9 Hal Yang Cuma Dimengerti Orang Tionghoa di Indonesia

Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010, jumlah masyarakat Tionghoa di Indonesia berkisar 2,8 juta jiwa, atau setara dengan 1,2% dari total populasi penduduk Indonesia. Ada perjalanan panjang yang menghiasi catatan sejarah, mulai dari kedatangan masyarakat Tiongkok ke nusantara, hingga tumbuh dan berkembang menjadi suatu etnis di Indonesia.

Menjadi bagian dari suatu etnis yang keberadaannya sangat mencolok, tentu membuat masyarakat Tionghoa memiliki cerita tersendiri. Misalnya saja, seringnya menerima anggapan dari masyarakat pribumi bahwa masyarakat Tionghoa hidupnya sangat eksklusif, kaum borjuis, hanya mau bergaul dengan sesamanya. Benarkah anggapan tersebut?

SEBAGIAN, penulis berani mengatakan : YA; karena perlu diingat, walau bagaimanapun masyarakat etnis Tionghoa pernah diperlakukan dengan tidak adil di Indonesia. Mungkin sifat eksklusif adalah bentuk dari pertahanan diri, agar mereka merasa aman dan nyaman di zonanya. Hal ini bak luka, yang perlu waktu agar bisa sembuh. Apalagi paca pemilu 2019, SENTIMEN ANTI CINA kembali menguat.

Baca juga : Inilah catatan kelam Etnis Tionghoa di Indonesia dari tahun ke tahun!

Loading...

Sebagai etnis yang nenek moyangnya berasal dari daratan Tiongkok, wajar jika penduduk Tionghoa memiliki berbagai budaya dan tradisi yang diwarisi oleh para leluhurnya. Tapi ternyata, tradisi dan budaya tersebut tidak lagi sekental beberapa abad silam, saat awal mula kedatangan dan berkembangnya masyarakat Tionghoa di Indonesia.

Bahkan, tradisi Tionghoa kini cenderung memudar dari generasi ke generasi, terakulturasi ke dalam budaya lokal masyarakat Indonesia. Puncaknya adalah ketika 31 tahun ORDE BARU, dimana tradisi dan kebudayaan Tionghoa benar2 diberangus pemerintah kala itu. Salahkah generasi muda Tionghoa yang tersisa ini, menjaga “sisa berlian” a.k.a tradisi budaya, warisan l7eluhurnya sendiri?

Namun kini mereka hidup, tumbuh, dan berkembang di Indonesia. Hal ini membuat banyak masyarakat Tionghoa sudah merasa seperti masyarakat Indonesia lainnya. Berikut 9 curhatan orang Tionghoa berikut ini :

Baca juga : 7 Hal Yang Hanya Dipahami Oleh Keturunan Tionghoa di Indonesia

1. Kurang Hafal Dengan Hari2 Festival Budaya Tionghoa

Untuk mereka yang tergolong generasi tua, mungkin masih banyak yang mengerti akan perayaan2 tahunan budaya Tionghoa. Tapi, untuk generasi muda sekarang, mereka kebanyakan sudah tidak tahu dengan hal ini. Penasaran? coba survei ke tetanggam atau ke teman sekolah/kuliah keturunan Tionghoa di kotamu, yang tergolong generasi Z, a.k.a kaum milenial (kelahiran 1995 ke atas).

Malam malam Imlek bersama keluarga besar, adalah momen yang paling ditunggu semua orang Tionghoa.

Lantas tanya mereka, apa saja perayaan2 Tionghoa yang mereka ketahui. Tanya juga makna dari dari perayaan tersebut.

Paling kebanyakan hanya tahu Tahun Baru Imlek, yang mana perayaan ini tertera di kalender dan menjadi hari libur Nasional. Paling banter hanya sampai ke perayaan yang berhubungan dengan makanan, seperti Bakcang dan Kue Bulan. Tapi kalau ditanya sampai ke asal usul dan maknanya? Inilah salah satu visi berdirinya situs Tionghoa.INFO di Indonesia.. cieee

Hal ini juga sebenarnya salah satu faktor yang menyebabkan budaya Tionghoa semakin memudar dari waktu ke waktu, yaitu karena ketidak-pedulian generasi sekarang dengan budaya leluhurnya sendiri. Fakta lain bahwa, setelah PINDAH KEYAKINAN, masyarakat Tionghoa CENDERUNG MENINGGALKAN SEGALA MACAM KEBUDAYAANNYA!

Baca juga : Akuilah Bapakmu Sebagai Bapakmu, Bukan Bapak Orang Lain Sebagai Bapakmu!

Sesungguhnya, leluhur saya telah mewarisi saya dengan BERLIAN yang begitu banyak. Walaupun selama ini berlian tersebut sudah TERTUTUP DEBU, namun berlian tetaplah berlian!  Sebagai keturunan Huaren (华人), alangkah sayangnya jika saya sebagai generasi penerus, tidak mau menggali peninggalan-peninggalan leluhur saya, dan lebih memilih untuk menggali peninggalan leluhur dari orang lain.

Jikalau memang berlian yang ditinggalkan oleh leluhur saya KURANG GEMERLAP, seharusnya TUGAS SAYALAH sebagai generasi penerus untuk MENGGOSOKNYA KEMBALI, memotong dan memperbaikinya lagi; sehingga berlian tersebut menjadi lebih berkilau.

Betapa akan kecewanya saya, jika ternyata anak cucu saya menganggap berlian-berlian yang saya wariskan SEBAGAI BELING, dan lebih memilih untuk mengolah warisan orang lain. Semoga suatu hari nanti, saudara-saudara saya mau bersama-sama menggosok warisan leluhur kamim dan menyingkirkan debu-debu tersebut agar kembali berkilau.

Loading...

Nah, kalau generasi sekarang saja tidak paham, bagaimana dengan generasi selanjutnya? Mungkin hanya tinggal menunggu waktu, sampai istilah Tionghoa tidak lebih dari sebutan untuk mereka yang berkulit putih dan bermata sipit.

Baca juga : Inilah 8 Festival Budaya Orang Tionghoa Yang WAJIB Kamu Ketahui

2. Imlek = Hari Bagi-bagi Angpau

Angpau adalah simbol doa dan harapan orangtua kepada anaknya agar sukses di tahun yang baru!

Anggapan generasi milenial Tionghoa mungkin tidak jauh berbeda dengan anggapan sebagian besar masyarakat Indonesia, yaitu bahwa perayaan Tahun Baru Imlek adalah momen untuk bagi-bagi duit angpau. Padahal, angpau ini sejatinya hanya boleh dilakukan oleh orang tua kepada anak2nya (atau terbalik ketika anak sudah sukses), atau mereka yang sudah menikah kepada mereka yang belum menikah.

Dalam Angpau terkandung DOA dan HARAPAN! Dalam Imlek terkandung harapan, agar bisa berkumpul bersama KELUARGA BESAR, sama-sama mengucap syukur, agar kehidupan kelak menjadi lebih baik!

Maka dari itulah, Imlek saat ini menjadi perayaan yang paling dinantikan, terutama oleh anak-anak. Kurang lebih sama seperti lebaran, banyak yang hanya mengharapkan uangnya saja. Apalagi kalau isinya lembaran yang warna merah 🙂 Sebagai masyarakat Tionghoa, harusnya memiliki pandangan yang lebih mendalam mengenai perayaan Tahun Baru Imlek, tidak hanya soal menanti angpau-nya saja.

Baca juga : 5 Hal Tentang Angpau : Nominal, Simbol dan Bagaimana Cara Memberi

3. Anggapan Bahwa Orang Tionghoa Itu Kaya dan Pelit, a.k.a botu!

Nah, ini nih penilaian yang paling sering ditujukan kepada masyarakat Tionghoa, yaitu bahwa mereka berasal dari keluarga yang KAYA, tapi PELIT.

Kaya dan pelit tidak seharusnya ditujukan kepada suatu etnis, sebab untuk menjadi kaya dan pelit itu datang dari pribadi masing-masing. Toh kenyataannya, tidak semua masyarakat Tionghoa kaya. Ada juga yang hidup sederhana dan pas-pasan. Misalnya saja, masyarakat Tionghoa di Singkawang sana, mereka bahkan hidup di bawah standard kelayakan.

Karena itulah, anak2 gadis mereka banyak yang dijodohkan dengan orang luar, dengan pengharapan agar memperoleh kehidupan yang lebih baik 🙁

Tidak semua orang Tionghoa itu kaya. Jangan dikira bos taipan 9 Naga itu akan menghidupi sesama etnisnya!

Baca juga : Amoy Singkawang : 8 Hal Yang Harus Kamu Ketahui Tentang Amoy Singkawang, Anciang! Sui!

Sebenarnya minset yang mengatakan bahwa masyarakat Tionghoa itu kaum borjuis, golongan konglomerat, adalah karena sebagian besar perekonomian di Negara ini dikuasai oleh mereka; karena Indonesia dikuasai para CUKONG CINA! Dimana 80% tanah dan aset dikuasai 1% rakyatnya; dan sebagian besar kekayaan kita diambil/mengalir keluar negeri, tidak tinggal di Indonesia lagi.

Kalau kamu berpikir hal ini benar, liat dulu perjuangan nenek moyang kaum Tionghoa di Indonesia!

Mayoritas masyarakat Tionghoa di Indonesia kerja sebagai kuli di tambang timah, sebagian jadi pedagang, penjual kue keliling, jualan bakmi di pinggir jalan / di pasar, lalu setelah bertahun2, akhirnya kebeli sebuah petak lahan untuk dijadikan restoran / rumah makan; lantas memperkerjakan orang pribumi, eh malah di bilang ngebudakin orang pribumi, ngejajah pribumi lah …

Padahal sedari kecil, apalagi pasca peristiwa Gestok 1965, orang Tionghoa sudah diajarkan hidup mandiri, karena cari kerja di Indonesia susah. Makanya kami belajar jualan, jualan laku di nyiyir juga! Kalian enak bisa jadi PNS, digaji sampai akhir hayat, sementara kita? cari kerja 2x lebih susah karena stigma kecinaan yg melekat.

Baca juga : Benarkah Krisis Moneter di Indonesia Ada Hubungannya Dengan Para Naga?

Namun tentu, hal ini TIDAK BERLAKU Seperti Liem Sioe Liong (ex bos BCA), yang “ditakdirkan” untuk menjadi kaya, karena dekat dengan penguasa kala itu (Soeharto family); atau mereka2 yang pernah ditangkap atau menjadi buronan Polisi Interpol (seperti Nurdin Cuaca) atau KPK, karena menggunakan jalan tol korupsi, memanfaatkan celah hukum untuk melanggar hukum agar memperoleh kekayaan.

4. Nggak Bisa Bahasa Mandarin

Banyak orang mengira kalau orang Tionghoa pasti bisa bahasa Mandarin. Kamu yang orang Tionghoa mungkin pernah mengalami situasi, dimana kamu diminta untuk mengajari bahasa Mandarin oleh teman-temanmu. Dan saat kamu bilang nggak bisa, eh mereka nggak percaya & menganggapmu cari alasan karena tidak mau mengajari. Padahal mereka engga tahu yang sebenarnya : Kamu memang tidak tahu! wkwk.

Kini bahasa Mandarin bebas diajarkan di sekolah2 dan universitas, lewat jurusan sastra Mandarin. Namun, LOST GENERATION (kelahiran dekade 60-90an) mungkin sudah tidak lagi memiliki kesempatan untuk mempelajarinya lewat jalur ini, karena faktor umur & kesibukan.

Sejak dicabutnya Inpres No.14 tahun 1967, lewat Kepres No.6 tahun 2000 oleh Presiden Gusdur, bahasa Mandarin baru boleh diajarkan kembali secara terbuka di sekolah2. Tempat2 kursus bahasa Mandarin pun kian menjamur. Tak sedikit pula yang melanjutkan kuliah di Tiongkok. Bahkan masyarakat non keturunan pun sudah mempelajari bahasa ini, sampai lancar dalam penggunaannya sehari-hari.

Loading...

Meski begitu, saat ini hanya sebagian saja dari masyarakat Tionghoa yang benar2-benar bisa berbahasa Mandarin; itupun kebanyakan BUTA HURUF (bisa bicara, namun tidak bisa baca & tulis hanzi), dan yang dipakai adalah dialek lokal (logat hokkian, kanton, atau khek).

Kalaupun ada yang menguasainya dengan lancar (mencapai HSK tingkat 4 atau 5), itu karena ikut kursus atau kuliah di jurusan sastra Mandarin, untuk tujuan pendidikan atau karir. Karena pendidikan bahasa Mandarin di sekolah Negeri / Swasta, umumnya masih bersifat muatan lokal, atau pelajaran tambahan; belum berjenjang laiknya bahasa Inggris.

Pada masa Orde Baru tercatat 8 produk perundang2an yang sangat diskriminatif terhadap etnis Tionghoa, yaitu :

1. Instruksi Presidium Kabinet RI No. 37/U/IN/6/1967 tentang Kebijaksanaan Pokok Penyelesaian Masalah Cina.
2. Surat Edaran Presidium Kabinet RI No. SE-36/Pres/Kab/6/1967 tentang Masalah Cina.
3. Instruksi Presiden No.14/1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat istiadat Cina.
4. Instruksi Presiden No.15/1967 tentang Pembentukan Staf Khusus Urusan Cina.

5. Instruksi Mendagri No. 455.2-360 tentang Penataan Klenteng.
6. Keputusan Kepala Bakin No. 031/1973 tetang Badan Koordinasi Masalah Cina.
7. SK Menteri Perdagangan dan Koperasi No. 286/1978 tentang Pelarangan Impor, Penjualan, dan Pengedaran Terbitan dalam Bahasa dan Aksara Cina.
8. Surat Edaran Menteri Penerangan No. 02/SE/Di tentang Larangan Penerbitan dan Pencetakan Tulisan/Iklan Beraksara dan Berbahasa Cina

Baca juga : Generasi Milenial Z wajib tahu! Inilah Diskriminasi Etnis Tionghoa di Indonesia, di Masa Ketika Bapak dan Ibumu Muda!

Dari sini bisa dilihat bahwa fenomena diskriminasi rasial terhadap etnis Tionghoa (mengusung semangat ANTI CINA) di Indonesia nampaknya sudah begitu sistematis. Asal kalian tahu, kala itu, mulai dari pemerintah hingga masyarakat pribumi benar2 ingin membasmi kita hingga ke akar rumput! Mereka begitu sentimen dengan orang Non-Pribumi, yang dianggap tidak setia pada Negara.

5. Tidak Punya Nama Tionghoa, a.k.a Nama 3 Kata!

Apa marga Tionghoamu? Bisakah kamu menuliskan nama Mandarinmu sendiri?

Melihat orang-orang keturunan Tionghoa, mungkin kamu mengira bahwa mereka pasti memiliki nama Tionghoa (selanjutnya disebut nama Cina). Menurut survei internal Tionghoa.INFO, dari 100 anak muda U-21 Tionghoa, hanya 27 orang yang memiliki nama Cina. Penyebab mengapa nama Cina tidak diwariskan, adalah karena kebijakan di masa lalu, yang mempersulit penduduk yang memiliki nama Cina.

Sebagian orang tua dulu mungkin enggan memberikan nama Tionghoa, karena dirasa sudah tidak lagi diperlukan, atau bisa berbahaya bagi masa depan anaknya kelak (kala itu, orang Tionghoa di Indonesia sulit bergerak, jika ngotot mempertahankan nama Cinanya). Jadi jangan heran apabila sebagian etnis Tionghoa, terutama kelahiran 1970-an hingga awal 1990-an tidak lagi memiliki nama Tionghoa.

Satu-satunya identitas yang tersisa di bagian nama adalah MARGA YANG ANEH TELAH DI-INDONESIAKAN; seperti Salim, Tanzil, Hanjaya, Widjaya, Tjandra, Ongko, Sidharta, Liman, Winoto, Cahyadi, dsb. Merek yang non keturunan pasti tidak sadar, bahwa nama-nama tersebut sebenarnya dibentuk dari ejaan bahasa China.

Seandainya masih ada yang menggunakan nama Cina, umumnya hanya nama panggilan sehari-hari, seperti akiong, aling, asun, acun, mei-mei, titi, ahok, aseng, agiok, dsb. Di orde reformasi ini, pasangan2 muda etnis Tionghoa mulai berani memberikan nama Cina kepada bayinya. Namun sayang, sebagian dari mereka telah kehilangan NAMA TENGAH, alias NAMA GENERASI. Apa itu?

Baca juga6 Fakta Mengenai Nama Cina (Nama Tionghoa) dan Marga Tionghoa

6. Kenapa Menikah Dengan Sesama Tionghoa? Karena …

Orang Tionghoa menikah dengan sesama orang Tionghoa adalah hal yang wajar, untuk mempertahankan trah kecinaannya agar tidak hilang.

Baca juga : Inilah 8 Tahapan Prosesi Sangjit Bagi Yang Ingin Menikah

Pernah nggak sih kamu memperhatikan, kenapa kebanyakan orang Tionghoa menikah dengan sesama Tionghoa? Apa mereka memiliki aturan semacam itu? Apa mereka merasa bahwa masyarakat etnis lain berbeda dunia dengan mereka? Nah, sebelumnya mengetahui alasannya, singkirkan dulu asumsi-asumsi yang kamu miliki.

Jadi, untuk masalah pernikahan sesama Tionghoa itu bisa terjadi karena berbagai faktor.

Pertama, prinsip dalam keluarga. Memang ada keluarga yang mengharuskan semua anggota keluarganya untuk menikah dengan yang seetnis. Tujuannya apa? Tentu saja untuk melestarikan etnisnya. Ada beberapa kasus dimana orang Tionghoa terpaksa putus dengan pacarnya, karena tidak disetujui orang tua lantaran berbeda etnis. Tapi jangan berpikir negatif bahwa mereka terlalu kaku dan tertutup ya.

Hal ini sebenarnya wajar, karena ada juga peraturan demikian di etnis lain. Misalnya orang batak, yang harus menikah sesama batak juga.

Selain karena faktor prinsip keluarga, alasan keduanya karena mereka memang lebih suka dengan sesama Tionghoa. Hal ini masalah preferensi, karena dan setiap individu tentu memiliki “tipe seleranya” masing-masing. Atau mungkin faktor kedekatan ras, karena akan lebih mudah masuk dari sisi (kesamaan) adat istiadat dan kebiasaannya.

Meski begitu, tidak sedikit orang Tionghoa yang menikah dengan masyarakat lokal. Bisa dibilang, selama 5 dekade terakhir pemerintah kita sukses besar dalam membaurkan orang Tionghoa ke dalam masyarakat Indonesia. Hanya saja, karena politik, belakangan ada oknum2 yang mengungkit kembali semangat ANTI CINA, menebarkan kebencian di masyarakat.

Baca juga : Tradisi SANGJIT, Lamaran Dalam Budaya Tionghoa

7. Ribetnya Momen2 Pernikahan : Mulai dari Sangjit hingga Tea Pai

Mimin angkat jempol kalau kalian sangjit model gini. Jangan cuma mau enaknya saja, lantas melupakan leluhur yang sudah mendahului! INGAT! Ada mereka BARU Ada kita!

Wajar-wajar saja kalau persiapan pernikahan harus dipikirkan dengan matang dan tidak asal-asalan. Tapi, yang agak ribet bagi pasangan Tionghoa yang akan menikah, adalah campur tangan orang tua yang cenderung mendominasi. Beberapa dari mereka memang sangat kaku, mulai dari pemilihan HARI BAIKNYA (pake buku tongshu!), sampai ke acara lamaran sangjitan (lamaran).

Pembaca beretnis Tionghoa yang sudah menikah, pasti ingat bagaimana perjalanan dulu, sewaktu persiapan hingga Hari-H pernikahan. Bahkan, sekedar memilih tanggal pernikahan saja membutuhkan pemikiran yang matang. Sebab, tanggal pernikahan harus disetujui oleh orang tua dari kedua belah pihak. Dan banyak kasus, justru orang tualah yang menentukan sendiri tanggal pernikahan anaknya.

Karena bagi orang Tionghoa, pernikahan bukan soal 2 individu saja, namun soal BERSATUNYA 2 KELUARGA BESAR! Menyatukan pemikiran belasan hingga puluhan orang tentu tidak mudah bukan?

Mereka juga tidak ingin ketinggalan dalam menentukan konsep pernikahan. Ya, meskipun terkadang ini juga menjadi perdebatan, karena orang tua menginginkan konsep pernikahan yang lebih tradisional; sedangkan anaknya menginginkan konsep pernikahan ala ala barat yang lebih modern dan simpel. Namun, kalau mau angpau gede saat upacara Tea Pai tentu harus nurut. Benar enggak?

