Last Updated on 4 April 2022 by Herman Tan

Kemelut penistaan agama yang banyak beredar belakangan ini hendaklah menjadi renungan bagi etnis Tionghoa pada umumnya, dan komunitas Tionghoa yang beragama Buddha, Konghucu, Taoisme, dan Tri Dharma pada khususnya.

Penistaan agama terhadap agama2 Tionghoa telah dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan masif sejak tahun 1966 (pasca G30/SPKI), dengan ditutupnya sekolah2 berbasis Tionghoa Zhonghua Xuexiao (中华学校).

Strategi menghilangkan jati diri manusia lewat bahasa dan budaya Tionghoa ini utamanya disponsori pihak Barat (sekutu cs, yang dimotori US), karena ketakutan akan paham komunisme yang menyebar di kawasan Asia Timur, memanjang dari utara ke selatan, dari Rusia, Korea Utara,China, dan Vietnam).

Baca juga : Perjuangan Sekolah Tiong Hoa Hwee Koan dan Cara Mereka Menghina Tionghoa

Jadi sebenarnya bukan atas kehendak Soeharto sepenuhnya, karena secara bersamaan penutupan sekolah2 berbasis Tionghoa ini juga dilakukan di Singapura, Thailand, Filipina, dan Malaysia (namun tidak berhasil), yang pada saat itu kesemuanya adalah sekutu dekat Barat.

Namun di Singapura, Lee Kuan Yew 李光耀 (1923-2015) sangat cerdik. Pada tahun 1979, dengan terjalinnya hubungan diplomatik  antara Amerika dengan tiongkok, beliau segera bertindak mengadakan kurikulum second language di semua sekolah Singapura, sehingga bahasa Mandarin dapat diselamatkan di Singapura.

Bandingkan dengan Negara kita, yang bahasa Mandarin dan budaya Tionghoa baru dibuka sepenuhnya ketika era Orde Baru tumbang pasca kerusuhan Mei 1998, di era Gusdur (tahun 2000-an).

Baca juga : Berapa Jumlah Etnis Tionghoa di Indonesia Berdasarkan Sensus Penduduk 2020?

Lain halnya di Malaysia, yang tidak pernah menutup sekolah Tionghoa-nya. Karena pada saat itu, salah satu tokoh Melayu dari partai UMNO menyatakan kepada partai MCA (Malaysia Chinese Association), Ma Hua (马华), ketua partai Tionghoa Malaysia saat itu, bahwa orang Melayu tidak mau dijajah lagi oleh Barat.

Apabila dijajah oleh Barat dengan bedil, suatu saat mereka pasti bisa mengusir penjajah. Namun kalau dijajah dengan agama, bahasa, dan budaya, maka penjajahan akan melekat sampai ke anak cucunya, dan identitas mereka sebagai orang Melayu akan lenyap.

Orang Melayu percaya, bahwa agama2 orang Tionghoa adalah yang paling toleran. Bukti sejarahnya sudah ada sejak Laksamana Cheng Ho diizinkan Kaisar Dinasti Ming, Yong Le (永乐), untuk menyebarkan agama Islam di wilayah semenanjung Melayu dan Nusantara.

Baca Juga :  Alasan Makin Menurunnya Pemeluk Agama Tionghoa di Indonesia

Dan pemerintah Malaysia saat ini telah mengumumkan bahwa penemuan Laksamana Cheng Ho atas wilayah Tanjung Harapan adalah termasuk 10 penemuan Islam yang maha besar.

Ternyata Laksamana Cheng Ho telah menemukan Tanjung Harapan lebih awal dari Columbus. Maka dari itu, tokoh2 Melayu menginginkan agar budaya Tionghoa tetap bertahan sebagai penyangga dari invasi budaya Barat.

Sejak ditutupnya sekolah2 Tionghoa, anak2 Tionghoa terpaksa disekolahkan di sekolah2 ber-asas agama Barat, yang telah dibangun oleh pemerintah kolonial sebelumnya, bersama infrastruktur lain yang juga ber-asas agama, seperti rumah sakit dan tempat ibadah.

Di sekolah2 inilah anak2 Tionghoa diajarkan agama yang berbeda dengan agama leluhur mereka, dengan program menyalahkan agama leluhur dan membangun narasi, kesan, dan keyakinan, bahwa Dewa-Dewi yang disembahyangi oleh penganut Tri Dharma adalah berhala.

Baca juga : Tridharma (Sam Kauw), Usaha Kwee Tek Hoay Dalam Membendung Kristenisasi Terhadap Etnis Tionghoa di Indonesia

Penistaan ini dilakukan secara terstruktur dan masif, dengan daya rusak yang sangat dahsyat, sehingga generasi baby boomer di kalangan etnis Tionghoa menjadi yang paling tidak kompak, di mana sudah terpecah sejak dari lingkup terkecil, keluarga.

Misalnya antara saudara/i yang sudah berbeda agama, bahkan terjadi juga tragedi keluarga, seperti putusnya hubungan antara anak dengan orang tua.

Pertentangan karena agama yang dianut dalam keluarga, disebabkan karena banyaknya ajaran2  leluhur yang dianggap haram. Pada kasus yang sangat sederhana, misalnya soal makanan bekas sembahyang yang dianggap HARAM untuk dimakan lagi, karena dianggap sebagai persembahan terhadap roh leluhur.

Keretakan terus memuncak dan bertingkat, hingga ke jenjang antar pertemanan, antar marga (klan), antar organisasi (Tionghoa vs non Tionghoa), dan seterusnya.

Di era ini, telah terlahir generasi yang sangat fanatik, militan, dan pro Barat, atas dasar SATU IMAN, seperti pendemo milenial Hong Kong pada kerusuhan yang terjadi di Hongkong pada 2019-2020; sehingga sangat mudah dimanfaatkan oleh penjajah Barat untuk diadu-domba dengan kelompok masyarakat lain.

Kalau hal ini terjadi, akan sangat berbahaya bagi kalangan komunitas Tionghoa. Jangan sampai pembantaian orang Tionghoa tahun 1967-1969 di Kalimantan Barat terulang kembali, yang dikarenakan suku Dayak dengan suku Tionghoa diadu-domba.

Yang mana sebelumnya suku Dayak, baik ras, kepercayaan, dan budaya sangat lekat dengan suku Tionghoa (simak prosesi tatung Cap Go Meh di Singkawang). Kekompakan dan tali persaudaraan yang terjalin erat, seperti suku Minang, Jawa, Madura, dan lainnya sudah tidak dirasakan lagi oleh suku Tionghoa.

Baca Juga :  Ceng Beng; Inilah 6 Hal Yang Perlu Anda Lakukan Pada Saat Ziarah Kubur

Baca juga : Kisah PGRS Paraku di Kalimantan Utara : Habis Manis Sepah Dibuang, Kisah Perang Antara Guru dan Murid

Ceng Beng adalah salah satu hari raya yang sangat penting bagi orang Tionghoa (terutama yang beragama Konghucu). tapi diplesetkan pengkhotbah2 hitam, bahwa Ceng Beng adalah upacara sembahyang roh/setan.

Sebenarnya makna Ceng Beng antara lain ada 3, yakni :

1. Menghormati dan memperingati leluhur. Sama dengan hari Pahlawan, kita memperingati dan menghargai pahlawan, karena leluhur adalah pahlawan keluarga. Dengan upacara peringatan kepada leluhur, umat manusia tidak akan kehilangan identitas darimana mereka berasal.

2. Sebagai acara reuni keluarga, dimana anggota keluarga yang telah terpisah2 (keluar merantau) akan dipertemukan setahun sekali, sehingga hubungan persaudaraan tidak terputus.

3. Ini seperti memberi kepercayaan diri kepada seseorang, bahwa diantara para orang mati, ada tradisi yang masih hidup.

So, jangan jadi kacang yang lupa kulitnya …
Sekali lagi ingat, Akuilah Bapakmu Sebagai Bapakmu, Bukan Bapak Orang Lain Sebagai Bapakmu …

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru. PLAGIAT KONTEN bermodal COPY PASTE adalah tindakan yang tidak terpuji.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Jangan jadi penulis dengkulan, yg bermodal Copas artikel Tionghoa.INFO!