Pernahkah Anda bertanya2, dari bagian/wilayah Tiongkok mana nenek moyang Anda berasal? Selama ratusan tahun, jutaan orang Tionghoa di Semenanjung Asia Tenggara, telah menyebut wilayah tersebut sebagai rumah nenek moyang mereka, sejak berlayar dan menetap di wilayah ini pada abad ke-15.

Indonesian Chinese, juga dikenal sebagai masyarakat Tionghoa, merujuk pada orang2 keturunan Tionghoa, yang lahir atau bermigrasi ke Indonesia. Kebanyakan dari mereka adalah keturunan dari para imigran; kemungkinan besar keturunan China Han, yang tiba antara awal abad ke-19 (1800-an) hingga awal abad ke-20 (1900-an).

Saat ini (berdasarkan SP 2010), WNI yang masih mengaku keturunan Tionghoa hanya sebesar 2.832.510 orang; atau hanya berjumlah 1,20% dari total penduduk Indonesia, atau sebesar 236.728.379 orang; yang menempati peringkat 18 di Indonesia.

Baca juga : Berapa Jumlah populasi Etnis Tionghoa di Indonesia?

Di Asia tenggara, populasi mereka jauh dibawah komunitas perantauan Tionghoa Thailand, Malaysia, Singapore, dan Vietnam.

Hal ini karena tekanan oleh pemerintah yang terjadi para era Orde Lama (1959-1962) dan Orde Baru (1966-1999), sehingga memaksa masyarakat Tionghoa di Indonesia ¹untuk pulang ke kampung halamannya (Tiongkok daratan atau Taiwan), ²pindah ke negara tetangga (yang memiliki komunitas rantau Tionghoa), ³atau berasimilasi dengan kebudayaan lokal (lewat kawin campur atau pindah agama).

Baca juga : G30S/PKI 1965; Apa Efeknya Bagi Tionghoa di Indonesia?

Dalam sejarah. Imigrasi Tiongkok ke Indonesia dapat diklasifikasikan menjadi 3 gelombang besar :

1. GELOMBANG PERTAMA : Lebih dari 500 tahun yang lalu, para pedagang Tionghoa dan kelompok bangsawan muda dari rombongan perantau mulai menetap di sekitar Melaka. Sebagian dari mereka kemudian menikah dengan penduduk setempat, menciptakan kelompok generasi baru, yang dikenal sebagai orang2 peranakan Tionghoa.

Sebuah potret keluarga Tionghoa tahun 1900-an.

Baca juga : Bangsa Han dan Perantauannya ke Indonesia. Inilah Sejarah Nenek Moyangmu!

Sejarah Melayu Tun Seri Lanang mencatat bahwa pada tahun 1459 M, Putri Hang Li Po dari Dinasti Ming dikirim dari Tiongkok untuk menikah dengan sultan Melaka, yakni Sultan Mansur Shah. Sang putri membawa rombongan 500 pria muda berpangkat tinggi dan beberapa ratus pelayan wanita, yang kesemuanya akhirnya menetap di Bukit Cina.

Diyakini bahwa beberapa dari mereka telah menikah dengan penduduk setempat. Kemudian melahirkan komunitas baru yang dikenal sebagai Peranakan Tionghoa, atau disebut juga sebagai Baba-Nyonya.

Catatan sejarah juga menunjukkan, bahwa banyak diantara para pedagang Tionghoa adalah pria yang berbahasa Hokkian dari wilayah Zhangzhou dan Quanzhou di provinsi Fujian. Mereka mungkin pernah menikahi wanita lokal dan menetap di Melaka juga.

2. GELOMBANG KEDUA : Dari awal tahun 1800-an hingga 1930-an, ribuan imigran Cina datang ke wilayah Semenanjung yang dikuasai kolonial Inggris, untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Kebanyakan orang2 Tionghoa di wilayah Malaysia, Singapore, Brunei, dan Indonesia saat ini adalah keturunan dari gelombang imigran ini..

Selama pemerintahan kolonial Inggris dan Belanda, ratusan ribu orang Cina, kebanyakan dari provinsi Fujian dan Guangdong di pesisir pantai tenggara Tiongkok, datang ke Malaya, hingga ke wilayah kepulauan Riau (Bangka Belitung dan sekitarnya), dengan harapan agar bisa lepas dari kehidupan kemiskinan di negara asalnya.

Orang2 Cina perantau ini kemudian mengisi kekurangan tenaga kerja di tambang timah, perkebunan karet, dan konstruksi kereta api.

Sayangnya, banyak diantara mereka yang berhutang kepada bos yang membayar ongkos mereka. Dan ketika mereka mencari pelarian dari kesulitannya, mereka terlibat dengan rokok opium dan perjudian.

Namun, mereka yang berhasil lolos dari lingkaran setan tersebut kemudian mulai membuka usaha sendiri, seperti menjadi pedagang, sehingga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut.

Baca Juga :  Penulisan Altar Batu Tu Di Gong (Tho Ti Kong) Pada Kubur Makam; Fu Shen atau Hou Tu?
Tampak Pertunjukan boneka Cina yang dipamerkan di depan salah satu Kuil bergaya khas Tiongkok, tahun 1919.

Tingkat pendidikan dan tingkat melek huruf di kalangan penduduk Tionghoa pada saat itu cukup rendah, meskipun orang2 Tionghoa yang lebih kaya, yang tinggal di perkotaan dapat menyekolahkan anak2 mereka ke sekolah2 kolonial, seperti ke sekolah misionaris Kristen, atau ke Hollandsch Chineesche School (HCS).

Belakangan, sekolah2 Tionghoa mulai didirikan untuk kepentingan komunitas Tionghoa yang lebih miskin, seperti Tiong Hoa Hwe Koan (中华会馆; Zhonghua Huiguan).

Baca juga : Tiong Hoa Hwe Koan : Sekolah Pertama Pengguna Kata Tionghoa di Indonesia

Gelombang ini dianggap sebagai arus imigrasi terbesar ke wilayah Malaysia dan Indonesia. Mereka membawa serta beberapa sub-kelompok Tionghoa yang berbeda dialek dan budaya masing2, seperti kelompok orang Hokkian, Hakka, Kanton, Tiociu, dan sebagainya.

Saat itu, bukan hal yang aneh bagi orang2 dari kelompok dialek yang sama untuk tetap bersatu, baik itu di lokasi tempat tinggal/permukiman, atau di sektor perdagangan mereka, karena lowongan pekerjaan umumnya diisi, terutama berdasarkan rujukan oleh teman atau sesama kelompok imigran yang sama.

3. GELOMBANG KETIGA : Saat ini, Negara2 ASEAN melihat sejumlah kecil pertumbuhan imigran dari Tiongkok, terutama mereka yang menikah dengan sesama perantau Tionghoa.

Sejak tahun 2000-an, keluarga kelas menengah atas Tiongkok mulai berbondong2 ke Malaysia dan Singapore untuk menghindari polusi, ketakutan akan makanan, dan kendala politik di tanah air mereka. Faktanya, warga negara Tiongkok adalah kelompok terbesar peserta skema residensi asing “Malaysia My Second Home” (MM2H) .

Orang2 perantauan yang masih menganggap dirinya adalah keturunan Tionghoa, umumnya akan mengatakan bahwa mereka adalah “Hokkien lang” atau “Kwangtong yan“, yang berarti mereka adalah keturunan orang Hokkian atau Kanton.

Baca juga : Suku Tionghoa di Indonesia; Hokkian, Hakka, Kanton, Tiochiu, Hainan

Komunitas Tionghoa di wilayah2 perantauan Asia Tenggara, termasuk di Indonesia sebenarnya terdiri dari 9 sub-kelompok, yakni :

1. Hokkian (Hokkien), subkelompok Tionghoa terbesar di Asia Tenggara, bahkan di Indonesia!

DARI MANA MEREKA DATANG? Orang2 Hokkian berasal dari provinsi selatan Fujian (atau Min) di Tiongkok, khususnya kota Quanzhou, Amoy (sekarang dikenal sebagai Xiamen), dan Zhangzhou.

Orang Hokkian berasal dari kota Zhangzhou, Amoy, dan Quanzhou di provinsi Fujian, sebelah timur China.

Baca juga : Panggilan Kekerabatan Dalam Tradisi Tionghoa (Dialek Hokkian)

DI MANA PERTAMA KALI MEREKA TINGGAL? Orang2 Hokkian Zhangzhou pergi wilayah Semenanjung Asia Tenggara, khususnya di Penang, Melaka, Kuala Lumpur, Medan, Riau, Bangka Belitung, hingga ke wilayah Sarawak dan Kalimantan.

PEKERJAAN UTAMA MASA LALU : Selain mendominasi pasar kerja di sektor perkebunan dan pertambangan, orang2 Hokkian juga merupakan pelopor di sektor perdagangan. Sebagian besar pedagang Cina bergerak di sektor ekspor-impor serta grosir.

Oleh karena itu, dialek Hokkian akhirnya menjadi bahasa utama perdagangan kala itu, dan sebagian kosakatanya malah diserap ke dalam bahasa lokal, seperti tiongkok, tionghoa, hongshui, tahu, loteng, bakso, siomai, imlek, bakmi, becak, lumpia, teko, kuli, gotong, amsiong, kongsi, dan sebagainya.

Baca juga : Inilah Daftar Kosakata Indonesia Yang Merupakan Serapan Dari Bahasa Tionghoa

2. Kanton (Cantonese; Konghu), subkelompok Tionghoa ke-2 terbesar

DARI MANA MEREKA DATANG? Orang2 Kanton berasal dari Provinsi Guangdong di pesisir selatan Tiongkok, khususnya dari Guangzhou dan Guangxi. Kata “Kanton” sebenarnya telah di-romanisasi. Dalam dialek aslinya, mereka disebut sebagai “Kwangtong yan“, atau “Guangdong ren” (广东人) dalam bahasa Mandarin.

Baca Juga :  Tahukah Pembaca Arti Kata Gocap, Cepek, Gopek, Seceng, Noceng, Goceng, Ceban, Goban, Cepek Ceng, Cetiao, Gotiao?
Orang Kanton berasal dari propinsi Guangdong (terutama dari Guangzhou) dan Guangxi.

DI MANA MEREKA PERTAMA TINGGAL? Orang2 Kanton tertarik pada industri timah yang sedang booming di pertengahan abad ke-17, karenanya mereka mendirikan komunitas di wilayah2 pertambangan kala itu, seperti di Kuala Lumpur, Ipoh (Perak), Sandakan (Sabah), Pulau Bangka dan Belitung.

PEKERJAAN UTAMA MASA LALU : Sebagian besar pemukim Kanton bekerja di tambang timah, dan memiliki andil/berkontribusi pada perkembangan pesat kota2 tersebut saat ini.

Sebagai info, Orang Kanton adalah komunitas Tionghoa yang paling urban, dengan sekitar 80% tinggal di kota2 besar di Asia Tenggara. Orang2 Kanton berbicara dengan dialek Kanton, atau Konghu.

Baca juga : Panggilan Kekerabatan Orang Tionghoa Dalam Dialek Kanton (Konghu)

3. Hakka (Khek), subkelompok Tionghoa terbesar ke-3

DARI MANA MEREKA DATANG? Orang2 Hakka awalnya berasal dari Tiongkok utara. Karena perang dan bencana alam, mereka kemudian bermigrasi ke wilayah tenggara-selatan Tiongkok, seperti Guangdong, Fujian, Guangxi, dan Hainan, sebelum akhirnya merantau keluar ke Asia Tenggara, seperti Malaysia, Singapore, Brunei, dan Indonesia.

Orang Hakka berasal dari propinsi Fujian, Guangdong, Guangxi, dan Hainan.

Baca juga : Sejarah Hakka Indonesia Bangka Belitung : Sejarah Bangka Tionghoa Hakka (Khek) dan Timah (I)

DI MANA MEREKA PERTAMA TINGGAL? Para pemukim Hakka awalnya berbondong2 ke wilayah tambang emas, timah, dan minyak di Selangor, Perak, Negeri Sembilan, Sabah, Sarawak, hingga ke wilayah Indonesia, seperti di Kepulauan Riau, Pulau Bangka dan Belitung, dan Kalimantan.

Belakangan, seiring dengan kemerosotan ekonomi industri pertambangan, mereka beralih ke sektor perkebunan (karet; sebagai bahan baku utama pembuatan ban dan sepatu pada Perang Dunia 2).

PEKERJAAN UTAMA MASA LALU : Para perantau orang2 Hakka awalnya bekerja sebagai penambang emas dan timah. Sementara mereka yang menetap kemudian beralih ke pertanian dan menjadi petani tanaman komersial (menanam hasil bumi untuk dijual). Beberapa juga menjadi pemilik toko kelontong, toko obat, toko kain, dan penjahit.

Orang2 Hakka dikenal berbicara dengan dialek Khek, atau Kejia.

Baca juga : Panggilan Kekerabatan Dalam Tradisi Tionghoa (Dialek Hakka)

4. Tiociu (Teochew)

DARI MANA MEREKA DATANG? Orang2 Teochew berasal dari wilayah Chaoshan di timur Guangdong, khususnya dari kota Shantou.

Orang Tiociu (Teochew) berasal dari wilayah Chaoshan, di provinsi Guangdong, sebelah tenggara China.

DI MANA PERTAMA MEREKA TINGGAL? Mereka sudah mulai bermigrasi ke wilayah Semenanjung Asia Tenggara sejak abad ke-18, dan menetap di Penang dan Kedah. Kemudian pada abad ke-19, mereka tiba di Johor, dan membangun kota2 baru yang dihuni oleh para pekerja perkebunan.

PEKERJAAN UTAMA MASA LALU : Sebagian besar orang2 Tiociu bekerja di sektor perkebunan lada dan gambir (tanaman yang digunakan sebagai pewarna, bahan tambahan makanan, dan jamu).

Sama seperti Hakka, dialek Tiociu saat ini sudah jarang digunakan oleh generasi muda Tionghoa, karena sebagian besar tumbuh dewasa dalam lingkup bahasa Mandarin, Hokkian atau bahkan Kanton (konghu). Faktanya, dialek mereka hanya eksis hingga tahun 70-an.

Baca juga : Panggilan Kekerabatan Orang Tionghoa Dalam Dialek Tiociu (Teochew)

5. Hokchiu dan Hokchia

Hokchiu dan Hokchia secara kolektif dikenal sebagai Foochow, untuk menghormati dialek bersama mereka, yang dikatakan terdengar seperti bahasa Korea atau Jepang.

DARI MANA ASAL MEREKA? Orang2 Hokchiu berasal dari kota Fuzhou di provinsi Fujian, oleh karena itu mereka umumnya dikenal sebagai orang Foochow (romanisasi dari Fuzhou). Sebaliknya, orang2 Hokchia berasal dari Fuqing, sebuah kabupaten di Fuzhou, Fujian.

Orang Foochow berasal dari Fuzhou di provinsi Fujian, sebelah timur China.

DI MANA PERTAMA MEREKA TINGGAL? Keluarga2 Foochow dianggap sebagai pendatang yang terlambat ke Malaya. Mereka beremigrasi ke sini pada awal abad ke-20 (1900-an). Para imigran Foochow pertama mendirikan pemukiman di Sitiawan, Perak, dan Sarawak.

Baca Juga :  Taman Budaya Tionghoa Indonesia

PEKERJAAN UTAMA MASA LALU : Meskipun sebagian besar dari mereka bekerja sebagai nelayan di Tiongkok, mereka dibawa ke sini untuk menanam padi dan untuk membangun perkebunan karet di permukiman masing2.

Foochow juga disebut sebagai “Prajurit Kapak” atau “Prajurit Cangkul”, karena ketekunan mereka dalam menggarap tanah pemukimannya.

6. Hainan

DARI MANA MEREKA DATANG? Orang2 Hainan berasal dari pulau Hainan di Tiongkok, di lepas pantai Guangdong.

Orang Hainan berasal dari pulau Hainan, wilayah paling selatan China.

DI MANA MEREKA PERTAMA TINGGAL? Para migran Hainan awalnya menetap di wilayah Selat (Melaka, Penang, Kuala Lumpur dan Singapura) dan di Kalimantan Utara sejak abad ke-19.

PEKERJAAN UTAMA MASA LALU : Saat mereka tiba, relung ekonomi telah diisi oleh para imigran awal, sehingga orang Hainan harus mencari peluang kerja di tempat lain.

Beberapa diantara mereka kemudian berprofesi sebagai juru masak (koki), meskipun pekerjaan tradisional orang2 Hainan kebanyakan sebagai pemilik kedai kopi atau rumah makan. Misalnya “Kopitiam Hainan“, yang menikmati popularitas yang luar biasa di era 1880-an hingga 1980-an.

Meskipun dialek Hainan yang digunakan di Malaysia dan Kalimantan mirip dengan yang diucapkan di Pulau Hainan, namun dialek ini telah dibumbui dengan kata2 pinjaman dari bahasa/dialek lokal.

7. Henghua, juga disebut sebagai Puxian (dialek yang mereka gunakan)

DARI MANA MEREKA DATANG? Orang2 Henghua awalnya berasal dari propinsi Henan (dataran tengah Tiongkok). Kemudian mereka bermigrasi ke Putian, bagian dari provinsi Fujian, setelah perang saudara, sebelum kemudian datang ke wilayah Asia Tenggara.

Orang Henghua berasal dari kota Putian, di provinsi Fujian.

PEKERJAAN UTAMA MASA LALU : Karena sebagian besar pekerjaan sudah dimonopoli oleh kelompok dialek lain, pada saat orang2 Henghua datang, mereka beralih ke sektor transportasi pengangkutan, terutama mendominasi industri becak, sebagai penarik becak dan kuli bangunan.

Populasi mereka kemudian berkembang, dan mulai beralih pekerjaan sebagai pengemudi bus atau sopir taksi. Orang2 Henghua juga terlibat dalam industri pembuatan suku cadang sepeda motor dan mobil, atau menjadi mekanik.  Sama seperti orang Hakka, mereka diidentikan sebagai pekerja kasar (buruh lapangan).

8. Wu dan Mandarin, secara kolektif dikenal sebagai orang San Jiang

DARI MANA MEREKA DATANG? Orang2 Wu berasal dari propinsi Zhejiang, Jiangsu, dan Shanghai, sedangkan orang2 Mandarin berasal dari propinsi Hebei (selatan Beijing) dan Shandong. Bersama2, mereka kemudian disebut sebagai orang San Jiang, setelah sungai paling utara Cina (Sungai Yangtze, Sungai Kuning, dan Sungai Amur).

Orang Wu berasal dari propinsi Zhejiang, Jiangsu, dan Shanghai, sedangkan orang Mandarin berasal dari propinsi Hebei dan Shandong.

Di Malaysia, hingga kini masih terdapat komunitas kecil orang Mandarin di Sabah dan di Penang, dibuktikan dengan Penang San Kiang Association yang didirikan sejak 1897.

9. Kwongsai

DARI MANA MEREKA DATANG? Orang2 Kwongsai berasal dari propinsi Guangxi. Mereka datang ke wilayah Malaya dalam jumlah yang sangat sedikit. Mereka berbicara dengan dialek Pinghua.

Orang Kwongsai berasal dari propinsi Guangxi.

Sebagian besar masyarakat Kwongsai menetap di wilayah Pahang dan sekitarnya, dimana komunitas tersebut masih ada hingga saat ini.

Setelah mengetahui lebih banyak tentang asal-usul leluhur Anda, kami harap ini cukup untuk menggugah rasa ingin tahu Anda untuk menemukan asal muasal Anda, sejarah keluarga Anda, serta sejarah leluhur  Anda!

Sangat menarik untuk mengetahui bagaimana nenek moyang Anda telah membangun tempat yang mereka tinggali, di Negara yang sekarang Anda sebut rumah ini.

Baca juga : Bangsa Han dan Perantauannya ke Indonesia. Inilah Sejarah Nenek Moyangmu!

#respectancestor
Ditulis oleh : Samantha Khor
Diterjemahkan & direvisi ke dalam bahasa oleh : Herman Tan
Foto & ilustrasi : says.com

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru. PLAGIAT KONTEN bermodal COPY PASTE adalah tindakan yang tidak terpuji.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Jangan jadi penulis dengkulan, yg bermodal Copas artikel Tionghoa.INFO!