Last Updated on 16 March 2021 by Herman Tan

Dewi Linshui (臨水夫人; Linshui Furen) adalah seorang Dewi dalam agama Taoisme, yang semasa hidupnya bernama Chen Jinggu. Beliau lahir sekitar tahun 700-an, dan konon disebut (oleh sebagian orang) sebagai titisan Dewi Guanyin.

Semasa manusia, Chen Jinggu terlahir sebagai seorang anak ajaib. Begitu lahir, dikatakan Dia bisa langsung berbicara, dan setelah mampu berjalan, Ia pun bisa segera terampil menulis.

Dulunya Beliau adalah seorang pawang hujan, yang kemudian setelah meninggal menjadi Dewi yang bertugas melindungi bayi dan anak2. Oleh sebab itu, Linshui Furen banyak dipuja oleh para wanita.

Masyarakat di pesisir propinsi Fujian dan Guangdong Tiongkok banyak yang mempercayai bahwa Chen Jinggu (陳靖姑), atau dikenal juga dengan Lin Shui Fu Ren (臨水夫人) sebagai Dewi pelindung anak hingga anak memasuki usia dewasa. Selain itu, ada juga Zhusheng Niang-Niang (註生娘娘) yang dikenal sebagai Dewi kelahiran (pelindung kesuburan wanita).

Dewi Zhu Sheng Niang-Niang (dialek Hokkian : Cu Seng Nio Nio) ini mempunyai tugas khusus, yaitu memberikan kehamilan bagi wanita yang telah menikah. Setelah wanita tersebut hamil, tugas-Nya selesai, dan digantikan oleh Lin Shui Fu Ren yang melindungi wanita dan bayi dalam kandungannya itu hingga saat kelahirannya.

Hari kebesaran Zhu Sheng Niang-Niang sendiri diperingati setiap tanggal 20 bulan 3 Imlek. Zhusheng Niang-Niang sendiri sangat jarang ada yang mempunyai kelenteng sendiri (dipuja khusus). Ia biasanya dipuja sebagai pelengkap kelenteng yang memuja Dewa-Dewi lain.

Dewi Zhusheng Niang-Niang, Lin Shui Fu Ren, dan contoh Hu (Fu) Sannai Furen.

Masyarakat Tiongkok dan perantauannya dikenal sangat mementingkan kelanjutan keturunan, dimana anak laki2 dianggap sebagai penerus marga, perlambang rejeki dan kebahagian. sehingga setelah menikah para wanita senantiasa sembahyang kepada Dewi-Dewi (女神; Nushen) agar dapat segera hamil dan diberi momongan bayi.

Masyarakat mulai menyembah Linshui Furen pada akhir tahun 700-an, di jaman Dinasti Tang (618-907). Meskipun kepercayaan terhadap-Nya berasal dari Provinsi Fujian, namun masyarakat Taiwan pun menyembahnya karena pengaruh para imigran Tiongkok yang masuk ke wilayah ini.

Linshui Furen dipercaya sebagai Dewi pelindung para wanita hamil dan anak-anak. Para wanita yang ingin hamil, yang sedang hamil, atau yang baru saja melahirkan sering terlihat mengunjungi kelenteng untuk meminta perlindungan dari-Nya.

Para wanita yang ingin memohon biasanya akan membawa persembahan berupa buah2, samseng, dan arak untuk diletakkan di depan altar-Nya. Yang belum mempunyai anak dan yang telah dikaruniai anak, akan memohon keselamatan serta umur panjang bagi putra-putrinya.

Biasanya setelah anak tersebut berhasil mencapai usia dewasa (sekitar umur 16 tahun), masih sering datang ke kelenteng Linshui Furen, untuk menyampaikan rasa terima kasih.

Selain itu, orang2 juga datang ke kelenteng-Nya untuk meminta agar diberikan bayi laki2, sebagai penerus keturunan (marga). Karena itu, di kelenteng2 yang memiliki persembahyangan terhadap Beliau sering terlihat Taoshi (pendeta Tao) yang melakukan upacara ritual, dengan harapan dapat mengubah jenis kelamin bayi yang sedang dikandung, sesuai keinginan orang tuanya.

Pasangan suami istri juga sering datang ke kelenteng ketika anak mereka terlalu sering menangis. Mereka berdoa pada sang Dewi untuk menghilangkan hal-hal buruk yang mungkin menimpa anak mereka.

A. Riwayat Dewi Chen Jinggu

Chen Jinggu (陳靖姑) lahir di Fuzhou, Fujian, pada sekitar tahun 767 (jaman Dinasti Tang). Wanita legendaris ini kemudian terkenal sebagai Linshui Furen (臨水夫人) sekitar abad ke-13 (jaman Dinasti Song).

Karena pemujaan terhadap-Nya awalnya dilakukan oleh orang2 di desa Lingshui, maka beliau disebut Lin Shui Fu Ren, yang secara harfiah berarti “Nyonya dari Lin Shui”.

Chen Jinggu (Linshui Furen), Dewi Pelindung Wanita hamil dan Anak2.

Tidak lama sebelum kelahiran-Nya, seorang kepala desa di sebuah distrik dekat Quanzhou berencana membangun sebuah jembatan di atas perairan yang berbahaya, dimana banyak orang yang tewas tenggelam di sana setiap tahun.

Tetapi ketika memasuki tahap konstruksi, pembangunan jembatan ini membutuhkan banyak biaya, dan pembangunannya sempat terhenti.

Suatu hari kepala desa itu berdoa kepada Dewi Guan Yin (觀音) untuk meminta bantuan dalam proyek konstruksinya. Guan Yin pun mendengar doanya, dan muncul di sebuah perahu di depan desa nelayan.

Guan Yin memberi tahu orang banyak yang berkumpul disana, bahwa Dia akan menikahi siapa pun yang bisa melempar koin yang berhasil menyentuh-Nya.

Baca Juga :  Kwee Pang (Guo Fang), Upacara Pengakuan Anak Angkat Dewa

Ratusan koin perak pun berusaha dilemparkan orang2 desa ke arah-Nya, tetapi semua terlewat dan jatuh ke dalam perahu yang sedang dinaikinya. “Penggalangan dana” ini pun bekerja dengan baik, sampai seorang lelaki penjual sayur melemparkan segenggam bubuk perak ke arah sang Dewi, dan tanpa sengaja berhasil menyentuh sehelai rambut-Nya.

Baca juga : 20 Ajaran Welas Asih Dewi Kwan Im (Dewi Guan Yin)

Dewi Guan Yin pun berangsur2 menghilang kembali kearah lautan. Tetapi penjual sayur tersebut merasa berhasil mengenai sang Dewi, dan sangat ingin mengklaim hadiahnya, akhirnya nekat menceburkan dirinya ke laut untuk mengejar-Nya, namun dia tenggelam di perairan yang ganas 😥.

Guan Yin kemudian muncul kembali di hadapan orang2 desa, dan menaruh belas kasihan kepada pria yang tenggelam,

Dia pun mengirim jiwanya untuk dilahirkan kembali sebagai seorang sarjana di Gutian (saat ini termasuk wilayah Fujian). Beliau menggigit jarinya, dan meneteskan sedikit darah dari luka ke dalam air. Dia kemudian mencabut rambut perak dari kepalanya, dan melemparkannya ke laut, yang kelak akan menjadi monster ular laut.

Tetesan darah Guan Yin kemudian mengalir ke hilir ke bagian bawah Sungai Min, tempat Nyonya Ge, seorang wanita mandul yang kebetulan berada disitu, tanpa sengaja menelannya. Darah suci itu langsung menghamili Nyonya Ge, dan melahirkan seorang bayi yang diberi nama Chen Jinggu 9 bulan kemudian.

Ketika akan melahirkan, tercium bau2 wewangian dan suara2 musik merdu yang memenuhi langit.

Lady Linshui, “Daughter” of Guan Yin.

Sejak usia dini, Chen Jinggu menunjukkan tanda2 kemampuan seorang waskita (memiliki penglihatan tajam) yang kuat dan pengabdian yang intens kepada Bunda Surgawi-Nya, Guan Yin.

Selama masa remajanya, Chen Jinggu berangkat untuk mempelajari ilmu magis (Kedewaan) dan seni bela diri dari seorang guru terkenal yang tingal di atas Gunung Lu (閭山; Lu Shan).

Namun Dia dengan cepat melampaui kehebatan gurunya, dan menjadi master di kedua bidangnya. Keterampilan ini akan sangat membantu-Nya dalam perjuangannya melawan monster ular.

Dia menguasai setiap seni magis, kecuali ilmu untuk melahirkan, dimana Dia tidak begitu peduli setelah mempertimbangkan bahwa Dia tidak memiliki keinginan untuk menikah 😎.

Sekembalinya ke rumah, Ibunya (Nyonya Ge) berusaha mencarikan putrinya seorang suami, tetapi Chen Jinggu menolak semua upayanya. Sebaliknya, Chen Jinggu membuka praktek ilmu magisnya, melakukan segalanya mulai dari pengusiran setan hingga pemanggilan roh.

Dia juga melatih 2 wanita lain yang dikenalnya, Lin Shaniang 林紗娘 dan Li Sanniang 李三娘, yang bersama2 membentuk trio saudari. Namun kisah dari 2 wanita lainnya ini hanya sedikit.

Chen Jinggu (Linshui Furen) sering divisualisasikan sebagai salah satu dari 3 Wanita (Sannai Jiao), bersama Lin Shaniang dan Li Sanniang.

Singkat cerita, Chen Jinggu pun melaju ke pertempuran pertamanya, dengan melawan monster ular, yang dipersenjatai dengan pedang yang terbentuk dari bintang2 Ursa Major dan cambuk berkepala ular.

Dalam pertempuran pertama-Nya melawan monster ular yang datang menyerang istana Raja, Dia bersama saudari2nya berhasil mengusirnya, yang pada saat itu telah menelan salah satu selir Raja.

Lain waktu, sang monster ular menyerang reinkarnasi penjual sayur, dimana telah menjadi seorang sarjana muda tampan yang bernama Liu Qi.

Setelah pertempuran sengit, Chen Jinggu akhirnya berhasil menyelamatkan pemuda itu. Setelah pertemuan itu, keduanya saling jatuh cinta, dan menyegel rasa kasih sayang mereka yang besar satu sama lain dengan perkawinan formal 🙂

Chen Jinggu pun hamil tak lama setelah pernikahan mereka. Selama masa ini, kerajaan menderita kekeringan yang parah. Sang Raja (閩王; Min Wang) memanggil Chen Jinggu (yang telah dianggap sebagai seorang pendeta wanita yang memiliki kesaktian) untuk meminta hujan.

Tetapi karena ritual doa untuk hujan membutuhkan tarian yang sangat berat, Dia tidak bisa melakukan tarian tersebut karena sedang hamil.

Namun permohonan hujan tidak bisa lagi ditunda. Chen Jinggu pun dengan berat hati menggugurkan bayi itu dari rahimnya, namun dengan menggunakan kesaktiannya, Dia menyegelnya di dalam plasenta (suatu organ yang terbentuk dan menempel pada dinding rahim sejak awal kehamilan) agar tetap hidup dan aman di dalam rumah ibunya.

Setelah itu Dia memulai persiapan, dan menari secara ritual untuk memanggil hujan. Namun tidak disangka, monster ular kembali datang dan menyelinap ke rumah ibunya, serta memakan plasenta (bayi) itu. Pada saat itu, Chen Jinggu pun mulai mengalami pendarahan hebat.

Baca Juga :  Kwee Pang (Guo Fang), Upacara Pengakuan Anak Angkat Dewa

Menyadari apa yang telah terjadi, Dia pergi untuk menghadapi monster ular itu, dan berhasil membunuhnya dengan sisa2 kekuatan terakhirnya. Setelah kehilangan semua kekuatannya, Chen Jinggu kemudian rubuh seketika, dan meninggal pada usia 24 tahun 😥.

Suatu hari, dalam bentuk roh, Dia kembali ke gurunya yang berada di Gunung Lu, dan akhirnya berhasil menguasai kesaktian ilmu magis melahirkan. Setelah itu, Dia segera mengambil kembali roh anak-Nya yang belum lahir, dan mengubahnya menjadi Dewa anak San Sheren.

Tak berselang lama, Kaisar Langit (玉皇大帝; Yu Huang Da Di) yang terkesan akan kebijakannya, kemudian mengangkatnya sebagai Dewi yang bertugas melindungi para wanita yang sedang hamil. Pada gilirannya, Beliau pun menerima gelar Lin Shui Fu Ren (臨水夫人).

Tampak patung Sannai Furen; Chen Jinggu, Li Sha-nniang, dan Lin San-niang (foto : religion.moi.gov.tw).

Versi Chen Jinggu yang Lain :

Chen Jinggu (Nyonya Linshui), lahir pada tahun 767 jaman Dinasti Tang. Dia berasal dari keluarga yang menguasi kesaktian. Dikatakan bahwa sejak lahir, Beliau memiliki kelebihan2 khusus, seperti dapat memprediksi masa depan, dan memiliki kemampuan magis/sihir (法術; Faksuk, Spell, Mantra).

Menurut beberapa catatan, Chen Jinggu (陳靖姑) dan kedua saudarinya, Lin Sha-niang (林紗娘) dan Li San-niang (李三娘) semuanya adalah murid Xu Xun (許遜; rentang hidup 239 – 374), seorang pendeta Tao yang hidup pada masa Dinasti Jin (226 – 420).

Karena Xu Xun adalah sosok Taois pada dinasti Jin, sementara Nyonya Linshui hidup pada dinasti Tang. Rupanya, itu adalah kisah mistik bukan sejarah.

Chen Jinggu bersama kakak seperguruannya yang bernama Chen Hai-qing (陳海青) awalnya adalah pengusir roh2 jahat kala itu. Chen Hai-qing gagal dalam misinya untuk menjinakkan siluman iblis ular berbisa, sehingga ia ditangkap olehnya. Kemudian Chen Jinggu dan kedua saudarinya mencoba mencari Xu Xun untuk meminta bantuannya.

Perjalanan mereka pun laiknya sebuah cerita, dimana mereka menyeberangi sungai yang bermasalah, bertarung dengan naga jahat, dan mengalahkan harimau yang ganas. Akhirnya, mereka berhasil menemukan Xu Xun yang tinggal di Gunung Lu shan (閭山) dan menjadi muridnya untuk memajukan kesaktian (学法; Xue fa) mereka sendiri.

Lushan dianggap sebagai “gunung suci” bagi para pengusir roh2 jahat di Fujian, Zhejiang, dan provinsi2 lainnya di Tiongkok tenggara. Namun, Lushan adalah gunung mistis dimana letaknya tidak ada yang tahu persis.

Setelah Sannai Furen (三奶夫人) mempelajari semua keterampilan dan kesaktian dari Xu Xun, termasuk ilmu guntur Lei Fa (雷法), Mereka mulai melacak jejak keberadaan iblis ular berbisa, kemudian berhasil menemukan guanya, dan membunuhnya. Chen Hai-qing pun diselamatkan oleh Mereka.

Sannai Furen (Chen Jinggu cs) kemudian menjadi pembasmi setan yang terkenal. Mereka bahkan menyelamatkan Raja Min (閩王) dan selirnya dari setan ular berbisa lain. Karena itulah, Raja Min memberi mereka 36 pelayan wanita sebagai hadiah. Ke-36 pelayan kemudian menjadi pengikut dan skuad Sannai Furen.

