•  
  • 23
  •  
  •  
  •  
  •  
    23
    Shares

Last Updated on 25 September 2020 by Herman Tan

Saya beberapa bulan yang lalu mengelilingi kota-kota besar di Indonesia, seperti Medan, Palembang, Bandung, Semarang, Surabaya, sampai Makasar karena pekerjaan. Sekalian saya ambil waktu sedikit buat jalan2 mengelilingi setiap kota yang saya kunjungi; tentu saja yang tidak akan saya lewatkan adalah berkunjung ke beberapa Kelenteng setempat.

Karena tidak menguasai lokasi, saya menggunakan jasa taksi. Miris memang, saya malah menemukan banyak Kelenteng yang sudah “tidak berpenghuni”.Bahkan biokong (penjaga kelenteng) pun tidak ada.

Ini berbanding terbalik dengan kondisi tempat ibadah umat Nasrani yang penuh sesak oleh etnis Tionghoa. Saya sendiri tinggal di Jakarta, sering mengamati banyak orang Tionghoa yang berbondong2 datang ke Gereja untuk sekedar mendengar khotbah/ceramah dari pendetanya. Saya sering berpikir, apa alasan mereka untuk pindah Agama?

Lah, masa sih “Bapak” orang lain mau dianggap sebagai “Bapak” sendiri?

Etnis Tionghoa yang masih memeluk kepercayaan aslinya terus menurun dari tahun ke tahun. Kalaupun ada penambahan, hanya karena ikatan perkawinan yang mengharuskan untuk pindah kepercayaan, bukan keiklasan atau kesadaran. Boleh dibilang masuk 1 keluar 10. Kalau begini, lama2 akan habis juga cepat atau lambat.

Salah satu penyebab utama yang dapat saya tangkap, adalah karena begitu banyaknya mitos, tahayul, tradisi, kebiasaan, dan lain sebagainya tentang budaya Tionghoa sendiri yang sulit dicerna oleh akal sehat.

Hal ini yang dimanfaatkan oleh Agama lain untuk menarik umat2 berduit dari etnis Tionghoa untuk membangun tempat ibadah mereka sampai besar dan bertingkat-tingkat.

Mereka memberikan doktrin, bahwa kepercayaan dan agama Tionghoa itu berhala, tidak logika, musyrik, sesat, setan, dan lainnya. Hasilnya bisa di lihat, pemuda/i Tionghoa sekarang rata2 sudah pindah Agama bukan? Sisa petua-petui yang sudah berumur saja yang kebanyakan masih menjalankan tradisi/kebisaan leluhur secara penuh

Baca juga : Akuilah Bapakmu Sebagai Bapakmu, Bukan Bapak Orang Lain Sebagai Bapakmu!

Kalaupun mereka (muda/i) masih ikutan, itu karena terpaksa, atau karena tradisi itu dianggap masih menguntungkan mereka, seperti :

Baca Juga :  5 Tradisi Etnis Tionghoa Dalam Menyambut Imlek

1. Tradisi Imlek : Bisa dapat angpao. Tentu harus ikut ini. Kalau engga, ya tidak dapat duit. Tapi hanya di sesi makan2 bersama saja. Sesi sembahyang H-1 sebelum Imlek engga ikut, karena harus sembahyang pegang dupa.

2. Tradisi Tea Pai : Sama kayak angpao. Engga mau ikut pai tea, jangan harap mau dapat angpao atau emas tebal2 dari keluarga! Tapi masih saja dikadalin. Mereka tidak mau malakukan soja (kui, berlutut) dengan alasan berhala (menyembah selain Tuhan).

3. Pernikahan ala Tionghoa : Yup. Biar dapat angpao banyak dari tamu, tinggal pasang karakter 囍 di pelaminan. Karena Tionghoa identik dengan orang kaya dan eksklusif. Ini fakta di lapangan. Saya banyak menjumpai dan mendegar hal demikian. Jadi istilahnya pakai label Tionghoa gitu.

4. Makan Kue Bulan : Lumayan dapat makanan enak, kue bulan (kue pia) sekotak harganya 100-200 ribu (brand tertentu bahkan bisa diatas sejuta). Lumayan buat dipamerin ke teman.

Kalaupun mesti ke kelenteng, lumayan buat cuci mata, karena biasanya hari itu banyak cewek2 cantik atau cowok2 cakep Tionghoa yang memang kebetulan sembahyang ke kelenteng untuk minta/cari jodoh (referensi : baca cerita Dewa Yue Lao)

Sementara tradisi2 yang “merugikan” mereka, seperti :

1. Ziarah Ceng Beng : Capek mesti ke kubur. Mesti siapin makanan lagi, keluar duit kan? Sudah gitu harus pegang dupa lagi (doktrin agama).

2. Sembahyang bulan 7 tanggal 15 : Sama! Mesti keluar duit juga, mending ikut doktrin agama, bahwa itu termasuk penyembahan berhala/setan. Padahal orang2 barat juga merayakan festival Hallowen setiap tanggal 31 Oktober.

3. Pergi sembahyang ke Kelenteng setiap hari sejid Dewa/Dewi : Ke tempat yang penuh asap, kusam, suasana mencekam, panas, mana mau? Belum lagi harus lihat potongan kepala babi di tengah altar kalau ada sembahyang besar?

Idih, jijik deh. Mana cuma datang, pai, pulang lagi (umat cung cung cep). Tidak ada ceramah, suntuk, mending bobok, atau mending ke gereja, adem, wangi. Atau ke mall2, ramai, penuh dengan teman2 sebaya. Siapa tahu dapat gabetan?

Baca Juga :  7 Hal Yang Hanya Dipahami Oleh Keturunan Tionghoa di Indonesia

4.  Sembahyang Ce It dan Cap Go > Waduh harus nyiapin segala keperluan sembahyang di rumah. Keluar duit sih gapapa, tapi kan capek juga. Kalau ke kelenteng, sisa ketemu tua-tui semua, jadi malas duluan. Mending tiap minggu ke Gereja dengar khotbah pendeta, lokasi strategis, ramai, tinggal duduk, dapat bonus cuci mata lagi.

“Jadi jangan kira Mereka patut dipuji karena masih menjalankan “sebagian” dari tradisi Tionghoa. Sebenarnya Mereka hanya mau menjalankan tradisi yang enak-enak dan yang menguntungkan saja”.

Saya barusan terpikir, kenapa salah satu manusia etnis Tionghoa yang bernama Cristofus Sindunata pada tahun 1967 mendukung Inpres Nomor 14 Tahun 1967? Tentu tak lain agar orang2 Tionghoa terpaksa untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah2 swasta, yang rata2 memang dikelola oleh Nasrani.

Tidak mungkin orang Tionghoa memasukkan anaknya ke sekolah “pribumi”, alias sekolah negeri, yang kala itu kebanyakan berbasis Agama Islam. Bahkan aturan berjilbab adalah hal wajib untuk wanita.

Saya salut, karena ini bisa dibilang investasi jangka panjang beliau. Beliau tidak mengincar generasi bau tanah yang se-usianya, karena sadar sebentar lagi sudah mau waktunya. Ini adalah upaya “kristenisasi massal” kala itu.

Beliau mengincar generasi muda, agar kelak bisa maju pesat dan berkembang di tanah air, seperti halnya agama mayoritas. Jadi semenjak kecil anak sudah dikenalkan dengan firman Tuhan, lama2 pasti pindah agama. Apalagi teman2 se-usia mereka juga sudah pindah agama. Mana mau ditinggal sendiri?

Seorang pembantu Muslim yang menyembahyangi majikannya saat meninggal, di Rembang, Jawa Tengah.

Ketika mereka mencapai usia dewasa, mereka bahkan bisa “lebih militan” daripada yang non Tionghoa. Yap! Mereka tidak segan untuk mengajak orang tua, kakak, adik, keponakan, sepupu, dan saudara2 jauhnya untuk ikut. Banyak contoh kasus menyedihkan yang pernah saya dengar.

Misalnya, ketika orang tua mereka sudah sekarat, sudah tidak sadar, cepat2 mereka ajak pendetanya untuk membaptis. Atau seperti foto diatas. Dimana anak2nya sudah pada pindah agama. Akhirnya malah pembantu dari majikan tersebutlah yang menyembahyangi beliau.

“Konsep Surga dan Neraka itu dibuat untuk menakut-nakuti domba-domba. Nanti kalau sudah pintar semua, domba nya sukar digembalakan. Agama itu untuk mengatur biar umat tidak kacau. Kalau Agama sampai membuat kita malas menggunakan otak untuk berpikir, mungkin sebaiknya otaknya dikembalikan saja. Jangan sampai agama hanya diperuntukan bagi mereka yang berhenti berpikir”

Saat ini tradisi dan kebudayaan Tionghoa, meski sudah bebas berkembang di tanah air, tapi makin sedikit saja umatnya. Seperti catatan perjalanan singkat saya di awal paragraf, banyak kota besar yang Kelentengnya sudah kosong melompong pada saat sembahyang.

