Ketika momen2 Cengbeng, ada pembaca Tionghoa.INFO ada yang bertanya, bagaimana penulisan altar batu Tu Di Gong (土地公) di kubur/makam? Apakah menggunakan huruf Fu Shen (福神) atau Hou Tu (后土)? Apa benar Fu Shen untuk orang2 Hokkian, sedangkan Hou  Tu untuk orang2 Kanton/Konghu? Lantas apa perbedaannya?

Jawab : Penulis juga belum mendapat referensi literatur yang akurat mengenai hal ini. Namun sepengetahuan penulis, baik Fushen (福神) maupun Houtu (后土) adalah sama2 Dewa Bumi / Dewa Tanah (土地公; Tudi Gong).

Bedanya, orang2 Kanton/Konghu dan khek (yang leluhurnya berasal dari wilayah Guangdong dan sekitarnya) umumnya menggunakan Hou Tu (后土) sebagai nama altar Tudigong di makamnya.

Sementara orang2 Hokkian (yang leluhurnya berasal dari Fujian dan sekitarnya) umumnya menggunakan Fu Shen (福神) sebagai nama altar Tudigong nya.

Berhubung di Indonesia mayoritas etnis Tionghoa adalah orang Hokkian (Fujian), maka umumnya menggunakan letter Fu Shen (福神) pada batu altar Tudigong nya.

Adapun fungsi dari Tu Ti Gong ini adalah sebagai pelindung untuk mencegah agar roh2 jahat tidak datang mengganggu leluhur yang dimakamkan disitu. Atau ketika saat akan dilakukan pemakaman, memohon izin kepada Dewa Tanah agar jasad dari almarhum/ah dapat diterima di bawah (di bumi).

Untuk itulah, ketika mengunjungi makam (baik pada saat Cengbeng maupun hari2 lainnya), Anda harus terlebih dahulu bersembahyang kepada “Tuan Tanah” sebagai penghormatan dan memohon izin, sebelum membakar dupa untuk leluhur. Karena keselamatan roh para leluhur dipercaya dijaga oleh para “Fu Shen” atau “Hou Tu” ini.

Baca juga : Suku Tionghoa di Indonesia; Hokkian, Hakka, Kanton, Tiochiu, Hainan

A. Siapa Itu Dewa Bumi; a.k.a Tu Di Gong (土地公)?

Altar kecil yang bertuliskan Fu Shen (福神) untuk Tu Di Gong di makam Tionghoa.

Tu Di Gong (土地公), Tudigong, atau Tu Di Shen (土地神), atau di Indonesia disebut pula Tho Ti Kong (To Ti Kong), adalah Dewa Bumi atau Dewa Tanah yang menguasai tanah lokal, seperti sebuah area tanah tempat suatu bangunan didirikan. Masing2 wilayah memiliki Tu Di Gong yang berbeda pula.

Konon Mereka adalah kelompok Dewa yang berkedudukan paling rendah dalam ‘Tata Birokrasi Surga’ , serta yang paling dekat dengan umat manusia.

Tu Di Gong juga sering divisualisasikan (dalam bentuk patung atau lukisan) bersama dengan seorang nenek, yang disebut Tu Di Poo (土地婆).

Karena berhubungan dengan tanah (termasuk tanah pemakaman), altar untuk Tu Di Gong selalu diletakkan sejajar dengan lantai atau tanah. Pada makam2 Tionghoa, biasanya terdapat sebuah bangunan kecil di sampingnya (sebelah kiri dari makam) yang digunakan sebagai tempat persembahyangan Tu Di Gong.

Pada masa lalu, hanya para pejabat pemerintah yang diperbolehkan untuk membangun kuil pemujaan kepada tatanan para Dewata. Sementara masyarakat awam tidak diperbolehkan untuk berdoa di sana.

Namun masyarakat menemukan cara untuk bersembahyang kepada Tu Di Gong. Masyarakat yang kebanyakan berprofesi sebagai petani miskin itu membuat papan dari tanah liat, kemudian meletakkan di tanah sebagai media untuk bersembahyang.

Inilah asal usul mengenai kenapa altar untuk Tu Di Gong diletakkan di atas tanah; sementara altar untuk Fu De Zheng Shen diletakkan di atas meja altar.

Baca juga : Dewa Fu De Zheng Shen (Hok Tek Cin Sin) Apakah Sama Dengan Tu Di Gong (Dewa Bumi)?

B. Asal Usul Hou Tu; Penguasa Bumi, atau Dewa Bumi

Altar kecil yang bertuliskan Hou Tu (后土) untuk Tu Di Gong di makam Tionghoa.

Menurut catatan sejarah, pemujaan terhadap Hou Tu pertama kali dilakukan oleh Kaisar Wen dari Han (漢文帝; Hanwen Di; reign 180-157 SM) di kabupaten Fenyin, saat ini bagian dari propinsi Shanxi.

Hou Tu kemudian mulai dipuja dan menjadi umum pada masa pemerintahan Kaisar Wu dari Han (漢武帝; Han Wudi; reign 141-87 SM), tepatnya pada tahun 113 SM.

Gender dari Hou Tu tidak diketahui dengan pasti. Sering dianggap sebagai Dewa, dan terkadang sebagai Dewi. Sebagai Dewi, Beliau disebut Hou Tu Niang Niang (厚土娘娘), dan dipuja sebagai sosok Dewa Penguasa Bumi.

Terdapat banyak cerita legenda dari Hou Tu, yang dapat dibaca pada halaman berikut. Namun yang paling terkenal adalah berasal dari Legenda Air Mata Putri Meng Jiang. Begini ceritanya :

Pada masa Dinasti Qin (221-206 SM), banyak masyarakat miskin yang ditangkap untuk dijadikan pekerja paksa dalam proyek pembangunan Tembok Raksasa Tiongkok. Banyak laki2 dewasa (terutama dari wilayah Mengjiang) yang akhirnya tewas dalam proyek ini.

Para wanita dari Mengjiang pun berdukacita atas kematian suami atau anaknya. Mereka bahkan menangis disepanjang perjalanannya menuju ke lokasi pembangunan.

Setelah melalui perjalanan panjang yang sukar, mereka akhirnya berhasil mencapai tembok besar, dan melihat tulang-belulang putih yang berserakan di tanah, dimana tidak dapat teridentifikasi lagi.

Pada saat itu tiba2 muncul seorang pak tua yang berambut dan berjanggut putih kelabu berkata, “Teteskan darahmu pada tulang. Jika tulang itu berubah warna, maka tulang itu adalah tulang kerabatmu.”

Banyak yang mengikuti petunjuk pak tua itu, sehingga mereka berhasil menemukan tulang-belulang keluarganya. Kisah tersebut kemudian melahirkan legenda Hou Tu (dimana Pak Tua itu dianggap sebagai jelmaan Dewa Bumi yang sedang memberi petunjuk kepada manusia).

Tersiar kabar tentang Meng Jiangnu yang mengakibatkan runtuhnya tembok besar Tiongkok dengan ratapannya “E Pang, E Pang (nama istana yang dibangun Dinasti Qin), hancurkanlah Shihuang!”. Dikatakan bahwa ketika ratapan Meng Jiangnu itu merobohkan sebuah pojok dari tembok besar, terungkaplah tulang belulang dari ribuan jenazah. Meng Jiangnu menggigit jarinya sampai berdarah dan meneteskan darahnya ke atas tulang belulang itu, hingga salah satu tetesan darahnya langsung diserap. Demikianlah ia menemukan jenazah suaminya. – Jatuh Bangunnya Dinasti Qin (2004, hal 195).

Dalam kepercayaan Taoisme, Hou Tu dianggap sebagai asisten Huangdi (黃帝), dan merupakan salah satu dari 4 Pemandu (四御). Sebagai asisten, Beliau membawa tali yang digunakan untuk mensurvei (mengukur) tanah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *