Last Updated on 10 February 2022 by Herman Tan

Dalam rangkaian tradisi Tionghoa, selain Imlek dan Cap Go Meh, ada lagi 1 perayaan yang sangat penting, yaitu perayaan Sembahyang Tuhan, atau King Thi Kong, atau Jing Tian Gong (敬天公), yaitu sembahyang di hari ke 9 bulan 1 penanggalan Imlek.

Sembahyang ini dilaksanakan tepat menjelang tengah malam tanggal 9 bulan 1 Imlek (Cia Gwee Ce Kaw). Upacara ini diikuti oleh seluruh anggota keluarga.

Upacara King Thi Kong penting dalam rangkaian tahun baru Imlek (sincia), karena dianggap sebagai kunci dan penentu langkah kehidupan bagi seluruh anggota keluarga di tahun yang akan dijalani.

Selain upacara King Thi Kong, pada tanggal 9 bulan 1 Imlek ini bertepatan pula dengan Hari Kebesaran Kaisar Langit Giok Hong Siong Te (玉皇上帝; Yu Huang Shang Di). Di Indonesia, upacara King Thi Kong ini dikenal juga dengan istilah “Sembahyang Tebu”.

A. Kenapa bisa ada tradisi sembahyang King Thi Kong tersebut?

Terus terang ini sembahyang tradisi yang hanya dilakukan oleh orang2 dari Hokkian (provinsi Fujian Tiongkok) dan Taiwan. Sembahyang ini cukup unik, karena meja sembahyangnya selalu disanggah/diganjal oleh 2 atau 4 bangku, sehingga meja altarnya menjadi lebih tinggi.

Selain dianggap sebagai bentuk rasa syukur, ini juga sebagai simbol bahwa persembahyangan kepada Tian Gong 天公 (Langit) harus diatas persembahyangan lainnya (melakukan penghormatan dengan dupa di atas kepala).

Selain itu, di kedua sisi meja selalu diapit oleh batang tebu. Biasanya batang tebu yang diikatkan adalah yang masih utuh (ada akar sampai ujung daunnya). Meja sembahyangnya juga dialas dengan kain taplak yang berwarna merah.

Selain dupa, teh, dan ciu/arak (酒; jiu), disajikan juga 3 mangkok misoa. Dalam prosesi sembahyangnya, kita harus berlutut sebanyak 3 kali, dan pai kui (menyentuhkan kepala ke tanah) sebanyak 9 kali, istilahnya San gui jiu kou (三跪九叩), jadi total 12 kali.

Tampak meja altar sembahyang Tuhan Allah (King Thi Kong) yang benar.

B. Kenapa hanya orang2 Hokkian yang melakukan sembahyang King Thi Kong? Berikut Sejarahnya…

Menurut cerita, konon kisah ini berawal saat Dinasti Manchu di timur laut Tiongkok (kelak mendirikan Dinasti Qing) yang menjajah wilayah Dinasti Ming (1368-1644). Kala itu, banyak orang Hokkian yang masih setia terhadap kekaisaran Ming (Fujian merupakan basis terakhir perlawanan sisa2 pasukan yang setia terhadap kekaisaran).

Selama terjadinya peperangan dan kekacauan ini, banyak rakyat yang turut bersembunyi dalam perkebunan tebu yang banyak tumbuh di sana. Namun mereka terus dikejar oleh tentara Manchu, sampai mereka harus bersembunyi dalam hutan tebu. Mereka terus bersembunyi dalam hutan, hingga melewati perayaan tahun baru Imlek.

Baca Juga :  Feng Shen Bang (Feng Shen Yanyi); Kisah Antara Dewa-Dewa dan Siluman!

Setelah keadaan aman, sampai di hari yang ke-9 setelah pasukan Manchu pergi, barulah mereka berbondong2 keluar dan kembali ke rumah masing2.

Mereka yang berhasil kembali pun bersyukur karena selamat. Mereka kemudian merayakan tahun baru Imlek di tanggal 9 bulan tersebut, sebagai bentuk rasa terima kasih kepada Thian/Langit atas perlindungan-Nya.

Jadi bagi orang Hokkian, sebenarnya sincia itu tanggal 9 nya, bukan tanggal 1 nya. Karena itulah, sembahyang Tuhan atau King Thi Kong (敬天公) ini menjadi persembahyangan terpenting bagi orang Hokkian.

Makanya, orang2 Hokkian selalu memasang tebu di depan pintu rumah di kiri dan kanannya ketika sembahyang King Thi Kong. Selain sebagai simbol keselamatan dan keberuntungan di tahun yang baru, juga sebagai pengingat bahwa leluhur mereka pernah dikejar pasukan Manchuria, ketika bersembunyi di kebun tebu.

Sembahyang Tuhan King Thi Gong Tanggal 9 Bulan 1 Imlek; Imleknya Orang Hokkian!

Adapula beberapa versi lain dari asal-usul sembahyang King Thi Kong ini, seperti ketika etnis Hakka yang dari utara datang menyerang orang Hokkian, dan ketika etnis Hakka memulai pemberontakan Taiping (butuh rujukan).

C. Apa2 saja yang perlu dipersiapkan dalam sembahyang King Thi Kong?

1. Sepasang lilin merah, dipasang di depan altar meja sebelah kiri dan kanan, dan sebuah hiolo (tempat dupa).
2. 3 buah Shen Wei (神位) yang berfungsi sebagai “Tempat Dewa”, terbuat dari kertas warna-warni yang saling dilekatkan.

3. 3 buah cawan kecil yang berisi teh, dijejerkan di depan Shen Wei.
4. 3 buah mangkuk berisi misoa, yang diikat dengan kertas merah. Ini adalah penganan wajib khusus sembahyang King Thi Kong.

5. Aneka macam kue, seperti kue lapis, kue mangkok, kue keranjang (年糕; Nian gao), kue ku (yang berbentuk kura2), dsb.
6. 5 macah buah yang tidak berduri. Orang2 Hokkian biasanya mewajibkan buah nanas (sebuah pengecualian, meskipun kulit dan daunnya tajam).

7. Kertas kimcoa (kertas emas sembahyang) secukupnya (kayak naruh bumbu aja). Ini hanya untuk meramaikan situasi saja, terserah mau dilipat atau ditumpuk bertingkat. Namun bukan bermaksud untuk menyogok Dewa! Selesai upacara sembahyang, dibakar bersama dengan kertas Shen Wei diatas.

Catatan : 3 macam hewan (sam seng) tidak digunakan.

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru. PLAGIAT KONTEN bermodal COPY PASTE adalah tindakan yang tidak terpuji.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Jangan jadi penulis dengkulan, yg bermodal Copas artikel Tionghoa.INFO!