Baca Juga :  Gusdur, Tokoh Muslim Tionghoa Yang DIHORMATI Etnis Tionghoa di Indonesia
Gereja Santa Maria de Fatima
Interior Gereja Santa Maria de Fatima yang bertema oriental. Sumber : suara.com.

Baca juga : Alasan Makin Menurunnya Pemeluk Agama Tionghoa di Indonesia (Bagian II)

Ini harusnya menjadi tantangan bagi pengurus Kelenteng dan bagi generasi penerus Tionghoa yang masih bertahan, agar bagaimana melestarikan tradisi, kebudayaaan dan agama Tionghoa agar tidak makin terpuruk.

Satu lagi, seperti soal bahasa, dimana kebanyakan orang Tionghoa di Indonesia sekarang (generasi 60-an s/d 90-an) malah tidak bisa berbahasa Mandarin. Juga tidak bisa memegang sumpi. Sementara orang2 pribumi sekarang malah fasih berbahasa Mandarin, dan pintar pakai sumpit di restoran2 chinese.

Ini fakta yang saya temukan sewaktu makan di beberapa restoran. Lucu memang, tapi itulah kenyataan nya. Semoga pembaca bisa menyimpulkan sendiri.

Lampiran (admin) : Tampak pada foto gereja yang digantung ornamen khas Tionghoa; sumber foto dari city.seruu.com

Catatan (admin) : (1) Merupakan pandangan pribadi penulis yang bersifat subjektif (2) Yang dimaksud Agama Tionghoa disini adalah Tao, Konghucu dan Buddha (meski sebenarnya Buddha berasal dari India, namun tumbuh berkembang pesat di Tiongkok). Penggunaan kata Agama Tionghoa hanya untuk mempersingkat judul. So, don’t be stupid.


  •  
  • 23
  •  
  •  
  •  
  •  
    23
    Shares
245 thoughts on “Alasan Makin Menurunnya Pemeluk Agama Tionghoa di Indonesia”
  1. Sebenarnya agama sdr Tionghoa adalah Tao, Konghucu dan Buddha Mahayana, sebenarnya adalah 3ajaran yg berdiri sendiri-sendiri.ketiga ajaran sama-sama menjalankan kebudayaan Tionghoa hanya saja disesuaikan dengan ajaran agamanya masing-masing

    Bagi yg beragama Konghucu
    -Sembahyang ke Klenteng
    -Merayakan hari raya Imlek sebagai hari raya agama Konghucu/hari pergantian tahun dalam agama Konghucu
    -Melakukan sembahyang cengbeng sebagai ritual upacara sembahyang leluhur dalam agama Konghucu
    -membaca kitab suci agama Konghucu
    – menjalankan upacara agama Konghucu

    Bagi yg beragama Tao
    -sembahyang ke klenteng
    -merayakan Imlek sebagai hari raya agama Tao
    -melakukan sembahyang leluhur secara agama Tao
    -Belajar dari kitab suci agama Tao yaitu kitab Dao De Jing
    -Menjalankan ritual Upacara agama Tao

    Bagi yg agama Buddha Mahayana dengan Budaya Tionghoa
    -Sembahyang ke Wihara Mahayana
    -Merayakan Hari Raya Waisak
    -membaca kitab suci tripitaka Mahayana
    -menjalankan upacara agama Buddha Mahayana
    -Sembahyang leluhur/ulambama

    Pindah agama sebenarnya ga masalah, meskipun pindah agama tapi bisa tetap menjalankan kebudayaan yg disesuaikan dengan ajaran agama masing-masing

    Misalnya sebelumnya beragama Konghucu kemudian pindah ke Buddha Mahayana, maka jadinya
    -tidak lagi sembahyang ke klenteng tapi hanya sembahyang ke wihara Mahayana
    -cara sembahyang pun berubah dari sembahyang agama Konghucu menjadi sembahyang secara Buddha Mahayana
    -tidak lagi belajar kitab suci agama Konghucu dan hanya belajar dari kitab suci tripitaka dan sutra-sutra Mahayana
    -tidak lagi menjalankan upacara agama Tao dan hanya menjalankan upacara agama Buddha saja
    -tidak lagi sembahyang cengbeng dan hanya melakukan sembahyang ulambama secara Buddha Mahayana

    Secara logika: jika sudah sembahyang ulambama, masak sembahyang cengbeng lagi? Kan sembahyang ulambama dan cengbeng maknanya sama2 sembahyang leluhur hanya saja caranya berbeda sesuai ketentuan agama masing-masing

    Kemudian Buddha Mahayana (mohon maaf) sebenarnya tidak merayakan Imlek, namun karena (mungkin) ketentuan dinasti di Tiongkok zaman dulu atau karena hal lainnya, sehingga umat Buddha Mahayana juga merayakan Imlek tapi merayakan sebagai bentuk formalitas tapi caranya merayakan sesuai ajaran agamanya(menggelar kebaktian di wihara mahayana di wihara dan saling silaturahmi misalnya)
    Namun terlepas dari semua itu, Imlek adalah hari raya tahun baru agama Konghucu dan Tao sedangkan Waisak juga hara raya tahun baru agama Buddha Mahayana, jadi Imlek dan Waisak kan sama-sama bermakna hari raya tahun baru

    Logikanya, jika itu hanya sebuah tradisi, mengapa ada acara sembahyang nya bahkan secara khusus? Berarti yg dijalankan selama ini adalah agama atau upacara agama

    Hanya saja karena kuatnya pengaruh orde baru dan waktu itu agama leluhur kita belum diakui, sehingga agama leluhur kita dijalankan sebagai tradisi sambil menjalankan agama yg baru, padahal sebelum itu sebenarnya leluhur kita memang sudah punya agama, yaitu agama Tao dan Konghucu

    Jadi, agama hanya tuntunan hidup, bila dipelajari ajarannya dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga terjadi perubahan sikap dan perilaku menjadi lebih baik, sehingga menanam sebab yg baik sehingga kehidupan menjadi lebih baik

    (Itulah beragama yg sesungguhnya)

    Mau agama apapun silahkan, kan agama hanya tuntunan hidup

    Ketika pindah agama berarti pindah agama dam arti telah meninggalkan tuntunan hidup yg baik, sehingga sikap dan karakter berubah jadi ga baik, sehingga menanam sebab yg buruk, sehingga kehidupan jadi tidak baik karena buah dari karma sendiri

    (Itulah pindah agama yg sesungguhnya)

    Agama apapun yg ditempuh, meskipun ajaran berbeda-beda, namun pada hakekatnya semua agama mengajarkan kebaikan, kedamaian dan kebahagiaan

    Agama mana yg kita pilih dan mana yg lebih baik?

    Semua tergantung kepada “kecocokan” hati kita dalam memilih agama sebagai pedoman hidup

    Ibaratnya seperti berbeda guru, berbeda cara mengajar dan berbeda pula metode belajarnya, namun semua guru mengajarkan yg baik, sekarang tergantung kita sebagai murid, kita suka sama guru yg mana dan kita merasa lebih cocok belajar/diajarkan oleh guru yg mana

    Kesimpulan nya adalah siapapun kita suku apapun, ras apapun, etnis apapun dan berasal dari manapun dan tinggal dimanapun, (mohon maaf) dalam hal ini pindah agama adalah sama sekali tidak menyebabkan budaya hilang dan tergerus, meskipun sudah pindah agama, namun tetap menjalankan kebudayaan setempat yg disesuaikan dengan ajaran agamanya masing-masing (tradisi mengikuti ajaran agamanya masing-masing)

    Seperti di RRC
    Orang Chinese beragama Konghucu berbudaya Tionghoa yg disesuaikan agama Konghucu
    Orang Chinese beragama Tao berbusa Tionghoa yg disesuaikan agama Tao
    Orang Chinese beragama Buddha Mahayana dan Vajrayana berbudaya Tionghoa yg disesuaikan ajaran Buddha
    Orang Chinese beragama Islam berbudaya Tionghoa yg disesuaikan ajaran Islam
    Orang Chinese beragama Kristen/katolik berbudaya Tionghoa yg disesuaikan ajaran Kristen/Katolik
    Bahkan bila ada orang Chinese beragama Hindu berbudaya Tionghoa yg disesuaikan ajaran Hindu/ajaran Weda
    Dsb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *