Last Updated on 3 May 2021 by Herman Tan

Orang2 Tionghoa di Indonesia masuk ke wilayah Nusantara melalui jalur perdagangan, ketika jaman kerajaan2 masih berdiri di Indonesia.

Leluhur mereka adalah para perantau dari negeri Tiongkok. Mereka tidak hanya melakukan kegiatan perdagangan saja, namun sebagian dari mereka ada yang memutuskan untuk menetap, dan menikahi penduduk lokal. Demikianlah orang2 Tionghoa mulai tersebar di Indonesia sejak saat itu.

Sebagian masyarakat Indonesia mungkin sudah tahu bahwa keturunan Tionghoa di Indonesia sebenarnya terbagi ke dalam beberapa kelompok suku, sama halnya seperti suka Jawa, Sunda, Batak, Toraja, dan lainnya.

Tapi tidak semua orang tahu, ada berapa kelompok suku Tionghoa yang tersebar di Indonesia? Dialek (bahasa) apa yang mereka gunakan? dan dimana saja mereka terkonsentrasi (tinggal)?

Umumnya orang2 hanya familiar dengan Hokkian dan Hakka, dimana merupakan 2 kelompok suku Tionghoa terbesar di Indonesia. Namun sebenarnya bukan hanya itu saja. Mari kita simak satu per satu dibawah.

1. Suku Hokkian

Suku Hokkian sendiri mengacu kepada “Orang Hokkian” atau “Hokkian-lang” (福建人; Fujian-ren), yang berarti orang2 dari provinsi Fujian, Tiongkok. Banyak dari mereka yang menjadi perantau dan tinggal di berbagai negara, terutama di Asia Tenggara.

Peta jalur migrasi bangsa tiongkok ke Indonesia.

Di Indonesia, Hokkian merupakan suku Tionghoa terbesar, dengan jumlah sekitar 40% dari total populasi masyarakat Tionghoa.

Sebagai info, berdasarkan sensus penduduk (SP) tahun 2010, Warga Negara Indonesia yang “masih mengaku” keturunan Tionghoa hanya sebesar 2.832.510 jiwa; atau hanya  1,20% dari total penduduk Indonesia yang kala itu sebesar 236.728.379 orang.

Sementara data sensus 2020 belum keluar, namun diperkirakan jumlahnya akan menurun akibat asimilasi (kawin campur).

Baca juga : Berapa Jumlah populasi Etnis Tionghoa di Indonesia?

Orang Hokkian biasa juga disebut dengan Hoklo (福佬) atau Teng-lang, untuk penyebutan yang lebih bersahabat. Penyebutan tersebut dilakukan untuk membedakan mereka (sebagai pendatang) dengan penduduk lokal.

Bahasa yang digunakan oleh orang Hokkian adalah dialek Hokkian (闽南语; Minnan yu), dimana merupakan bagian dari bahasa Minnan (Min Selatan).

Dialek Hokkian juga merupakan dialek yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Tionghoa di Indonesia. Karena itu, dialek ini menjadi cikal bakal kosakata serapan bahasa Indonesia, seperti tiongkok, tionghoa, hongshui, tahu, loteng, bakso, siomai, imlek, bakmi, becak, lumpia, teko, kuli, gotong, amsiong, dan sebagainya.

Di propinsi Fujian dan sekitarnya (termasuk Taiwan), Hokkian digunakan sebagai bahasa daerah. Jumlah penutur bahasa Hokkian sendiri diperkirakan mencapai 50 juta orang di seluruh dunia!

Di Indonesia, orang2 Hokkian ini biasanya terkonsentrasi di Sumatera Utara (Medan), Riau (Pekanbaru), Jambi, Sumatera Selatan (Palembang), Jawa (Jabodetabek, Bandung, Semarang, Surabaya), Bali, Kalimantan (Banjarmasin), Sulawesi (Makasar, Manado), dan Maluku (Ambon).

Baca juga : Panggilan Kekerabatan Dalam Tradisi Tionghoa (Dialek Hokkian)

2. Suku Hakka

Suku Hakka (客家; Kejia) mengacu kepada “Orang Hakka“, yang merupakan salah satu garis keturunan dari suku Han terbesar di Tiongkok.

Kelompok masyarakat Hakka merupakan kelompok masyarakat terakhir yang melakukan perjalanan migrasi ke selatan, yang awalnya berasal dari wilayah utara Tiongkok. Mereka bermigrasi semenjak abad ke-4 M, dikarenakan bencana alam, perang, dan konflik internal.

Migrasi orang2 Hakka keluar Tiongkok juga terjadi secara besar-besaran, sehingga sekarang komunitas Hakka merupakan kelompok suku terbesar Tiongkok di seberang laut (China overseas).

Orang Hakka menggunakan bahasa Hakka (客家話; Ke jia hua) dalam percakapan sehari2 mereka, atau lebih kita kenal dengan dialek Khek, yang juga menjadi salah satu dari 7 bahasa utama di negeri tirai bambu.

5 sejarah gelombang migrasi orang2 Hakka di Tongkok.

Baca juga : Selain Mandarin, Ini 5 Dialek Bahasa Lainnya Yang Digunakan di Tiongkok

Lima sejarah gelombang migrasi orang2 Hakka di Tongkok :

1. Dimulai pada abad ke-4 M, dimana wilayah mereka di invasi 5 suku barbarian dari utara Tiongkok.
2. Lalu pada abad ke-10 M, saat kejatuhan Dinasti Tang.
3. Lalu pada akhir abad ke-12 hingga 13 M, saat kejatuhan Dinasti Song (dimulainya era Dinasti Yuan).
4. Kemudian pada pertengahan abad ke-17 M, dimana terjadi bencana alam pada jaman kekaisaran Kangxi.
5. Terakhir pada pertengahan abad ke 19 hingga 20 M, dimana terjadi pemberontakan Taiping, perang antar klan Hakka.

Demikianlah akhirnya orang2 Hakka terus bermigrasi hingga keluar wilayah Tiongkok, dan menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Arti dari “Hakka” sendiri sebenarnya tidak bermula dari suatu pengertian yang baik. Arti Hakka sendiri adalah “tamu” (客; Ke), dikarenakan kelompok mereka tergolong sebagai pendatang baru di suatu wilayah. Hal inilah yang akhirnya diambil menjadi nama kelompok mereka.

Di Tiongkok, orang2 Hakka sendiri sering kali dianggap sebagai kelompok yang kurang beradab dan miskin. Hal ini karena mereka biasanya sering berpindah2, dan menempati tempat (tanah) yang kurang subur. Saa tini, mereka terkonsentrasi di wilayah Guangdong dan Guangxi.

Di jaman dulu, orang2 Hakka juga sering menjadi sasaran diskriminasi dari kelompok etnis Han (mayoritas di Tiongkok, 91%). Pada era Dinasti Qing (1644-1912), tercatat peristiwa genosida (pembantaian besar2an terhadap satu suku bangsa) anti-Hakka yang membunuh ±30,000 orang Hakka dalam sehari.

Selama berlangsungnya gelombang imigrasi keluar sejak tahun 1850-an s/d 1930-an (menjelang runtuhnya dinasti), kelompok Hakka adalah orang2 yang paling miskin di antara para perantau asal Tiongkok lainnya.

Namun ketidakberuntungan ini justru membentuk sifat kelompok mereka yang keras (pekerja keras, gigih). Dalam sejarahnya, banyak orang Hakka menjadi figur politik terkenal, seperti Sun Yat Sen (pemimpin partai Kuomintang), Deng Xiaoping (pemimpin Tiongkok era 80-an, dan Lee Kuan Yew (PM Singapura).

Orang Hakka sendiri saat ini tersebar di seluruh penjuru dunia, dengan jumlah ±48 juta orang. Walau terpisah2, para penutur Bahasa Hakka yang berbeda logat dan dialek dapat berbicara satu sama lain. Kemana pun mereka berpindah, orang Hakka masih mempertahankan kebudayaannya.

Di Indonesia, orang2 Hakka tersebar di Jakarta, Sumatera Utara (Medan), Batam, Sumatera Selatan (Palembang), Bangka-Belitung, Lampung, Jawa (Surabaya), Kalimantan (Singkawang, Pontianak, Banjarmasin), Sulawesi Selatan (Makasar), Sulawesi Utara (Manado), dan Ambon.

Baca juga : Panggilan Kekerabatan Dalam Tradisi Tionghoa (Dialek Hakka)

3. Suku Kanton (Cantonese)

Orang Kanton (Kantong) berasal dari propinsi Guangdong dan sekitarnya. Orang2 Kanton terkenal dengan pendidikannya yang tinggi, dan teknik pengobatan tradisionalnya.

Peta penyebaran dialek bahasa di dataran Tiongkok.

Baca juga : Inilah 5 Suku Tionghoa yang Tersebar di Indonesia

Dalam bahasa Inggris, istilah “Kanton” bisa jadi ambigu, dimana Kanton sebenarnya adalah nama tradisional Inggris untuk kota Guangzhou.

Menurut penelitian dari ahli bahasa Han di Tiongkok, dialek Kanton merupakan salah satu dialek bahasa Han tertua yang masih tersisa, dimana dulunya digunakan secara luas pada era Dinasti Tang. Di jaman dulu, mereka diidentikan sebagai pandai besi, tukang kayu, dan hal2 pertukangan lainnya.

Namun di jaman sekarang, selain terkenal dengan bintang2 perfilman Hongkong era 70-an hingga 90-an seperti Jacky Chan cs, mereka juga terkenal dengan gaya kulinernya yang khas, yakni dimsum (點心).

Bahasa yang digunakan adalah dialek kanton (广东话; Guangdong hua), Yue (粤语; Yue yu), atau dialek Konghu, dituturkan di wilayah Guangdong dan sekitarnya, termasuk Hong Kong, Makau dan perantauan Tionghoa di wilayah Asia Tenggara.

Saat ini, jumlah penutur bahasa Kanton di dunia mencapai ±80 juta orang. Hal ini menjadikan bahasa kanton sebagai bahasa daerah dengan jumlah penutur terbanyak, melebihi bahasa hokkian yang hanya sekitar 40 juta penutur.

Orang2 Kanton di Indonesia sendiri tersebar di wilayah Jakarta, Medan, Makassar, dan Manado.

Baca juga : Panggilan Kekerabatan Orang Tionghoa Dalam Dialek Kanton (Konghu)

4. Suku Tiochiu (Teochew)

Orang Tiociu (潮州; Chaozhou) berasal dari Shantou, yang berada di propinsi Guangdong. Daerah asal orang Tiociu biasa disebut Chaoshan, yang merupakan gabungan dari kata (kota) Chaozhou (潮州) dan Shantou (汕头).

Selain mandarin (Putonghua), Tiongkok masih memiliki beragam dialek bahasa lainnya.

Di masa lalu, wilayah Shantou sempat menjadi pusat perdagangan di Tiongkok. Namun dikarenakan bencana alam, penyakit dan kelaparan, akhirnya memaksa penduduknya untuk bermigrasi ke wilayah lain, termasuk ke Asia Tenggara.

Dialek Tiociu (潮語; Chao yu) ini sebenarnya mirip dengan dialek Hokkian (dialek Min Selatan). Bahasanya dipengaruhi oleh logat Hokkian dan logat Kanton, dikarenakan letak geografisnya yang berada di utara Guangdong, dekat perbatasan dengan propinsi Fujian. Karena itu, penutur Hokkian cukup mengerti bahasa ini meski tidak seluruhnya.

Para ahli bahasa Tiongkok menganggap Tiociu sebagai salah satu bahasa daerah yang paling konservatif (tradisional). Penutur bahasa Tiociu sendiri hanya ±10-15 juta orang di seluruh dunia.

Di Indonesia, orang2 Tiociu terkonsentrasi di wilayah Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Barat (Pontianak, Ketapang).

Baca juga : Panggilan Kekerabatan Orang Tionghoa Dalam Dialek Tiociu (Teochew)

5. Suku Hainan

Kalau mendengar kata Hainan, mungkin kita langsung terpikir salah satu makanan khas Tiongkok, nasi Hainan 🙂

Orang Hainan (海南人; Hainan-ren) merupakan salah satu kelompok masyarakat di Tiongkok yang jumlah penyebarannya tidak sebanyak Hokkian dan Hakka.

Di Indonesia, mereka biasa juga disebut sebagai orang Hailam. Kelompok suku ini berasal dari salah satu provinsi kecil di  Tiongkok yang berbentuk kepulauan, bernama Hainan (海南岛).

Provinsi ini sering menjadi tujuan wisatawan karena terkenal dengan keindahan laut dan pantainya. Selama berabad2yang lalu, pulau Hainan adalah bagian dari Provinsi Guangdong, sampai pada tahun 1988 pulau ini menjadi Provinsi yang berdiri sendiri dengan ibukotanya Haikou.

Untuk bahasanya, orang2 Hainan menggunakan dialek Hainan (海南话; Hainan hua), yang merupakan rumpun bahasa Min Selatan. Disebut juga dialek/bahasa Qiongwen (琼文) atau Qiongyu (語).

Jumlah penutur bahasa Hainan sendiri diperkirakan berjumlah sekitar 5 juta orang saja. Mereka tersebar di seluruh dunia, terutama di wilayah Hainan. Orang2 Hainan di Indonesia sendiri terkonsentrasi di daerah Pekanbaru, Batam.

Contoh perbedaan antar dialek dalam penyebutan angka

Hokkian : It/Ce, Ji/No, Sa, Si, Go, Lak, Cit, Pek, Kau, Cap.
Hakka : Jit, Nyi, Sam, Si, Ng, Liu, Chit, Pat, Kiu, Sip.

Hainan : Yet, Ji, Ta, Ti, Ngo, Lak, Siet, Bui, Kao, Tap.
Kanton : Yat, Yih, Saam, Sei, Ngh, Luhk, Chat, Baat, Gau, Shap.

Baca juga : Tahukah Pembaca Arti Kata Gocap, Cepek, Gopek, Seceng, Noceng, Goceng, Ceban, Goban, Cepek Ceng, Cetiao, Gotiao?

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow Facebook & Twitter @tionghoainfo untuk info2 terbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *