Last Updated on 28 February 2022 by Herman Tan

Po Un (Hanzi : 补运; Pinyin : Bu Yun), atau Bao Yun (保运) berasal dari dialek Hokkian, dimana Po berarti “melindungi”, dan Un berarti “nasib”. Poun secara harafiah berarti “menambah nasib menjadi baik, atau menambal nasib yang tidak baik sehingga menjadi baik, atau melindungi orang2 agar memiliki nasib yang baik”.

Persembahyangan Po Un sendiri awalnya merupakan sebuah ritual dalam Agama Tao () sejak ribuan tahun yang lalu, yang dimaksudkan untuk mendoakan agar umat dapat terlindungi dari ciong/jiong, atau nasib buruk yang akan terjadi di tahun tersebut.

Orang2 yang shionya sedang ciong, diyakini akan memiliki nasib yang kurang baik di sepanjang tahun yang akan berjalan. Dikatakan shio ciong (; Chong), yang artinya menurut perhitungan astrologi Tiongkok peruntungannya kurang bagus di tahun tersebut.

Misalnya, tahun 2022 adalah tahun Macan (unsur Air, Yang). Jadi mereka2 yang bershio Macan akan berada di posisi waktu tahun lahir mereka (本命年; ben ming nian); atau yang secara harafiah berarti “asal tahun kehidupan”. Hal ini dipercaya akan “menyinggung” Dewa Thay Sui (太岁).

Dewa Thay Sui selalu berganti setiap tahunnya.

Dalam Ciong, terdapat juga istilah Ciong besar dan Ciong kecil. Ciong besar adalah tahun (shio) yang sedang berjalan, dan yang selisih 6 dari tahun shio, sementara yang selisih 3 dan 9 dianggap ciong kecil.

Namun bukan berarti semua orang yang ciong besar akan berada dalam bahaya. Secara spesifik, ada hitungan2 lain, berupa tahun2 kelahiran mana saja (dalam shio tersebut) yang terkena ciong paling besar.

Biasanya, bagi mereka2 yang sedang ciong besar DISARANKAN untuk MENGHINDARI acara2 pemakaman (mulai dari tutup peti atau malam kembang, pemberangkatan jenazah, hingga di acara penguburan), mengunjungi rumah sakit, atau bahkan mengunjungi orang yang baru melahirkan bayi.

Jikapun memang terpaksa, semisal menghadiri acara duka keluarga/kerabat dekat, harus melakukan cisuak2 tersentu (agar efek negatifnya tidak menempel), seperti ketika pulang dan hendak memasuki rumah, harus membakar kertas emas dan melangkahinya, lalu segera mandi bersih.

Orang2 yang shionya ciong dianjurkan untuk mengikuti sembahyang Po Un untuk memperbaiki nasibnya di tahun ini, dimana mereka biasanya akan bersembahyang secara khusus kepada Dewa Thay Sui yang bertugas di tahun tersebut.

九宫飛星 (Nine House Flying Stars). Setiap tahun, posisi bintang akan berubah, jadi perlu penyesuaian dalam formasinya.

Terdapat “60 Dewa piket tahunan” yang dinamakan Thay Sui, yang setiap tahun bertugas bergiliran untuk mengurusi kehidupan manusia, baik rezeki maupun malapetaka, mengikuti perhitungan perbintangan.

Baca Juga :  Ciak Cai Dalam Agama Tao

Sembahyang khusus ini dinamakan sembahyang PO UN. Masyarakat Tionghoa sendiri menyebutnya sebagai “sembahyang ciong”, atau “ritual tolak bala”.

Upacara sembahyang ciong sendiri, selain bertujuan untuk memohon berkah dan nasib baik, juga memohon perlindungan serta keselamatan, agar sepanjang tahun yang akan berjalan mereka selalu dilindungi oleh Shen Xian (神仙) atau Dewa-Dewi, terutama oleh Dewa Thay Sui yang bertugas pada tahun tersebut.

Sembahyang Po Un yang sebenarnya dilakukan lewat suatu formasi yang di ambil dari “9 pondok/istana perbintangan” (九宫; Jiugong) yang setiap tahun posisi bintangnya akan berbeda2.

Langkah gerakannya sendiri dinamakan Yi Pu (langkah gaib menapak bintang), yang menirukan langkah2 Tai Yi (太一, atau 太乙), atau dieja pula Da Yu, atau Se Wen Ming, seorang pejabat tinggi irigasi ternama yang berhasil mengatasi banjir besar pada jaman Dinasti Xia (2070 – 1600 SM).

Langkah2 dalam formasi tersebut sudah diperbarui, sebagai simbolis untuk meneruskan semangat tinggi Tai Yi yang tidak kenal lelah, dalam mengatasi kesukaran menolong orang, dan diubahlah nasib yang jelek menjadi bagus (Zhuan Yun/Cuan Yin) menurut putaran bintang2 tersebut.

Tampak umat yang sedang bersembahyang.

Ritual upacara Poun untuk membuang ciong/jiong ini biasanya dilakukan beberapa hari setelah Cap Go Meh.

Namun di kelenteng2, sembahyang Po Un ini pada umumnya dilakukan dengan sembahyang bersama pada tanggal 4 atau 9 bulan 1 Imlek. Dimana umat yang ciong umumnya akan mengisi selembar kertas berwarna merah, yang dibaliknya terdapat Hu Thay Sui, lalu di isi nama, usia, dan shio dari ybs.

Selanjutnya, pemimpin ritual akan melantunkan doa dan mantra2, sutra, atau keng khusus dengan khusyuk didepan altar para Dewa dan Buddha (terutama kepada Dewi Guan Yin dan Yao Shi Fo 药师佛).

Hampir semua Kelenteng, Daoguan, dan Wihara yang ada di Indonesia melakukan ritual “sembahyang ciong” ini, khususnya di minggu2 pertama di awal tahun baru Imlek. Penyelenggaraannya bergantung kepada keinginan pengurus tempat ibadah masing2, dan banyaknya umat yang akan mengikuti persembahyangan.

Meskipun ada perbedaan dalam tatacara pelaksanaan Po Un di masing2 sempat ibadah, namun tujuanya sama; yakni untuk meminta keselamatan dan perlindungan dari Thian dan Dewa-Dewi.

So, bagi pembaca yang tahun ini shionya termasuk dalam salah satu shio ciong, tidak ada salahnya untuk mengikuti/mendaftar sembahyang ciong di Kelenteng atau Daoguan di kotanya, hitung2 juga sebagai perbuatan kungtek (功德) atau amal baik.

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru. PLAGIAT KONTEN bermodal COPY PASTE adalah tindakan yang tidak terpuji.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Jangan jadi penulis dengkulan, yg bermodal Copas artikel Tionghoa.INFO!