Last Updated on 1 May 2021 by Herman Tan

Kho Ping Hoo (Hanzi : 許平和; Pinyin : Xu Pinghe) merupakan tokoh Tionghoa Indonesia yang dikenal sebagai seorang penulis cerita2 silat (cersil) bertema Tiongkok kuno (dunia Kang Aw; Jiang Hu). Sosok yang bernama Indonesia Asmaraman Sukowati ini lahir di Sragen, 17 Agustus 1926, dan meninggal dunia di usia 67 tahun pada 22 Juli 1994 di Solo.

Biografi Kho Ping Hoo

Nama Lengkap : Asmaraman Sukowati
Nama Lain : Kho Ping Ho ((Hanzi : 許平和; Pinyin : Xu Pinghe)
Tempat, Tanggal Lahir : Sragen, 17 Agustus 1926

Meninggal : Solo, 22 Juli 1994 (usia 67)
Pasangan : Ong Ros Hwa (Rosita)
Pekerjaan : Penulis cerita silat

A. Masa Kecil dan Kehidupan Awal Kho Ping Hoo, “Jalan Pedang” Sang Penulis Cersil

Kho Ping Hoo merupakan warga keturunan Tionghoa yang berdarah jawa. Ia  merupakan anak sulung dari 12 bersaudara. Kho Ping Hoo sendiri menikah dengan Ong Ros Hwa, seorang gadis asal daerahnya pada tahun 1945.

Keduanya memiliki 13 orang anak; dimana 2 diantaranya meninggal saat usianya masih muda. Ia juga tercatat mempunyai 8 cucu.

Jalan Pedang Kho Ping Hoo, begitu judul yang dibuat oleh Tirto.id (ilustrasi : Tirto.id)

Kho Kian Po, ayah dari Kho Ping Hoo, semasa mudanya pernah belajar ilmu beladiri Shaolin. Karena itu ayahnya mewariskan ilmu beladiri tersebut kepadanya, agar sang anak membiasakan diri untuk hidup disiplin.

Kho memulai pendidikan dasarnya di sekolah kolonial Belanda, HIS Zendings School. Selain bersekolah, Ia sendiri mengikuti kursus tata buku. Namun pendidikannya terhenti di kelas 1 MULO (setingkat SMP), dimana usianya kala itu yang masih 14 tahun, Ia sudah tidak bersekolah dan bekerja menjadi pelayan toko.

Ketika Jepang memasuki kota Solo, Ia pindah ke Surabaya dan bekerja sebagai penjual Obat, seperti pil kina (obat malaria) ke toko. Di masa itu Ia juga sempat di digembleng oleh Kaibotai (semacam hansip Jepang) yang pendidikannya seperti pelatihan Militer.

Setelah itu Kho muda bergabung ke dalam Barisan Pemberontak TiongHoa (BPTH), yang saat itu bersekutu dengan Barisan Pemberontak rakyat Indonesia (BPRI).

Kho Ping Hoo sendiri selama hidupnya memeluk agama Kristen. Namun ia memberikan kebebasan kepada anak-anaknya dalam memilih keyakinannya masing-masing.

B. Mendirikan Usaha Pembuatan Rokok

Usai perang kemerdekaan tahun 1945, Kho Ping Hoo sempat bekerja di Kudus. Namun di tahun 1947 Ia kembali ke Sragen dan membuka usaha rokok kecil-kecilan, dimana ilmu memelinting rokoknya didapat saat ia bekerja sebagai buruh di pabrik rokok Djarum, Kudus, Jawa tengah.

Namun sayang usahanya tidak bertahan lama di tahun itu, setelah pasukan Belanda datang mengobrak-abrik tempat usahanya pada Agresi Militer Belanda II. Akhirnya Ia pun harus mengulang usahanya kembali dari Nol. Saat perang, Kho datang ke pengungsian dan menetap selama 2 tahun di kota Solo hingga tahun 1949.

Tak lama kemudian Ia berpindah ke Tasikmalaya dengan membawa istri dan anaknya. Disinilah dirinya dan keluarganya mempunyai semangat baru untuk memperbaiki hidup.

Di Tasikmalaya Kho bekerja menjadi Staff anemer yang saat itu sedang membangun sebuah Rumah Sakit di Banjarnegara. Kesuksesan sedikit demi sedikit diraihnya.