Apalagi waktu acara sangjitan. Aturan mainnya, keluarga besar mempelai pria harus datang sambil menenteng 8-12 baki/nampan, yang berisi aneka macam barang seserahan, (mulai dari pakaian, perhiasan, aneka makanan, hingga lilin!) untuk diserahkan ke keluarga mempelai wanita! Mau tahu yang lebih ekstrim? Baca rulesnya dibawah ini.

Baca juga : Inilah 8 Tahapan Prosesi Sangjit Bagi Yang Ingin Menikah!

8. Lebih Suka Menggunakan Obat-Obatan Tradisional Cina Legendaris!

Toko obat cina tradisional sudah mulai jarang dijumpai di Indonesia.

Salah satu hal yang menonjol dalam budaya Tionghoa, adalah kepercayaan mereka terhadap obat2 herbal legendaris untuk mengatasi berbagai penyakit. Mereka lebih suka menggunakan obat herbal, daripada obat-obatan kimia. Hal ini mungkin dikarenakan kebiasaan turun-temurun, dari generasi ke generasi.

Selain itu, obat-obat yang pada umumnya terbuat dari bahan-bahan herbal alami, diyakini jauh lebih aman untuk dikonsumsi ketimbang obat-obatan kimiawi, yang lebih banyak memberikan efek samping pada tubuh (terutama pada GINJAL).

Contohnya, seperti obat Yunnan Baiyao (云南白药), yang pil merahnya berkhasiat menghentikan perdarahan akibat patah tulang, atau yang diakibatkan luka jatuh dan luka terpukul. Ada juga Pil Po Chai, (hanzi : 保濟丸; pinyin : bao ji wan) yang berkhasiat meredakan segala macam sakit perut dan diare.

Bahkan sampai Pien Tze Huang (片仔癀) a.k.a RAJA OBAT, yang harganya mencapai 12 juta!

Selain itu, ada juga berbagai obat legendaris lainnya, seperti Angong Niu Huang Wan, Nin Jiom Pei Pa Koa (Obat Batuk cap Ibu & Anak), Die Da Yao Qin, a.k.a Betadine China, Zheng Gu Shui (Obat spesialis patah Tulang), hingga minyak gosok cap tawon.

Baca juga : 7 Macam Obat Cina Legendaris dan Khasiatnya Yang Masih Banyak Dipakai (PART 1/4)

9. Bingung Dengan Panggilan Kekerabatan Keluarga Besar : Pek, Ku, Ncek? 

Nah, yang terkadang bikin canggung awkward moment adalah momen saat keluarga besar berkumpul di hari besar, seperti hari Imlek atau ziarah Cengbeng; dan kita harus kenalan dengan anggota keluarga lain. Yah, walaupun sebelumnya pernah kenalan, tentu wajar kalau lupa lagi, karena ketemuan mungkin hanya 1-2 kali setahun.

Disinilah kebingungan muncul. Sudah keluarganya banyak, panggilannya bermacam-macam pula. Misalnya saja mengenai panggilan om dan tante. Kalau di Indonesia, panggilan terhadap saudara kandung dari ayah atau ibu cukup dengan om atau tante. Tapi berbeda dengan keluarga Tionghoa, panggilan om & tante untuk keluarga ayah BERBEDA dengan panggilan om & tante untuk keluarga ibu!

Belum lagi kalau ayah Hokkian, ibu Kanton, atau Khek. Lain-lain semua sebutannya, berbeda pula pengucapan standar mandarin. Wadow!

Baca artikel berikut jika ingin tahu panggilan kekerabatan di keluarga besarmu!

Panggilan Kekerabatan Dalam Tradisi Tionghoa (Dialek Hokkian)
Panggilan Kekerabatan Dalam Tradisi Tionghoa (Dialek Hakka)

Setiap orang memiliki latar belakang keluarga dan lingkungan hidup masing-masing. Semoga artikel ini bisa membuka wawasan, baik untuk kamu yang orang Tionghoa atau yang non Tionghoa, supaya bisa lebih memahami tradisi dan budaya kami.

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *