Beberapa Kebiasaan Orang Tionghoa Yang Masih Sering Dilakukan

Tampak seorang yang sedang bersembahyang kepada Thian

Di masa sekarang ini, masih terdapat banyak bentuk tradisi dan kebiasaan yang berkembang di dalam budaya warisan leluhur Tionghoa. Beberapa contoh tradisi dan kebiasaan kuno yang masih sering ditemukan antara lain :

  1. Di Kelenteng-kelenteng sering ada altar “Hauw Ciang Kong” (harimau), umat bahkan mempersembahkan beberapa potongan daging segar.
  2. Rupang kuda di pay tersendiri/khusus (Kwan Kong).
  3. Sembahyang kepada Shen/Shien dengan mempersembahkan daging-dagingan (sembahyang sam ceng).
  4. Sembahyang dengan menggunakan lilin berukuran besar, dianggap bisa mendapatkan rejeki yang besar juga.
  5. Sembahyang dengan menggunakan hio yang panjangnya lebih dari 1 meter, dengan diameter sekitar 10-15 cm, atau sembahyang dengan dupa satu pak (dupa ratusan) tujuannya agar bisa mendapatkan rejeki yang banyak
  6. Sebelum bersembahyang terlebih dahulu mengetuk2 Hiolo/Altar/menghentak2an kaki ke bumi.
  7. Membakar segepok kertas Kim Coa setelah selesai bersembahyang, dianggapan sebagai salah satu bentuk persembahan.
  8. Mengasapi muka/wajah dengan asap dupa.
  9. Masih adanya umat yang meminta “nomor buntut” di depan Altar Shen/Shien, dengan media bilah kayu “Ciamsi”.
  10. Di rumah harus ada “Altar Leluhur” untuk di pay.
  11. Membakar kertas “Uang2an”, “Koper2an”, “Baju2an”, “Rumah2an” dll, untuk “dikirimkan” kepada leluhur.
  12. Sembahyang Rebutan atau “Raja Setan” atau “Hantu Kelaparan”.

Kertas Kim coa yang telah dilipat

Tidak mudah untuk merubah pandangan/prinsip seseorang yang sudah terlanjur mengakar, untuk itu diperlukan kesabaran untuk dapat menjelaskannya. Bila kita ingin merubahnya, tentunya hal yang pertama yang harus kita lakukan adalah mencari tahu, sebab serta mengapa hal-hal yang kita anggap “tahayul” selama ini bisa berkembang di masyarakat.

Sebagai contoh ketahayulan lainnya :

1. Wanita yang sedang haid, dilarang untuk bersembahyang di Kelenteng (karena dianggap sedang kotor, dsb). Alasannya, pada Jaman dahulu, Kelenteng-kelenteng berada di atas gunung-gunung, untuk sekedar datang bersembahyang tentu tidaklah mudah. Pada waktu itu juga belum ada yang namanya “pembalut” wanita yang sedang haid. Bisa terbayang bagaimana repotnya? Nah oleh karena itu, bagi wanita yang sedang “datang bulan” dilarang untuk bersembahyang ke Kelenteng. Tapi pada jaman sekarang Kelenteng berada di tengah kota dan di toko-toko bahkan di PKL (pedagang kaki lima) banyak dijual “pembalut” wanita. Kalau sudah begini kenapa masih dilarang ?

2. Orang yang sedang dalam keadaan “berdukacita”, dilarang bersembahyang di Kelenteng, dsb. Ini yang paling aneh. Karena justru pada saat seperti itu, kita memerlukan bimbingan serta memohon diberikan ketabahan dari SHEN tapi kok malah dilarang bersembahyang dengan alasan kita sedang dalam keadaan “sial” (Yin), dsb.

Ada tradisi yang baik dan mungkin juga masih bermanfaat untuk melestarikan Kebudayaan Orang Tionghoa, tapi ada juga yang sudah tidak cocok lagi dengan perkembangan zaman. Mau menjelaskan kepada orang yang lebih tua atau orang tua, tentunya perlu proses, perlu cara, perlu waktu, serta harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat.

Di dalam Buku STPC halaman 189 (Versi Mandarin), disana ada kalimat yg tertulis “DOU FU DA XIANG CHU, BU RU JIU GU BING, GONG ZUO PAI CU YANG, BU DONG SHEN FO XIN “ yang artinya “Pamer kekayaan dengan mambakar lilin atau hio yang super besar, lebih baik berderma menolong orang yang kekurangan. Mempersembahkan babi dan kambing di meja altar, berarti tidak memahami kehendak Dewa/Dewi”.

Bagaimana agar Umat Agama Tao tidak sampai termakan mitos dan ketahyulan seperti itu, termasuk membakar lilin besar yang lebih banyak segi jeleknya dari pada segi baiknya. Apalagi kita tahu, bahwa kebanyakan orang pada zaman dulu berlomba-lomba membakar lilin besar, tujuannya adalah untuk saling beradu kekayaan di depan umat yang lain, itu sesungguhnya sangat melecehkan Shen Ming.

Untuk “Sembahyang Leluhur” dan “Sembahyang Cit Gwee” (rebutan), jika orang tua masih belum bisa menerima penjelasan dari kita dan tetap ingin mempertahankan tradisi itu, sebagai anak sepatutnya kita ikut sajalah dulu. Setelah nanti kita yang menjadi orang tua/setelah orang tua kita meninggal, barulah kita bisa merubahnya. Saat ini kita tidak perlulah ngotot-ngototan atau ribut dengan orang tua sendiri hanya karena masalah seperti itu. Mengenai membakar uang-uangan pun tidak ada gunanya, hanya pemborosan dan mendorong meningkatnya pengrusakan alam (karena kertas dibuat dari sekian banyak pohon yang ditebang).

Mengenai “Altar Leluhur” di rumah, memang secara psikologis akan lebih baik jika foto almarhum/almarhumah, tidak digantung (dipajang). Karena ketika kita melihat fotonya, tentu sedikit banyak kita akan jadi teringat akan almarhum/almarhumah dan merasa sedih. Seandainya kita sendiri yang telah meninggal dan melihat anak cucu kita sedih karena terkenang akan diri kita, bagaimanakah perasaan kita, bahagiakah atau ikut bersedih ?

Jika kita bisa Siutao dengan baik, tentunya “Leluhur” kita akan merasa sangat senang juga, karena keturunannya semakin lama menjadi semakin baik, dan tidak sia-sialah beliau bisa memiliki keturunan seperti kita-kita ini. Kita sendiri tentu sangat mengharapkan agar anak cucu kita, nantinya bisa menjadi lebih baik, lebih sukses, lebih sejahtera dan lebih bahagia kehidupannya dibandingkan hidup kita saat ini.

Nah tugas kita adalah bagaimana mengikis mitos-mitos yang sudah tidak sesuai lagi di masa kini agar generasi penerus kita bisa lebih berpikiran logis dan realistis. Anda ingin menambahkan atau mengulas lebih dalam lagi mengenai artikel sejarah atau makna per poin dari bentu-bentuk tradisi dan kebiasaan seperti yang ada diatas?

Kirimkan artikel anda di : admin [at] tionghoa [dot] info.

Oleh : Nie Tjing Wen
Diambil dan diedit dari arsip diskusi di http://siutao.com
Diskusi antara Tommy Wong, Xianhu, Sanman89, Life, Chang, Tommy Wong999, SHAN MAO, FOX, Sponbob, ZOOM, pada November 2007.
Dengan pengeditan seperlunya.

Herman Tan

Apa Rasa Tidak Baik Orang Buat, Jangan Buat Pada Orang Lain.

Latest posts by Herman Tan (see all)

6 Responses to Beberapa Kebiasaan Orang Tionghoa Yang Masih Sering Dilakukan

  1. Kumala says:

    Adu gede hio?
    Ah siapa tahan…..
    Wkwkwkwk………

  2. Steven Surya Wijaya says:

    maaf, saya tidak setuju banget dengan artikel ini, anda sama sekali tidak memahami arti sebenarnya tradisi tradisi tersebut, wanita haid tidak boleh mengunjungi atau pun bersembahyang d kelenteng, di karenakan wanita yg sedang haid itu menbuang sel telur yg merupakan calon bayi yg tidak di buahin sperma, jadi sama aja klo itu membawa mayat sewaktu sembahyang. org yg sedang berduka cita bukanlah sama sekali tidak boleh mengunjungi kelenteng, tetapi ada kelenteng yg tertentu yg tdk boleg, pada umumnya kelenteng dibagi 2 yaitu kelenteng yang dan kelenteng yin. untuk adu gede” hio atau pun lilin, itu tdk berarti memamerkan kekayaan tetapi menyimbolkan suatu kelenteng yg bnr” ramai di kunjungi dan yayasan memiliki kemamuan penyelesaian masalah yg baik. pembakaran kertas di lakukan org thiong hua karena, mereka percaya bahwa ad kehidupab lain selain kehidupan ini.

    • Tionghoa says:

      Sdr Steven Surya,

      Kami rasa penjelasan diatas tentang wanita haid dilarang ke kelenteng cukup jelas. Kami membuat artikel ini, dengan maksud mengikis segala macam ketahayulan yang berkembang dimasyarakat. Jangan membuat segala sesuatu menjadi sulit, inilah yang membuat tradisi dan budaya Tionghoa makin ditinggalkan, termasuk berpaling ke agama lain yang relatif lebih simple.

      Kami tidak mengenal istilah adanya kelenteng Yang dan kelenteng Yin. Mungkin itu hanya istilah yang dibuat segelintir orang, dimana mungkin bisa jadi hanya sebuah karangan belaka, atau ada motif dari agama lain yang ingin mencari keuntungan dari kelenteng tersebut.

      Mengenai pemasangan lilin besar di kelenteng, tentu tidak masalah, apabila pengurus atau umatnya mampu, karena itu duit/uangnya mereka. Tapi apakah hanya itu yang bisa dilakukan oleh mereka untuk menunjukkan tanda bakti kepada shen/xian di kelenteng? Apakah tidak lebih baik, lilin besarnya dikurangi, dan uangnya disumbangkan ke orang yang lebih membutuhkan?

      Ada kehidupan lain selain kehidupan nyata di dunia ini, betul. Tapi di alam sana, tidak lagi seperti alam kita (dunia), yang masih butuh mobil-mobilan, emas, uang, harta, rumah, pembantu, dsb. Jadi, seandainya pun, masih mau membakar kertas/ling wu, paling hanya sebatas meramaikan/menyemarakkan, dan tidak berlebihan. Ingat, mereka di alam sana, juga tidak kekal, karena akan segera bereinkarnasi kembali menjadi manusia apabila masih ada utang/piutang yang harus diselesaikan.

      Demikian yang dapat kami jelaskan.
      Terima kasih

  3. Steven Surya Wijaya says:

    Menurut saya mungkin anda seharusnya mempelajari tentang budaya Thiong Hua lebih mendalam dulu. Saya telah 23 tahun mempelajari budaya thiong hua dam sampai sekarang saya masih mempelajari lebih dalam lagi, untuk semua ini saya tidak bisa memaksakan apa yang saya tau kepada anda, tapi artikel ini bener” jauh berbeda dengan semua yang pernah saya pelajari dan sangat bertolak belakang dengan budaya thiong hua.

    • Tionghoa says:

      Oke terima kasih sdr Steven Surya, Kami mengerti maksud baik anda.

      Wanita mengalami haid merupakan sesuatu yang alamiah. Shen Xian pasti tahu dan sangat mengerti hal ini. Jika Shen Xian menolak ini berarti Beliau menolak kealamiahan itu sendiri, jika demikian Shen Xian tersebut apanya yang agung?

      Tradisi merupakan sesuatu yang diwariskan oleh generasi sebelum kita. Dan apa yang kita jalankan/lakukan sekarang kelak akan menjadi tradisi bagi generasi muda kita. Apakah kita akan mewariskan tradisi yang aman, bermanfaat dan bermakna bagi generasi muda kita atau kita akan mewariskan tradisi yang berdasarkan konsep yang tidak baik? Semua kembali pada diri kita masing-masing.

      Artikel ini dibuat untuk membuka pikiran generasi muda, agar mereka berani berpikir, bertanya, dan merombak semua ketakhayulan dan tradisi yang tidak baik demi kebaikan generasi berikutnya.

      Demikian info
      Salam hangat

  4. Jokowi says:

    ternyata banya juga budaya Tionghoa yang baru saya ketahui

Leave a Reply