Last Updated on 26 August 2018 by Herman Tan

Waktu itu saya sudah memasuki tahun ke 4, sudah memasuki periode perkuliahan terakhir. Saya sebelumnya sudah tidak tinggal di asrama lagi. Lagipula jumlah kelas di semester akhir sedikit. Tetapi dikarenakan ada 2 kelas kuliah di pagi hari, saya akhirnya memutuskan mendaftar lagi untuk tinggal di asrama, kali ini tinggal di Asrama Dazhuang.

Pada masa itu, saya umumnya hanya menginap di asrama sebanyak 3 hari dalam seminggu. Tiga teman sekamar lainnya mereka sedang mempersiapkan ujian, sehingga kalau tidak keluar untuk les tambahan maka pergi ke perpustakaan. Umumnya sampai jam 10 malam mereka baru kembali ke kamar.

Tapi ada satu kali, waktu itu hujan terus menerus. Jadi saya dalam tinggal di asrama terus seminggu penuh, tidak pulang ke rumah. Kebetulan waktu itu teman-teman sekamar juga di dalam kamar. Waktu itu pada asyik ngobrol-ngobrol. Mereka pada membicarakan rencana sehabis lulus dan sebagainya. Dapat terlihat mereka sebetulnya sangat serius dengan ujian mereka.

Tiba-tiba salah satu mengajak untuk bermain jelangkung (saya tahu yang beginian sudah jadul) untuk bertanya masa depan karena kebetulan ada 4 orang di situ. Saya merasa Aula Dazhuang biarpun asrama pria, tetapi jaraknya dengan Aula Daren masih sangat dekat. Saya tidak ingin mencari masalah, jadi bersikeras tidak ingin main dan juga menasehati mereka jangan bersikeras.

Jelangkung di Taiwan, dimainkan oleh 4 orang dengan telunjuk masing2 menekan piring kecil, lantas kemudian memberi pertanyaan. Konon piring ini nantinya akan bergerak sendiri memberi tahu jawabannya.

Ternyata mereka malah mengajak teman satu jurusan di kamar sebelah untuk main. Jadi mereka pun dengan hebohnya memulai permainan itu.

Saya yang penasaran ikut mengamati mereka bermain. Tetapi dilihat-lihat sepertinya tidak ada roh atau apa-apanya. Mereka berempat yang sedang sibuk menggerakkan piring itu sendiri. Dan karena dicoba beberapa kali tidak ada hasil, mereka pun menyerah.

Keesokan harinya si A (saya akan menggunakan inisial untuk memudahkan cerita) kembali mengungkit masalah jelangkung ini. Dia habis berkonsultasi dengan satu orang yang ahli. Ternyata untuk mengundang rohnya tidak bisa hanya menggunakan jari menekan piring dan sekedar membaca mantra untuk mengundangnya.

Roh jelangkung pada dasarnya adalah roh bersifat Yin. Oleh karena itu, untuk mengundangnya, haruslah membuat lokasi tersebut menjadi beraura Yin. Cara untuk membuat tempat di situ Yin paling umum adalah menaruh benda-benda yang bersifat Yin. Kemudian pastikan ruangan tersebut tidak ada cahaya matahari masuk ke kamar.

Baca Juga :  Pendeta Tao Qiu Chuji

Kebetulan memang saat itu sedang hujan. Jadi biarpun itu di siang hari, sedikit banyak ada aura-aura Yin. Mereka juga menggunakan kasur menghalangi jendela, supaya tidak ada cahaya yang masuk ke kamar. Mereka kemudian mengumpulkan sepiring air hujan dan sebuah ranting pohon banyan (air dan pohon banyan katanya bisa mengumpulkan aura Yin).

.Mereka juga menaruh kertas orang mati di dalam kamar untuk menambah efek Yin. Dan terakhir mereka menyalakan kemenyan. Akhirnya mencobanya sekali lagi!

Kertas ini umumnya dibakar sebagai ditujukan untuk orang yang meninggal.

Malam jam 11 di hari itu, semuanya pun berkumpul di kamar.

Dalam bahasa Mandarin, permainan jelangkung ini disebut sebagai 碟仙 (die xian) yang secara harfiah artinya “piring dewa”. Walaupun disebut dewa, pada kenyataannya roh yang diundang sebetulnya adalah roh-roh yang lebih rendah.

Itu sebabnya dalam cerita ini mereka harus menjadikan kamar berhawa Yin, karena umumnya roh tingkat rendah sifatnya adalah Yin (berbeda dengan Dewa (神; Shen), yang sifatnya adalah Yang). Bagaimana kisah mereka selanjutnya?

Bersambung ke part 11

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru. PLAGIAT KONTEN bermodal COPY PASTE adalah tindakan yang tidak terpuji.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Jangan jadi penulis dengkulan, yg bermodal Copas artikel Tionghoa.INFO!