Last Updated on 7 November 2022 by Herman Tan

Berdasarkan penanggalan kalender Imlek 阴历; Yin Li), perayaan Tahun Baru Imlek 2023, atau tahun Kelinci Air 2574 ini akan jatuh pada Minggu, 22 Januari 2023. Tahun Imlek 2574 juga sama dengan Huangdi Era (HE) 4720 (Penanggalan Taoisme berdasarkan tahun pemerintahan ke-1 Kaisar Kuning).

Setelah melewati Tahun Baru Imlek 2023, masyarakat etnis Tionghoa di Indonesia yang beragama Taoisme, Buddha, Konghucu, maupun Tridharma (kelenteng) juga akan melaksanakan sembahyang terhadap Dewa-Dewi, diantaranya :
1. Sembahyang King Thi Gong (敬天公; Jing Tian Gong), atau Sembahyang Tuhan / Kaisar Langit Yu Huang Shang Di (玉皇上帝) : Tanggal 9 bulan 1 Imlek (Senin, 30 Januari 2023).

2. Sembahyang hari kebesaran Dewa Fu Tek Zheng Shen (Hok Tek Ceng Sin; 福德正神) : Tanggal 02 bulan 02 Imlek (Selasa, 21 Februari 2023).

3. Sembahyang hari kebesaran Dewa Xuan Shang Xuan Di (玄天上帝) : Tanggal 3 Bulan 3 Imlek (Sabtu, 22 April 2023).

4. Sembahyang hari kebesaran Dewi Tian Shang Sheng Mu (Mak Co; Ma Zu, 天上聖母) : Tanggal 23 bulan 03 Imlek (Jumat, 12 Mei 2023).

*Tahun 2023 ADA bulan Lun (Lun Gwee), atau tahun penyesuaian (adjusment), dimana terdapat 2 kali bulan yang sama (biasanya 2-3 tahun sekali). Bulan Lun di tahun 2023 akan jatuh pada bulan ke-2 Imlek (jadi akan ada 2 kali bulan 2). Untuk teknisnya, silahkan baca di artikel bulan Lun.

5. Hari Raya Waisak 2567 BE (Buddhist Era), Jumat, 2 Juni 2023.

6. Sembahyang hari kebesaran Dewa Cai Shen (财神) : Tanggal 22 bulan 04 Imlek (Jumat, 09 Juni 2023), khusus Zhao Gong Ming Tanggal 15 bulan 3 (Kamis, 04 Mei 2024). Versi lain tanggal 05 bulan 1 Imlek (Kamis, 26 Januari 2023).

7. Sembahyang hari kebesaran Mahadewa Thay Shang Lao Cin (太上老君) : Tanggal 15 bulan 05 Imlek (Minggu, 02 Juli 2023).

8. Sembahyang hari kebesaran Dewa Guan Gong (Kwan Kong; 关公) : Tanggal 24 bulan 06 Imlek (Kamis, 10 Agustus 2023).

9. Sembahyang hari kebesaran Dewa Er Lang Shen (二郎神) : Tanggal 28 bulan 08 Imlek (Kamis, 12 Oktober 2023).

10. Sembahyang hari kebesaran Dewi Jiu Tian Xuan Nu (九天玄女), Dewa Na Zha (哪吒; Hokkian : Lo Tjia). Dewi Chen Jinggu (陳靖姑) : Tanggal 09 bulan 09 Imlek (Senin, 23 Oktober 2023). Pada hari ini, ada banyak Dewa-Dewi yang juga merayakan hari kebesaran-Nya.

11. Sembahyang Dewa Dapur Zao Jun Gong (Cau Kun Kong; 灶君公) : Tanggal 23 bulan 12 Imlek (Jumat, 02 Februari 2024).

12. Sembahyang hari kelahiran Dewi Guan Yin (Kwan Im; 觀音娘娘) : Tanggal 19 Bulan 2 Imlek (Jumat, 10 Maret 2023), hari mencapai kesempurnaan-Nya tanggal 19 Bulan 6 Imlek (Sabtu, 05 Agustus 2023), dan hari meninggalkan raga-Nya tanggal 19 Bulan 9 Imlek (Kamis, 02 November 2023).

Baca juga : Jadwal Sembahyang Hari Raya Tionghoa Tahun 2022

Note : Klik link2 terkait diatas untuk membaca artikel penjelasannya. Mohon diinfokan lewat komentar apabila ada kesalahan penanggalan (CMIIW).

1. Sembahyang King Thi Gong (Hanzi : 敬天公; Jing Tian Gong), atau Sembahyang Tuhan / Kaisar Langit Yu Huang Shang Di (玉皇上帝), atau “sembahyang Tebu”, dilaksanakan pada tanggal 09 bulan 1 Imlek.

2. Fu De Zheng Shen (Hanzi : 福德正神; Hokkian : Hok Tek Cin Sin) adalah Dewa kemakmuran yang mengatur rezeki manusia. Beliau merupakan salah satu Dewa dalam Taoisme yang sering dianggap sama, atau merupakan “nama resmi” dari Dewa Bumi atau Tu Di Gong (土地公). Hari kebesaran Fu De Zheng Shen diperingati setiap tanggal 2 bulan 2 Imlek.

3. Xuan Tian Shang Di (Hanzi : 玄天上帝; Hokkian : Hian Thian Siang Te) atau Xuan Di (玄帝) adalah salah satu Dewa berperingkat tinggi dalam Taoisme (Kedudukan Xuan Tian Shang Di berada setingkat di bawah Yu Huang Da Di/Kaisar Langit), dan dipuja sebagai Dewa yang mengendalikan elemen dan memiliki kesaktian yang tinggi.

Beliau juga dianggap sebagai Dewa pelindung di Langit Utara, dan menjadi pemimpin tertinggi di kawasan tersebut, yang meliputi propinsi Shanxi, Hebei, Henan, dan inner Mongolia di Tiongkok (黑帝; Heidi; dimana dalam Taoisme, warna hitam merujuk arah utara).

Beliau sangat dipuja oleh para seniman bela diri, hari kebesaran-Nya diperingati setiap tanggal 3 bulan 3 Imlek.

Pada patung2/arca-Nya, sering divisualisasikan dalam posisi duduk di singgasana, jubah kekaisaran atau pakaian perang keemasan, berjanggut hitam panjang tidak mengenakan sepatu, dengan kaki kanan menginjak ular, sementara kaki kiri menginjak kura-kura, sambil menggenggam sebilah pedang, dimana tangan kirinya membentuk “mudra tiga gunung” yang menyerupai Kwan Im,

4. Tian Shang Sheng Mu (Hanzi : 天上聖母; Hokkian : Thian Shang Sheng Bo) atau Ma Zu (媽祖; Hokkian : Mak Co), yang berarti “Ibu Suci”. Beliau adalah Dewi Pelindung Lautan dalam Taoisme. Memiliki nama kecil Lin Mo Niang (林默娘). Hari kebesaran Tian Shang Sheng Mu diperingati setiap tanggal 23 bulan 3 Imlek.

5. Hari Raya Waisak (nama salah satu bulan dalam penanggalan India Kuno) dirayakan pada bulan purnama pertama pada bulan Mei, untuk memperingati 3 peristiwa penting, yakni :

• Lahirnya Pangeran Siddharta di Taman Lumbini pada tahun 623 SM.
• Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Agung dan menjadi Buddha di Bodh Gaya pada usia 35 tahun, pada tahun 588 SM.
• Buddha Gautama parinibbana (wafat) di Kusinara dalam usia 80 tahun, pada tahun 543 SM.

3 peristiwa ini dinamakan “Trisuci Waisak“. Keputusan merayakan Trisuci ini dinyatakan dalam Konferensi Persaudaraan Buddhis Sedunia yang pertama di Sri Lanka pada tahun 1950.

6. Dewa Cai Shen (财神) yang dikenal oleh etnis Tionghoa, yang paling umum adalah Dewa Rezeki Zhao Gong Ming (赵公明). Beliau merupakan salah satu dari Wu Lu Cai Shen (militer).

Dewa Rezeki bertugas untuk memberikan harta dan kekayaan kepada umat manusia. Hari kebesaran-Nya diperingati setiap tanggal 15 bulan 3 Imlek. atau tanggal 22 bulan 4 Imlek. Versi lain tanggal 05 bulan 1 Imlek.

7. Mahadewa Thay Shang Lao Jun (太上老君) adalah DEWA TERTINGGI dalam Taoisme. Thay Shang Lao Cin dianggap sebagai manifestasi dari Lao Zi (老子). Hari Kebesaran-Nya diperingati setiap tanggal 15 bulan 5 Imlek.