Catatan : Adapula versi cerita yang lebih singkat. Setelah Chen Jing Gu menikah dan hamil, dengan kesaktiannya beliau terus membantu masyarakat setempat dalam melakukan upacara pengusiran roh2 jahat. Sampai akhirnya karena kelelahan, Beliau mengalami keguguran lalu meninggal.

B. Pernyembahan Terhadap Linshui Furen

Kuil pertama yang dibangun untuk menghormati Linshui Furen dibangun pada tahun 792 di desa Daqiao (大桥), yang secara harafiah berarti “jembatan besar”, saat ini termasuk wilayah propinsi Guangdong. Disinilah tubuhnya sekarang berada, bersama dengan sisa2 monster ular yang dikalahkannya.

Chen Jinggu (Linshui Furen), Dewi Pelindung Anak (foto : maisappho.wordpress.com)

Linshui Furen pertama kali diakui dalam “Daftar Pengorbanan Kaisar: sekitar tahun 1250. Pada jaman Dinasti Qing, di masa pemerintahan Kaisar Xianfeng (memerintah 1850-1861), beliau diberi gelar Sun Tian Sheng Mu, yang berarti “Ibu Suci yang menjalankan kehendak Langit”.

Karena semasa hidup Linshui Furen mempunyai kesaktian dan mampu menaklukan roh2 jahat, Beliau turut dipuja oleh para pendeta Taoisme. Para pendeta Taoist yang memuja Beliau ini kemudian mendirikan aliran yang disebut San Nai Jiao (三奶教).

Silsilah perguruan-Nya, yang dikenal pula sebagai Sannai Lushan (三奶閭山), atau Sannai Pai (三奶派), terus berlatih dan melakukan upacara2 pengusiran roh-roh jahat, praktek penyembuhan, dan berbagai seni magis lainnya (kesaktian) selama berabad-abad setelah kematian-Nya.

Baca Juga :  Kwee Pang (Guo Fang), Upacara Pengakuan Anak Angkat Dewa

Menurut agama rakyat Tiongkok (Chinese Folk Religon), Sannai Furen mewakili garis warisan Lushan Pai (閭山派). Lushan Pai adalah sekolah perguruan (aliran kepercayaan) yang menyebar di sekitar wilayah Fujian, Jiangxi, dan Taiwan.

Dalam prakteknya, ritual2nya dipengaruhi oleh agama Taoisme, Buddhisme, serta Wu (巫), sebuah tradisi kuno dalam agama rakyat Tiongkok.

Di bawah sekolah Lushan Pai inilah, diketahui adanya subdivisi yang disebut Sannai pai (三奶派) diatas. Di Taiwan, pengusir setan/roh jahat yang berasal dari San-nai pai mengenakan sorban merah di kepala mereka. Mereka sering disebut Hongtou Fashi (紅頭法師), atau “pengusir setan dengan rambut merah”.

Kuilnya di Daqiao sempat terbakar pada tahun 1875, tetapi kemudian berhasil dipugar dengan hati2. Setelah pengambil-alihan pemerintahan oleh Komunis Tiongkok pada tahun 1949 (tepatnya pada Revolusi Budaya tahun 1966-1976), arca-arca-Nya dirusak dan ritual peribadatan-Nya ditekan oleh hukum yang menentang “tahayul feodal.”

Namun, banyak wanita setempat terus menghormati nilai2 tradisi mereka, meskipun ada ancaman sentimen anti-agama pada masa itu, Pada tahun 1980-an, dengan relaksasi hukum2 Komunis yang telah dilonggarkan, kuil2 Nya kembali direstorasi dan diperluas.