Di tahap Akhir Ia menjadi ketua asosiasi Perusahaan Pengusaha Pengangkutan Truk (P3T) di kawasan Priangan Timur. Meski tidak memiliki truk sendiri (hanya menyewa), namun Ia sangat menyukai pekerjaan barunya.

C. Perjalanan Karir Sebagai Seorang Penulis Cerita Silat

Sebelum dikenal sebagai seorang penulis cerita silat, Kho Ping Hoo pernah menulis cerita tentang detektif, cerpen dan novel yang dimuat berbagai majalah seperti Liberty, Pancawarna dan Star Weekly.

Dalam karya-karya tulisannya Ia menggunakan nama samaran (nama penulis) yaitu “Asmaraman”. Tulisannya saat itu banyak dimuat di berbagai majalah terkenal, meski sebelumnya tidak sedikit yang ditolak penerbit. Saat itu, Ia hanya menulis cerita roman saja, bahkan tidak pernah tersirat akan membuat tulisan mengenai cerita silat.

Kho Ping Hoo, yang memiliki nama pena Asmaraman S.

Ketertarikan Kho Ping Hoo dalam dunia tulis-menulis muncul saat Ia menetap di Tasikmalaya. Pada tahun 1958 Ia pernah menulis cerpen dan mengirimkannya pada beberapa majalah terkenal pada saat itu, seperti Star Weekly, Pantjawarna, Liberty, Tjermin, Trio dan Taruna Bhakti.

Pada tahun 1959 majalah Teratai didirikan, dan untuk melengkapi isi majalah tersebut redaksi mengusulkan agar di isi dengan cerita silat. Pada saat itu, Kho Ping Hoo lah yang bertugas untuk mengisi rublik cerita silat tersebut.

Saat itulah kemudian muncul cerita silat pertama Kho Ping Hoo yang berjudul “Pedang Pusaka Naga Putih”. Karya tulis tersebut sebenarnya merupakan ketidaksengajaan dan terpaksa dibuat.

Namun ternyata respon pembaca justru positif. Kemudian karya tulis silat Kho tersebut dibuat menjadi cerita bersambung dan dimuat dalam beberapa majalah seperti Selecta, Monalisa dan Roman.

Awalnya beliau bekerja sebagai koresponden Surat Kabar Harian Keng Po. Ia juga sempat menjadi koresponden di harian Barisan Pikiran Rakyat Bandung di tahun 1960-an.

Setelah berganti-ganti pekerjaan, akhirnya Kho Ping Hoo memutuskan untuk menekuni tulis menulis cerita saja. Kho mencoba membuat sandiwara cerita dan berperan sebagai pemain sekaligus sutradaranya. Hasil karya tullisan Kho berkembang dengan sangat pesat dalam bentuk buku saku cerita silat Tionghoa.

Kho yang awalnya tidak terlalu bisa bahasa mandarin (tidak sekolah tinggi, dan tidak mendapat pendidikan bahasa Tionghoa) mencoba mempelajari sejarah Tiongkok secara otodidak;

namun bukan dari bahasa aslinya, melainkan dari buku-buku sastra berbahasa Inggris dan Belanda, karena ia sangat baik menguasai ke 2 bahasa tersebut. Selain itu, beliau juga terinspirasi dari film2 silat Hongkong dan Taiwan.

Ia juga tertarik dengan sejarah klasik Indonesia. Beberapa karya tulis bertema sejarah lokal yang terkenal seperti “Badai Laut Selatan” yang diterbitkan tahun 1969, dan “Darah Mengalir di Borobudur” yang diterbitkan tahun 1961; dimana ke 2 judul tersebut juga pernah disandiwara-radiokan (dialog dalam radio).

Kho Ping Hoo terkenal berkat tulisannya mengenai cerita2 silat berlatar belakang sejarah Tiongkok kuno (jaman dinasti). Diantaranya yang terkenal adalah Pendekar Bodoh (1961), Pendekar Super Sakti (1969), Perawan Lembah Wilis (1970), Istana Pulau Es (1972), Bu Kek Siansu (1973), dan Asmara si Pedang Tumpul (1985).

Meski ia tidak mahir membaca dan menulis dalam bahasa mandarin, namun imajinasi dan bakatnya dalam menulis cerita silat ini sangat luar biasa, sehingga penggemarnya sangat luas, bahkan hingga ke dataran Tiongkok sendiri!

Cerita2 silatnya waktu itu dibaca siapa saja, tidak mengenal generasi tua maupun muda.

Cerita silat “Tangan geledek” karya Kho Ping Hoo tahun 1964, tampak bukunya yang telah dicetak ulang dengan gaya yang lebih modern (ilustrasi : anelinda.com).

Hingga akhir hayatnya, Kho Ping Hoo sudah menulis lebih dari 200 judul cerita, dimana 120 diantaranya bertema cerita silat. Beberapa ceritanya juga pernah diketoprakkan (pentas drama panggung tradisional).

Pada awal tahun 1980-an, Kho Ping Hoo mampu menghasilkan 2 juta rupiah per bulan dari mengarang cerita saja. Dari penghasilan menulisnya, Ia mampu menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri, dan berhasil mempunyai percetakan sendiri.

Sebah rumah vila berhalaman luas yang terletak di Tawangmangu juga berhasil dibeli berkat hasil cerita karangannya. Beliau tidak merokok dan tidak makan daging. Minumnya hanya air putih. Kadang2 menyepi sendirian di kamar atau di hutan untuk “merenungi misteri Tuhan,” katanya.

Caranya dalam mengarang cerita gampang saja. Bahan cerita sudah lama mengendap di otaknya. Yang penting tulis dulu sinopsis atau garis besar ceritanya. “Begitu menghadap mesin ketik, langsung saja jalan,” katanya.

Istrinya Roos Hwa, alias Rosita, ikut menilai dan menimbang isi bukunya sebelum dibaca oleh masyarakat umum.

Para komikus juga memberi usul agar ceritanya dibuat komik. Selain diketoprakkan dan disandiwara-radiokan, juga terdapat 3 judul cerita yang pernah dibuatkan film berseri, yakni berjudul “Dendam di Anak Haram”, “Darah Daging” dan “Buaian Asmara”.

Selain itu, 2 cerita silatnya juga diangkat ke layar lebar, yakni“Badai Laut Selatan” di tahun 1991 dan “Perawan Lembah Wilis” di tahun 1993. Ke-2 film yang diangkat ke layar lebar tersebut juga diangkat dalam bentuk sinetron (film berseri) dan disiarkan oleh Televisi Pendidikan Indonesia (TPI).

Karya-karya Kho Ping Hoo mempunyai arti penting di hati para pembaca Indonesia, terutama pada para keturunan Tionghoa. Karena pada masa tersbebut kebudayaan Tionghoa mendapat tekanan di pemerintah Indonesia.

Dalam karya2 tulisannya juga terkandung sumber informasi seputar kebudayaan Tionghoa, seperti sejarah, agama, bahkan moral yang terkandung dalam ceritanya, meskipun itu hanya cerita fiksi.

Walau dalam cerita silatnya banyak fakta sejarah dan tata telak tempat Tiongkok yang tidak sesuai kenyataan (karena tidak memiliki akses ke sumber2 sejarah Negeri Tiongkok), namun cerita silat karya Kho Ping Hoo tetap berkesan di hati para pembaca.

Bahkan karya2 tulisannya membentuk watak bagi para penggemarnya, membangkitkan rasa ingin tahu dan keinginan pembaca untuk belajar lebih banyak tentang budaya Tiongkok.

Tutur kata dan gaya bahasa yang khas digunakan oleh Kho Ping Hoo dalam menulis mewakili rasa keperanakannya. Peran Kho Ping Hoo bagi kehidupan sastra di Indonesia membawa pengaruh yang sangat kuat dalam memotivasi penulis2 Indonesia untuk membuat jenis cerita yang sama.

Diantaranya yang mengikuti jejak Kho adalah S.H Mintardja, Herman Pratikto, dan Arswendo Atmowiloto.

D. Daftar Karya Cerita Silat (Cersil) Kho Ping Hoo yang Terkenal

Tampak buku2 cerita silat karya Kho Ping Hoo. Di era 1970-1990 tempat usaha penyewaan buku begitu laris bak kacang karena judul2 buku ini.

♦ Versi Bahasa Hokkian/Mandarin

Bu kek sian su無極先師/武客仙士 (Wuji Xianshi/Wu Ke Xian Shi)
Pek liong po kiam 白龍寶劍 (Bai Long Baojian)
Bu beng kiam hiap 無名劍俠 (Wuming Jianxia)

Ang lian li hiap 紅蓮女俠 (Honglian Nu Xia)
Pek i li hiap 白衣女俠 (Baiyi Nu Xia)
Sin kun bu tek 神拳無敵 (Shen Quan Wudi)

Kang lam koai hiap 江南怪俠 (Jiangnan Guai Xia)
Ji liong jio cu 雙龍追珠 (Shuanglong Zhui Zhu)
Huang ho sian li黃河仙女 (Huanghe Xiannu)
Ang hong cu/Ang li hiap 洪女俠 (Hong Nu Xia)

Ouw yang heng te 歐陽杏茶 (Ouyang Xing Cha)
Tian hong kiam 天峰劍 (Tian Feng Jian)
Ouw yan cu 歐陽子 (Ouyang Zi)

Gin kiam gi to 銀劍儀道 (Yin Jian Yi Dao)
Liong san tung hiap 龍山洞俠 (Long Shandong Xia)
Thian lok si 天祿寺 (Tian Lu Si)

Sam liong sia tian 三龍謝天 (San Long Xie Tian)
Kang lam ciu hiap 江南柔俠  Jiangnan Rou Xia)
Hoa san tai hiap 華山大俠 (Huashan Da Xia)
Santung Koai hiap 山東怪俠 (Shandong Guai Xia)

Siauw lim sam li hiap 小林三女俠 (Xiaolin San Nu Xia)
Ang liong pek ho 紅龍白虎 (Hong Long Baihu)
Hwee tian mo li 飛天魔女 (Feitian Mo Nu)

Toat beng mo li 奪命魔女 (Duo Ming Mo Nu)
Hwa i enghiong 華裔英雄 (Huayi Yingxiong)
Sam liong to 三龍道 (San Long Dao)

Sin kiam hok mo 神劍伏魔 (Shen Jian Fu Mo)
Sian li eng cu 仙女英子 (Xiannu Yingzi)
Ang i nio cu 紅衣娘子 (Hongyi Niangzi)
Bu eng cu 無影珠 (Wu Ying Zhu)

Kim kong kiam金光劍 (Jinguang Jian)
Cheng hoa kiam 精華劍 (Jinghua Jian)
Kun lun hiap kek 崑崙俠客 (Kunlun Xiake)

Pek Lui Eng 白雷英 (Bai Lei Ying)
Kiam Ong 劍王 (Jian Wang)
Hei Liong Kiam 黑龍劍 (Hei Long Jian)
Yu Liong Kiam玉龍劍 (Yu Long Jian)

Bukek Siansu, salah satu judul cerita silat Kho Ping Hoo yang paling terkenal

♦ Versi Judul Bahasa Indonesia

1. Serial Bu Kek Sian Su (無極先師; Wu Ji Xian Shi)

Bu Kek Sian Su (1973)
Suling Emas (1968)
Cinta Bernoda Darah (1968)

Mutiara Hitam (1969)
Istana Pulau Es (1970)

Kisah Pendekar Bongkok (1982)
Pendekar Super Sakti (1971)
Sepasang Pedang Iblis (1972)
Kisah Sepasang Rajawali (1973)

Jodoh Rajawali (1974)
Suling Emas dan Naga Siluman (1976)
Kisah Para Pendekar Pulau Es (1978)
Suling Naga (1979)

Kisah si Bangau Putih (1981)
Kisah si Bangau Merah (1984)
Si Tangan Sakti (1985)
Pusaka Pulau Es (1988)

2. Serial Pedang Kayu Harum (香木劍; Xiang Mu Jian)

Pedang Kayu Harum (1970)
Petualang Asmara (1972)
Dewi Maut (1974)

Pendekar Lembah Naga (1975)
Pendekar Sadis (1976)
Harta Karun Jenghis Khan (1978)

Siluman Gua Tengkorak (1978)
Asmara Berdarah (1978)
Pendekar Mata Keranjang (1980)

Ang Hong Cu (1982)
Jodoh Si Mata Keranjang (1984)
Pendekar Kelana (1987)

3. Serial Pendekar Sakti (武奔師; Wu Ben Shi)

Pendekar Sakti
Ang I Niocu
Pendekar Bodoh
Pendekar Remaja

4. Serial Dewi Sungai Kuning (黃河仙女; Huang He Xian Ni)

Dewi Sungai Kuning
Kemelut Kerajaan Mancu

5. Serial Gelang Kemala (玉手鐲; Yu Shou Zhuo)

Gelang Kemala
Dewi Ular
Rajawali Hitam

6. Serial Pedang Naga Kemala (玉龍劍; Yu Long Jian)

Pedang Naga Kemala
Pemberontakan Taipeng

7. Serial Iblis Dan Bidadari (鬼與仙; Gui Yu Xian)

Iblis Dan Bidadari (1961)
Lembah Selaksa Bunga (1991)

8. Serial Si Pedang Tumpul (鈍劍思; Dun Jian Shi)

Si Pedang Tumpul
Asmara Si Pedang Tumpul

9. Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis (雙龍伏魔)

Sepasang Naga Penakluk Iblis
Bayangan Iblis
Dendam Sembilan Iblis Tua

10. Serial Sepasang Naga Lembah Iblis (雙龍鬼谷; Shuang Long Fu Mo)

Sepasang Naga Lembah Iblis
Pedang Naga Hitam

11. Serial Raja Pedang (劍王; Jian Wang)

Raja Pedang (1966)
Rajawali Emas (1967)
Pendekar Buta (1967)
Jaka Lola (1968)

12. Serial Pendekar Tanpa Bayangan (無影麈; Wu Ying Zhu)

Pendekar Tanpa Bayangan
Harta Karun Kerajaan Sung

13. Serial Pendekar Budiman (華裔英雄; Huayi Yingxiong)

Pendekar Budiman (1962)
Pedang Penakluk Iblis (1963)
Tangan Geledek (1964)

14. Lain-Lain

Patung Dewi Kwan Im (1960)

Komik silat Patung Dewi Kwan Im karya Kho Ping Hoo

Sebenarnya tidak sedikit cerita silat dari Kho Ping Hoo merupakan “contekan” karya penulis cerita silat (wuxia) Tiongkok, seperti Chin Yung, Liang Yusheng, Ni Kuang, dan Gu Long.

Contohnya pada cerita silat yang berjudul “Si Pedang Tumpul (鈍劍思)”, beliau mengambil sebuah plot dari karya Jin Yong yang berjudul “Sia Tiauw Eng Hiong (神鵰俠侶; Shen Diao Xia Lu)”.

1. Pedang dan Kitab Suci; The Book and the Sword (書劍恩仇錄; Shu Jian En Chou Lu) (1955)
2. Pedang Ular Emas; Sword Stained with Royal Blood (碧血劍; Bi Xue Jian) (1956)

3. Legenda Pendekar Pemanah Rajawali; The Legend of the Condor Heroes (射鵰英雄傳; She Diao Yingxiong Chuan) (1957)
4. Si Rase Terbang dari Pegunungan Salju; Fox Volant of the Snowy Mountain (雪山飛狐; Xueshan Feihu) (1959)
5. Kembalinya Pendekar Pemanah Rajawali; The Return of the Condor Heroes (神鵰俠侶; Shen Diao Xia Lu) (1959)

6. Kisah Si Rase Terbang; Other Tales of the Flying Fox (飛狐外傳; Feihu Waizhuan) (1960)
7. Kuda Putih Menghimbau Angin Barat; Swordswoman Riding West on White Horse (白馬嘯西風; Baima Xiao Xifeng) (1961)

8. Sepasang Golok Mustika; Blade-dance of the Two Lovers (鴛鴦刀; Yuanyang Dao) (1961)
9. Kisah Pedang Langit dan Golok Pembunuh Naga; The Heaven Sword and Dragon Saber (倚天屠龍記 Yitian Tu Longji) (1961)
10. Pedang Hati Suci; A Deadly Secret (連城訣; Liancheng Jue) (1963)

11. Pendekar Negeri Tayli; Demi-Gods and Semi-Devils; 天龍八部; Tianlong Ba Bu) (1963)
12. Medali Wasiat / Kisah Para Pendekar; Ode to Gallantry (俠客行; Xiakexing) (1965)

13. Pendekar Hina Kelana; The Smiling Proud Wanderer (笑傲江湖; Xiao Ao Jianghu) (1967)
14. Kaki Tiga Menjangan; The Deer and the Cauldron (鹿鼎記; Ludingji) (1969–1972)
15. Pedang Gadis Yueh; Sword of the Yue Maiden (越女劍); Yue Nu Jian) (1970)

Karena dalam kurun waktu 1955-1970, terdapat 15 karya cerita silat/novel Jin Yong yang begitu melegenda, sehingga bisa jadi Kho Ping Hoo terinspirasi usai membaca buku-bukunya.

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: eitss, mau apa nih?