8. Dewa Guan Gong (Hanzi : 关公, Hokkian : Kwan Kong) adalah seorang Jenderal perang kenamaan yang hidup pada jaman 3 Kerajaan Sam Kok (三國; San Guo), pada rentang tahun 160-220 M. Nama aslinya adalah Guan Yu (关羽), atau Guan Yun Chang (关云长). “Guan” adalah marganya, dan “Gong” berarti tuan, atau gelar kehormatan.

Oleh karena itu, Guan Gong berarti “Dewa Guan”. Beliau juga disebut Guan Sheng Di Jun (關聖帝君), dan oleh Kaisar Han, Beliau diberi gelar Han Shou Ting Hou (漢夀亭侯) yang berarti “Marquis dari Han Shou”.

Beliau dipuja karena kesetiaan dan kejujuran, sebagai lambang/teladan sifat2 ksatria sejati yang selalu menepati janji dan setia pada sumpahnya. Oleh sebab itu, Guan Gong merupakan Dewa yang paling banyak dipuja di kalangan masyarakat.

Lukisan Nya banyak terpasang di rumah pribadi, toko, bank, kantor polisi, pengadilan, sampai di markas organisasi mafia! Dimana para anggota perkumpulan rahasia itu biasanya berkumpul dan melakukan sumpah setia satu sama lain.

Karena itu, Beliau adalah satu2 nya Dewa yang dipuja, baik oleh orang2 golongan hitam maupun orang2 golongan putih. Hari kebesaran-Nya diperingati setiap tanggal 24 bulan 6 Imlek.

9. Er Lang Shen (Hanzi : 二郎神; Hokkian : Ji Long Sin) adalah salah satu Dewa perang tertinggi dalam Taoisme, yang bertugas menjaga Langit tingkat ke-8, dan merupakan pengawal (bersama Ciu Thian Xuan Nu) dari Thay Shang Lao Cin. Er Lang Shen memiliki “mata ketiga” di tengah dahinya, yang berfungsi untuk melihat kebenaran sejati.

Menurut legenda yang paling terkenal, Yang Jian (杨 戬) adalah adalah keponakan dari Kaisar Langit. Ibunya, Putri Yaoji, adalah saudara perempuan Kaisar Langit. Ibunya dipenjara di dalam Gunung Tao karena telah melanggar Aturan Surgawi, dengan menikahi seorang manusia biasa (ayahnya, Yang Tianyou).

Bertahun2 kemudian, putranya akhirnya berhasil membelah Gunung dengan menggunakan kapaknya, dan berhasil membebaskan ibunya. Yang Jian juga dikatakan memiliki kesaktikan 73 transformasi/perubahan wujud, setingkat lebih tinggi daripada Sun Wukong (72 transformasi).

Er Lang Shen sering divisualisasikan sebagai seorang pemuda tampan bermata tiga, bersama pengawalnya (嘯天犬; Xiaotian; anjing langit), kadang2 ditambah dengan seekor elang. berpakaian jubah perang keemasan, dengan senjata utamanya adalah tombak berujung 3 bermata 2 (三尖 兩刃 槍; San jian liang ren qiang).

Bagi umat Taoisme, Er Lang Shen dianggap sebagai Dewa yang mempunyai kesaktian yang luar biasa untuk menghadapi roh jahat dan siluman. Hari kebesaran-Nya diperingati setiap tanggal 28 bulan 08 Imlek.

10. Jiu Tian Xuan Nu (九天玄女) merupakan salah satu Dewi Tertinggi dalam Taoisme. Kedudukan-Nya hanya setingkat dibawah Xi Wangmu 西王母 (Dewi yang menguasai Langit di Barat; bergelar Yao Chi Jin Mu 瑤池金母). Jiu Tian Xuan Nu adalah Dewi yang sering membantu pahlawan2 di jaman kuno Tiongkok.

Konon cerita pada jaman Kaisar Huang Di (皇帝), Beliau pernah mengajarkan rakyat menanam palawija. Selain itu, Beliau juga mengajarkan cara-cara berperang yang kongkrit. Oleh karena itu, Beliau juga dianggap sebagai “Dewi Perang”. Hari kebesaran-Nya diperingati setiap tanggal 9 bulan 9 Imlek.

Lie Lo Cia, atau Li Ne Zha (Hanzi : 哪吒; Pinyin : Nǎ zhā; Hokkian Lo Tjia) sering disebut juga dengan Sam Thay Cu (三太子; San Tai Zi); Ia adalah putra ketiga Li Jing, yang bergelar Li Tian Wang. Gelarnya adalah Tiong Tan Goan Swee (中壇元帥; Zhong Tan Yuan Shuai) atau “Jendral Panggung Tengah”, yang bertugas mengepalai 36 pasukan langit.

