Last Updated on 9 May 2019 by Herman Tan

Pada tanggal 27 Januari 1907 berdiri perkumpulan Yok Tjae Hak Tong, dengan tujuan mendirikan sekolah Tionghoa. Pada tanggal 12 Oktober 1909, pemerintah Hindia Belanda mendirikan sekolah Hollandsch Chineesche School (HCS) di Manado yang bertujuan agar anak-anak Tionghoa dapat bersekolah dan dididik dengan pendidikan Eropa.

Tahun 1915 berdiri sekolah Tionghoa pertama di Manado dengan nama Yok Tjae, yngg berarti “tempat belajar”. Semula, Yok Tjae hanya diperuntukkan bagi orang-orang sub etnis Kanton, namun karena ketidakpuasan orang-orang Tionghoa Hokkian, maka menyusul kemudian berdiri sekolah Tionghoa lain yang bernama Chung Hwa pada tahun 1924, dan Chung San pada tahun 1953.

Pada tahun 1959, beberapa sekolah Tionghoa yang dianggap berafiliasi dengan Taipei (Taiwan) ditutup pemerintah. Pasca peristiwa PRRI Permesta, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Nasution pada tanggal 16 Oktober 1958 mengeluarkan peraturan yang melarang sekolah-sekolah Tionghoa yang memiliki hubungan dengan Taiwan, dan tidak mempunyai hubungan diplomatik.

Sedangkan sekolah Tionghoa yang dianggap berafiliasi dengan Peking Tiongkok ditutup tahun 1966, pasca putusnya hubungan diplomatik Indonesia dengan Tiongkok. Tanah dan gedung sekolah Tionghoa diambil alih Negara dan diperuntukkan bagi kepentingan lain, namun ada juga yang dikembalikan kepada komunitas Tionghoa.

Jejak-jejak gedung sekolah Tionghoa di Kampung Cina seperti Yok Tjae, sekarang adalah lokasi sekolah Garuda yang dikelola Yayasan Garuda, yang didirikan oleh Majelis Khonghucu, dan merupakan aset Majelis agama Khonghucu Manado yang berada di lokasi jalan Panjaitan.

Sekolah Chung Hwa sekarang berdiri sekolah Kristen yang lebih dikenal dengan nama sekolah YPKM, merujuk pada yayasan yang mengelolanya, yang terletak di jalan dr. Sutomo, dulunya jalan Serimpi. Adapun lokasi sekolah Tionghoa Chung San sekarang telah berdiri gedung Kantor Polsek Wenang.

Peninggalan sejarah lainnya di Kampung Cina Manado, tahun 1913 berdiri perkumpulan Siong Boe Tjong Hwee, yang merupakan perkumpulan orang-orang Kanton, yang terdiri dari para tukang, seperti tukang kayu dan tukang batu.

Masyarakat Tionghoa Manado juga memiliki perkumpulan sosial berbadan hukum, bernama Tjeng Lian Hwee yang didirikan tahun 1921. Perkumpulan sosial ini bergerak di bidang sosial, semisal tuberclosefonds, kindervacantie-kolonie dan Haktongfonds.

Beberapa kali terjadi bencana di Kepulauan Sangihe dan di Minahasa, masyarakat Tionghoa banyak membantu meringankan penderitaan korban bencana. Diantaranya, tahun 1932, ketika terjadi gempa bumi besar di Minahasa, masyarakat Tionghoa melakukan aksi amal pada bulan Mei dan Agustus 1932. Untuk mengumpulkan bantuan kepada para korban, diadakan pemutaran film ‘Das Lied ist aus’ di Bioskop Capitol dan Luxor.

Di Kampung Cina juga terdapat perkumpulan Kungfu Loo Pak Hong, yang didirikan masyarakat Tionghoa sub etnis Kanton pada tahun 1930. Perkumpulan ini masih eksis, dan lebih dikenal saat ini sebagai perkumpulan Barongsai Loo Pak Hong yang berdomisili di lokasi pasar Liliroyor, dulunya bernama Boncis Straat.

Berubah menjadi perkumpulan Barongsai sejak tahun 1955, saat perkumpulan Loo Pak Hong mendatangkan 3 pasang kepala barongsai dari Hongkong.

Masyarakat Tionghoa terkenal dalam aktivitas di bidang olahraga. Awal tahun 1950-an, beberapa warga Tionghoa Manado membentuk Klub Sepakbola Huang Lung, yang berarti “Naga Kuning”, dengan pimpinan Soei Swie Goan (Nyong Loho), yang saat itu juga adalah atlit Sulut yang berprestasi di bulutangkis, tenis, dan tenis meja.

klub Sepakbola Naga Kuning berada dibawah Gasram (Gabungan Sepak bola Manado), yang kemudian tahun 1959 menjadi Persma.

Soei Swie Goan saat itu juga menjadi pimpinan Gasram, dan menjadi Bendahara Persma selama 30 tahun. Hingga tahun 60-an bahkan 90-an banyak masyarakat Tionghoa yang menjadi atlit seperti atlit Basket, Sepakbola, Tenis dan Tenis Meja.

Di bidang politik, masyarakat Tionghoa terlibat aktif terutama dalam kancah politik lokal. Pada tanggal 1 Juli 1939 berdiri Minahasaraad dan Gemeenteraad Manado. Perwakilan Tionghoa awalnya hanya 1 orang, yakni Tong Goan Tjae di Gemeenteraad Manado, dan Si Lae Hoeat di Minahasaraad.

Kemudian wakil Tionghoa di Gemeenteraad menjadi 3, yakni Lie Goan Oan, Sie Tjie Hian dan Tjang Eng Soei.

Tahun 1935, Tan Tek Hoe, menjadi anggota Gemeenteraad Manado. Pedagang lulusan Prins Hendrik school ini menjadi kandidat kuat anggota Volksraad dari unsur Tionghoa.

Data kependudukan masyarakat Tionghoa Manado menurut dokumen pemerintah Hindia Belanda sangatlah beragam.

Salah satu contoh, menurut catatan dr. P. Bleeker (1825), orang Tionghoa di Minahasa berjumlah 512 orang. Tahun 1840 berjumlah 510 orang. Pada tahun 1849 berjumlah 1.236 orang, dan pada tahun 1860 sebanyak 1.272 orang. Umumnya bertempat tinggal di Manado, sisanya di Amurang dan kema 2. Beberapa catatan lain ditulis Oetrus van der Crabdan Nicolaas Graafland.

Saat ini, Kampung Cina di Kota Manado telah terbagi dalam beberapa wilayah, seperti kelurahan Calaca, Pinaesaan, Wenang, dll. Jumlah penduduk Tionghoa saat ini tidak dicatat berdasarkan keturunan, karena kebijakan pemerintah menyangkut UU Kewarganegaraan no. 12 tahun 2006 tidak lagi menyebut (membedakan) warga negara asli maupun negara keturunan (Tionghoa).

Baca Juga : Sejarah Kampung Cina di Manado (Sulawesi Utara)

Penulis : Sofyan Jimmy Yosadi, SH.  (Advokat, Ketua Komunitas Tionghoa Sulut)

By Penulis Lepas Tionghoa

Kumpulan artikel yang berasal dari Penulis Lepas blog Tionghoa.INFO. Klik halaman 'Authors' untuk bergabung bersama kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: eitss, mau apa nih?