara di Asia Tenggara, seperti Thailand, Vietnam, Singapore, Malaysia, hingga Indonesia.

Mangkok ayam jago pun semakin banyak diproduksi. Teknik pembuatannya pun berkembang, yang awalnya dilukis dengan tangan (manual), hingga mengunakan cetakan mesin.

Saat ini, cawan ayam jago yang dibuat pada masa kekaisaran (di bagian pantat mangkok ada stempel cap, atau nama dan tahun dinasti pembuatan) menjadi buruan bagi para kolektor barang antik di seluruh dunia!

Mangkuk Cawan Chenghua berusia 500 tahun, yang berasal dari dinasti Ming, diketahui hingga saat ini hanya tersisa 16 di dunia, 4 diantaranya dimiliki oleh perorangan, sisanya dikoleksi oleh museum publik;

pernah dilelang beberapa kali oleh badan lelang Sotheby di Hong Kong pada tahun 1960, 1970-an, 1980-an, 1990-an dan terakhir pada tahun 2014; dimana lelang tertingginya mencapai USD $36,3 juta, atau sekitar 500 miliar untuk kurs rupiah saat ini!

Referensi : Ming dynasty ‘chicken cup’ smashes records in €26m sale

Menarik bukan? Mangkok ayam jago yang merupakan simbol keberuntungan, kerja keras, dan kemakmuran bisa menjadi salah satu koleksi piranti makan di rumah kita.

Juga sebagai benda nostalgia masa lalu, sebagai pengetahuan tradisi kepada anak-anak saat menikmati semangkok mi ayam atau bakso di rumah bersama keluarga.

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru.

One thought on “Mangkok Ayam Jago Yang Legendaris : Berawal Dari Kekaisaran Tiongkok”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: eitss, mau apa nih?