Sama seperti Dewi Jiu Tian Xuan Nu, Hari kebesaran-Nya juga diperingati setiap tanggal 9 bulan 9 Imlek.

11. Dewa Dapur (Hanzi : 灶君公; Pinyin : Zào jūn Gōng; Hokkian : Cao Kung Kong) merupakan Dewa bertugas untuk memantau perilaku dan mencatat perbuatan manusia sehari2, baik perbuatan yang baik maupun yang buruk.

Dalam tradisi Tionghoa, sebagian masyarakat Tionghoa menyakini bahwa tanggal 23 bulan 12 Imlek adalah “Harinya Dewa Dapur”; dimana setiap tahunnya sang Dewa akan naik ke kahyangan, dan melapor pada Kaisar Langit tentang semua kebaikan dan keburukan yang diperbuat manusia, terlebih untuk keluarga yang diawasinya sepanjang tahun tersebut.

12. Dewi Kwan Im, atau Dewi Guan Yin (Hanzi : 觀音娘娘觀世音; Pinyin : Guanyin niangniang; Guanshiyin) adalah Dewi Welas Asih dan penyayang yang populer dipuja masyarakat Tiongkok dan perantauannya  di seluruh dunia.

Sebutan ‘Kwan Im’ sendiri berasal dari dialek Hokkian yang umum dipergunakan mayoritas etnis Tionghoa di Indonesia. Secara harafiah, Guan 觀 artinya “melihat”, dan Yin 音 artinya “suara/mendengar”. Jadi, asal melihat atau mendengar ada yang minta tolong (khususnya perempuan), Dewi ini yang selalu datang/turun menolong.

Menurut versi Taoisme, menyebut-Nya sebagai Guan Yin Dashi (觀音大士), Cihang Dashi (慈航大士), atau Cihang Zhenren (慈航真人), Cihang Daoren (慈航道人).

• Lalu sebenarnya untuk apa kita Sembahyang? 

Kalau di jaman dulu, orang2 bersembahyang karena takut mati,  ketidakberdayaan dalam menghadapi situasi perang, bencana alam, wabah penyakit, kelaparan, dan kejahatan dalam masyarakat.

Sedangkan di jaman sekarang, orang2 bersembahyang karena takut hidup, karena hidup ini susah, menghadapi berbagai macam problem kehidupan seperti persaingan usaha/bisnis, pekerjaan/karir, utang, asmara, dan kesehatan.

Sementara manusia hanya tahu keadaannya yang sekarang, tidak bisa memprediksi masa depan yang misteri, sementara masa lalu tinggalah kenangan. Siapa yang tahu jalan kedepannya bagaimana?

Karena itulah, manusia bersembahyang kepada Dewa-Dewi, kepada Langit dan bumi, selain memohon berkah dan perlindungan/keselamatan, juga memohon petunjuk dalam bagaimana menjalani kehidupan ini.

Agama Taoisme yang agung dan mulia harus dijabarkan dan disebarkan ke semua umat kelenteng. Ini loh, warisan budaya Tionghoa sejak jaman Kaisar Huangdi (reign : 2698-2598 SM).

Kita2 sebagai orang dewasa harus dapat mencerdaskan umat kelenteng. Beri yang terbaik agar anak cucu lebih paham budaya Tionghoa itu seperti apa?

Nenek moyang sudah mewariskan tempat sembahyang, tempat berkumpul umat dan keluarga. Apakah kita rela, kelenteng2 menjadi sepi, mulai ditinggalkan anak cucunya?

Kita harus sadar, bahwa memang selama ini tidak ada yang mau tampil bersuara, mau menjabarkan untuk apa kita sembahyang? Apa peran kelenteng sebagai rumah kedua kita? Juga Dewa-Dewi yang kita sembah membawa dampak kehidupan bagi umat-Nya seperti apa?

Terhadap Dewa-Dewi yang di kelenteng, apakah kita takut baru bersembahyang kepada-Nya? Apakah kita butuh beliau baru bersembahyang kepada-Nya?

Apakah karena kita tidak tahu, lantaran ikutan orang tua sembahyang di kelenteng, lantas kita ikut2an bersembahyang kepada-Nya? Atau kita hanya sekedar suka dilihat orang sekitar, oh si Anu masih beragama leluhur? (by LMS).

Baca juga : Jadwal Sembahyang Hari Raya Tionghoa Tahun 2023

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: eitss, mau apa nih?