Para kaum wanita terutama bersembahyang kepada Sannai Furen (Linshui Furen cs) untuk meminta perlindungan terhadap calon bayinya dan anak2nya aman. Cerita mengenai mereka juga populer dalam cerita rakyat dan opera rakyat tradisional.

C. Kelenteng Linshui Furen yang Terkenal

Lady Linshui Temple di Tainan, Taiwan (foto : cina.panduanwisata.id).

Kelenteng/Kuil Dewi Linshui utama di Taiwan terletak di sebelah timur kota Tainan. Kelenteng ini terletak di Jalan Jianye No.1, Distrik Tengah, Tainan. Ini merupakan kelenteng Linshui Furen tertua dan paling terkenal yang ada di Taiwan.

Kelenteng Linshui Furen di Tainan dibangun pada tahun 1736. Mulanya situs pemujaan di kelenteng ini hanya terbuat dari jerami. Kemudian dibangun ulang dengan berbahan beton pada tahun 1886, dan dipugar menjadi seperti sekarang ini pada tahun 1983.

3 patung asisten Linshui Furen yang bertugas setiap bulannya di kuil Dewi Linshui Taiwan.

Jika berkunjung ke kelenteng ini, pengunjung dapat melihat berbagai ornamen yang menghiasi kelenteng, diantaranya terdapat banyak representasi relief dan mural yang melambangkan wanita. Dalam melaksanakan tugasnya,

Chen Jinggu (陳靖姑) sering divisualisasikan sebagai salah satu dari 3 Wanita (San Nai Jiao; 三奶教; yang berarti “3 Nyonya Pengajar”), bersama :

Lin Sha-niang 林紗娘 (disebut juga Lin Jiuniang 林九娘, atau Lin Furen 林夫人).
 Li San-niang 李三娘 (disebut juga Li Sannai; 李三奶, atau Li Furen 李夫人).

Karena Beliau bertiga dipuja bersama, maka disebut San Nai Fu Ren (三奶夫人), yang berarti “3 Wanita terhormat”. Hari Kebesaran atau Sejid Chen Jing Gu sendiri diperingati setiap tanggal 15 bulan 1 Imlek, Lin San-niang setiap tanggal 9 bulan 9 Imlek, dan Li Sha-niang setiap tanggal 15 bulan 8 Imlek.

Tampak seorang wanita sedang bersembahyang depan altar Dewi Linshui.

Baca juga : Kwee Pang, Upacara Pengakuan Anak Angkat Dewa

Dikatakan bahwa mereka bertiga pernah bertapa di pegunungan Lu Shan, dan saling mengangkat sebagai saudari. Kelenteng Lin Shui ini sering diumpamakan para pengunjung sebagai sebuah “rumah bersalin”, dimana Chen Jing Gu bersama kedua rekannya bertugas sebagai “dokter spesialis bersalin” 🙂.

Ketiga Dewi ini, bertugas melindungi wanita2 yang sedang hamil agar bisa melahirkan dengan selamat. Linshui Furen juga dibantu oleh 36 asisten yang bertugas secara bergantian. Terdapat 3 asisten yang membantu setiap bulannya (ditampilkan per bulan), yang ditampilkan dalam kotak kaca di sepanjang sisi aula utama kuil.

Sampai hari ini, masyarakat Tiongkok dan perantauannya yang memuja Linshui Furen percaya bahwa Dia dan saudari2 perempuannya terus berkelana di seluruh dunia, memerangi ketidakadilan di mana pun itu muncul.

Catatan : Artikel ini ditulis pada 15 Juni 2020 (24 bulan 4 Imlek-lun 2571); Memperingati ulang tahun pernikahan orang tua penulis yang ke-35.

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru. PLAGIAT KONTEN bermodal COPY PASTE adalah tindakan yang tidak terpuji.

2 thoughts on “Chen Jinggu (Linshui Furen), Dewi Pelindung Wanita Hamil dan Anak-Anak”

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Jangan jadi penulis dengkulan, yg bermodal Copas artikel Tionghoa.INFO!